
Tin Tin!
Baru saja Airin keluar dari kantornya, sebuah mobil berhenti tepat di hadapannya, Billy menrurunkan kaca mobilnya dan tersenyum pada calon isteri yang akan segera ia nikahi itu, dengan segera Airin masuk ke dalam mobil Billy dengan senang hati. “Ada apa menjemputku?” Tanya Airin menatap kekasihnya yang terlihat cukup lelah karena bekerja.
“Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, ku pastikan kamu akan senang, Sayang,” ucapnya sambil mengecup tangan Airin dengan lembut. Billy menginjak gas mobilnya dan membawa Airin ke sebuah toko perhiasan, Billy mengajak Airin untuk memilih cincin pernikahan mereka, apapun yang Airin inginkan ketika di toko perhiasan, dengan senang hati Billy akan memberikannya.
Disaat Airin sedang memilih cincin yang terbaik untuk pernikahan mereka, kedua mata Billy tertuju pada sebuah kalung yang sangat cantik, “tolong ambilkan kalung ini,” ucap Billy pada karyawan di toko itu. Billy menatapnya dengan seksama dan satu senyuman terpancar dari wajahnya. Billy membawa kalung itu dan mengalungkannya pada Airin yang sangat terlihat cocok dikenakannya.
“Kamu terlihat sempurna dengan ini,” ucapnya sambil menatap Airin yang terlihat bersinar di hadapannya. Kebahagiaan terpancar dari wajah Airin kala ia menerima sebuah kalung indah dari Billy, membuat hampir seluruh karyawan toko perhiasan itu iri dengan hubungan mereka berdua.
Billy kembali menuju salah satu karyawan yang melayaninya dan meminta satu kalung lagi untuk di bawa pulang, “ tolong bungkuskan satu lagi untuk saya,” ucapnya secara sembunyi sembunyi dari Airin, sejujurnya pertama kali ia menatap kalung itu, wajah Yuki yang pertama kali terbesit dalam benaknya. Apapun yang ia berikan untuk Airin, sebisa mungkin ia juga memberikannya pada Yuki, karena selera mereka berdua hampir saman, hingga memudahkan Billy untuk memilihkan hadiah untuk mereka berdua.
Setelah mendapatkan apa yang mereka butuhkan, Billy mengantarkan Airin pulang ke rumahnya lalu ia menuju apartemen Yuki untuk memberikan sebuah hadiah baginya. Terbesit dalam benaknya untuk langsung masuk tanpa mengetuk pintu untuk memberikan kejutan untuk kekasihnya itu. Billy menekan kode sandi Yuki lalu masuk begitu saja ke dalam. Sepasang sepatu pria berbaris di sana, Billy juga mendengar suara Yuki tertawa dengan seseorang di dalam sana.
Perlahan ia masuk setelah melepas alas kakinya dan mendapati Yuki sedang bersenda gurau berdua dengan seorang pria. “Kakak,” panggilnya seraya terkejut melihat kedatangan Billy yang tiba tiba dan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Entah siapa pria yang sedang bersama Yuki ini, tatapan pria itu seakan sedang menantangnya secara terang terangan. Billy menatap pria itu dan Yuki secara bergantian dengan tatapan tajamnya, “siapa pria ini?” tanya Billy baik baik dengan mongontrol emosi yang hampir saja meledak kala melihat mereka duduk berdua di apartemen Yuki.
__ADS_1
“Ah, dia, temanku yang sedang berkunjung. Kakak ada apa kemari?” Tanya Yuki yang terlihat tenang saja ketika Billy melihatnya sedang berdua dengan pria lain. Keadaan ini pernah dialaminya ketika ia memergoki Airin bersama pria lain di dalam kamar, Billy tak ingin bertengkar dengan Yuki, ia memilih untuk meredakan amarahnya dan menjadi tenang.
“Baiklah, aku pulang, Yuki. Jaga dirimu,” pamit pria itu pada sang pemilik rumah. Sejenak Billy terdiam untuk membereskan sendiri kekacauan dalam hatinya sebelum ia menanggapi Yuki yang sudah menunggunya berbicara sejak tadi. “Aku hanya mampir untuk memberikan hadiah kecil untukmu,” ucap Billy ketika emosinya sudah lebih tenang, ia melihat Yuki yang sedikit takut bila nanti Billy marah padanya.
Sambil menyodorkan hadiahnya, Yuki langsung membuka hadiah itu tepat di depan Billy, wajahnya sungguh bahagia ketika Yuki mendapat sebuah kalung cantik dari Billy. Matanya berbinar seperti anak kecil yang diberi permen oleh ibunya, begitulah Yuki di mata Billy.
“Kalung ini cantik sekali, Kak,” ucap Yuki tercengang akan kecantikan dan kemewahan kalung yang ia dapatkan, Billy tersenyum melihat Yuki senang akan hadiah yang diberikannya. Ia mengambil kalung itu dan memasangkannya pada leher Yuki, sungguh cantik gadis itu dimata Billy. “Kalung yang indah untuk perempuan cantik semertimu, Yuki. Kamu sungguh sangat cantik,” ucap Billy yang terpesona oleh kecantikan gadis di hadapannya.
Segera Yuki memeluk pria bertubuh besar yang berdiri di hadapannya dengan senyum kegirangan, “terimakasih, Kak. Ku pikir Kakak akan jarang datang kemari karena aku mengamuk kemarin,” ucapnya yang tiba tiba saja menekuk wajahnya sampil tertunduk.
“Tak mungkin aku meninggalkan wanitaku sendiri, aku akan tetap di sisimu, menemanimu sampai kapanpun juga, percayalah padaku,” balasnya dengan memeluk erat gadis pujaan hatinya dengan mencurahkan perasaannya malam itu.
“Aku harus pulang, mama menungguku, selama papa masih di London, aku tak bisa pulang larut lagi, Yuki. Jadi untuk sementara aku tak bisa berlama lama menemanimu, kamu mengerti kan?” Ucap pria itu dengan menjauhkan jari jari Yuki darinya sebelum ia kehilangan akal sehatnya karena ulah Yuki yang terus menerus menggodanya.
“Benarkah? Kakak tak menemani wanita itu? Kakak tidak berbohong padaku?” Tanya Yuki sedikit kesal karena takut Billy akan memilih menemani Airin dari pada menemaninya. Billy mengangguk kecil lalu ia mengecup kening Yuki dengan lembut untuk meyakinkannya bahwa ia tak berbohong.
“Aku tak mungkin membohongimu, sudah malam aku harus kembali, sampai jumpa,” cup. Ucapnya lalu mengecup salah satu pipi Yuki yang berhasil membuat gadis itu salah salah tingkah dan tersipu malu. Billy meninggalkan apartemen Yuki lalu kembali ke rumahnya.
__ADS_1
...****************...
Ting!
Pintu lonceng kafe berbunyi malam itu menandakan seseorang masuk ke dalam. “Tolong satu macha latte hangat,” ucap Airin memesan kopi malam hari.
“Airin.” Baru saja ia berbalik setelah memesan kopi, seorang pria menegurnya. Denis menatap Airin dengan tersenyum senang karena mereka tiba tiba bertemu. Akhir akhir ini Denis jarang menghubungi bahkan menemui Airin karena kesibukannya mengurus perusahaan yang menyita fokus dan tenaganya. Melihat wanita itu berjalan menuju mejanya saja membuat Denis berdebar, memandang betapa cantiknya paras Airin, sosok wanita yang pernah ia tinggalkan disaat mereka sedang dimabuk asmara.
“Kamu sering kemari?” Tanya Airin sambil menarik kursinya dan duduk di hadapan Denis. Pira itu menggelengkan kepalanya dan membenarkan posisi duduknya di hadapan Airin, menyatukan jemarinya dan meletakannya di atas meja.
“Aku butuh udara segar, jadi aku kemari untuk menyegarkan pikiranku dari banyaknya pekerjaan yang menumpuk. Kamu datang dengan siapa?” Tanya Denis sambil menatap luar, tetapi ia tak mendapati Airin datang dengan membawa kendaraan.
“Aku dari rumah sakit mengambil obat yang telah habis, lalu aku kemari sebentar, kafe ini salah satu kafe favoritku,” balasnya sambil menyeruput macha latte hangat yang baru datang.
“Bagaimana hubunganmu dengan Billy? Semuanya berjalan dengan baik? Terakhir kali ku dengar dari Bianca kamu bertengkar dengan Billy,” balasnya sambil menyerupit kopi di hadapannya.
“Aku, baru saja membeli cincin pernikahan bersama Billy, ia bahkan memberikanku kalung ini, bukankah ini sangat cantik?” Jawab Airin memamerkan kalung yang ia dapatkan dari Billy.
__ADS_1
Denis terdiam mendengar tentang cincin pernikahan, hubungan mereka yang disangka Denis akan berakhir, nyatanya mereka benar benar serius dalam menjalani hubungan, ingin rasanya menghancurkan rencana mereka dan merebut Airin dari Billy. Namun ia tak setega itu melihat wanita yang dicintainya tersenyum bahagia ketika ia membicarakan tentang Billy.
“Apakah tak ada lagi kesempatan bagiku, Airin?” batinnya menyesakkan hati.