Dia Bukan Untukku

Dia Bukan Untukku
BAB 32 | Milikku Adalah Milikku


__ADS_3

Program siaran terakhir bagi Airin hari itu telah selesai tepat pukul lima sore, Tim yang menggantikan Airinpun telah bersiap menggangtikan posisinya untuk syuting berita sore. Sepertinya waktu berjalan terlalu cepat bagi Airin, ia dengan cepat bersiap siap untuk segera menemui calon mertuanya yang sudah sangat merindukannya. Airin mulai membersihkan dirinya di kantor juga merias diri, beberapa kali ia melihat gambar diri pada cermin di hadapannya memastikan penampilannya malam ini sempurana.


“Perfect,” ucapnya setelah beberapa kali berputar didepan cermin melihat penampilannya.


Bianca telah menunggu di depan ruangan Airin menunggu sahabatnya itu untuk keluar dan langsung menyeretnya menemaninya terlebih dahulu sebelum ia pergi menemui Billy. Namun, matanya terlebih dahulu tertuju pada pria yang berjalan lurus di depannya.


“Kita pergi sekarang?” Tanya Beni pada Bianca, gadis itu mengertutkan keningnya dan sedikit memiringkan kepalanya, sambil memutar kedua bola matanya ia menatap Billy bingung, “apa maksudmu?” tanya Bianca.


“Bukankah kamu membutuhkan teman untuk menemanimu belanja bulanan?” Sahut Beni menjawab Bianca, pria itu sedikit memajukan tubuhnya mendekat pada Bianca yang berukuran jauh lebih kecil darinya, “aku senang Airin tak bisa menemanimu, kali ini kesempatanku kan?” Ucapnya yang berhasil membuat Bianca tersipu malu lalu ia menarik mundur langkahnya. Jantungnya berdegup sangat kencang mendengar ucapan Beni yang setengah berbisik padanya.


Rasanya ia tak bisa mengontrol dirinya dihadapan Beni, pria dihadapan Bianca cukup lihai dalam hal membuat wanita pujaan hatinya berdebar karenanya, beni hanya tertawa kecil melihat tingkah Bianca yang lucu di hadapannya. Tanpa mengatakan apapun lagi, ia menggenggam tangan Bianca lalum menariknya mengikuti langkahnya, sungguh perasaan Bianca campur aduk kala itu. Namun, ia tak bisa menghentikan dirinya, menatap punggung Beni yang cukup lebar yang pernah menjadi tempatnya bersandar , perlahan wajah mungilnya mulai tersenyum kecil.

__ADS_1


Airin keluar dari ruangannya dan tak mendapati Bianca berdiri di depan ruangannya, dengan segera ia menuju parkiran mobil untuk pergi ke rumah Billy, tak butuh waktu lama baginya sampai ke rumah Billy, Airin turun dengan senyum terbaik yang dimilikinya terpasang pada wajahnya, ia berjalan masuk ke dalam rumah itu. Namun, sebuah pemandangan yang membuat senyumnya menghilang dan hatinya sakit berada tepat di hadapannya. Wanita itu duduk di samping Billy dan ibunya sambil tersenyum, Airin hanya bisa berdiri mematung melihat Tindakan Billy yang mulai berani beramin main di hadapannya.


“Sayang,” panggil Airin sambil menatap tajam Yuki yang duduk di samping Billy, “bahkan cara berpenampilannya sama seperti diriku, apa yang sebenarnya wanita ini rencanakan?” Batinnya. Airin melangkahkan kakinya menuju Billy dan mengecup ke dua pipinya di hadapan Yuki, yang membuat wanita itu memalingkan wajahnya dari Airin.


Kedatangannya disambut oleh Ibu Billy dengan pelukan hangatnya, karena Airinlah yang telah ditunggunya sejak tadi, tetapi Billy mendatangkan wanita lain sebelum dirinya,”calon menantu Mama sudah datang,” ucap Ibu Billy padanya. Sungguh iri Yuki dibuatnya, dengan segera Airin menggeser posisi Yuki dan duduk di antaranya dan Ibu Billy, laku Airin berhasil membuat Yuki sedikit kesal, ditambah lagi perhatian Ibu Billy yang pada awalnya adalah miliknya, tetapi karena kedatangan Airin, dengan cepat perhatiannya berubah.


Billy terlihat gelisah dengan suasana canggung antara Yuki dan Airin juga Ibunya, ia mengisyaratkan Yuki untuk pulang dan pergi meninggalkan rumahnya karena setelah kedatangan Airin, ia seperti tak lagi dianggap oleh Ibunya. Namun, Yuki menolak dan masih ingin di sini. Tak lagi banyak bicara, Billy memesan taksi online untuk menjemput Yuki pulang ke rumahnya, karena ia tak mungkin bisa meninggalkan rumahnya untuk mengantarkan Yuki pulang, ia tak mau Ibunya dan kekasihnya tahu tentang hubungannya dengan Yuki. Airin yang mengetahui niat busuk Yuki mencoba menyingkirkan wnaita itu dengan caranya sendiri.


“Maafkan Airin, Tante. Airin sedikit terlambat karena harus berurusan dengan seseorang yang menyentuh milik Airin dengan sengaja,” ucapnya mempertegas bagian penting yang ia tujukan pada Yuki yang berada di sampingnya. Suasana semakin menyesakkan bagi Yuki dan Billy, sampai sampai ia melonggarkan dasinya yang terasa sedikit mencekik lehernya.


Disisi lain, Billy tak tega melihat Yuki seperti tersakit , pandangannya tertuju pada Airin yang mengisyaratkannya untuk duduk di sisinya sambil tersenyum. “Apakah ia mengetahui hubunganku dengan Yuki? Sepertinya tak mungkin, bagaimana ia bisa mengetahuinya?” Batin Billy.

__ADS_1


...****************...


“Apakah hanya ini saja yang kamu butuhkan?” Tanya Beni ketika ia menemani Bianca berbelanja bulanan di salah satu Mall kesukaannya, “Sepertinya tidak, aku harus pergi ke toko lain untuk mencari yang lainnya,” ucapnya kesal karena banyak yang ta kia temukan di toko yang biasa ia datangi. Beni hanya diam saja sambil tersenyum membawakan bebebrapa barang belanjaan Bianca.


“Jadi seperti ini rasanya, menemani isteri belanja bulanan,” ucap Beni menggoda Bianca. “Seharusnya sejak awal kamu berbelanja denganku bukan dengan Airin,” tambahnya yang membuat Bianca kembali berdebar karena ucapan pria itu. Hatinya sungguh merasakan getaran tiap kali Beni merayu dan mengodanya, tetapi Bianca memilih untuk tak menghiraukannya karena baginya semua ini salah.


“Diamlah, Ben. Untuk kali ini saja aku pergi denganmu, setelah ini Airin yang akan menemaniku sampai masa tuaku,” ucapnya mengabaikan Beni yang berjalan di sampingnya lalu meninggalkannya di belakang, Beni mempercepat langkahnya dan menyamakan langkah Bianca.


“Menikahlah denganku, dari pada Airin, aku lebih mampu menemanimu sampai masa tuamu,” ucap Beni yang membuat Bianca menghentikan langkahnya, ucapan yang sangat ingin ia dengan keluar dari mulut Beni, untuk sesaat ia merasa bahagia, tapi mungkinkah hal itu terjadi? Dapat menggenggam tangannya dan melewati pasang surut kehidupan berdua dengan Beni, tertawa dan menangis bersama bahkan memiliki anak, akankah hal itu terjadi? Membanyangkannya saja sudah membuat Bianca bahagia.


“Jangan konyol Ben, kita sudah pernah membahasnya, kamu akan menikah seperti apa yang orang tuamu inginkan, jangan mengecewakannya,” balas Bianca menyadari bahwa hal itu tak mungkin terjadi, semua itu hanya sebatas angan saja.

__ADS_1


“Berjanglah denganku, ku mohon. Aku tahu ini takkan mudah bagi kita terutama bagimu. Namun, bisakah kamu tetap disisiku dan berjuang mencapai impian kita bersama?” Pinta Beni.


Sorot mata Beni berhasil merobohkan pertahanan yang susah payah Bianca bangun sejak awal, ia merasa sangat lemah, hatinya seperti tak kuat lagi menahan haru, tetapi lagi lagi Bianca meninggalkan Beni begitu saja dan memutuskan untuk menyudahi belanjanya hari ini, ia tak ingin terlihat goyah di hadapan pria yang amat dicintainya atau ia akan dengan mudah masuk kembali dalam hatinya dan membuatnya tak ingin melepaskannya kembali.


__ADS_2