
Pekerjaan cukup menyita waktu Billy, rapat dengan para Dewan Redaksi dan pemegang saham lain sangat membuatnya cukup kelelahan dalam satu minggu, beberapa kali ia memikirkan Yuki yang sedang sendirian di hotel, entah apa yang ia lakukan tanpanya. Meski ia tahu bahwa Yuki cukup menyukai kesendirian namun tetap saja Billy sedikit khawatir dengan Yuki.
“Jadi apakah kita bisa melakukannya?” Tanya para Dewan Direksi pada Billy.
“Kita lakukan seperti rencana awal,” balasnya.
Billy mengakhiri rapat itu dan segera menghampiri Yuki, beruntung hari ini adalah hari terakhir Billy ia menghadiri semua rapat yang ada.
Sedang di kamar hotel Yuki hanya membaca beberapa novel yang ia bawa untuk menghabiskan waktunya sambil menunggu Billy datang. Seseorang masuk ke dalam kamar Yuki disaat ia sedang menikmati kesendiriannya bersama novel di tangannya.
“Mari habiskan waktu bersama,” ucap Billy tiba tiba pada Yuki yang tengah berbaring di Kasur dengan novel pada tangannya.
Hari terakhir mereka di Bandung, meski cukup banyak hadiah yang Yuki dapatkan selama satu minggu mereka di Bandung namun tetap saja Billy masih tak puas dengan waktu yang ia sangat sedikit yang ia habiskan dengan Yuki.
Mereka mengelilingi kota Bandung, menghabiskan waktu bersama sambil bermesraan, sesekali Yuki menyandarkan dirinya pada bahu Billy menikmati waktu yang Billy berikan padanya.
“Kak, sebenarnya hubungan kita itu apa?” Tanya Yuki secara tiba tiba.
__ADS_1
“Kamu tahu bawa aku mencintaimu dan kamupun begitu. Bisakah kita jalani hubungan yang seperti ini sementara? Aku berjanji akan menjagamu,” balas Billy dengan lembut pada Yuki, ucapannya berhasil membuat Yuki luluh dan ia menerima hubungan yang tak jelas seperti ini.
“Meski aku tahu kakak memiliki kekasih namun aku akan tetap mencintai kakak, kakak takkan meninggalkanku apapun yang terjadi bukan? Berjanjilah padaku,” ucap Yuki merangkul lengan Billy dan menikmati malam bersama.
Bily menatap Yuki dengan lembut dan lagi lagi bayang bayang Airin mengikutinya, ia melihat Yuki sebagai Airin, senyumannya dan cara ia berbicara juga disaat Yuki bermanja padanya sungguh sangat mengingatkannya pada Airin.
“Aku tahu aku tak bisa membawamu bersamaku Airin namun setidaknya aku bisa merasakan bahwa kamu ada disini bersamaku meski sebenarnya bukan kamu yang berdiri di sampingku,” gumam Billy sambil membelai lembut surai Yuki.
“Bagaimana kalua kita pergi ke bioskop? Sudah lama aku tak menonton di sana,” ajak Yuki dengan bersemangat.
“Namun aku ingin pergi nonton bersamamu, Kak” rengek Yuki yang masih ingin pergi ke bioskop bersama Billy.
“Lebih baik aku melihatmu makan dan menikmati malam ini bersamamu daripada aku harus menemanimu untuk duduk dan menonton di bioskop. Kita makan malam saja dan berbelanjalah sesukamu. Habiskan seluruh uangku,” ucap Billy pada Yuki. Ia tak ingin hari terakhirnya hanya digunakan untuk duduk selama satu atau dua jam hanya untuk menonton di bioskop.
Mendengar ucapan Billy, Yuki tersipu malu, Billy benar benar memperlakukannya seperti kekasihnya. Mereka makan dan berbelanja, disaat mereka sedang asik berbelanja, Billy teringat Airin yang jauh disana, sementara Yuki berbelanja, Billy pun juga berbelanja untuk Airin.
“Bisakah barang ini dikirimkan ke luar kota?” Tanya Billy.
__ADS_1
“Kami bisa mengaturnya,” balas salah satu pegawai di toko itu.
Billy membeli banyak hal untuk kekasihnya namun ia sembunyikan semuanya itu dari Yuki. Hari semakin malam dan mereka tak punya waktulebih banyak lagi untuk berdua karena besok pagi mereka harus segera Kembali ke Surabaya.
“Sudah cukup larut. Mari pulang,” ajak Billy dengan membawa beebrapa barang barang milik Yuki.
“Bisakah kita minum sebelum kembali ke hotel?” Tanya Yuki pada Billy. Nyatanya Yuki masih menginginkan waktu lebih banyak dengan Billy karena ia tahu setelah ia kembali ke Surabaya, waktu mereka untuk bertemu akan cukup sulit. Billy mengerti dengan apa yang diinginkan Yuki, beruntung ia telah menyisakan sebotol wine untuk mereka berdua malam ini.
Sebelum mala benar benar berakhir, mereka beruda menghabiskan sebotol wine bersama sama, sungguh terlihat wajah mabuk diantara mereka berdua, akan tetapki Billy jauh lebih mabuk dari Yuki, ia seperti tak bisa lagi mengontrol dirinya.
“Aku benar benar sangat bahagia hari ini. Aku bisa pergi sepuasnya denganmu, menghabiskan hari yang jarang sekali kita lakukan. Mari kita terus bersama seperti ini,” ucap Billy dengan keadaan mabuk.
Billy tersenyum sambil terus menggenggam tangan Yuki pandangannya yang mulai sedikit kabur tak lagi bisa melihat dengan benar. Ia cukup yakin bahwa yang dihadapannya kini adalah kekasihnya Airin dan bukan Yuki. Hatinya sungguh merasa Bahagia karena kekasihnya ikut menemaninya seperti dahulu.
“Akupun begitu, kak,” balas Yuki.
“Aku mencintaimu, Airin. Sungguh, aku sangat mencintaimu,” ucap Billy dan ia meletakkan kepalanya di atas meja karena tak sanggup lagi mempertahankan kesadarannya. Yuki sedikit terkejut dengan Billy yang memanggilnya dengan nama Airin. Setelah satu minggu waktu yang ia habiskan bersama Billy ternyata masih tak bisa menggeser posisi Airin dalam hatinya.
__ADS_1