Dia Imamku !

Dia Imamku !
Kesiangan


__ADS_3

Suasana pagi yang dingin membuat Hamzah dan Adinda terlelap dalam dekapan pasangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Hiruk pikuk aktifitas di luar sudah terdengar, mulai dari suara klakson mobil, deru mesin kendaraan bahkan suara rintik hujan pada pagi itu. Sepertinya, aktifitas gulat semalam cukup melelahkan untuk dua orang insan yang cintanya sedang mengebu-gebu.


Adinda mulai mengerjapkan matanya, ia rasa dia sudah cukup tidur. Dia merasakkan ada tangan kekar yang mendekapnya. Adinda pun melirik ke sampingnya. Lekuk senyum terbentuk dari bibirnya, ia sangat bahagia pagi itu. Ia sebenarnya sangat malas untuk bangun, karna suasana hujan mendukung dirinya untuk tetap dalam dekapan Hamzah, namun ia tetap memaksakan diri untuk bangun dan menyiapkan sarapan. Adinda perlahan melepaskan dekapan Hamzah dari tubuhnya dengan hati-hati. Setelah berhasil melepaskan tangan Hamzah, Adinda pun melihat ke arah jam disampingnya. Sontak ia kaget, waktu sudah menujukkan pukul 10 pagi.


"Apa? Jam 10 pagi!" teriak Adinda membangunkan Hamzah. Adinda pun berlari ke arah gantungan handuk yang ada di sudut kamarnya.


"Kenapa sayang?" ujar Hamzah merengangkan tangannya.


"Kau mandilah dulu, ini sudah pukul 10 pagi! Aku akan menyiapkan sarapan," ujar Adinda sembari mengambil handuk untuk Hamzah.


Adinda pun berjalan ke arah Hamzah dan memberikan handuk yang ada ditangannya. Saat Adinda hendak melangkahkan kakinya ke arah pintu. Hamzah dengan cepat meraih tangan Adinda dan menariknya kembali ke atas ranjang. Hingga membuat Adinda menindih Hamzah.


"Lepaskan! K-kau mau apa?" tanya Adinda terbata-bata.


"Ayo kita lanjutkan!" ujar Hamzah berbalik menindih Adinda di bawahnya.


"Ini sudah siang Hamzah!" ujar Adinda berusaha mendorong Hamzah." Nanti malam masih ada waktu," tambahnya lagi.


"Ayo, sebentar saja sayang! Nanti malam kita kan balik ke Jakarta," ujar Hamzah dengan nada manja.


"Tapi—," ucapan Adinda terpotong oleh Hamzah.


Hamzah pun kembali mencumbui Adinda dibagian bibirnya. Menenggelamkan kepalanya ke dalam ceruk leher Adinda. Membuat istrinya mengelinjang akan sentuhan bibir Hamzah disana.


"Ahh ... sudah! Lepaskan aku akan membuat sarapan," lenguh Adinda.


Namun, Hamzah tetap melakukan aksinya. Hamzah mulai memainkan jemarinya di putik merah muda yang ada di balik kimono yang sedang dikenakan Adinda. Tubuh Adinda semakin mengelinjang membuat suara lenguhan keluar dari bibirnya yang merah merekah. Membuat Hamzah semakin mengila pada saat itu.


"Adinda aku mencintaimu, izinkan aku tetap berada disisimu!" bisik Hamzah membuat lengkungan senyum di bibirnya.


Perlahan Hamzah mulai membuka tali kimono milik Adinda. Semalam, setelah mandi mereka sangat lelah dan memutuskan tidur dengan handuk kimono miliknya. Dilihatnya, tubuh mulus tanpa cacat sedikit pun, ia tak menyangka tubuh ini sekarang miliknya. Hamzah meninggalkan jejak di tiap lekuk tubuh Adinda, membuat lenguhan Adinda semakin menjadi-jadi.


"Ahh umm, Hamzah sudah! Sudah," ujar Adinda menahan erangan dari mulutnya.

__ADS_1


"Sekali saja, ayah minta cucu bukan?" bisik Hamzah sembari menghentakkan kepunyaannya di liang Adinda.


Suasana kamar semakin panas saat erangan Adinda merasakan kenikmatan hentakkan dan remasan Hamzah di bukit menjulang miliknya. Keringat mengucur deras membasahi tubuh mereka. Pekikn khas keintiman dua insan menyatu dengan irama air hujan. Pada Akhirnya Adinda berganti posisi dan tumpang di atas dada bidang Hamzah. Mereka pun kembali terlelap karna kelelahan.


Di sebuah ruang tamu, anak dan ibu sedang bercanda ria. Sesekali, saling goda. Entah sejak kapan kehangatan itu kembali ada, yang jelas saat kehadiran Delon yang kini cukup dekat dengan Kimberly.


"Delon, kapan ke Jakarta lagi Kim?" ujar Mami Kim.


"Minggu besok Mi, dia kan mau membahas laporan kerjasamanya bersama Hamzah." ujar Kim.


"Astaga!" teriaknya lagi sampai menepuk jidat


"Kenapa Kim?" tanya mami heran.


"Kim lupa, saat memberikan hadiah untuk Adinda. Kim mendadak ada urusan dan belum menghubunginya."


Tanpa memberi kesempatan untuk mendengar perkataan yang akan di lontarkan maminya, Kimberly pun berlari ke kamarnya dan mengambil ponselnya. Di kamar, Kimberly yang sudah mendapatkan ponselnya menghubungi Adinda.


Tuut tuut


"Ya, Maaf! Aku baru selesai mandi," ujar Adinda.


"Hey, apa yang kau lakukan siang-siang begini? Apa kau—" ucapan Kimberly terhenti oleh perkataan Adinda.


"Sudah, ada apa menelponku? Bukannya kau minggu kemarin tak menjawab telponku!" ketus Adinda.


"Maaf, aku hanya ingin memberikanmu kejutan saja," ujarnya. " Tapi aku tak sempat menemuimu karna ada urusan mendadak. Kau sudah terima paperbag dariku bukan?" tanya Kim.


"Sudah, kau memberiku lingerie yang pernah kita sukai bukan? Waktu kita shopping bersama!" ujar Kimberly.


"Oo, jadi kau menyukainya sejak dulu sayang! Kenapa tidak mengenakannya?" ujar Hamzah yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Sontak membuat Adinda kaget dengan pipi bersemu merah. Sementara, Kimberly menguping pembicaraan mereka di balik telpon.

__ADS_1


"Setelah makan siang, ayo kita lakukan!" goda Hamzah.


Adinda yang tengah malu di dengar oleh Kim, ia sontak mematikan ponselnya. Kemudian, meletakkan ponselnya di atas nakas dan hendak berlari keluar kamar menyiapkan makan siang untuknya dan Hamzah. Melihat tingkah Adinda malu, membuat Hamzah gemas kemudian menarik tangan Adinda dan mengigit pipinya. Kemudian mencium istrinya dengan gemas dan melepaskannya sambil terkekeh.


"Kenapa istriku mengemaskan sekali," gumam Hamzah.


Adinda yang tengah menyiapkan makan siang di dapur apartementnya. Tersenyum geli membayangkan tiap adegan yang dia lakukan bersama Hamzah. Hamzah yang baru saja keluar dari kamarnya, melirik ke arah Adinda dan menangkap senyuman di bibir Adinda. Ia pun heran melihat istrinya senyum-senyum sendiri. Tapi ia juga bahagia melihat Adinda yang tidak larut dalam kesedihannya.


"Hey, kau kenapa senyum-senyum?" yltanya Hamzah memeluk pinggang Adinda dari belakang.


"Tak apa, apa aku tidak boleh tersenyum? Baiklah aku tidak akan senyum lagi,"ujar Adinda mengerucutkan bibirnya.


Hamzah yang gemas langsung mengigit kecil bibir Adinda, dan tertawa melihat tampang polos Adinda yang kaget.


"Kau ini, sakit tau!" ujarnya mengerucutkan bibir, "Ayo makan!" ketus Adinda.


"Baiklah sayang, kenapa kau mengemaskan seperti ini?" ujar Hamzah mencubit pipi Adinda dan duduk di meja makan yang ada di dapur.


Mereka pun melahap makanannya, diselingi obrolan kecil untuk mengadopsi Gibel. Setelah selesai Adinda pun membereskan meja makan dan membereskan apartemen mereka karna akan di tinggal ke Jakarta, di bantu oleh suaminya Hamzah.


Adinda dan Hamzah sudah kelelahan membersihkan apartement milik mereka. Waktu sudah jam 3 sore, butuh waktu 30 menit menuju panti asuhan untuk mengurus semuanya.Karena keinginn kuat mengasuh Gibel, Adinda dan Hamzah memaksakan diri untuk bersiap menuju panti.


"Kemarilah! Sepertinya susah sekali," ujar Adinda menegur Hamzah yang sedang kesusahan mengaitkn kancing bajunya.


Hamzah pun berjalan mendekati Adinda. Adinda pun memasangkan tiap kancing baju Hamzah yang ia rasa memang cukuo susah dimasukkan.


"Kenapa jantungku semakin berdebar seperti ini," batin Adinda.


"Karna aku tampan makanya kau berdebar," jawab Hamzah seolah olah mengetahui apa isi hati Adinda. Adinda pun melirik pndangannya pada Hamzah.


"Siapa yang berdebar," ujarnya. "Kenapa dia bisa tau," batin Adinda lagi.


"Karna hatimu dan hatiku sudah menyatu, makanya aku tau," jawab Hamzah sambil memegang tangan Adinda di dadanya.

__ADS_1


"Sudah, kau ini tidak jelas!" ucap Adinda membalikkan badan dan tersenyum. Kemudian, ia mengambil tas yang akan ia kenakan. Sementara, Hamzah hanya mengelengkan kepala melihat tingkah istrinya.


Jangan lupa Like, koment and share guys 😉😉 Krisannya juga ya


__ADS_2