
Setelah pertemuan Airin dengan Ibu Billy, ia segera pulang dan mengistirahatkan dirinya, sayangnya hari ini Airin membawa mobil sendiri dan kesempatannya untuk berdua bersama kekasihnya harus berhenti di sini.
“Airin pulang, Tante,” ucapnya sambil memeluk calon mertuanya, “aku pulang, Sayang,” sambungnya pada Billy yang hanya mendapatkan sebuah anggukan darinya. Sejak ia datang, Billy tak banyak bicara dengannya seakan pikirannya melayang entah kemana, Airin membiarkannya begitu saja untuk hari ini. Namun, tidak untuk lain waktu.
Beberapa menit setelah Airin pergi, Billypun pergi meninggalkan Ibunya di rumah, hatinya sungguh tak tenang dengan Yuki yang pergi begitu saja setelah kejadian di rumahnya, meski sangat mencintai Airin, tetapi Billypun memiliki hati untuk Yuki yang selama ini setia menemaninya ketika ia membutuhkan sosok Airin dalam hidupnya dan kini, hatinya benar benar telah terbagi dua untuk Airin dan untuk Yuki.
Beberapa kali ia mencoba menghubungi ponsel Yuki, tetapi satupun panggilannya taka ada yang dihiraukan, semua pesannya pun tak dibalas olehnya, Billy semakin khawatir dengan Yuki yang mungkin akan mengamuk mengingat usia mereka yang terpaut cukup jauh, Yuki belum sepenuhnya mampu mengendalikan emosinya ketika ia menghadapi masalah seperti ini. Tak butuh waktu lama bagi Billy untuk sampai ke apartemen sederhana milik Yuki yang ada di lantai 5.
Tingtong!
Tingtong!
Beberapa kali Billy menekan bel rumahnya, tetapi Yuki seperti tak menanggapinya, sekali lagi Billy membunyikan lonceng rumahnya, tetapi lagi lagi seperti taka da jawaban dari Yuki, Billy kembali menelpon, tetapi masih taka da jawaban.
“Yuki, aku tahu kamu ada di dalam, setidaknya bukakan dahulu agar aku bisa menjelaskannya,” rayu Billy. “Menjelaskan apa? Tak ada lagi yang perlu Kakak jelaskan, pergilah, aku tak ingin menemuimu!” Usir Yuki tanpa membukakan pintu unitnya.
Billy masih tetap menunggu di depan pintu dan tak bergerak sedikitpun meski Yuki mengusirnya, ia tak ingin ada kesalah pahaman antara mereka berdua meski semuanya memanglah salah Yuki sejak awal.
__ADS_1
“Kumohon, berikan aku kesempatan, setelah kamu mendengarnya dan tetap tak ingin melihatku, aku akan pergi. Namun, sebelumnya biarkan aku masuk dan kita selesaikan bersama,” ucap Billy sekali lagi mencoba membujuk Yuki. Pada akhirnya gadis itu membukakan pintu bagi Billy untuk masuk ke dalam. Terlihat kedua matanya yang sembab bahkan membengkak karena menangis, Billy hanya memeluknya dengan lembut sambil mengusap pucuk kepala Yuki agar membuat wanitanya merasa nyaman.
Tangisannya kembali pecah di pelukan Billy, ia merasakan sakit di hatinya, isak tangisnya seakan mengisyaratkan betapa sakit hatinya kala melihat Airin mengecup Billy dihadapannya dan lagi, Airin yang dnegan mudahnya mengambil perhatian Ibu Billy darinya, “ini tidak adil, Kak. Bisakah Kakak menjadi milikku saja dan meninggalkan wanita itu?” Tanyanya lagi sambil menangis.
Meski tahu pada akhirnya Billy takkan bisa menjadi miliknya sepenuhnya, tetapi Yuki tetap memilih menjadi kekasih bayangan yang rela tetap dalam kegelapan menunggunya datang dan memberinya pelukan hangat disaat ia membutuhkannya. Selama ini Billy berusaha bersikap adil untuknya dan untuk Yuki, ia bahkan tak membeda bedakan dalam memperlakukan dua wanita yang sangat ia cintai, Namun, mengetahui bahwa Yuki tersakiti karena Tindakan Billy yang terkesan lebih membilih Airin saat itu cukup menyayat hatinya.
“Maafkan aku, karena aku hatimu sakit. Aku sungguh menyayangimu.” Hanya itu yang bisa Billy katakan untuk membuat suasana Yuki menjadi kembali baik. Billy memilih menemani Yuki lebih lama sambil memeluknya di kamar sampai ia tertidur pulas, tak henti hentinya Billy mengusap lembut surai Yuki mulai dari pucuk kepalanya untuk membuatnya tenang dan pada akhirnya tertidur, waktu menunjukan pukul sepuluh malam dan Yuki sudah lebih tenang dan tertidur, perlahan Billy beranjak dari kamar Yuki lalu mengecup lembut keningnya dan pergi meninggalkannya malam itu.
...****************...
Kriiingg!!
Naya : “ Ada yang harus ku katakan padamu, bisakah kita bertemu setelah kamu selesai bekerja?” Tanya gadis itu
“Baiklah, kita bertemu pukul tujuh malam di kafe, aku akan memberikan alamatnya padamu nanti,” balas Beni tanpa berpikir panjang. Ia mengakhiri panggilannya setelah percakapan mereka berakhir, memakai pakaiannya dan bersiap tidur malam itu.
Hari masih pagi, pukul sembilan pagi. Namun, suara pria yang berteriak seakan sedang engamuk sampai terdengar hingga luar Studio 4. Ialah Beni, yang bertanggung jawab memantau jalannya acara berita pagi, sejak awal acara berjalan, segalanya tak berjalan sesuai dengan semestinya, membuat membuta Beni sebagai program director mereka naik pitam.
__ADS_1
“Apa yang kalian lakukan? Lihatlah pengambilan gambarnya buruk sekali, kamera dua! Fokuskan kameramu!” Teriak Beni pagi itu yang membuat semua orang takut akan suaranya yang menggelegar bak petir yang menyambar di pagi hari.
“Maaf, Pak. Kali ini jadwal anak baru yang memegang kamera 2, dia masih baru dan kami berusaha untuk mengajarinya,” ucap salah satu anggota timnya. Matanya tertuju pada salah satu anak yang sedang memegang kamera sambil tertunduk ketakutan karena ia sadar telah melakukan kesalahan. Beni menatapnya dengan tajam lalu meninggalkannya begitu saja sambil menghembuskan napasnya dengan kasar.
Waktu berjalan dengan begitu cepat, hingga tak terasa pergantian shift telah dimulai, Beni menyelesaikan beberapa pekerjaan yang belum selesai, sebagai seorang program director pekerjaannya sungguh sangat banyak, banyak konsep konsep baru yang masih belum terealisasikan, melihat waktu menunjukkan pukul enam sore, Beni segera membereskan mejanya dan beranjak pergi meninggalkan ruangannya. Hari ini ia hanya fokus dalam bekerja hingga ia tak menghiraukan Bianca sedikitpun yang sejak awal selalu melirik padanya, Langkah kakinya yang terkesan terburu buru membuat Bianca berpikir dua kali untuk hanya bertegur sapa dengannya
“Sepertinya ia sangat sibuk hari ini,” batinnya yang hanya bisa menatap Beni berjalan terus sambil memainkan ponselnya tanpa menghiraukannya.
Dengan cepat Beni menginjak gas mobilnya dan menuju kafe di ujung jalan sana untuk menemui Naya, jarak tempatnya bekerja dengan kafe itu tak kurang dari sepuluh menit, ketika ia sampaia, Naya sudah duduk di dalam sambil sesekali melihat ke luar jendela seakan menunggunya. Beni masuk dan langsung duduk di hadapan Naya, menatapnya tanpa senyum.
“Ada apa?” Tanya Beni tanpa basa basi lagi, ia tak ingin membuang buang waktunya untuk duduk bersama Naya tanpa melakukan apapun. Gadis itu tersenyum menanggapi sikap dingin Beni padanya, Naya melipat kedua tangannya dan kembali tersenyum, “ Mari kita berteman,” balas gadis itu sambil tersenyum.
“Ha?!”
Siapapun pasti bingung dengan tingkah Naya yang tiba tiba, mereka berdua di jodohkan dan saat ini Naya meminta Beni untuk menjadi temannya, sungguh tak masuk akal permintaan gadis itu. Beni menatap gadis itu sambil berusaha mencerna ucapannya itu, ketika mereka sedang berbicara, sepasang mata menatap ke dalam kafe dan melihat Beni sedang bersama wanita lain, wanita yang tak pernah ia kenal.
Bianca terdiam melihat Beni duduk bersama wanita lain, seakan tak berkedip, Bianca memegangi dadanya yang terasa sedikit sesak dan sakit menyaksikan semua itu, “apakah dia wanita yang dijodohkan dengannya?” batin Bianca.
__ADS_1
“Bodoh, mengapa saat itu aku senang sekali mendengar dia memintaku menikah dengannya? Bodoh kamu, Bianca,” ucapnya menyesali apa yang terjadi kemarin.