Dia Bukan Untukku

Dia Bukan Untukku
BAB 16 | Yuki Bukan Airin


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Billy hanya menggenggam tangan Airin dan mengecupnya lembut sambil terus menyetir mobil yang ia kendarai, bukan hal baru bagi ibu Airin melihat kemesraan Airin dengan kekasihnya itu, malah mereka tak malu menunjukkannya dihadapan kedua orang tua mereka. Kebahagiaan seperti sedang menunggu mereka didepan sana, menanti keduanya untuk berjalan mendatanginya.


“Kamu yakin baik baik saja? Katakan jika rasa sakitnya muncul kembali”, ucap Billy lembut sambil sesekali memandangi Airin disampingnya. Meski tubuhnya lemah bahkan tubuhnya semakin habis namun Billy tetap menatap Airin sebagai wanita yang sangat ia cintai.


“Aku baik baik saja, terimakasih sudah merawatku menggantikan mama”, balas Airin pada Billy yang masih menggengam tangannya seperti tak ingin melepaskannya. Sang ibu yang melihat kemesraan Airin dan kekasihnya itu tersenyum bahagia, ia mengetahui bahwa putri tercintanya berada dalam dekapan pria yang tepat.


“Sampai kapan kalian akan berpacaran? Ini sudah lima tahun, mama ingin segera menimang cucu seperti teman teman mama lainnya”, ucap sang ibu yang sudah tak sabar karena melihat bahagianya mereka berdua.


“Segera mama. Berapa cucu yang mama inginkan? Tiga? Lima?”. Tanya Billy menatap Airin dengan tatapan yang sedikit menggodanya. Sungguh terlihat wajah Airin malu dibuatnya, ucapan Billy berhasil membuatnya diam tak berkutip, sang ibu hanya tertawa melihat kejahial Billy pada puteri semata wayangnya itu. Airin menarik tangannya dari genggaman Billy dan memalingkan wajahnya.


Mobil yang dikendarai Billy telah sampai di halaman rumah Airin, ia membatu Airin turun lalu membawakan seluruh barang barang yang mereka bawa masuk kedalam rumah. Sungguh, Billy adalah sosok laki laki yang bertanggung jawab dan sudah sangat mencerinkan seorang suami idaman, jelas saja banyak wanita yang jatuh hati padanya.


“Aku harus kembali ke kantor, hubungi aku jika memerlukan sesuatu”, ucap Billy setelah ia membantu Airin masuk kedalam rumahnya. Ia pun berpamitan pula dengan ibu Airin lalu pergi meninggalkannya.


Billy sungguh sangat bahagia karena Airin sudah pulang, meski belum sepenuhnya pulih namun angannya untuk membawa kekasihnya untuk kembali seperti dahulu sudah tak lagi terbendung. Namun pada kenyataannya tidak. Baru saja Billy sampai ke kantornya, ia menerima kabar bahwa Airin kembali mimisan dan ia pingsan, kabar itu terasa seperti ia harus kembali mengubur keinginannya melihat Airin kembali seperti dahulu dan menerima kenyataan bahwa Airin sudah berbeda. Mungki benar Airin sudah diperbolehkan pulang dan rawat jalan namun bukan berarti penyakitnya hilang sepenuhnya, seluruh terapi yang Airin jalani sungguh berdampak pada tubuhnya yang semakin hari semakin habis, rambutnya pun semakin tipis, penampilannya sudah tak semenarik dahulu, membuat perasaan Billy sedikit terguncang.


Melihat kekasihnya semakin hari semakin lemah tak berdaya di kamarnya, membuatnya sulit untuk bertahan. Akan tetapi ia tak bisa membohogi diri bahwa ia masih sangat mencintai Airin meski ia sulit bertahan dalam kondisi ini, menjenguknya bahkan membawakan rangkaian bunga setiap hari selalu ia lakukan, namun itu semata mata bukan karena Airin seorang, Billy menemukan rasa yang telah hilang dalam dirinya, Billy kembali mengecap manisnya kebahagiaan dan kepuasan yang pernah ia rasakan dari Airin.

__ADS_1


“Kakak datang lagi?”, tanya Yuki yang melihat Billy kembali datang setelah ia membeli bunga untuk kekasihnya.


“Ah.. Iya, aku datang lagi. Malam ini ada waktu? Bisa temani aku minum kopi di kafe ujung jalan sana?”, tanya Billy sedikit terbatah batah, ia melihat ke arah Yuki dengan harapan bahwa Yuki dapat menemaninya malam ini.


“Baiklah, aku kaan kesana jam tujuh malam”, balas Yuki dengan senyuman di wajahnya. Billy terdiam dan sedikit membolakan matanya, sekilas ia melihat Airin tersenyum padanya.


“Senyuman mereka sungguh mirip”, gumamnya dalam hati sambil menggaruk kepala yang tak terasa gatal.


Billy melangkahkan kakinya keluar dari toko Yuki dan pergi kembali ke kantornya, sementara Yuki masih tetap diam dan mematung, ia memegangi wajahnya dengan kedua tangannya untuk memastikan bahwa ini semua bukanlah mimpi. Rasanya jantungnya seperti copot karena berdebar terlalu kencang. Ia sungguh sangat bahagia, perasaan yang tak terkira itu kini menyelimuti dirinya.


“Aku tak peduli apa yang akan terjadi nantinya. Satu hal yang pasti, aku sangat bahagia”, ucapnya dengan senyuman bahagia yang tak juga luntur dari wajahnya.


Deg!!


Entah mengapa melihat senyuman Yuki berhasil membuat jantung Billy berdebar, perasaan yang ia rasakan untuk Airin saat ini kembali ia rasakan ketika melihat Yuki, lagi lagi ia melihat Airin dalam diri Yuki, Airin yang tersenyum padanya dan menatapnya lembut.


“Ada apa denganku? Sadarlah Billy, dia Yuki bukan Airin!”, seru Billy mencoba menyadarkan dirinya dari ilusi yang ters saja mempermainkan mata dan pikirannya.

__ADS_1


“Kakak, ada apa mengajakku kemari?”, tanya Yuki.


“Ah, tak apa, aku hanya ingin mengajakmu saja. Kamu tak apa ke kafe ini berdua denganku?”, tanya Billy sedikit gagap.


“Tenanglah, lagi pula aku tak memiliki kekasih”, balas Yuki menatap Billy sambil menyerupit secangkir kopi yang baru saja datang.


“Hmm.. Bagaimana kakak tahu kalau aku suka mocha latte less sugar?”, tanya Yuki terheran menatap secangkir kopi yang terasa sangat nikmat dalam mulutnya. Billy hanya tersenyum pada wanita dihadapannya sambil terus menatapnya, tatapannya sangat berbeda dari sebelumnya. Seperti orang jatuh cinta.


“Mungkinkah dia dan Airin sama? Semua yang Airin sukai, dia juga menyukainya. Sayang, aku sungguh merindukanmu, bolehkah aku seperti ini untuk sebentar saja? Aku sungguh sangat merindukanmu”, gumamnya dalam hati sambil menepis air mata yang hampir jatuh di ujung matanya.


“Bagaimana dengan kekasihmu kak?” Dia sudah sembuh?”, tanya Yuki memecah keheningan, sejak ia duduk dan meminum secangkir kopi, Billy tak mengajaknya berbicara sama sekali, sungguh Billy adalah pria yang dingin, sedingin kulkas.


“Dia sudah pulang, dia baik baik saja. Bagaimana denganmu? Apa sudah berhasil mengungkapkan perasaanmu pada pria yang kamu sukai?”, tanya Billy kembali. Yuki sedikit menunduk dan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


“Tidak, aku tak berani kak. Namun kini sudah muai ada perkembangan, aku sungguh berharap aku bisa memilikinya. Menurutmu, apakah aku bisa memilikinya?”. Ucapnya sambil menatap Billy dengan mata indahnya, Yuki masih sangat mengharapkan Billy menjadi miliknya, tiba tiba tangan Billy menggenggam tangan Yuki, membuat wanita itu terkejut merasakan sentuhan lembut yang diberikan Billy ketika ia menggenggam tangannya.


“Tunjukkan jika kamu mencintainya, jangan buang waktumu. Jangan menyerah apapun keadaannya”, ujar Billy memberikan saran pada wanita dihadapannya. Kini Yuki terdiam sambil menatap Billy, matanya sungguh memancarkan cinta untuk Billy.

__ADS_1


“Begitukah? Meskipun kamu memiliki kekasih? Kalau begitu akupun takkan menyerah, meski terlihat mustahil, akan ku buat kakak menjadi milikku. Aku sungguh mencintaimu, kak” gumam Yuki dalam hatinya.


__ADS_2