Dia Imamku !

Dia Imamku !
Nomor Tak dikenal


__ADS_3

Dering telpon mengusik telinga Adinda yang tengah terlelap dan menggangu tidurnya pagi itu.


" Siapa yang menelponku pagi pagi Begini " gerutu Adinda sambil Meraih telponnya yang terus berdering


"Nomor siapa ini rasanya aku tidak pernah memberikan nomor pada siapa pun? " batin Adinda bertanya tanya


Adinda pun membiarkan telponnya karna jika ada nomor baru yang masuk tanpa memberikan pesan terlebih dahulu dia tidak akan mengangkatnya


ting ( 1 pesan baru )


adinda meraih ponsel yang sudah dia letakkan tadi dan membuka pesan yang ada di ponselnya


"Assalamualaikum, ini aku Hamzah tolong angkat telponku sebentar!" ujarnya


" Waalaikumsalam ,ada apa?"


" sudah angkat saja"


" Ya "


Tak lama kemudian Hamzah kembali menelpon dan mereka pun terhubung dengan panggilan suara


" Hallo , Ada apa menelponku sepagi ini kau mengganguku saja " ujar Adinda ketus


" Jika tidak ada keperluan aku juga tidak akan menelponmu ! , Om Malindo Abi mu saat aku ada dirumah sakit menyuruhku membangunkanmu setiap subuh, agar kau tak telat sholat subuh "


" Hanya itu saja ?, tanpa kau telpon aku juga bisa bangun sendiri " ujarnya


" Tidak , Abi mu juga menyuruh kita mempersiapkan pertunangan untuk akhir pekan nanti "


" Oke Baiklah , assalamualaikum" ujar Adinda yang langsung mematikan telponnya


Adinda pun turun dari ranjangnya menuju kamar mandi membersihkan dirinya, berwudu' seperti sunah rasul-Nya. Lalu menggelar sajadah di atas lantai yang sekarang ia pijaki.


أُصَلِّى فَرْضَ الصُّبْح رَكَعتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لله تَعَالَى


"Usholli Fardlon Shubhi Rok'ataini Mustaqbilal Qiblati Adaa-an Lillahi ta'aala"


"Aku niat melakukan sholat fardu subuh 2 rakaat, sambil menghadap qiblat, saat ini, karena Allah ta'ala"


Rakaat demi Rakaat ia laksanakan dengan kusyu' hingga kewajiban yang ia laksanakan selesai


"Ya tuhan demi kebahagiaan abi aku rela mengorbankan semuanya ,semoga saja ini memang jalan yang engkau ridoi" Batin adinda sambil menengadahkan tangannya


Adinda pun mulai melepas mukena yang membalut tubuhnya, merapikannya dan menatanya kembali ditempat semula, kemudian ia berjalan menuju kamar ganti bersiap menjalani rutinitasnya , duduk di meja riasnya dan mulai mengaplikasikan make up dengan riasan tipis di wajahnya nan jelita , walau pun tanpa make up dia masih terlihat cantik. Ia pun membuka gangang pintu dan berjalan menuruni susunan anak tangga menuju Dapur


Di dapur Adinda menyapa Bi mona yang tengan menyusun makanan di dalam rantang berbentuk lingkaran berwarna hijau dipadukan dengan putih, Adinda pun mendudukkan dirinya diatas kursi meja makan minimalis dan mulai meraih makanan yang sudah disiapkan oleh bi Mona.


" Bi apakah makanan untuk abi sudah siap?" Ujar Adinda sembari duduk di kursi meja makan.


"Sudah nona, sudah bibi siapkan silahkan sarapan dulu nona."


" Terima kasih bi."


Adinda yang sudah menghabiskan makanannya bangkit dari kursi dan meraih susunan rantang makanan yang sudah di sediakan bi Mona. Kemudian, ia berpamitan pada bi Mona untuk pergi ke kantornya dan akan mampir dulu ke rumah sakit. Adinda pun naik ke mobil yang sudah disiapkan sopir abinya. Karna, Adinda sendiri tidak membutuhkan sopir jadi dia tak mempekerjakan sopir untuknya. Ia lebih nyaman membawa mobil sendiri, dari pada harus di supiri oleh orang lain.


Adinda pun masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mesin mobil keluaran terbaru itu, lalu melajukan mobil mewahnya keluar dari rumahnya, Adinda yang tak sabar bertemu abinya menambah kecepatan kereta besinya. Membelah jalanan jakarta pagi itu.


***

__ADS_1


Nampak seseorang yang tengah mondar mandir dikamar apartemenya. Entah apa yang sedang difikirkannya, membuat dirinya kehilangan mood untuk berada disana. Ingin rasanya kembali ke Kota ia dibesarkan apa daya urusannya belum selesai. Walau pun disana kota kelahirannya tapi tak kunjung membuat ia betah.


"Aku harus cepat cepat menyelesaikan urusanku disini dan pulang, aku mau menghubungi mami dulu" Gumam Kim dalam hatinya


tut tut tut


" Hallo mami!" Ujar Kim


" Hallo Kim ada apa?"


" Mih kenapa mami menyuruhku kemari kan mami sudah tau, jika aku tidak tertarik dunia bisnis mami ini bagaimana." Celoteh Kim yang kesal ulah maminya


" Itu bukan mami yang mau, tapi mendiang kakekmu, jika kau tidak mau menandatanganinya , mami akan menjodohkanmu biar suamimu nanti yang menandatanganinya!" Ujar mami dengan penuh penekanan


" Tidak tidak mamiku sayang, aku akan segera menandatanganinya dan mengurusnya tapi izinkan aku untuk balik ke jakarta dulu ya." ujar Kim penuh harap


" Gitu dong, mami tutup dulu ya telponnya ! mami ada meethong dah sayang"


" Mi tunggu ,apa meethong mih?"


"Meeting sayang"


"Astaga..." Ujar Kim sambil menepuk dahinya


Merekapun mengakhiri sambungan telponnya dan kembali menjalani kegiatannya masing masing di kota yang berbeda.


****


Adinda pun sampai di depan RS milik keluarganya, menaruh keretanya begitu saja didepan teras rumah sakit , dan berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju ruangan abinya. Setelah sampai didepan ruangan Adinda mencoba meraih pandangan dari balik kaca ruangan ditangkapnya sosok yang sedang di periksa oleh dokter, tanpa mengetuk adinda pun meraih gangang pintu dan membukanya Cleak.. pintu pun terbuka dan Adinda melangkahkan kakinya menghampiri lelaki yang selalu menyayanginya yang melirik ke arahnya bersamaan dengan dokter yang hampir selesai memeriksa kondisi abinya pagi itu.


"Assalamualaikum abi." Ujar Adinda sambil menyalimi tangan abinya


"Nona besok abi nona sudah bisa pulang kondisinya sudah membaik" ujar dokter menyela pembicaraan abinya


" Benarkah, terima kasih dok"


" Sama sama nona , saya permisi dulu."


Dokter pun keluar dari ruangan abi Adinda, pamit untuk memeriksa pasien lainnya. Sementara Adinda sudah membuka rantang makanan yang iya bawa dan mulai menyuapi abinya.


" Apa makanannya lezat abi?" ujar Adinda yang masih sibuk menyuapi abinya


" Tentu nak, lagi pula makannan disini tidak ada rasanya makannya abi tak pernah disini."


Celetuk abi


" haha... ini bukan hotel abi walaupun fasilitas dikamar ini seperti hotel " Ujar Adinda yang terkekeh mendengar keluhan abinya


" Kau ini, Adinda apa gk ke kantor"


" Iya abi , Adinda akan ke kantor se jam lagi, lagian jarak kantor dan rumah sakitkan dekat bi"


" iya benar juga ya"


Abi pun menghabiskan makanannya tak tersisa, yang disuapi oleh Adinda.Kemudian, Adinda yang harus ke kantor menyuruh abinya untuk beristirahat. Tak lama abinya pun tertidur dan Adinda melangkah pergi dari ruangan abinya.


****


Hamzah yang tengah duduk dikursi masih bergelut meneliti berkas berkas kerja sama yang diajukan oleh perusahaan lain. Aktivitas nya pun terhenti saat ada ketukan yang mengedor pintu ruangannya.

__ADS_1


"Permisi pak, boleh saya masuk?" Ujar David


" Ya silahkan!"


" Saya kemari ingin menyerahkan berkas pengunduran diri saya pak" ujar david


" Kenapa david, apa ada masalah?"


" Tidak tidak pak saya betah bekerja disini karna bapak baik hanya saja saya mau fokus membangun perusahaan saya yang dua bulan ini mulai berkembang pak"


" Oh begitu selamat ya" ujar Hamzah senang


" Terima kasih pak ,ini berkat bantuan bapak juga"


" Baiklah David , saya dengan senang hati menerimanya kalau begitu, tapi tolong bimbing sian karna dia akan menggantikanmu"


" Baik pak kalau begitu saya permisi kembali ke ruangan saya"


" silahkan "


David pun berlalu meninggalkan Hamzah sementara Hamzah kembali pada aktifitas sebelumnya bergelut dengan setumpukkan berkasnya. Ia pun menghentikan kerjanya sementara , karna teringat sian yang belum kembali sedari tadi membelikan makanan untuknya. Hamzah meraih ponsel di dalam tas kerjanya dan menghubungi Sian.


"Hallo, Sian kau dimana?" Ujar Hamzah


"Saya lagi di loby tuan."


" Segera keruanganku!"


Hamzah pun mengakhiri telponnya dan kembali bergelut dengan berkas berkas yang sudah menumpuk sedari tadi.


****


Adinda yang baru saja sampai di kantornya memarkirkan mobil yang ia kendarai. berjalan menuju loby kantor milikknya. Disana ia disambut oleh semua karyawan dan bertemu dengan Vivy yang juga baru sampai di kantornya.


" Pagi nona" Ujar Vivy


" Iya pagi, apa kah sudah disiapkan berkas yang kita butuhkan Vi?" Ujarnya sambil berjalan


"Sudah siap nona"


" Oke kita langsung ke Ruang direktur keuangan"


" Baik nona"


Mereka pun berjalan beriringan menuju ruangan Direktur keuangan sembari berbincang bincang dengan suara pelan merencanakan apa yang akan ia lakukan nanti.


_


_


_


_


Kira kira apa ya readers , apa aih yang terjadi sebenarnya dengan Malindo Grup


read next episode ya reader 😍


ig.Arini_khairunnisa

__ADS_1


__ADS_2