Dia Bukan Untukku

Dia Bukan Untukku
BAB 26 | Hubungan Yang Tidak Baik Baik Saja


__ADS_3

“Apa yang membuatmu bahagia?” Tanya Denis pada Airin sambil berjalan duduk di samping ranjangnya.


“Kamu datang, aku melihat foto foto dimasa kita sekolah dahulu, sungguh menyenangkan dan sangat lucu sekali,” ucapnya sambil terus tersenyum.


Senyuman manis yang dipancarkan Airin membuat Denis ikut tersenyum melihatnya. Bahkan kecantikannyapun tak luntur meski sudah bertahun tahun mereka tak pernah bertemu, Denis sekali lagi terbius senyuman dan tawa Airin, hanya melihatnya saja sudah berhasil membuat Denis berdebar.


“Apa tak apa seorang Direktur muda meninggalkan kantornya dan malah mengunjungi temannya? Cepatlah kembali, aku sungguh baik baik saja,” ucap Airin meyakinkan Denis bahwa dia baik baik saja.


Denis mendekat dan duduk di samping ranjang Airin sambil mengupas beberapa buah yanh ia bawa untuk Airin, layaknya pria yang baru saja jatuh hati pada wanita yang dilihatnya pertama kalin, bagi Denis, semua yang ia lakukan pada Airin beberpa waktu ini adalah pertama kalinya meski dahulu iapun sering melakukan ini padanya.


“Kamu tak menghubungi kekasihmu kalau kamu tak bekerja hari ini? Kamu terlihat sebagai wanita lajang yang bebas.” Ucapnya sambil menyuapkan sepotong buah apel yang telah ia kupas masuk dalam mulut Airin.


“Aku tak ingin mengungkitnya, jadi jika masih ingin di sini, jangan membahasnya,” balas Airin sambil mengunyah buah apel yang masuk dalam mulutnya. Denis hanya terkekeh kecil menanggapi jawaban Airin yang terdengar seperti anak kecil baginya. “Kamu bertengkar dengannya?” Tanya Denis sembari menatap Airin.


Airin menggelengkan kepalanya, auranya dengan cepat berubah dari cerah menjadi mendung. Denis tak mengerti apa yang terjadi antara mereka berdua. Namun, sepertinya keputusannya untuk datang ke tempat ini adalah keputusan yang tepat.


“Semasa di Autrali, apa kamu memiliki seorang kekasih?” Tanya Airin tiba tiba. Denis mengerutkan keningnya sambil memandang Airin dan tersenyum sambil mengangguk.

__ADS_1


“Ya, aku memiliki satu semasa aku di Australi. Namun, sekarang aku tak lagi bersamanya, dia bermain gila di belakangku dengan sahabatku sendiri.” Ucapan Denis membuat Airin tertegun, ia merasa sedikit bersalah menanyakan hal itu pada Denis, ia tak tahu jika Denis mengalami hal serupa dengannya.


“Ah, aku tahu bagaimana rasanya, pasti saat itu kamu sangat kacau sekali bukan?” Balas Airin menepuk nepuk lengan Denis setelah ia mendengar ceritanya. Denis kembali mengerutkan keningnya pada Airin, “ Bagaimana kamu bisa tahu perasaanku saat itu? Apa kamu tahu rasanya ketika kekasihmu selingkuh?” Pertanyaan Denis seperti membungkam Airin dalam sekejap. Airin membuang wajahnya ke sembarang arah, ia tak berniat menceritakannya pada siapapun termasuk pada Denis, tetapi sepertinya ia melakukan sebuah kesalahan.


Perlahan tangan Denis yang lembut menyentuh lengan Airin. “Ada apa? Apa aku melakukan kesalahan?” Tanya Denis bingung. Sekali lagi Airin menggelengkan kepalanya, hatinya kembali sakit karena teringat kekasihnya yang kala itu sedang bercumbu dengan wanita lain di belakangnya.


“Bukankah sudah waktunya bagimu untuk kembali? Jam makan siang hampir berakhir,” ucap Airin mencoba melepaskan sentuhan Denis dari padanya. Namun, tiba tiba pintu kamar Airin terbuka, seorang pria berdiri deadpan pintu Airin melihatnya sedang bercengkraman dengan pria asing. Wajah Billy tiba tiba berubah menjadi menyeramkan ketika ia melihat kekasihnya berada di kamar dengan pria asing yang sedang menyentuhnya.


“Apa yang kalian lakukan?” Tanya Billy geram, sungguh terlihat bentuk rahangnya ketika ia sedang marah. Suasana menjadi sangat menegangkan siang itu ketika sepasang mata menatap tajam Denis dan Airin secara bergantian.


“Sepertinya aku harus kembali, hubungi aku jika kamu butuh sesuatu, Airin,” Seru Denis dengan santainya sambil menatap Billy dengan sedikit menyeringai. Denis berjalan dan berhenti tepat di samping Billy yang masih berdiri di depan pintu kamar Airin. “ Lain kali jaga baik baik kekasihmu, atau dia akan menemukan bahu lain untuk bersandar!” Seru Denis tepat di samping Billy, lalu ia melanjutkan langkahnya keluar dari kamar Airin.


Billy hanya bisa menatap kesal punggung Denis yang telah lalu dari padanya. Perasaannya sungguh campur aduk kala itu melihat pemandangan yang membuatnya kesal ditambah ucapan Denis yang sangat mengusiknya. Billy menutup pintu kamar Airin lalu berjalan mendekat padanya dengan tatapan yang tajam, sedikit takut Airin dibuatnya.


“Jauhi dia, Airin. Aku tak ingin kamu dekat dengannya lagi mulai saat ini!” Seru Billy pada kekasihnya dengan nada kesal.


“Dia hanya berkunjung, Sayang. Lagi pula dia temanku, tak mungkin aku melarangnya dekat denganku, sama seperti Bianca,” balas Airin mencoba memberi pengertian pada Billy. Namun, tatapan Billy semakin membuat Airin tertunduk takut melihatnya, “ Dia menyentuhmu, dia bahkan menggodamu tepat dihadapanku. Teman apa yang melakukan hal gila seperti itu, hah?!” Seru Billy yang semakin geram karena Airin masih saja membela Denis dihadapannya, “Turuti ucapanku dan jangan membantah, kita akan segera menikah Airin. Aku tak ingin ada pria lain dalam hidupmu, entah itu teman atau sahabat atau apapun juga” Sambung Billy. Airin hanya bisa menunduk takut dengan kemarahan kekasihnya.

__ADS_1


Semua yang dikatakan Billy tak benar, Denis tak pernah merayunya selama ini dan Airin yang terlebih dahulu memegangnya, sayang Airin tak dapat menjelaskannya, mulutnya seakan terbungkam mendengar ucapan Billy padanya. Airin memberanikan diri untuk memengan tangan Billy dan mengecup pipinya lembut.


“Sudahi marahmu, Billy. Aku takkan melakukannya lagi, maafkan aku.” Ucapnya mencoba meredakan amarah Billy dengan tingkah manjanya yang selalu berhasil membuat pria bertubuh besar itu luluh.


“Aku hanya takut orang lain akan merebutmu dariku. Maaf karena berkata kasar padamu,” balasnya dengan membelai lembut surai Airin yang bersandar padanya


**


Suasana kantor yang cukup padat siang itu, Bianca berjalan sambil membawa beberapa naskah yang harus segera ia revisi sebelum di serahkan pada atasannya. Namun, Beni menarik paksa Bianca menuju arah yang berbeda, Bianca mencoba melepaskan diri dari genggaman erat Beni tetapi, cengramannya terlalu kuat hingga mustahil Bianca mampu melepaskan diri. Beni membawa Bianca masuk ke dalam sebuah gudang yang hanya ada mereka berdua di dalam sana. Beni mengunci ruangan itu agar taka da siapapun yang dapat masuk ke dalam.


“Apa apaan ini? Mengapa Bapak membawa saya kemari?!” Tanya Bianca dengan kesal akan Tindakan Beni yang tiba tiba seperti ini.


“Sampai kapan kamu mau seperti ini? Menyembunyikan kenyataan dari semua orang dan bertingkah seolah olah taka da yang terjadi diantara kita?!” Seru Beni pada Bianca.


“Sejak awal saya dan Bapak tak pernah memiliki hubungan apapun kecuali atasan dan bawahan, apa yang Bapak bicarakan?!” Balas Bianca kesal, Beni melangkah mendekati Bianca kala itu, membuat wanita itu menarik langkahnya mundur hingga menyentuh dinding. “Haruskah ku katakana pada semua orang saat ini juga? Baiklah jika itu maumu!” Seru beni yang sudah tak tahan lagi dengan Bianca.


Dengan tiba tiba Bianca menyambar pergelangan tangan Beni dan menahan langkahnya dengan raut wajah panik. “ Apa yang kamu kalukan? Kamu mau merusak pernikahanmu yang tinggal sebenar lagi, Ben?” Geram Bianca.

__ADS_1


__ADS_2