Dia Bukan Untukku

Dia Bukan Untukku
BAB 14 | Tetaplah Bersamaku


__ADS_3

Satu minggu sudah Billy menemani Airin di rumah sakit, ia meninggalkan pekerjaannya hanya untuk memberikan perhatiannya pada Airin, wanita yang sangat di cintainya. Ia hanya memfokuskan diri pada Airin dan mengabaikan kehidupannya, perlakuan manisnya pada Airin terkadang membuat siapa saja yang melihatnya merasa iri termasuk beberapa perawat dirumah sakit yang sudah cukup hafal dengan Billy yang setiap hari selalu ada di rumah sakit menjaga kekasihnya.


“Kamu pulanglah dan beristirahat, hampir setiap hari kamu kemari untuk menjagamu. Kamu pun mempunyai kehidupanmu sendiri Billy, jangan fokuskan hidupmu hanya untukku”, ucap Airin yang masih terdengar lemah. Billy tersenyum dan menggelengkan kepalanya, ia menatap Airin dengan penuh cinta dan mendekat padanya.


“Aku sedang melakukannya. Kamu adalah duniaku Airin, disaat kamu sedang benar benar membutuhkanku, aku akan ada untukmu seperti halnya kamu yang selalu ada untukku ketika aku berada dititik terendah”, balas Billy, tatapannya yang lembut sungguh membuat Airin merasa nyaman dan perasaan hangat menyelimuti hatinya. Ingin rasanya ia membalas seluruh perlakuan manis Billy padanya namun apa daya, dirinya yang hanya bisa berbaring di rumah sakit tak bisa menyenangkan kekasihnya itu.


“Apa yang kamu mau dari ku? Aku akan mencoba melakukan semua yang bisa ku lakukan”, tanya Airin.


“Kesembuhanmu. Aku merindukan kekasihku yang dahulu. Banyak hal yang ingin ku lakukan bersamamu Rin, banyak sekali”, balas Billy lalu mengecup tangan Airin yang lemah dengan lembut.


Sejenak Airin terdiam, melihat kekasihnya yang seperti ini sebenarnya sungguh menyakitkan baginya, ia merasa bahwa penyakitnya merenggut hidup kekasihnya dan mengurung Billy bersamanya, Airin kembali menatap Billy, kali ini dengan mata yang berkaca kaca. Ia pun juga ingin sembuh dari penyakitnya ini dan melakukan seluruh hal gila bersama kekasihnya.


“Bagaimana jika kesembuhanku tak kunjung datang? Bagaimana jika aku tak mungkin sembuh dan seumur hidup penyakit ini ada didalamku? Bagaim...”. Dengan cepat Billy mendaratkan jemarinya tepat di bibir Airin untuk menghentikan tiap kata dan ketakutan yang ia luapkan.


“Kamu akan sembuh. Percayalah padaku, ada banyak orang yang menyayangimu Rin. Tegakah kamu menyerah dan meninggalkan kami semua?”, ucap Billy memberikan semangat dan membangun kembali rasa percaya diri Airin, ia membuang segala macam rasa takut dan gelisah yang ada pada diri Airin dan menggantinya dengan sebuah keyakinan.


“Ini mungkin terdengar sedikit egois namun maukah kamu tetap berada disisiku sampai aku sembuh? Akan ada banyak wanita yang lebih sempurna dariku yang hanya bisa berbaring di kasur ini. Namun maukah kamu hanya memandangku seorang?”, tanya Airin pada Billy. Ketakutan dan kekhawatiran akaan kehilangan Billy sangat terlihat dari tatapannya. Airin pun sungguh mencintai Billy dan tak ingin berpisah darinya. Billy mengangguk dan kembali mengecup tangan Airin yang berada di wajahnya sambil tersenyum.

__ADS_1


Keadaan Airin sudah lebih baik, ia sudah tak lagi kejang seperti sebelumnya. Billy pun sudah sedikit lebih tenang dan bisa kembali mengatur jadwalnya untuk Airin dan untuk pekerjaannya.


Dipagi hari, saat Airin masih tertidur nyenyak Billy keluar dari kamar Airin dan melangkah kemanapun kakinya membawanya. Dalam diam ia merenungkan kembali ucapan Airin semalam, sesekali ia menghela napas dalam. Meski benar ia sangat mencintai Airin dan mampu meninggalkan segala urusannya untuk datang pada Airin disaat ia membutuhkannya namun tetap saja, sampai kapankah segalanya harus seperti ini?


Sesekali angannya kembali membawa dirinya dimasa masa ketika mereka sedang menikmati waktu bersama, bercengkraman bersama membunuh malam. Billy sungguh merindukan tawa dan canda Airin yang selalu ia dengar, ia merindukan Airin datang padanya dengan membawa sekotak bekal yang ia siapkan hanya untuknya dan semua hal gila yang selalu ia lakukan dihadapannya.


“Ah, sial. Aku sungguh merindukan Airin. Ini terdengar sangat gila”, ucapnya dengan mata yang berkaca.


Ia tak sadar jika ia keluar dari rumah sakit dan mengendarai mobilnya menuju toko bunga milik Yuki. Billy terdiam dan melihat senyuman juga wajah ceria dari wanita itu. Billy turun dari mobilnya dan masuk ke dalam toko milik Yuki.


Dari tempat Yuki berada, ia dapat mencium aroma khas dari pria yang sangat ia rindukan, sesaat setelah Yuki mencium aroma itu, matanya langsung melihat ke arah pintu masuk. Seorang pria berdiri tegap didepan pintu tokonya, pria yang sudah ia tunggu kedatangannya sejak satu minggu yang lalu, pria yang sangat ia rindukan itu akhirnya datang kembali.


Jantung Yuki kini berdetak lebih kencang, rasanya kebahagian telah kembali padanya, entah mengapa kakinya seperti berjalan sendiri dan ia tak mampu menahan dirinya untuk berlali dan memeluk pria itu.


Yuki mendekap Billy dengan sangat erar membuat pria itu diam dan mematung. Billy tak yakin dengan apa yang terjadi saat ini, sesaat ia memikirkan Airin namun entah mengapa ketika Yuki berlari memeluknya, ia pun turut merasakan bahagia dalam hatinya. Billy membalas pelukan Yuki dengan sangat lembut.


“Aku sungguh sangat merindukanmu”, gumam Yuki dalam hatinya.

__ADS_1


Ingin rasanya ia menangis karena pria yang ia cintai tiba tiba saja pergi dan tak pernah datang selama satu minggu, menyisakan perasaan rindu yang menumpuk dalam hatinya.


Kedekatan mereka tampaknya diketahui oleh Bianca yang sekali lagi tak sengaja lewat didepan toko milik Yuki ketika ia hendak mengunjungi Airin pagi ini di rumah sakit. Satu lagi momen yang ia lihat saat Billy bersama wanita yang sama di toko bunga itu, bahkan mereka berdua berpelukan, membuat Bianca tak dapat lagi berpikir jernih tetnatng Billy dan wanita itu.


“Apa? Bagaimana mungkin? Siapa sebenarnya wanita itu?”, tanya Bianca bingung namun terus menatap Billy memeluk Yuki dengan cukup lama. Sahabat mana yang tak memikirkan hal buruk ketika kekasih sahabatnya itu berpelukan dengan wanita lain?


Tanpa berpikir panjang Bianca kembali menacapkan gasnya dan melanjutkan perjalanannya menuju rumah sakit tempat Airin di rawat. Sungguh hatinya tak tenang melihat kejadian di toko bunga itu, rasanya ingin sekali ia mengatakannya pada Airin namun ia sendiri tak tega melihat kondisi Airin yang baru saja membaik.


Pintu kamar Airin terbuka, bersama keranjang buah yang Bianca bawa, ia masuk kedalam kamar Airin dan menjumpai sahabatnya itu telah bangun dan sedang memainkan ponselnya.


“Dimana mana orang yang sedang sakit itu banyak beristirahat, bukan memainkan ponsel sepertimu Rin”, sindir Bianca pada kekasihnya itu yang masih saja asik dengan ponselnya tanpa menghiraukan kedatangannya.


“Apa yang kamu lihat?”, tanya Bianca sekali lagi karena Airin masih tak menanggapi kedatangannya.


“Aku hanya memantau keadaan kantor yang jarang ku lihat selama satu minggu ini”, balas Airin yang masih saja memegangi ponselnya.


“Letakkan ponselmu dan makanlah buah pisang ini”, ucap Bianca yang mengupaskan buah pisang untuk Airin.

__ADS_1


Bianca menatap Airin dalam dalam, ia seperti sedang bergumul dengan dirinya sendiri, separuh dari dirinya ingin menahan untuk tak mengatakannya pada Airin namun separuh lagi menyuruhnya mengatakan apa yang baru saja ia lihat.


“Apa aku harus mengatakanya?”, gusar Bianca.


__ADS_2