Dia Bukan Untukku

Dia Bukan Untukku
BAB 11 | Bolehkah Aku Menginginkannya?


__ADS_3

Yuki terkenal adalah seorang pemilik toko bunga yang baik hati dan juga ceria, ia sangat menyenangkan bagi orang orang sekitarnya yang mengenalnya. Namun terkadang ia mendapati beberapa pelanggan yang cukup menyebalkan hinga menguji kesabaran wanita yang murah senyum itu, sama seperti hari ini, disaat tokonya sedang ramai pelanggan, salah seorang pelanggan yang tak sabaran memotong antrean dan langsung menuju kasir.


“Berikan aku rangkaian bunga mawar berukuran sedang. Cepatlah karena aku sedang terburu buru!”, seru pelanggan itu memerintah Yuki.


“Anda bisa mengantre seperti yang lain, pak”, jawab Yuki ramah sambil tersenyum. pandangan pelanggan lain sudah kesal pada pria ini yang seenaknya sendiri namun ia tak menghiraukannya, pria paruh baya itu ingin dilayani terlebih dahulu dan enggan untuk mengantre.


Perdebatan terjadi diantara Yuki dan pria itu juga pelanggan yang lainnya, tetapi pria itu enggan untu beranjak dari tempatnya sebelum ia dilayani terlebih dahulu, hingga Billy datang tepaat disiang hari saat toko Yuki sedang ramai ramainya.


“Dasar perempuan bodoh. Kamu harusnya bisa memperlakukan pelanggan dengan baik”, umpat pria itu lalu mendorong tubuh Yuki yang lebih kecil darinya hingga ia mundur beberapa langkah ke belakang, sikap pria kasar itu berhasil mengambil perhatian Billy yang tak terlalu ingin mencampuri urusan kecil seperti itu. Dengan wajahnya yang kesal ia menarik tangan pria itu dan meremasnya hingga pria itu merintih kesakitan.


“Ah..Ah.. Lepaskan aku”, rintih pira itu sambil mencoba melepaskan diri dari genggaman Billy.


“Jadilah pelanggan yang baik dan jaga sikapmu pak tua. Jika berniat mengacau disini lebih baik pergilah!”, seru Billy menatap tajam pria itu.


Deg!


Yuki merasakan kembali jantungnya berdetak kencang ketika pria yang ia tunggu muncul dan bahkan membelanya dihadapan banyak orang, Billy terlihat sangat gagah dan tampan dipandangannya ketika ia menunjukkan wajah kesalnya.


Pria itupun segera pergi setelah Billy melepaskannya. Melihat Yuki memegangi area bahunya, Billy menghampirinya dan membantunya untuk berjalan. Sikap Billy berhasil membuat Yuki berdebar, ia memandang Billy sambil tersenyum, tak pernah ia bayangkan ia bisa sedekat ini dengan Billy.


“Ah, bunga tulip merah yang biasa kamu pesan, aku sudah menyiapkannya”, ujar Yuki lalu bergegas mengambil rangkaian bunga tulip merah yang indah.


“Kamu sudah menyiapkannya? Aku tak perlu menunggu kalau begitu, terimakasih”, balas Billy kembali tersenyum pada Yuki.

__ADS_1


Sejak saat itu, tanpa disadari Yuki mulai memendam perasaan pada Billy, salah satu pelanggan tetapnya. Sikapnya yang baik namun pendiam, ramah dan juga tampan mampu membius Yuki masuk dan hanyut terhadap perasaannya sendiri.


“Jika sempat kembalilah kemari, aku ingin berterimakasih untuk hari ini”


Permintaan Yuki secara langsung harus ditolak oleh Billy pada saat itu juga, Billy menolong Yuki karena ia melihat ada sebuah ketidak adilan didepan matanya, bukan akrena alasan tertentu namun berbeda dengan Yuki yang terlanjur memiliki perasaan pada Billy.


“Maafkan aku, aku tak bisa, kekasihku menungguku”, balas Billy menolak secara halusa


Yuki sontak tersadar bahwa pria yang ia sukai sudah memiliki kekasih, ia melupakan kenyataan itu. Ucapan Billy seketika menusuk Yuki, rasanya cukup kecewa ketika ia melupakan bahwa pria tampan itu telah memiliki wanita di hidupnya. Yuki tersenyum sambil menunduk, setelah Billy pergi ia kembali mengangkat kepalany dan melihat Billy pergi begitu saja.


“Hah.. Bodoh sekali aku. Apa yang aku harapkan? Dia telah memiliki kekasih,sadarlah Yuki. Ia bahkan sangat mencintainya walaupun kekasihnya sedang sakit. Aku sangat iri pada kekasihnya, ia bisa mendapatkan pria yang hebat dan setia seperti itu”, lirih Yuki dengan terus menatap ke luar pintu berharap ia kembali dan berubah pikiran namun nyatanya tidak.


Setiap hari tepat di siang hari, Billy selalu pergi ke toko Yuki untuk sekedar membeli bunga untuk Airin, pertemuan mereka semakin lama semakin membuat Yuki tak lagi bisa menahan perasaannya pada Billy, percakapan yang singkat semakin lama semakin sering mereka lakukan hingga hubungan mereka mulai dekat, lebih tepatnya seperti hubungan pertemanan.


“Ingin sekali aku memilikinya, namun apakah mungkin? Pria yang telah memiliki kekasih bahkan sangat setia pada kekasihnya, tega kah aku merusak hubungan mereka? Namun bagaimana dengan aku yang terlanjur mencintainya? Aku tak bisa mundur lagi untuk sekarang. Aku sungguh mencintainya”, gumamnya dalam hati sambil menatap Billy dengan penuh cinta.


“Kau tak menemui kekasihmu? Ini sudah hampir jam satu”, ucap Yuki mengingatkan Billy karena mereka cukup lama menghabiskan waktu siang itu.


Dari luar toko Yuki, seorang wanita dengan mobilnya berhenti sejenak karena ia melihat sosok pria yang sangat ia kenal bersama dengan seorang perempuan, hubungan mereka terlihat sangat dekat melihat Billy yang sedang bercanda dengan wanita itu. Bahkan sentuhan fisik pun mereka lakukan, membuat Bianca terheran heran melihatnya. Yang ia tahu, Billy tak pernah melakukan kontak fisik pada perempuan manapun kecuali Airin, kekasihnya, pada dirinya yang adalah sahabat Airin saja jarang ia lakukan namun ia mendapati Billy sedang bercanda gurau bahkan sekali kali mereka berkontak fisik. Bianca tak ingin berpikir yang macam pada kekasih sahabatnya itu, Bianca menginjak gas nya dan bergegas menjenguk Airin disela sela kesibukannya.


Sebuah pintu kamar Airin terbuka disaat Airin dan Bianca sedang makan siang bersama. Billy datang dengan bunga tulip merah yang selalu ia berikan pada Airin setiap hari, hubungan mereka sangat baik baik saja hingga saat ini, tak ada yang terlihat mencurigakan bagi Bianca namun apa yang ia lihat terus saja mengganggu pikirannya.


“Baiklah, aku harus kembali bekerja. Jaga dirimu”, pamit Bianca pada Airin dan Billy.

__ADS_1


Disela sela waktu mereka berdua, sebuah panggilan masuk ke dalam ponsel Billy, panggilan dari salah seorang sekertarisnya yang meminta ijin untuk menemuinya untuk menandatangani salah satu dokumen yang lupa ia tandatangani karena harus segera dikirimkan saat ini juga. Tak lama seseorang mengetuk pintu kamar Yuki dan masuk ke dalam.


Terlihat seorang wanita bertubuh indah dan sangat cantik dengan riasan yang menghiasi wajahnya itu datang mendekat pada Billy sambil memberikan sebuah dokumen yang harus ia tandatangani. Seketika itu Airin merasa dirinya kecil melihat sekertaris Billy yang sangat cantik dan juga wangi itu.


“Saya pamit pak, terimakasih”, ucap sekertaris Billy lalu meninggalkan kamar Airin.


Dalam diam Airin membuang wajahnya dan tak menatap Billy setelah sekertarisnya pergi meninggalkannya.


“Ada apa denganmu? Kamu marah?”, tanya Billy pada Airin.


“Sekertarismu sangat cantik, ia juga mampu menjaga dirinya dan juga wanginya sangat harum”, ucapnya kesal.


“Lalu mengapa?”, tanya Billy sambil tersenyum dan mencoba untuk memegang tangan Airin namun ditepisnya.


“Diamlah!”, gerutunya kesal.


“Baiklah, jadi kamu cemburu karena merasa sekertarisku sangat cantik? Kamu bahkan jauh lebih cantik Airin”, ucap Billy menanggapi Airin yang terlihat cemburu.


“Jangan membual, akui saja”, balas Airin makin kesal.


“Mengakui apa? Sudahlah, untuk apa kamu cemburu? Aku menyukai senyumanmu yang selalu menjadi favoritku, aku suka ketika kamu cemburu dan marah padaku karena ada wanita cantik disekitarku selain kamu. Dan kali ini pun sama, kamu lebih unggul segaanya dari sekertarisku sayang”.


Ucapan Billy seketika mampu membuat Airin luluh dibuatnya, setiap kata kata yang ia ucapkan selalu berhasil membuat Airin tersenyum, perasaan cemburu itu sirna seketika.

__ADS_1


__ADS_2