Dia Bukan Untukku

Dia Bukan Untukku
BAB 9 | Tulip Merah


__ADS_3

“Terimakasih atas kunjungannya, semoga harimuh cerah”, seru seorang pemilik toko bunga pada pelanggan yang baru saja meninggalkan tokonya. Salah satu toko bunga yang cukup ramai itu tak pernah sepi oleh pengunjung. Entah pagi siang atau sore bahkan malam hari, toko itu selalu didatangi oleh pengunjung. Dia adalah seorang wanita bernama Yuki, dengan rambut yang selalu ia jepit dan menyisakan beberapa helai rambut yang ia biarkan terjatuh seperti menghiasi wajahnya, Yuki duduk sambil menunggu penlanggan lain datang ke tokonya. Pagi itu, kira kira pukul sepuluh pagi, Billy masuk ke toko milik Yuki, ia berencana membelikan Airin rangkaian bunga untuk menghiasi kamarmya.


Klinting..


Suara lonceng pintu berbunyi, yang menandakan seorang pelanggan telah datang. Billy memasuki toko itu dan mulai melihat lihat beragam bunga yang berbaris rapi pada tempatnya. Semua bunga di toko itu sangat indah sampai sampai Billy tak tahu harus memilih bunga yang mana, satu persatu bunga ia lihat dan dekati. Sampai akhirnya, Yuki berdiri dan menghampiri Billy.


“Ingin mencari bunga yang seperti apa?”, tanya Yuki pada Billy tiba tiba.


“Ah.. Ini, aku ingin mencari bunga namun aku tak tahu bunga apa yang sebaiknya ku ambil”, ucap Billy pada Yuki dengan binggung.


“Untuk kekasihmu kah?”, tanya Yuki dengan tersenyum


“Iya, dia sedang berada di rumah sakit sekarang”, balas Billy.


“Baiklah, bunga mawar sudah terlalu umum bagi kebanyakan orang, bagaimana jika bunga tulip merah?”, ucap Yuki memberikan sarannya. ia pergi mengambil setangkai bunga tulip merah dan diberikan pada Billy saat itu.


“Lihatlah, bunga ini sangat cantik bukan? Bunga ini memiliki arti rasa cinta yang mendalam pada pasangan kita, mungkin ini akan cocok untukmu”, sambungnya seraya memberikan bunga itu pada Billy untuk ia lihat.



Billy cukup tertarik pada saran dari sang pemilik toko bunga itu, tanpa banyak berpikir ia meminta Yuki untuk membungkus serangkaian bunga tulip merah itu.


“Baiklah, aku akan mengambil yang ini. Tolong berikan aku serangkaian tulip merah,”, pinta Billy pada Yuki.

__ADS_1


Segera Yuki mengerjakan permintaan Billy dan mengaturnya dengan sangat rapi, serangkaian bunga tulip merah telah siap untuk dibawa oleh Billy saat itu.


“Terimakasih atas kunjungannya, semoga harimu cerah”, seru Yuki saat Billy meninggalkan toko miliknya, Billy hanya tersenyum menanggapi ucapan wanita itu lalu ia pergi ke rumah sakit menemui kekasihnya.


Billy mempercepat langkahnya menuju kamar Airin saat itu, karena ia harus menghadiri sebuah rapat penting siang ini. Ia mencoba menyempatkan diri bertemu dengan Airin walau hanya sebentar saja.


“Pagi sayang”, sapa Billy pada Airin yang sedang berbaring di ranjangnya bersama Bianca di sampingnya yang sedang bercanda dengan Airin saat itu.


“Kamu disini? Tidak bekerja?”, tanya Billy.


“Hhmmm..Aku libur hari ini, jadi aku bisa menjaganya dan bergantian dengan kedua orang tua Airin”, balas Bianca pada Billy.


Billy memberikan serangkaian bunga yang telah ia beli pada Airin, bunga tulip merah yang sangat indah dengan wangi yang segar berhasil memenuhi satu ruangan dengan baunya, tak henti hentinya Airin menciumi wangi dari bunga tulip merah yang diberikan Billy padanya saat itu.


“Bi, bisakah kamu meletakkannya di atas meja itu?”, tanya Airin lalu memberikan rangkaian bunga itu pada Bianca.


“Bagaimana kabarmu? Apakah masih terasa sakit?”, tanya Billy pada kekasihnya sambil mengecup tangan Airin lembut.


“Aku baik baik saja, bagaimana denganmu?”, tanya Airin


“Aku pun baik. Namun Airin, spertinya aku tak bisa menemanimu hari ini, rapat sedang menungguku, tapi besok aku akan datang dan menjagamu. Maafkan aku”, ucapnya sedikit menyesal karena ia tak bisa berada di samping Airin kali ini. Airin tersenyum dan mengangguk, salah satu tangannya membelai lembut kepala Billy lalu turun ke wajahnya.


“Tenanglah, ada Bianca dan kedua orang tuaku yang siap menjagaku. Bekerjalah dengan baik sayang. Aku akan baik baik saja disini, aku jauh lebih mengkhawatirkanmu, aku takut kamu melupakan dirimu sendiri dan sibuk dengan pekerjaanmu. Makanlah yang teratur dan beristirahatlah yang cukup, jangan sakit karena kalau kamu sampai sakit, aku tak mungkin bisa merawatmu”, balas Airin yang mengkhawatirkan Billy, seorang pria yang selalu melupakan dirinya jika sudah sibuk dengan pekerjaannya.

__ADS_1


“Jangan khawatirkan aku . Aku akan menjaga diriku”, ucap Billy lembut menanggapi kekhawatiran Airin pada dirinya.


Waktu menunjukkan pukul sebelas siang, tiba waktunya bagi Billy untuk kembali bekerja dan menghadiri rapat penting. Waktu terasa sangat singkat ketika mereka berdua sadengan bersama untuk melepas rindu, seolah olah pertemua itu bagaikan mereka sedang mengisi baterai tenaga mereka karena mereka takkan bertemu lagi hari ini.


“Aku harus pergi. Jika membutuhkan sesuatu segera hubungi aku”, ucap Billy lalu mengecup kening Airin lalu ia pergi meninggalkan wanitanya. Berat rasanya meninggalkan Airin sendiri tanpa dirinya namun sebuah tanggung jawab sedang menantinya diluar sana dan Billy sangat yakin bahwa kekasihnya itu tak ingin dirinya lebih memilih menjaganya dari pada mengerjakan apa yang telah menjadi tanggung jawabnya.


Setelah Billy meninggalkannya, perasaan hampa mengisi hatinya, terasa seperti ada lubang besar ketika Billy pergi. Meskipun Bianca ada bersamanya ia tetap saja merasa sepi, keberadaan Billy tak dapat digantikan oleh siapapun, tidak juga sahabatnya. Entah sudah berapa lama Bianca mengajak Airin berbicara namun rasa sepi masih bertahta di hatinya.


Bianca mengetahui apa yang diinginkan sahabatnya itu, ia lebih menginginkan Billy yang menemaninya daripada dirinya, meski begitu tak ada perasaan kesal dalam dirinya . Ia tetap mengajak Airin berbicara meski terkadang respon yang diterima hanya sebatas senyuman atau anggukkan, ia tak tega jika harus meninggalkan sahabtanya itu seorang diri disaat kedua orang tuanya sedang berada di luar negeri dan kekasihnya sedang sibuk bekerja.


“Ah.. Pak Beni benar benar membunuhku dengan semu pekerjaan gila yang dilimpahkannya padaku. Ketidak hadiranmu sangat menyulitkan kami Rin, pekerjaanmu dilimpahkan pada pada kami. Karena kamu bekerja dengan sangat rapi dan sempurna, Pak Beni juga menuntut kami menyelesaikan pekerjaanmu dengan sempurna seakan akan kamu yang mengerjakannya”, gerutu Bianca mengadu pada Airin tentang keadaan di kantor ketika ia tak ada ditempat.


Tawa dari Airin membuat Biaca senang, setidaknya ia benar benar tertawa kali ini dan bukan hanya dibuat buat.


Malam ini berlalu dengan cepat, selama satu hari penuh Bianca menemani Airin di rumah sakit. Kini ia harus kembali ke rumahnya untuk bersiap siap masuk kerja. Pagi hari itu bersamaan dengan suara salah satu suster yang masuk ke kamar Airin, Bianca juga ikut terbangun.


“Maafkan aku membangunkanmu, kami harus mengambil darah pasien pagi ini”, ucap suster itu lalu melakukan tugasnya. Bianca bersiap dan mengambil seluruh barang barangnya lalu menunggu hingga suster itu selesai.


“Baik, waktunya aku pulang. Selesai sudah tugasku menjagamu”, ucap Bianca pada Airin yang ternyata telah bangun sejak tadi.


“Maafkan aku Bi, kamu pasti merasa bosan menemaniku kemarin”, ucap Airin pada sahabatnya.


“Setahuku ituah gunanya sahabat bukan. Kamu baik baik saja sendiri disini? Apa aku harus cuti setengah hari untuk menemanimu?”, tanya Bianca sambil meregangkan tubuhnya yang sedikit tegang, meskipun fasilitasnya sangat lengkap namun ranjangnya tak sebaik yang ia bayangkan.

__ADS_1


“Tak perlu, aku akan baik baik saja, Billy akan segera kemari”, balas Airin.


Bianca kini meninggalkannya dan hanya tersisa Airin seorang diri saja, kini ia merasakan sepi yang sangat hebat. Tak ada kekasih ataupun sahabat yang ada disampingnya.


__ADS_2