Dia Bukan Untukku

Dia Bukan Untukku
BAB 29 | Jangan Hilangkan Senyumanmu


__ADS_3

Tak ada lagi yang dapat Airin lakukan, sejak ia pulang dari rumah Billy, Airin hanya mengurung diri di kamarnya tanpa melakukan apapun, hanya duduk dan bersandar dan mengingat semua kelakuan Billy yang bermain gila di baliknya, hingga malampun datang. Airin memilih untuk keluar menghirup udara segar seorang diri, sebuah kafe yang cukup sepi dengan pemandangan cukup indah menjadi tempat pilihannya untuk melepaskan beban pikirannya sejenak, keramaian kota Suraba malam itu sungguh cukup menghibur dirinya yang tengah duduk di rooftop ditemani secangkir kopi panas dan potongan kue tiramisu dihadapannya.


“Hah, mengapa terasa sepi sekali? Bukankah aku baik baik saja sejak tadi?” ucapnya dengan mata yang terus memandangi indahnya kota Surabaya dari atas. Airin berinisiatif menghubungi Bianca untuk menemaninya, tetapi pesan dan juga panggilannya sama sekali tak direspon olehnya.


Meski Airin tipe yang mudah bergaul dengan siapapun, tetapi Airin tak memiliki begitu banyak teman dalam hidupnya, bahkan bisa dikatakan lingkup pertemanannya cukup sempit sekali. Ia kembali mengutak atik ponselnya dan jemarinya berhenti ketika ia melihat nama Denis. Sejenak ia berpikir dua kali untuk menghubunginya mengingat Billy pernah melarangnya untuk bertemu dengan Denis.


“Masa bodoh dengan ucapan Billy!” Seru Airin, ia menghubungi Denis dan memintanya menemaninya malam itu, pertama kali baginya, ia melanggar ucapan Billy. Tak pernah sekalipun Airin pernah tak menuruti Billy tetapi, dalam hal ini berbeda.


Tak lama setelah Airin menghubunginya, Denis datang, dengan gaya yang stylish ia keluar dari mobil miliknya dan berjalan masuk ke dalam kafe, Airin dapat langsung mengenali siapa sosok rupawan itu. Semua mata tertuju pada Denis yang terlihat sungguh mempesona dan juga tampan, senyumannya yang menyejukkan mampu menenangkan hati Airin yang sedari tadi terbakar api cemburu. Namun, senyumannya luntur seketika ketika ia melihat serangkaian bunga yang ada dalam genggamannya, Denis memberikan bunga tulip merah pada Airin.


“Bunga yang cantik untuk wanita paling cantik,” ucapnya tersenyum sambil memandangi Airin. Wanita itu mengambil bunga dalam genggaman Denis dan meletakkannya begitu saja tepat di hadapannya lalu membuang wajahnya ke sembarang arah.


“Ada apa denganmu? Kamu tak menyukai bunga itu?” Tanya Denis bingung dengan Airin yang mengacuhkannya.


“Jangan lagi kamu memberiku tulip merah, aku sungguh membenci bunga itu” kesal Airin pada Denis. Semasa ia di rumah sakit, Airin selalu diberikan tulip merah oleh Billy untuk menghiasi kamarnya. Namun ketika ia tahu bahwa Billy berselingkuh dengan wanita penjual bunga, ia semakin membencinya.

__ADS_1


“Di mana kamu membeli bung aini?” Tanya Airin ketus, “Di satu satunya toko bunga di dekat rumah sakit tempatmu berobat,” jawab Denis dengan wajah bingungnya.


Semakin geram Airin ketika ia mendengar jawaban dari Denis, bahkan tempat mereka membeli bunga adalah tempat yang sama, Airin membolakan kedua matanya seperti mau keluar kelihatannya, Denis merasa semakin kecil ketika Airin sedang mengamuk, pasalnya ia mengerti betul bagaimana seramnya ketika wanita yang berada tepat dihadapannya saat sedang mengamuk, sangat mengingatkannya ketika mereka berdua berpacaran dahulu.


“Di-dia mengatakan bahwa bunga ini adalah bunga yang paling cantik. Ada apa denganmu Airin?” Tanya Denis mencoba menjelaskan dengan sedikit takut padanya.


“Jangan pernah pergi ke toko itu, meski itu adalah satu satunya toko bunga terakhir di dunia!” Seru Airin geram. Denis tertunduk dan mengangguk kecil, ia tak ingin membuat Airin lebih marah lagi dari ini. Denis memilih diam untuk sementara sambil sesekali ia melirik kea rah Airin untuk memastikan bahwa amarahnya telah redah, tetapi ternyata wanita itu masih saja terlihat kesal. Hingga ia teringat sesuatu, satu hal yang pernah berhasil membuat wanita itu kembali tersenyum.


“Airin, bisa ku minta satu helai rambutmu?” Tanya Denis mencoba memberanikan diri, meski menatapnya deengan kesal, Airin memberikan satu hela rambutnya pada Denis tanpa banyak bicara lalu kembali melipat kedua tangannya.


Denis membulat bulatkan helai rambut Airin sambil sesekali menggosok gosoknya, lalu kemudian ia meniup tangannya yang tertutup, huuff!, “Sekarang giliranmu, tiuplah ini,” ucap Denis memberikan genggaman tangannya untuk ditiup Airin.


Airin menuruti ucapan Denis, lalu dari genggaman tangannya Denis mengeluarkan sebuah lollipop yang pernah menjadi kesukaan Airin dahulu. Matanya berbinar melihat trik sulap Denis yang sederhana, tetapi dapat membuat senyuman itu kembali menghiasi wajah Airin. Wanita itu meraih lollipop yang dilihatnya dengan tersenyum senang, sebuah lollipop mampu membuat Airin tersenyum.


“Teruslah tersenyum, jangan pernah hilangkan senyuman itu meski sesaat,” ucap Denis lembut padanya sambil membelai lembut surainya. Deg!!. Jantung Denis berdebar melihat Airin tersenyum dengan sangat cantik, ia membiarkan dirinya larut dalam perasaan itu. Bagi Denis, menemani Airin ketika ia sedang ada masalah atau dalam mood yang jelek adalah sebuah kebahagiaan, karena dengan begitu ia dapat menjadi orang pertama yang berhasil mengembalikan senyumannya yang hilang.

__ADS_1


“Entah sudah berapa lama aku tak pernah lagi memakan lollipop ini,” ucapnya bahagia sambil mebuka bungus lollipop itu lalu memakannya.


Lebih dari yang Airin bayangkan, Denis adalah orang yang tepat untuk menemaninya saat ini, tanpa sadar perasaan nyaman itu kembali, perasaan yang pernah ada di antara mereka kembali di rasakan Airin, ia menatap Denis dengan matanya yang berbinar, “Terimakasih telah membuatku kembali tersenyum,” ucapnya berterimakasih pada Denis. Sebuah anggukan diberikan Denis menjawab Airin.


“Jadi, apa yang membuatmu kesal hingga menghubungiku malam ini?” Tanya Denis melipat kedua tangannya di atas meja dan memajukan tubuhnya pada Airin, “Haahh! ” Wanita itu menghela napas berat dan menatap Denis.


“Billy, aku melihat Billy bersama seorang wanita di rumahnya, ia mengaku bahwa wanita itu adalah rekan bisnisnya, tetapi apakah sampai harus di ajak ke rumah? Ia bahkan merangkulnya,” lirih Airin mulai menceritakannya pada Denis. Pria itu hanya mengangguk dan mengetahui masalahnya, Airin cemburu dengan wanita itu. Terbesit dalam pikirannya untuk meracuni pikiran Airin, tetapi Denis menolaknya meski itu adalah sebuah kesempatan baginya.


“Tidak! Aku bukan pria berengsek yang mengambil kesempatan dalam kesempitan, sadarlah Denis, dia akan segera menikah!” Seru Denis pada dirinya sendiri ketika ia sedang bertarung melawan pikirannya.


“Ah, mungkin yang dikatakan Billy benar, terkadang aku juga mengundang rekan bisnisku ke rumah. Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan, atau aku akan susah mengembalikan senyumanmu,” ucap Denis mengibaskan tangannya di depan Airin melarangnya untuk kembali mengingat apa yang membuatnya sedih.


Airin tersenyum mendengar celotehan Denis yang tak pernah berubah dari dahulu. Ia masih tetap Denis yang sama sejak dahulu ketika mereka masih berpacaran bahkan hingga saat ini, keheningan kembali melanda mereka berdua.


“Apa kamu tak tertarik dengan seorang wanita ketika kamu kembali ke Surabaya? Atau jangan jangan kamu telah memiliki kekasih dan tak mengenalkannya padaku?” Tanya Airin pada Denis yang penasaran dengan kisah cinta pria tampan itu. Denis tersenyum mendengar pertanyaan Airin seolah penasaran dengan dirinya.

__ADS_1


“Aku menyukai seorang wanita. Namun, aku tak ingin mengungkapkannya, melihatnya dari jauh saja sudah cukup bagiku,” jawab Denis sambil tersenyum menatap Airin.


“Mengapa tak menmgungkapkannya? Katakan saja atau wanita itu akan jatuh ke tangan pria lain. Namun, siapa wanita itu?” Tanya Airin kembali. Denis hanya tersenyum dan terus saja menatap Airin tanpa mengatakan apapun. “Kalau saja kamu tahu siapa wanita itu, Airin,” gumamnya sambil memandangi Airin.


__ADS_2