
Di sore hari Airin keluar dari rumah sakit untuk menyesuaikan jadwal terapinya dengan dokter, ia melakukan seperti apa yang ibunya katakan. Melihat kondisinya yang semakin lama semakin memburuk, Airin sangat ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan Billy beberapa hari belakangan ini. Samabil memandangi langit di atap apartemennya Airin duduk dan menunggu Billy datang menghampirinya.
“Tempat ini selalu menjadi tujuanmu jika suasana hatimu kurang baik, bukan begitu?”, ucap Billy membuyarkan lamunn Airin yang sedari tadi menatap langit sambil bersenandung merdu.
“Sudah datang? Kemarilah”, balas Airin menoleh ke belakang melihat Billy yang datang bersma beberapa camilan yaang ia bawa lalu mengisyaratkannya untuk duduk di samping Airin.
“Sibuk ya? Maaf aku memintamu kemari”, ucap Airin menatap Billy dengan senyum lembutnya. Billy mengusap lembut rambut Airin dan membalas senyumannya sambil menggeleng.
“Tenang saja, aku sudah menyelesaikan pekerjaanku. Jadi aku bisa datang menemanimu sebentar saja”, balas Billy singkat sambil menatap ke langit seperti yang Airin lakukan.
Sejenak suasana semi dan sunyi melingkupi keadaan malam bertabur bintang itu, hanya hembusan angin saja yang berbisik di telinga mereka.
“Aku ingin mengajukan cuti selama dua hari, aku ingin pergi bersamamu untuk berlibur. Bisakah kamu meluangkan waktumu? Aku akan meyesuaikannya dengan jadwalmu” ujar Airin langsung pada intinya sambil memakan camilan yang Billy bawa, beberapa hot dog, sandwich dan juga kentang lalu minuman bersoda lainnya.
“Berlibur? Sepertinya ide yang bagus, dua hari lagi aku senggang. Akan ku selesaikan segalanya esok hari agar aku bisa meninggalkan kantor dengan aman. Bagaimana?”, tanya Billy meberikan waktunya pada Airin.
“Mmm”, balas Airin singkat sambil mengangguk. Kesunyian malam terasa sangat hangat bagi mereka berdua yang sedang bersama menikmati indahnya malam. Sesekali Airin menatap kearaah kekasihnya yang sedang memandangi langit sama seperti dirinya, terbesit dalam benaknya untuk berkata jujur pada Billy tentang apa yang sedang terjadi padanya namun Airin kembali mengurungkan niatnya.
__ADS_1
Sejenak ia menyandarkan kepalanya di bahu Billy yang cukup lebar sambil memejamkan kedua matanya, perasaan takut kini mulai menghantuinya kala itu, semakin ia tenggelam dalam hangatnya pelukan Billy semakin ia takut untuk berkata jujur.
“Seperti ini, kumohon sebentar saja seperti ini. Aku akan sibuk dengan pengobatanku, aku tak ingin meninggalkanmu terlalu lama jadi bisakah kamu menungguku sebentar saja?”, lirihnya dalam hati, tanpa sadar air mata Airin jatuh membasahi pipinya, dadanya yang terasa sesak menahan isak tangis semakin lama semakin menyiksanya.
“Apakah tak apa jika kamu mengetahuinya? Mengetahui jika kekasihmu ini sakit sakitan dan sedang berjuang melawan maut? Aku takut kamu akan meninggalkanku sayang”, sambungnya bergumul dalam hati.
Billy merasa bahwa kekasihnya itu tak sedang bermanja padanya, dengan lembut Billy membelai surai Airin dan mengecup kepalanya.
“Kamu baik baik saja?”, tanya Billy sambil menggenggam tangan Airin
“Aku baik baik saja, aku hanya merasa nyaman berada di pelukanmu”, balas Airin menghela napas panjang sedang Billy mempererat dekapannya, membuat Airin merasa lebih nyaman lagi.
“Astaga, seperti baru pertama kali saja aku kencan dengan Billy, mengapa aku gugup sekali? Sungguh ini bukan seperti diriku yang biasa”, ujarnya sambil merasakan detak jantungnya yang berpacu dengan cukup kencang. Suara klakson mobil terdengar hingga ke kamar Airin, ia turun layaknya seorang putri dan berpamitan dengan kedua orang tuanya.
“Mama, papa. Airin akan pergi dengan Billy, mungkin akan pulang malam”, pamit Airin pada mereka berdua sambil mencium tangan dan mengecup pipi kedua orang tuanya seperti yang biasa ia lakukan jika hendak keluar rumah.
“Bawa obatmu, jangan sampai terjadi hal buruk padamu sayang”, seru ibu Airin mengintkan.
__ADS_1
Melihat Airin perlahan pergi dan tak terlihat, kedua orang tua Airin kembali khawatir akan anaknya itu, meski Airin telah dewasa dan mampu mengurus dirinya sendiri namun tetap saja, kekhawatiran orang tua Airin masih sangat besar padanya.
“Akankah Airin baik baik saja? Bagaimana jika ia pingsan disaat kita tak ada di sana?”, ujar ibunya khawatir.
Lagi lagi Billy menatap Airin tanpa berkedip. Wanita pujaan hatinya itu selalu berhasil membuat dirinya berdepar tiap kali mereka bertemu, seakan matanya hanya dapat melihat Airin saja, semua wanita yang berjalan bahkan tak jarang dari mereka memberikan kesan bahwa mereka tertarik pada Billy, namun ia tak menghiraukannya. Selama Airin masih ada di sisinya, wanita manapun akan lalu dari padanya.
Hari pertama kamu memilih taman hiburan dan pergi ke pucak untuk sekedar bersenang senang dan menghirup udara segar disana, berbeda di Surabaya yang penuh engan polusi dimana mana, suasana yanag sungguh menyenangkan bagimu saat itu ketika berhasil menaiki hampir seluruh wahana permainan bersama Billy. Sejenak Airin melupakan segala beban yang ia pikul seorang diri, yang terasa hanya tawa dan kebahagiaan, Airin sangat bahagian begitupula dengan Billy yang terus saja melihat kekasihnya itu tersenyum tiada henti.
Perjalanan berlanjut, kini mereka berdua maik ke puncak utuk menyegarkan pikiran mereka dan beristirahat sebentar sambil menikmati pemandangan alam yang sangat indah. Hari sudah semakin malam namun Airin masih sangat menikmati suasana di puncak dalam dekapan Billy, tak terasa hari ini hampir berakhir, meski masih ada hari esok namun Airin sangat menginginkan waktu berhenti saat ini, agar ia bisa terus bersama Billy.
“Sudah semakin malam, mari kita pulang, kamu sudah terlalu lelah dengan hari ini Rin”, ucap Billy lembut pada kekasihnya yang masih bersandar dalam dekapannya. Airin menggelengkan kepalanya dan melingkarkan tangannya dan memeluk Billy erat erat.
“Hmm.. Nanti saja, aku masih ingin disini bersamamu”, balas Airin yang mulai bermanja pada kekasihnya itu.
“Ini sudah malam, pasti akan sangat larut sampai rumah Rin, masih ada hari esok. Aku akan menemanimu pergi kemanapun kamu mau”, balas Billy sambil melepaskan pelukan Airin dan menggenggam kedua tangannya, ia melihat Airin yang mulai memanyunkan bibirnya.
“ Baiklah, besok aku ingi ke pantai, aku ingin memancing lalu membakar ikan yang berhasil ku tangkap. Dan.. Aku ingin diving, menyelam ke laut. Mari kita lakukan itu hal itu besok”, seru Airin mengatakan apa yang ada didalam benaknya dengan sangat bahagia, ia tak ingin membiarkan dirinya berdiam diri atau beristirahat sejenak. Dua hari ini ia habiskan hanya bersama dengan Billy, matanya berbinar ketika ia menyusun jadwal mereka untuk esok hari.
__ADS_1
“Baiklah, as you wish my qeen”, balas Billy pada Airin yang sangat terlihat ceria dan bahagia sambil menyentuh hidung mungil Airin dengan lembut.