Dia Bukan Untukku

Dia Bukan Untukku
BAB 25 | Mencoba Menggapainya Kembali


__ADS_3

Segera setelah Denis mengetahui posisi Airin, ia menuju lokasi Airin dengan kecepatan tinggi, raut wajahnya sungguh gelisah, ia memacu kecepatan lajunya senada dengan irama jantungnya yang berdegup kencang. “Bertahanlah, Airin” batinnya dengan gelisah.


Airin yang sudah tak tahan lagi dengan sakit yang ia rasakan mulai kehilangan kesadarannya, wajahnya yang pucat membuatnya tak dapat lagi bertahan lebih lama untuk menunggu Denis. Sesekali Airin memegangi kepalanya dengan napas yang terengah, sakit di tubuhnya dan juga di hatinya kini berbaur menjadi satu.


“Airin!” Seru Denis tiba tiba membuka pintu mobil Airin dengan sangat gelisah.


Ia melihat Airin yang sudah sangat lemah tak berdaya, perlahan Denis memapah Airin masuk ke dalam mobilnya lalu ia menitipkan mobil Airin pada orang yang ia percaya. Jalanan yang cukup sepi membuat Denis leluasa untuk mengebut menuju rumah sakit, tatapannya tak pernah luput dari Airin sembari ia menyetir menuju rumah sakit, sesaat ia mengaku pada Bianca bahwa ia sudah tak memiliki perasaan apapun pada Airin tetapi, pada kenyataannya Denis masih sangat mencintainya.


“Sakit,” lirih Airin dengan suara kecilnya.


Denis semakin menggila, ia takut hal buruk terjadi pada Airin, ia menambah kecepatan lajunya hingga ia sampai di rumah sakit tempat Airin control. Pikiran Denis hanya dipenuhi dengan Airin mulai dari menjemputnya hingga kini ia menemani Airin yang tengah terbaring di rumah sakit, tak sekalipun Denis melepaskan genggaman tangannya dari Airin, pria itu menunggu dengan sabar sambil berharap dalam hatinya agar Airin segera sadar.

__ADS_1


Tepat tengah malam, Airin mulai tersadar dan melihat Denis tengah tertunduk sambil terus menggenggam erat tangannya. Pria yang diharapkan adalah kekasihnya tetapi ternyata bukan, sedikit kecewa Airin dibuatnya. Ia mengingat apa yang ia lihat saat itu, ketika kekasihnya sedang bercumbu dengan wanita lain, tanpa sengaja air matanya keluar bersamaan dengan hembusan napasnya, Denis yang merasakah bahwa Airin telah sadar mengangkat kepalanya dan menatap Airin sambil tersenyum lega.


“Akhirnya kamu sadar, masih terasa sakit?” Tanya Denis pada Airin sambil menyentuh lembut surainya. Airn menggelengkan kepalanya dan ia mencoba untuk bangun karena ia merasa sakitnya telah hilang.


Perhatian dari Denis membuat Airin merasa jauh lebih baik dari sebelumnya, sungguh hangat ia rasakan ketika Denis menggenggam tangan Airin sampai gadis itu tersadar.


“Aku akan mengantarkanmu pulang setelah ini, jangan khawatirkan mobilmu dan kedua orang tuamu, aku sudah mengurus semuanya, jadi kamu bisa tenang,” sambungnya.


“Kalau begitu aku ingin pulang sekarang, ini sudah terlalu malam, aku harus bekerja esok hari,” balas Airin dengan mencoba berdiri dan mengambil barang barangnya yang berada di meja samping ranjangnya.


Airin hanya bisa tersenyum menerima semua perlakuan dan perhatian Denis padanya, ia bahkan tak menolaknya karena ia merasa sangat nyaman dengan Denis, bukan sebagai mantan kekasih tetapi, sebagai teman dekatnya.

__ADS_1


Airin mendengarkan ucapan Denis untuk beristirahat di rumah dan benar saja, hampir setiap satu sampai dua jam sekali, ia menghubungi Airin untuk sekedar menanyakan kondisinya, bahkan makanan seperti tak henti hentinya datang ke rumah Airin dari pagi sampai siang hari. Denis memanjakan Airin dengan semua yang hampi tak pernah ia lakukan untuk Airin ketika mereka menjalin sebuah hubungan dahulu, kini ia membalaskannya. Tak sekalipun Denis tak menghiraukan Airin, perhatiannya sungguh melebihi Billy yang adalah kekasih Airin.


“Aku akan sangat terlihat gemuk jika aku makan terus tanpa melakukan apapun di hari ini,” ucapnya sambil mengunyah burger dan kentang goreng yang adalah camilan favoritnya. Namun Airin tak menghiraukannya, selama perutnya masih kuat menampung makanan yang Denis pesan untuknya, ia akan terus mengunyah dan memakannya.


Pintu gerbang rumah Airin terbuka ketika klakson dibunyikan. Ialah Denis di sela sela kesibukannya datang pada Airin, tak cukup berkomunikasi dengan ponsel saja, Denis benar benar harus memastikan bahwa Airin baik baik saja dan memakan semua makanan yang ia pesan. Penampilannya yang sungguh menawan sambil membawa beberapa kantung makanan pada tangannya, Denis masuk ke dalam, ia melihat ibu Airin yang tengah bersanta sambil menata bunga dan memasukkannya ke dalam beberapa vas, hobi yang tak pernah berubah dari dulu saat Denis dan Airin masih menjalin sebuah hubungan.


“Kamu membawa terlalu banyak makanan, Denis,” ucap Ibu Airin menghampiri Denis dan memeluknya.


“Untuk Airin, apapun akan Denis lakukan,” balas Denis pada ibu Airin.


“Naiklah, Airin sedang bersanta di kamarnya,” ucap Ibu Airin lalu ia kembali melanjutikan hobinya sementara Denis mulai berjalan dan menyusuri anak tangga hingga ia sampai di depan pintu kamar Airin.

__ADS_1


Tok Tok Tok


Tanpa menunggu jawaban dari Airin, Denis masuk ke kamar Airin, ia melihat Airin sedang bersantai dan memakan hampir semua makanan yang dikirimkan Denis padanya. Melihat Airin tersenyum ceria seperti ini saja telah mampu menepikan semua ketakutan dalam dirinya.


__ADS_2