Dia Bukan Untukku

Dia Bukan Untukku
BAB 20 | Antara Airin dan Yuki


__ADS_3

Airin terbangun dari tidurnya ketika ia melihat jam dinding yang telah menunjukkan pukul lima pagi. Airin memulai harinya seperti dahulu, mandi memasak dan mempercantik diri, meski tubuhnya tak sepenuhnya membaik namun hal itu tak menghalangi niatnya untuk memasak khusus untuk Billy.


“Aku akan membuktikannya sendiri, aku percaya perasaan Billy tak berubah sedikitpun padaku meski kondisiku seperti ini”.


Tekat Airin sangat kuat untuk membuktikan bahwa semua ucapan Bianca tidak benar, Airin mengambil rambut palsu yang sangat mirip dengan rambutnya yang dahulu untuk menutupi kerontokan dan kebotakan di beberapa bagian. Kini wajahnya terlihat sangat sempurna ketika ia melihat gambar diri di cermin, sungguh tak terlihat bahwa ia sedang sakit.


Bersama bekal yang ia bawa untuk Billy, Airin mengendarai mobil miliknya dan menuju kantor Billy tanpa memberitahukan kedatangannay pada kekasihnya itu, ia ingin memberikan sebuah kejutan pada Billy dengan penampilannya. Kedatangannya mendapat sambutan dari beberapa karyawan Billy yang mengenalnya sebagai kekasih Billy hingga akhirnya ia sampai di depan pintu kantor Billy dan langsung saja masuk kedalam.


“Sayang” panggil Airin pada Billy yang terlihat sedang sibuk dengan pekerjaannya.


Billy menoleh kearah sumber suara yang sangat ia kenal, sungguh dirinya terkejut sama seperti apa yang diharapkan Airin. Billy membolakan kedua matanya dan mulutnya menganga seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat di hadpannya.


“Airin?”, panggil Billy dengan tatapan yang tak percaya dengan apa yang ia lihat.


Setelah sekian lama ia menginginkan melihat Airin kembali seperti dahulu, kini ia dapat kembali melihatnya, ia tak melihat Airin yang sakit sakitan dan terbaring di kasurnya melainkan Airin yang dahulu. Ia melihat kekasihnya datang padanya sambil membawa sekotak bekal masakannya sendiri untuk untuknya. Billy melangkah maju dan mendapatkan Airin, ia melihat dengan seksama kekasihnya itu dan memeluknya erat erat, kebahagiaan yang sangat hebat kembali ia rasakan.


“Aku tahu Billy tak berubah sedikitpun, ia masih sangat mencintaiku. Inilah buktinya, keadaanku yang sedang tak baik saja yang terlihat seolah olah Billy tak mencintaiku”, gumam Airin dalam hatinya.

__ADS_1


Airin membalas pelukan Billy dan membenamkan wajahnya pada tubuh Billy yang dua kali lebih besar dari dirinya.


“Aku tak menyangka kamu datang kemari. Dan, apa ini? Ini rambut palsu? Kamu terlihat kembali seperti dahulu Airin”, ucapnya bahagia melihat kekasihnya itu. Matanya berbinar seperti saat pertama kali ia bertemu dengan Airin, terlihat kebahagiaan dan senyuman tak juga luntur dari wajahnya.


“Sudah siang, makanlah dahulu. Aku membawakanmu makanan”, ucap Airin yang bahagia melihat kekasihnya itu senang dengan kedatangannya.


Masakan Airin adalah makanan yang paling ia sukai, apapun yang Airin masak untuknya ia akan makan dan habiskan semuanya. Billy telah kehilangan ibunya sejak ia remaja dan baginya sosok wanita seperti ibunya tak pernah ia temukan dimanapun. Namun ketika ia melihat Airin, perasaan nyaman itu ia dapatkan kembali ditambah masakan Airin yang sangat mengingatkannya dengan ibunya dahulu. Ditengah tegah kehangatan mereka berdua yang sedang melepas rindu juga kebahagiaan, seorang wanita masuk ke ruangan Billy sambil membawa sekotak bekal di tangannya.


“Kak, aku datang mem..”


Yuki menghentikan perkataannya ketika ia melihat Billy bersama wanita lain yang ia yakini adalah kekasihnya. Yuki terdiam melihat mereka berdua yang sedang bermesraan sambil berpegangan tangan, dadanya terasa sesak melihat pemandangan menyakitkan seperti itu, tak pernah ia bayangkan bahwa suatu hari ia akan berhadapan dengan wanita yang menjadi kekasih Billy, pria yang dicintainya.


Billy pun terdiam namun raut wajah panik tak dapat ia sembunyikan, segera ia berdiri dan menatap Yuki lalu ia kembali menatap Airin.


“Ah..Itu, dia”, ucapnya sedikit gelagapan.


“Aku lupa jika aku memesan makanan, lalu kamu datang sayang, aku belum membatalkan pesanannya”, jawab Billy dengan segera, tanpa melihat bahwa Yuki terluka oleh ucapanny, Yuki hanya membenarkan semua ucapan Billy dan meletakkannya di meja, ia tersenyum pada Billy yang menatap padanya. Tak ada yang bisa Billy lakukan saat itu, tak mungkin ia beranjak dari tempatnya dan berpaling pada Yuki disaat kekasihnya berdiri disampingnya.Billy hanya dapat menatap Yuki pergi dan meninggalkannya, terasa hatinya sakit melihat Yuki pergi begitu saja.

__ADS_1


Sesaat setelah Yuki pergi, Airin merasa tubuhnya tak kuat lagi, ia lupa membawa obat bersamanya dan mengharusnkannya pulang lebih cepat sebelum hal buruk terjadi padanya. Namun sayangnya kepalanya kembali berdenyut, Airin merasakan sakit pada kepalanya yang membuatnya terjatuh karena kedua kakinya tak kuat menopang tubuhnya untuk tetap berdiri.


“Rin. Ada apa sayang? Kepalamu sakit?”. Tanya Billy panik melihat Airin kesakitan dan terus saja memegangi kepalanya.


Wajah Airin sudah terlihat pucat, dengan segera Billy merogoh tas milik Airin dan mencari obat baginya namun sayangnya ia tak juga menemukannya.


“Tidak, aku lupa membawa obatku Billy. Aku harus pulang secepat mungkin atau aku takkan bisa mempertahankan kesadaranku”, lirihnya sambil menahan kesakitan pada kepalanya.


Disaat ia sedang sibuk dengan Airin, sepuah pesan singkat masuk kedalam ponselnya, itu adalah Yuki yang memintanya untuk keluar sebentar agar mereka berdua bisa berbicara namun Billy tak meresponnya, ia masih sibuk dengan Arin yang lebih penting saat ini.


“Aku akan mengantarmu pulang, mobilmu biarkan saja disini, aku akan menyuruh karyawanku untuk mengantarkannya kerumahmu sayang. Ayo kita pulang”, seru Billy yang sangat panik denga kekasihnya yang masih saja kesakitan.


Billy memapah kekasihnya itu dan keluar dari kantor, disaat yang bersamaan Yuki melihat Billy memapah kekasihnya dan tak merespon pesan yang baru saja ia kirimkan, Billy begitu saja melewati Yuki yang telah menunggunya, meski mata mereka bertatapan namun hal itu tak menghentikan langkah Billy .


Yuki sungguh geram dibuatnya, disatu sisi ia merasa sakit hati melihat pria yang selama ini bersamanya tiba tiba berubah seakan anakn mereka tak pernah mengenal sedangkan disisi lain ia sangat ingin menarik Billy untuk berada bersamanya.


“Ini gila. Aku sudah tahu akan begini namun mengapa masih saja sakit yang ku rasakan? Sadarlah bodoh!”, seru Yuki kesal dengan dirinya yang sungguh bodoh sambil mengumpat.

__ADS_1


Dengan segera Billy bergegas mengantarkan Airin kembali ke rumah sambil terus menggenggam tangannya. Selalu saja ada kendala disaat mereka berdua ingin bersama seperti dahulu, selalu saja tak bisa berjalan dengan baik dan sempurna, penyakit yang bersarang di tubuh Airin sungguh berhasil membuat jarak diantara Billy dan Airin meski pada akhirnya Billy tak bisa meninggalkan Airin sendiri disaat Yuki menginginkannya keluar dan meminta waktunya.


__ADS_2