
Melihat kondisi Airin yang masih tak sadarkan diri kembali membuat Billy terdiam. Yang bisa dilakukannya hanyalah menatap Airin tanpa bergeming, baru saja ia merasakan bahagia karena ia dapat kembali melihat Airin seperti dahulu namun sayangnya hal itu tak berlangsung lama. Dalam sekejap perasaan itu kembali lalu menghilang, Billy melupakan sebuah kebenaran bahwa Airin tak lagi bisa sepenuhnya seperti dahulu meski ia sangat meninginkan Airin. Tak butuh waktu lama untuk Airin tersadar, ia menatap pada Billy yang masih setia menemaninya disampingnya.
“Bagaimana keadaanmu?” Tanya Billy lembut sambil mengecup tangan Airin.
“Maaf ku pikir aku bisa menjadi seperti dahulu. Namun ternyata hal itu tak berlangsung lama,” lirihnya.
Billy hanya tersenyum sambil memandangi wanita yang ia cintai. Ia sungguh sangat mencintai Airin namun hatrinya kini dihadapkan oleh keadaan yang tidak baik. Cinta mereka benar benar diuji dalam keadaan ini, sungguh tak mudah bagi keduanya untuk bertahan, tetapi perasaan cinta yang masih ada dan berdetak dalam diri mereka membuat mereka memilih untuk tetap bersama meski kenyataannya Billy telah merasa nyaman dengan wanita lain.
“Aku harus pergi esok hari untuk menghadiri rapat penting. Mungkin satu minggu aku tak bisa datang padamu. Bertahanlah sampai saat itu,” ucap Billy yang terpaksa harus meninggalkan Airin sendiri, maksud hati ia ingin mengajak Airin pergi bersamanya karena kali ini sekertarisnya tak bisa menemaninya. Namun, keadaan Airin yang seperti ini tak mungkin Billy memaksakannya.
“Take care of yourself. Maaf aku tak bisa menemanimu,” balas Airin.
...****************...
Klinting
“Maaf kami telah tutup. Silahkan datang esok hari, ucap Yuki yang mendengar seseorang masuk ke dalam tokonya. Langkah kaki yang semkain mendekat pada Yuki tak ia hiraukan hingga sebuah suara yang ia kenal membuatnya berhenti.
“Apakah itu juga berlaku untukku?” Balas Billy.
Yuki terdiam sekejap dan tak membalikkan tubuhnya karena perasaan kesal akan kejadian hari ini, ia memilih untuk taak menghiraukan Billy dan melanjutkan pekerjaannya. Melihat Yuki yang tak meresponi dirinya membuat Billy terpaksa menghentikan seluruh pekerjaan Yuki dan membalikan tubuh mungilnya.
__ADS_1
“Still mad at me?” Tanya Billy dengan tatapannya yang lembut dan lagi lagi itu berhasil meluluhkan pertahanan Yuki. Namun Yuki bersihkeras untuk tak meresponinya meski jantungnya berdetak dengan cukup hebat.
“Pergilah, banyaak yang harus ku kerjakan,” ucap Yuki mengusir Billy dari hadapannya.
“Maafkan aku, tapi Airin jauh lebih penting saat itu, ia tak sadarkan diri. Tak mungkin aku membiarkannya sendiri,” balasnya.
“Sampai sampai kakak mengataiku kurir makanan. Aku sungguh menyiapkan segalanya untuk kakak namun kakak tak menghargaiku!” Seru Yuki kesal.
Billy tersenyum melihat Yuki marah seperti ini, ia sungguh terlihat sangat menggemaskan dimatanya, dengan lembut tangan Billy mengusap wajah Yuki dan kembali memandanginya.
“Aku tahu aku salah, maafkan aku. Bagaimana kalau kamu ikut denganku esok hari? Kita habiskan waktu selama satu minggu berdua? Kamu menyukainya?” Tanya Billy mencoba merayu Yuki agar tak lagi marah padanya.
...****************...
Yuki yang sangat lelah tertidur hingga siang hari dan tak mendapati Billy ada di kamarnya. Sebuah hotel yang sangat mewah namun sepi oleh pengunjung membuat Yuki lebih leluasa untuk sekedar berkeliling hotel, hingga matanya tertuju pada seorang pria yang sedang berenang, tampak tubuh atletisnya membuat Yuki segear mengenali siapa pria itu. Ia datang mendekat pada Billy, matanya membola ketika ia melihat Billy telanjang dada, tubuhnya yang sangat indah membuat Yuki tak bisa mengedipkan matanya.
“Kamu sudah bangun? Bantu aku keluar dari kolam ini,” ucap Billy memberikan tangannya agar Yuki menariknya, tetapi Billy tak bermaksud keluar dari kolam itu melainkan membawa Yuki masuk kedalam kolam bersamanya, Billy menariknya dan Yuki pun masuk kedalam kolam yang cukup dalam.
“AAAA …”
Byuuuurrr
__ADS_1
“Akhh !! Kak ... Akh ... ku tak bisss … a berenang,” Seru Yuki sambil ters saja bergera agar ia tak tenggelam. Billy tak emngetahui kalau Yuki tak bisa berenang, segera ia menolongnya dan membawanya naik.
“Ah … Maafkan aku, aku tak tahu kalau kamu tak bisa berenang, kamu baik baik saja?” sesal Billy, Yuki hanya mengangguk dan menenangkan dirinya.
Billy berdiri dan hendak mengambilkan Yuki handuk miliknya untuk mengeringkan diri, tetapi langkahnya dihentikan oleh Yuki yang memegangi tangannya.
“Mengapa kakak meninggalkanku? Aku mencarimu sejak tadi,” ucapnya memasang wajah sedikit kecewa.
“Ku pikir kamu terlalu lelah, karena itu aku tak membangunkanmu,” balas Billy menepuk bahu Yuki.
Wajah manis Yuki mampu membuat Billy kehilangan kesadarannya walau hanya sekejap. Ia menahan dirinya untuk tak berbuat bodoh pada wanita dihadapannya namun sepertinya ia tak tahan lagi.
“Dia terlalu manis,” batinnya.
Tanpa mengatakan apapun lagi Billy mengecup bibir Yuki dengan lembut untuk beberapa saat. Meski sedikit terkejut namun Yuki diam dan membiarkan Billy menciumnya, perlahan kecupannya berubah menjadi sedikit lebih agresif pada Yuki, kini Billy sangat sulit untuk berhenti sampai Yuki kehabisan napas.
“Ah … Hah … Hah … Biarkan aku bernapas sebentar kak, kakak menciumku seperti ingin memakanku. Apa arti dari ciuman itu,” tanya Yuki dengan berharap Billy menaruh hati padanya.
Sayangnya Billy hanya bisa terdiam mendengar pertanyaan dari Yuki, lagi lagi wajah Airin yang ada di kepalanya. Billy berdiri dan mengambil pakaiannya lalu membersihkan diri.
“Pergilah ke kamar dan keringkan dirimu, setelah ini kita akan makan siang,” seru Billy kembali menghindari Yuki.
__ADS_1