
Airin mempercepat langkahnya masuk ke dalam salah satu kedai kopi yang didatangi dimana ada Bianca di dalamnya, kedai kopi yang ia datangi adalah milik salah satu temannya ketika mereka SMA dahulu, terlihat raut wajah khawatir ketika kedua mata Bianca yang terlihat sembab dan pandangannya yang kosong mengarah pada satu titik di depannya, sesekali air matanya kembali mengalir ketika ia kembali teringat kejadian dimana Beni sedang menggenggam tangan wanita lain.
TING!
Pintu kafe terbuka, seorang wanita yang sedang membereskan beberapa gelas dan piring menatap Airin sambil tersenyum , seegra Airin masuk ke dalam setelah ia membalas senyuman kawan lamanya itu, “Bianca,” panggil Airin berjalan mendekat padanya.
Airin memeluk sahabatnya itu dan membuatnya nyaman untuk sesaat, terasa tubuhnya basah karena Bianca kembali menangis dalam diam, tanpa suara ia terus mengeluarkan air matanya, Airin merasakan rasa sakit hati Bianca dari caranya membalas pelukannya dan air mata yang mengalir mengenai tubuhnya.
“Tenanglah, ada aku di sini,” ucap Airin sambil mengusap lembut surai Bianca untuk menenangkannya. Cukup lama Bianca menangis dalam dekapan Airin, perlahan ia melepaskan pelukannya ketika ia merasa bahwa Bianca sudah lebih tenang. Diusapnya air mata Bianca yang masih terlihat membasahi wajahnya dengan lembut, sungguh membuat wanita itu nyaman berada di dekat sahabatnya.
“Ada apa?” tanya Airin ketika Bianca sudah jauh lebih tenang. Namun, nyatanya Bianca masih membungkam mulutnya dan enggan untuk menjawab pertanyaan Airin, ia hanya menggeleng kepalanya sambil tersenyum seperti mengisyaratkan bahwa dirinya sudah baik baik saja. “Pulanglah. Billy pasti menunggumu. Maaf membuatmu khawatir, Airin,” balas Bianca pelan.
Namun, Airin menolak, ia menggelengkan kepalanya, ia tak ingin meninggalkan Biaca dalam keadaan seperti ini, “setidaknya beritahu aku apa yang terjadi padamu. Aku takkan meninggalkanmu disaat kamu seperti ini, Bi,” jawab Airin menolak.
Bianca menatap Airin lalu menghela napas berat, “sepertinya, aku telah kalah. Aku bahkan belum memulai apapun,” ucap Bianca yang mmebuat Airin tak mengerti denga napa maksud dari ucapan Bianca. Gadis itu memegangi dadanya yang terasa sangat sakit hingga ia sedikit kesulitan untuk bernapas, “dia datang bersama tunangannya. Dia yang baru kemarin mengajakku untuk serius dengannya, tetapi hari ini ia datang bersama tunangannya. Di depan mataku, mereka sedang bermesraan,” lirih Bianca dengan nada yang bergetar menahan tangis yang enggan ia keluarkan kembali, perasaannya sungguh menyikasa dirinya sendiri.
__ADS_1
Bianca merasakan dadanya semakin lama semakin sakit hingga ia nyaris tak bisa bernapas, wajahnya yang mulai memerah karena tak bisa bernapas pada akhirnya ia keluarkan kembali tangisannya. Sudah tak terbendung bagaimana sakit hati Bianca sejak awal pada Beni, kedua kalinya Bianca menangisi pria yang sama. Kini yang bisa menenangkan Bianca hanyalah pria yang telah menyakiti hatinya, bukan Airin dan bukan siapapun juga.
Setelah kejadian malam itu, Bianca tak masuk untuk beberapa hari, Airin menyampaikan ijin cuti Bianca untuk beberapa hari kedepan dengan alasan masalah Kesehatan, tanpa memberitahukan pada Beni apa yang sesungguhnya terjadi pada sahabatnya itu. Di dalam studio, terlihat Beni melihat kesana kemari seakan dirinya sedang mencari sesuatu, sesuatu yang hilang dari dirinya dan dari pemandangannya.
Sampai sebuah tangan yang kuat menyambar lengan Airin dan menghentikan langkahnya ketika ia sedang berjalan ke ruang VO, ia menatap wajah pria yang mengehentikan langkahnya itu dengan seksama, wajahnya yang khawatir akan satu hal, “di mana dia? Aku tak menemukannya di manapun,” ucap Beni pada Airin dengan tatapannya yang seperti orang ketakutan. “Mulai kemarin aku tak menemukannya, apa yang terjadi padanya? Dimana dia?!” tanya Beni yang panik karena ia tak melihat Bianca sejak kemarin.
“Semua pesan dan panggilanku, tak ada satupun yang di jawab. Apa Bianca baik baik saja? Apa yang membuatnya tak masuk selama dua hari?” Pertanyaan demi pertanyaan keluar begitu saja dari mulut Beni, seperti seseorang yang kehilangan yang paling berharga dalam dirinya, begitulah Beni saat itu. Meski telah melihat Beni yang hampir gila karena tak menemukan Bianca, Airin hanya mengangkat kedua bahunya lalu menggeleng, “akupun tak tahu dimana dia,” balas Airin dengan santainya, lalu ia melepaskan genggama tangan Beni dan masuk ke ruang VO tanpa memberitahu yang sebenarnya.
Airin mengerti perasaan Bianca, tetapi ia juga kasihan pada Beni yang menjadi gila karena tak ada Bianca di dekatnya, setelah Airin masuk ke dalam, Beni mulai merogoh ponselnya dan mencoba mengirim pesan kembali pada Bianca dan menghubunginya. Akan tetapi, lagi lagi Bianca tak meresponi semua pesan dan panggilan Beni padanya.
“Ku mohon, ada apa dengannya? Jika aku tak tahu keadaannya hari dua hari ini, aku takt ahu lagi apa yang harus ku lakukan esok hari,” pinta Beni memohon pada Airin yang menjadi satu satunya harapan baginya dalam mengetahui kondisi Bianca, tak mungkin ia mendatangi rumahnya dan mencari Bianca begitu saja. Sontak Airin menarik paksa lengannya dengan kasar, raut wajahnya terlihat kesal karena Beni yang terus saja memaksanya.
“Aku tak tahu apa yang terjadi dengannya, panggilan dan juga pesanku tak ada yang dihiraukan olehnya, sama sepertimu, jadi cari tahu sendiri!” Seru Airin mulai kesal.
“Tak mungkin kamu tak tahu apapun tentangnya, kalian berdua bersahabat, pasti Bianca menghubungimu, Airin?!” Jawab Beni yang tak mau kalah dai Airin.
__ADS_1
Airin menghela napas berat lalu ia menaikkan kedua lengan kemejanya dan melipat kedua tangannya, ia sungguh kesal dengan Beni yang selalu mengganggunya perkara Bianca yang taka da kabar hingga hari ini, “Aku juga memiliki masalah dengan kekasihku, jadi tolong jangan menambah beban pikiranku, Beni. Pikirkan saja ada apa dengan Bianca hingga ia seperti ini padamu,” timpal Airin yang geram dengan Beni, hingga ia tak sadar telah memberikan sebuah pernyataan pada Beni yang tak seharusnya ia ucapkan.
“Apa? Apa yang telah ku lakukan padanya? Apakah ini semua karena aku? Karena aku ia tak masuk hingga dua hari?!” Tanya Beni bingung dengan semua ini.
“Pikirkanlah Beni, Bianca ada di malam itu, malam dimana kamu sedang bermesraan dengan wanita lain!” Seru Airin pada Beni, ia tak sanggup lagi jika Beni harus terus mengejarnya terus menerus, dengan terpaksa Airin memberikan sebuah petunjuk untuk Beni. Segera Airn pergi setelah percakapannya pada Beni sore itu.
*****
Dalam sebuah apartemen yang hanya ada Yuki dan Billy di dalamnya, Billy berbairng di pangkuan Yuki, ia merasakan sentuhan Yuki yang begitu lembut mengusap rambutnya, sungguh dapat menenangkannya malam itu, Yuki dengan lembut terus membelai Billy tanpa henti hingga pria yang dicintainya itu merasa nyaman berada di pangkuannya.
“Apakah sentuhanku dapat meredakan beban pikiranmu, Kak?” Tanya Yuki pada Billy dengan nada yang sangat lembut. Billy terpejam menikmati sentuhan demi sentuhan yang ia rasakan.
“Hanya sentuhanmu yang bisa membuatku nyaman seperti ini, Yuki. Terimakasih karena selalu menemaniku, tak seperti Airin yang selalu saja membuatku cemburu,” ucap Billy dengan matanya yang terpejam.
“Apakah kakak ingin melepaskan beban pikiran Kakak? Yuki punya caranya,” ucap gadis itu berbisik pada Billy, yang membuat pria itu kegelian karena merasakan hembusan napas Yuki yang membuatnya merinding.
__ADS_1
Ia melihat Yuki yang perlahan melepaskan beberapa kancing bajunya dengan wajah yang lugu namun menggoda, ia mengerti apa yang di maksudkan Yuki malam itu, tanpa banyak berpikir, Billy langsung menyambar Yuki dan malam itu, Billy melampiaskan perasaan cembur, kesal, amarahnya pada Yuki, kekasih gelapnya