
"Assalamua'alaikum wr. wb.
Alhamdullilahirabbil'alamin, puji beserta syukur kita ucapkan kepada Allah Swt ... " ujar Moderator membuka acara pertunangan Adinda dan Hamzah.
Setelah pembukaan disampaikan oleh moderator, sekarang penyampaian maksud dan tujuan mereka dalam acara kali ini, yang akan disampaikan langsung oleh Hamzah.
"Kepada Hamzah, sebagai calon mempelai lelaki silahkan sampaikan maksud dan tujuan kedatangan keluarga Putra." ujar Moderator.
Hamzah pun maju ditengah tengah keluarga, menghadap keluarga Adinda.
"Assalamu'alaikum Wr. Wb , puji syukur atas kehadiran Allah swt ..." sambutan Hamzah.
"Tanpa memperpanjang sambutan, saya akan menyampaikan maksud dan tujuan saya menemui keluarga Bapak Malindo. Maksud dari kedatangan saya dan keluarga ingin mengutarakan bahwasanya, saya ingin mengikat Adinda Putri Malindo, putri kandung dari Bapak Malindo sebagai tunangan saya. Kira- kira apakah Adinda orang yang bersangkutan bersedia menjadi tunangan saya?" ujar Hamzah.
"Bagaimana Adinda, apakah menerima ikatan dari Hamzah?" tanya Moderator.
"Saya Adinda Putri Malindo, dengan hati lapang menerima ikatan pertunangan ini."
Semua orang yang ada disana, sahabat, teman dan keluarga Adinda bertepuk tangan dengan meriah. Terukir senyum indah di wajah kedua keluarga. Acara pun dilanjutkan dengan pertukaran cincin. Setelah selesai, orang-orang pun mengucapkan selamat da menikmati hidangan.
"Selamat Nona Adinda, Tuan Hamzah. Semoga pernikahan kalian nantinya lancar." ujar Ronal.
"Terima kasih, kak!" ujar Adinda dan Hamzah bersamaan
" Aqila, kau tidak memberikan selamat pada Adinda?" tanya Ronal heran.
"Tidak perlu! lagi pula dia tidak selevel dengan kita sayang." ujar Aqila.
"Jaga mulutmu!" bentak Ronal.
"Jadi, tunanganmu kak Ronal?" ujar Adinda pada Aqila.
" Tentu, direktur Rs Malindo." ujar Aqila sombong.
"Rs apa?" tanya Adinda pura pura tidak dengar.
"Kau ini tuli, ya. Rumah sakit Malindo." ujarnya lagi.
"Aqila!" bentak Ronal.
"Aku bisa saja , menurunkan jabatan Ronal karna dirimu!" ujar Adinda.
"Maaf, Nona. Aqila tidak bermaksud menyinggung Nona." ujar Ronal.
"Kak, ajari calon istrimu. Kalau tidak aku akan membuat hidupnya berantakkan." uja Adinda.
"Sudah-sudah, pak Ronal dan calon istrinya silahkan nikmati hidangan yang sudah tersaji." ujar Hamzah mengakhiri perdebatan mereka.
Adinda dan Hamzah pun berjalan, menjamu tamu-tamu yang datang. Adinda yang tidak melihat Kimberly pun mencari-cari keberadaan Kimberly.
"Apa kau melihat Kim?" tanya Adinda pada Hamzah.
"Itu dia bersama Delon!" ujar Hamzah menangkap Delon dan Kim yang tengah mengobrol.
"Ayo kita hampiri!" ujar Adinda mengajak Hamzah.
"Baiklah."
Mereka pun berjalan menghampiri Kimberly dam Delon. Hamzah yang berjalan dibelakang Adinda, membuat Adinda menunggu dan kesal.
"Ayo cepatlah!" ujar Adinda sambil menarik tangan Hamzah.
"Maaf, kita belum makram." ujar Hamzah sambil melepas tangannya.
Adinda pun melepaskan tangan Hamzah dengan kasar, dan meninggalkannya sendirian.
"Hey, Kim! asik sekali kau mengobrol dengannya." ujar Adinda terlihat kesal.
"Maaf Adinda, kenalkan dia Delon. Orang yang sering aku ceritakan." ujarnya.
"Aku sudah tau, mungkin kebetulan." ujar Adinda dengan ketusnya.
"Kau ini kenapa? Lalu, Hamzah dimana?" ujarnya.
"Sudah, jangan bahas dia. Aku tidak ingin membahasnya."
"Benar kau tak ingin membahasku? Aku kan calon suamimu." celetuk Hamzah yang baru sampai.
"Iya." pungkas Adinda meninggalkan mereka. Kimberly yang melihat itu memilih mengikuti Adinda.
"Kenapa wanita ini." tanya Hamzah heran pada Delon.
__ADS_1
"Apa yang kau perbuat? mungkin kau ada salah." ujar Delon.
"Ya sudahlah, nanti aku akan minta maaf. Ayo kita makan."
"Ayo!" ujar Delon mengikuti Hamzah.
"Ngomong-ngomong, dimana wanita yang kau ceritakan?" ujar Hamzah.
"Kimberly!" ujar Delon semangat.
"Ha? kenapa kebetulan sekali?"
"Ntahlah, mungkin dia juga jodohku." ujar Delon Pd.
"Berharap sekali!" ujar Hamzah meraih minuman yang ada disana.
"Suka-suka, aku dong." ujar Delon.
"Assalamu'alaikum, selamat ya Hamzah. Maaf aku terlambat." ujar Sakhi yang baru datang bersama istrinya.
"Wa'alaikumsalam, tidak apa." ujarnya meraih uluran tangan Sakhi.
"Kak Hamzah selamat, ya." ujar Nisa istri Sakhi.
"Iya, makasih Nisa."
"Dimana calonmu? aku ingin lihat apakah lebih cantik dari pada Sarah." goda Sakhi.
"Kau ini, Sarah itu bukan siapa-siapa. Lebih cantik calon istriku." ujar Hamzah. Sakhi dan Nisa pun tersenyum dibuatnya.
"Aku hampir lupa, kenalkan ini Delon temanku di Bali." ujar Hamzah memperkenalkan pada Sakhi.
Mereka pun berkenalan satu sama lain, dan berbincang-bincang. Sembari, menikmati makanan yang tersaji. Para tamu undangan berangsur-angsur pergi dan acara pun berakhir. Hanya tertinggal, Delon, Kim, Sakhi Nisa dan kedua keluarga disana.
"Abi kenapa?" ujar Adinda cemas.
"Tidak apa-apa, Nak. Abi hanya le ...." Belum sampai menyelesaikan pembicaraannya Abi pun tergeletak.
"Abi ...!" teriak Adinda mbuat orang yang masih berada kesana menoleh dan berlari ke arahnya.
"Kenapa, dengan Om Malindo?" tanya Hamzah.
"Hiks... Hiks... Cepat! bawa Abi ke rumah sakit." teriak Adinda.
Sementara, Hamzah dan delon duduk di depan.
"Abi bangun abi ...." ujar Adinda mengoyangkan tubuh abinya.
"Dinda, tenanglah abimu akan baik-baik saja." ujar Kim mengusap punggung Adinda.
"Abi, Hiks... Hiks... , bangunlah Abi ...." lirih Adinda dalam isakkan tangis.
Setibanya dirumah sakit, Adinda sudah disambur oleh dokter dan perawat Abinya. Abi langsung dapat penanganan.
Hiks... hiks...
"Bagaimana keadaan Abi dok? apa abi akan baik- baik saja?" tanya Adinda yang masih terisak.
"Maaf, Nona Adinda. Namun, kangker yang di derita abi Nona sudah menyebar ke seluruh tubuhnya. Kita hanya bisa menunggu mukjizat saja." ujar dokter dengan menyesalnya.
"Tidak, cepat tangani abi dengan sebaik mungkin." teriak Adinda.
Hiks... hiks...
"Abi... Sadarlah Abi. Adinda akan menikah, abi sudah janji akan sembuh." ujar Adinda yang tengah terisak.
"Abi..."
"Dinda, tenangkan hatimu. Abi akan baik-baik saja." ujar Hamzah masuk ke dalam ruangan.
"Kau tidak tau rasanya kehilangan Hamzah. Aku tidak mau kehilangan Abi setelah ummi meninggalkanku!" bentak Adinda.
"Aku tau tenanglah!" ujar Hamzah berusaha.
"Keluar!" teriak Adinda.
Entah kenapa Hamzah merasakan sakit saat melihat Adinda dengan kondisi seperti itu. Ia pun berjalan keluar dan menghampiri Kim dan yang lainnya.
"Kim, temani Adinda..." lirih Hamzah terduduk di kursi rumah sakit.
"Sakhi, Nisa kalian baliklah ke rumah bersma Delon." ujar Hamzah.
__ADS_1
"Apa kau yakin akan sendirian disini?" ujar Delon.
"Ia aku yakin, antarkan Sakhi dan Nisa kerumah. Setelah itu jemput Kim dan Adinda." perintah Hamzah.
"Ya, baiklah kalau begitu kami pulang dulu." ujar Delon.
"Assalamu'alaikum Kak." ujar Nisa.
"Besabarlah, aku akan pulang dulu." ujar Sakhi menepuk pundak sahabatnya.
"Adinda..." ujar Kim yang baru masuk.
"Kim, kemarilah bangunkan Abi...." lirih Adinda dengan mata yang bengkak.
"Tenanglah, Adinda. Abimu akan sadar." ujar Kim sambil memeluk Adinda.
"Adinda ...." lirih Abi yang mulai tersadar.
"Abi... Abi sudah sadar." Adinda pun memeluk Abinya.
"Jangan khawatir, Nak. Abi hanya kelelahan saja." ujar Abi mengelus pucuk kepala Adinda.
"Syukurlah, om sudah sadar. Kim jadi senang." ujar Kim.
"Terima kasih, Kim." ujar Abi padanya.
"Dimana Hamzah? Abi ingin bicara." tanya Abi.
"Dia diluar Om, biar Kim panggilkan." ujar Kim yang paham.
"Biar aku saja." ujar Adinda menahan Kim.
"Tidak, aku akan pulang. Delon juga menunggu diluar." ujar Kim.
"Emm... Baiklah."
Kim pun berjalan menghampiri Hamzah, dan menyuruh Hamzah untuk masuk. Hamzah pun langsung berdiri dan masuk ke ruangan calon mertuanya.
"Bagaimana keadaan Om?" tanya Hamzah berdiri disamping Adinda.
"Tidak apa, Hamzah. Om hanya kelelahan, duduklah disini!" ujar Abi.
"Baik Om."
"Hamzah kau kan sudah bertunangan, Nak. Mulai sekarang panggil aku Abi." ujar Abi.
"Baik, Abi."
"Nak, kalian kan sudah bertunagan. Apa boleh Abi meminta sesuatu, Nak? ujar Abi.
"Tentu, Abi." jawab Hamzah serentak bersma Adinda.
"Abi ingin pernikahan kalian dilangsungkan besok, Nak."
"Apakah itu tidak terlalu cepat, Bi?" ujar Adinda.
"Benar, Nak! tapi lebih cepat lebih baik. Abi tidak takut tidak bisa menjadi wali nikah mu, Nak." lirih Abi.
"Abi, jangan bicara seperti itu." ujar Hamzah.
"Abi pasti akan sembuh." tambah Adinda.
"Tidak, Nak. Tolong menikahlah besok, Nak!" ujar Abi menegaskan.
"Baiklah, Abi. Hamzah akan mempersiapkannya." ujar Hamzah.
"Terima kasih, Nak. Adinda pulanglah, Nak bantu Hamzah persiapkan pernikahan kalian besok. Abi tidak apa-apa , Nak." ujar Abi.
"Tidak abi, Adinda akan disini saja." bantahnya.
"Pulanglah, Nak. Disini ada perawat. Hamzah antar Adinda pulang."
"Baiklah abi Adinda akan pulang diantar Hamzah." ujar Adinda lesu.
Adinda pun keluar bersama Hamzah setelah abi tertidur. Mereka berjalan ke arah parkiran dan melajukan mobilnya menuju rumah Adinda. Di mobil, tidak ada pembicaraan sama sekali diantara mereka. Adinda hanya menatap kosong ke arah jendela, sementara Hamzah hanya diam saja, mengerti akan hal yang dirasakan Adinda. Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai.
"Kau istirahatlah, biar aku yang persiapkan semuanya." ujar Hamzah.
"Baiklah, kalau bisa kita adakan diruangan abi saja. Cukup pengulu dan saksi saja." ujar Adinda.
"Baiklah, aku pulang dulu. Assalamu'alaikum." ujar Hamzah meninggalkan Adinda yang berada di depan pintu rumahnya.
__ADS_1
Bersambung ...
ig. Arini_khairunnisa.