Dia Bukan Untukku

Dia Bukan Untukku
BAB 34 | Awal Pertemanan


__ADS_3

“Berteman? Apa maksudmu?” Beni terlihat sangat kebingungan dengan ucapan Naya yang mengajaknya untuk berteman, disaat mereka telah dijodohkan, sebuah pemikiran yang bodoh bagi Beni. Naya masih saja tersemyum polos sambil mengangguk, “Mari kita mulai dari awal, mari berteman, sebelum kita menikah bukankah kita harus mengenal satu sama lain?” balas Naya dengan sikap yang masih kekanak kanakan dimata Beni.


Beni terlihat cukup bingung, ia menyandarkan dirinya pada kursi yang ia duduki lalu melipat kedua tangannya dengan mata yang hanya tertuju pada Naya sambil menggelengkan kepalanya, “pernikahan ini, aku tak menginginkannya!” Seru Beni ketus pada Naya, tetapi hal itu tak membuat gadis manis itu menyerah menghadapai sikap dingin Beni padanya. Namun, keinginannya untuk berteman dengan Beni adalah murni, gadis muda yang lugu itu sangat menyukai Beni meski ia sangat dingin padanya.


“Aku akan membuatmu menyukaiku sebagai teman, Beni. Aku takkan berbuat hal yang lebih dari itu, percayalah. Karena itu, bertemanlah denganku, dan jangan terlalu memikirkan perjodohan ini,” ucap Naya pada Beni dengan santainya.


Selama ini, wanita yang dekat dengannya hanyalah Bianca dan juga Airin, ia tak memiliki teman wanita lain selain mereka berdua dan kini, seorang wanita yang hendak dijodohkan dengannya malah memintanya untuk menjadi temannya. Beni kembali memikirkan ucapan Naya, bukan karena ia setuju, tetapi karena Naya terlihat sebagai wanita biasa yang cukup menyenangkan meski Beni tak menyukainya karena perjodohan ini, kedua matanya kembali memandangi Naya lalu ia memutar bola matanya sebelum akhirnya ia mengangguk.


“Kamu setuju? Yang artinya kapan saja aku memintamu menemaniku pergi, usahakan untuk bisa melakukannya, karena kita telah berteman,” ucap Naya sambil menopang dagu dengan kedua tangannya, sontak Beni membolakan kedua matanya menatap Naya sambil mengerutkan keningnya. “Tenanglah, aku juga tahu batasannya. Kamu juga bisa memintaku menemanimu kapan saja, karena kita sekarang berteman,” sambung Naya.

__ADS_1


Entah apa yang ada dipikiran gadis itu, terdengar seperti sebuah perjanjian anatar Beni dan Naya rasanya, tetapi Beni tak lagi memikirkannya, toh jika ia tak bisa ia pasti ia menolak ajakan Naya dengan ribuan alasan yang ia miliki.


Percakapan mereka berakhir dengan cepat, Beni pergi dan membiarkan Naya tetap berada di kafe tanpa menawarinya tumpangan untuk pulang, Beni memilih untuk segera beristirahat karena sudah taka da lagi yang bisa ia lakukan lagi di rumah. Keesokan harinya, ketika ia memarkirkan mobil miliknya, matanya tertuju pada sang gadis pujaan hati yang sedang berjalan seorang diri tanpa penjaga di sampingnya a.k.a Airin, wajahnya tersenyum sumringah hanya dengan menatapnya dari jauh, segera Beni menghampiri Bianca yang sedang sibuk memainkan ponselnya sambil berjalan untuk check lock absen, tanap menyadari keberadaan Beni yang tepat di sampingnya, Bianca menoloeh ke sisi kanannya dan ia melihat Beni yang tersenyum ke arahnya sambil memandanginya. Namun, senyuman Beni diabaikan begitu saja oleh Bianca, setelah selesai check lock, Bianca berjalan menuju ruangannya sambil terus memainkan ponselnya.


“Ada apa dengannya pagi ini? Ia tak menanggapiku? Kali ini apa lagi salahku?” Tanya Beni sambil menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal. Beberapa kali ia berpapasan dengan Bianca dan bahkan memiliki kesempatan untuk berbicara dengannya, tetapi lagi lagi Bianca seperti menghindarinya, menjawab sapaannya saja enggan dilakukan Bianca.


Semakin bingung Beni di buatnya dengan sikap Bianca yang selalu berubah ubah setiap harinya, meski begitu perasaan cintanya untuk Bianca tak pernah luntur sedikitpun, malah semakin besar setiap harinya, melihat Bianca tak menghiraukannya, tak membuat Beni putus asa untuk menjahilinya.


Meski diusir dari hadapannya, Beni tak membiarkan Bianca lepas dari pandangannya hingga ia mendengar penjelasan dari Bianca tentang sikapnya yang berubah dingin padanya, “Baru saja beberapa hari Bianca mau berbicara padaku, sekarang ia kembali marah. Sebenarnya ada apa?” batin Beni yang tak mengerti jalan pikiran gadis itu.

__ADS_1


Sampai akhirpun Bianca enggan berbicara pada Beni. Tak ada Airin di sisinya membuat Bianca kesulitan menghindari Beni. Sebuah tangan tiba tiba menghentikan langkah Bianca ketika ia hendak berlari menghampiri Airin yang berada cukup jauh darinya. Beni dengan tatapan bingungnya menahan Bianca agar ia tak lagi lari darinya. “Airin!” teriak Bianca memanggil nama sahabatnya dikala ia dihadang oleh Beni.


“Diamlah, takkan ku lepaskan hingga kamu memberitahuku ada apa denganmu hari ini, mengapa kamu mengabaikanku? Apa salahku hingga kamu tak mau bicara dan menanggapiku!?” Seru Beni. Menyadari banyak mata menatap pada mereka berdua, ia menarik dengan paksa masuk ke dalam ruangannya, lalu mengunci ruangan itu hingga tak ada satupun yang masuk


“Kamu gila? Apa yang kamu lakukan?!” Seru Bianca mencoba merebut kunci dari tangan Beni, akan tetapi Beni terus menghindar hingga Bianca kesulitan menggapainya, sampai sampai kaki Bianca tersandung meja dan jatuh hingga menibani Beni yang berada di bawahnya “Akhh!!” Seru Bianca.


Tubuh yang menyatu dan membuat wajah mereka berdekatan hingga nyaris tanpa jarak, hangatnya hembusan napas Beni dapat Bianca rasakan saat itu, tatapan mata yang berhasil membuat Bianca diam dan mematung tanpa bergeming, gadis itu merasakan detak jantungnya seirama dengan jantung Beni, tanpa sadar jemari Beni menggapai wajah cantik Bianca dan menepikan beberapa helai rambut yang menghalangi kecantikan wajahnya.


“Bisakah waktu berhenti seperti ini? Aku tak ingin ia tersadar dan kembali menjauh dariku,” batin Beni sambil memegangi lengan Bianca hingga naik ke wajahnya, sensasi lembut sentuhan Beni membuat Bianca hampir kehilangan akal sehatnya, segera gadis itu tersadar dan bangkit berdiri, disaat Beni lengah, ia mengambil kunci yang terjatuh di lantai dan mencoba untuk melarikan diri. Namun sayangnya ta semudah itu, Beni lagi lagi berhasil mendapatkan Bianca dan menariknya kedalam pelukannya.

__ADS_1


Sekali lagi Bianca terkejut, tak hanya bisa merasakan irama detak jantungnya, ia bisa mendengar jantungnya berdetak. Entah mengapa Bianca membiarkan dirinya tenggelam dalam hangatnya dekapan Beni yang sudah sangat lama ta kia rasakan, tak ada perlawanan dari gadis itu.


“Jangan menjauh dariku, aku bisa gila jika kamu kembali menghindariku. Jangan membuatku takut dan khawatir padamu, teruslah berada disisiku, Bianca,” pinta Beni kala itu. Seakan mereka melewati waktu bersama, keduanya membiarkan diri jatuh oleh perasaan dari masing masing mereka. Rasanya, tak ada lagi yang dapat menghentikan dan menghalangi cinta mereka tumbuh semakin kuat.


__ADS_2