
Malam itu, ditemani dengan sebuah lilin di atas meja, Billy dan Airin merayakan hari jadi mereka yang ke empat, Airin dengan dress abu abu miliknya dan membiarkan rambutnya terurai membuatnya terlihat bak puteri dalam semalam, sedangkan Billy dengan berbalutkan kemeja abu abu miliknya sungguh terlihat mempesona. Mereka sangat serasi sebagai pasangan kekasih malam itu, meski Billy melakukan sebuah kesalahan, tetapi Airin tahu jika tempatnya pulang hanya ada pada Airin, bukan pada wanita lain.
“Kamu terlihat sangat cantik mala mini, Sayang,” puji Billy yang terpesona dengan kecantikan dan keanggunan Airin malam itu, ia mengecup lembut kening wanitanya sambil memegangi tangannya seakan enggan untuk melepaskan Airin, gadis dihadapannya hanya tersenyum mendengar pujian yang keluar dari mulut Billy.
“Gaun ini sungguh membuatku terlihat seperti seorang putri, Sayang. Terimakasih telah memberikannya padaku,” balas Airin lembut sambil mengecup tangan Billy yang masih menggenggamnya. “Aku akan terus membuatmu merasa istimewa, Airin. Tak hanya malam ini, sampai kapanpun akan ku perlakukan istimewa layaknya seorang puteri” timpal Billy sambil menatap kedua mata Airin yang gterlihat berbinar.
Malam itu sangatlah istimewa bagi mereka berdua, hingga tahun ke empat mereka dapat bertahan mencintai satu sama lain, meskipun kenyataannya tidak sepenuhnya benar. “Aku selalu merindukan momen kita yang seperti ini, Billy. Saat saat dimana kita bisa menghabiskan waktu berdua tanpa memikirkan apapun lagi,” ujar Airin sambil membayangkan saat saat mereka jatuh cinta untuk pertama kalinya.
“Apakah aku terlalu sibuk hingga membuatmu kesepian? Haruskah ku percepat pernikahan kita agar aku sepenuhnya terikat padamu? Atau haruskah kita tinggal bersama mulai saat ini agar kamu selalu bisa melihatku baik pagi maupun malam?” Semua celotehan Billy berhasil membuat Airin tertawa, mereka melewati malam berdua dengan sangat indahnya. Candle light dinner mereka kali ini benar benar adalah yang sangat Airin rindukan, malam itu mereka berdua bebas mengekspresikan perasaan mereka , tertawa bahkan mencurahkan isi hati pada masing masing dari mereka, sebelum pada akhrinya mereka kembali di sibukkan oleh pekerjaan yang menumpuk hingga nyaris membuat mereka tercekik.
DRRRRTTT
DDRRRTTT
DDRRRTTT
Suasana malam yang sangat membahagian bagi Airin malam itu, hingga ia tak mendengar ponselnya yang bergetar di dalam tas miliknya. Lima panggilan dari Bianca malam itu, pangilan demi panggilan terus saja masuk ke dalam ponsel Airin. Namun, satupun tak Airin hiraukan.
__ADS_1
“Sepertinya sudah cukup larut, Sayang. Mari kita pulang, atau mau melanjutkan di tempat lain?” Tanya Billy sambil melirik ke sisi kanan Gedung yang mereka datangi. Sontak Airin melihat Gedung di sisi kanan Billy, kedua matanya membola ketika ia mengetahui maksud ucapan Billy.
“Sayang!”, Seru Airin sambil malu malu sambil menutupi wajahnya. Billy hanya sedikit menyeringai melihat Airin yang tersipu malu oleh godaannya. “Sudahlah, mari kita pulang sebelum pikiran kotor itu semakin memguasaimu,” ucapnya berdiri sambil membawa barang barang miliknya. Langkah kakinya diikuti Billy di belakangnya, mereka masuk ke dalam mobil lalu pergi meninggalkan restaurant itu.
DDRRRTTT
DDRRRTTT
Airin mulai merasa ponselnya bergetar dalam tasnya, ia mulai merogoh dan mendapati belasan panggilan tak terjawab dari Bianca dan juga Denis, Airin mulai mencoba menghubungi Bianca, tetapi sahabatnya tak merespon panggilannya, bahkan sampai beberapa kali Bianca tak juga menjawabnya. Raut wajahnya sungguh khawatir pada keadaan sahabatnya itu, ia merasa sesuatu yang buruk terjadi pada Bianca, Airin mencoba menghubungi Denis yang juga menghubunginya sebelumnya, akan tetapi hasilnyapun sama, mereka berdua tak menghiraukan panggilannya.
“Ada apa? Apa yang kamu risaukan? Hal buruk terjadi?” Tanya Billy yang sedari tadi melihat Airin sibuk dengan ponselnya sambil memasang wajah khawatir, “Bianca dan Denis tak menanggapi panggilanku. Mereka berdua menghubungiku sejak tadi. Namun, aku tak menjawabnya,” jawab Airin menjelaskan situasinya. Wajah Billy mulai sedikit kesal ketika nama Denis keluar dari mulut Airin. Pada akhirnya satu panggilan dari Denis masuk ke ponsel Airin.
Denis menjelaskan keadaannya pada Airin dan memberitahu tempat mereka berdua berada sekarang, meski itu sudah hampir tengah malam, Airin berencana menyusul Bianca dimanapun sahabatnya itu berada, “Baiklah, aku akan segera menyusulmu. Denis, tolong jaga Bianca sampai aku datang,” pinta Airin pada Denis, lalu ia mengakhiri panggilannya.
“Sayang, bisakah kamu mengantakanku ke tempat Bianca? Dia sangat membutuhkanku” pinta Airin pada kekasihnya. Sejak Airin berbicara dengan Denis, Billy sudah memanas, dan lagi ia mendengar wanitanya memohon pada pria lain.
“Bukankah ada Denis di sampingnya? Haruskah kamu juga turun tangan? Serahkan saja pada Denis. Kamu pulanglah!” Seru Billy yang kembali cemburu. Bukan Bianca masalahnya. Namun, adanya Denis di sana.
“Sayang, Bianca membutuhkanku, tak mungkin aku membiarkannya sendirian. Dia sahabatku!” Seru Airin. Billy tak menghiraukan ucapan Airin dan fokus menyetir dengan perasaan kesal dalam hatinya.
__ADS_1
“Apakah ini tentang Denis? Sudah ku katakana ini semua karena Bianca, jika bukan karena Bianca, aku takkan pergi, Sayang, ku mohon mengertilah, sahabatku membutuhkanku!” Pintanya sekali lagi dengan menjelaskan bahwa bukan Denis fokus utama Airin.
“Ya. Ini tentang Denis, aku tak pernah menyukai pria itu yang selalu saja berkeliaran di dekatmu apapun itu alasannya, entah masalah pekerjaan, ataupun karena masalah Bianca yang sedang membutuhkanmu!” Seru Billy mulai mengamuk karena kesal, lagi lagi Airin terus saja selalu berada di tempat dimana ada Denis di dalamnya, Billy kesal sampai ia memukul setirnya dengan cukup kencang, membuat Airin sedikit terkejut di buatnya.
“Jika kamu tak mau memgantarkanku, maka turunkan aku di sini, jika kamu tak ingin melihat Denis di sana, maka biarkan aku pergi sendiri!” Seru Airin yang semakin membuat Billy mengamuk.
“Kamu mau pergi seorang diri menyusul pria itu?” Balas Billy dengan kemarahan yang mulai menguasainya sepenuhnya
“Bianca! Ini masalah Bianca, tak ada hubungannya dengan Denis. Mengertilah Billy, kendalikan dirimu, jangan biarkan perasaan cemburu menguasaimu!” Seru Airin yang juga tersulut emosinya karena ucapan dari Billy.
“Pria mana yang tak cemburu mengetahui kekasihnya akan pergi ke tempat di mana ada mantan kekasihnya di sana? Alasan apapun itu aku takkan menerimanya!” Seru Billy yang masih tak mau mengerti Airin.
“Ya Tuhan! Ada apa denganmu Billy? Apa lagi yang harus ku lakukan agar kamu mempercayaiku? Semua ku lakukan demi Bianca sahabatku, bukan demi Denis. Dia menemani Bianca karena aku memintanya, bukan karena aku ingin bertemu kembali dengannya disaat aku sedang bersamamu. Kamu pikir aku wanita macam apa, hah?!” Seru Airin yang lelah dengan semua perkataan dan tuduhan Billy padanya.
Sesaat keheningan melingkupi mereka berdua, pertengkaran hebat antara mereka membuat keduanya tak lagi berbicara satu sama lain, hingga pada akhirnya, Billy mengantarkan Airin ke tempat dimana Bianca berada, tak ingin rasanya ia kemari karena ia melihat Denis di sana sedang menatap Airin.
“Kamu pulanglah, aku akan menemani Bianca dan pulang bersamanya,” ucap Airin pada Billy ketika suasana sudah menjadi lebih tenang. “Tidak!” Tolak Billy. “Selesaikan urusanmu dan serahkan Bianca pada Denis, kamu pulang denganku. Atau kamu berharap pria itu yang mengantarkanmu pulang? Begitukah maumu?” seru Billy yang lagi lagi menuduh Airin macam macam.
Tak dapat lagi wanita itu berbicara melawan Billy yang cemburu buta karena Denis, ia keluar dan mobil Billy dan segera berlari mendapatkan Bianca disana yang sedang bersama Denis.
__ADS_1