Dia Imamku !

Dia Imamku !
Kembali berdebat


__ADS_3

Sayup-sayup suara azan mendayung, memecah keheningan. Menelusup disetiap jengkal celah telingga. Membangunkan jiwa setiap insan yang terlelap, untuk menghadap sang penciptanya.


Adinda yang matanya mulai mengerjap perlahan, beringsut turun dari rajangnya, untuk segera menyembah sang pencipta, mengadukan apa yang tengah dia rasa pada sang khalik.


"Ya Allah ... jika dia adalah jalan takdir yang engkau ridoi aku ikhlas. Kuatkan hamba dalam segala hal. Beri Hamba ketabahan." lirih Adinda sembari mengangkat kedua tangannya.


Adinda yang selesai menghadap dan berbincang dengan sang pencipta. Kini, ia tengah bersiap-siap ke rumah sakit, menemui lelaki pertama yang ia kagumi dan cintai.


Adinda berjalan ke arah ruang ganti yang ada dikamarnya. Meraih celana jeans dengan hoody putih yang akan dikenakannya, memoles wajahnya dengan riasan tipis. Setelah selesai, ia pun menuruni satu persatu anak tangga. Dilihatnya Bi Mona sedang menyiapkan sarapan untuknya.


"Nona, sebaiknya Nona Adinda sarapan dulu." ujar Bi Mona.


"Ia Bi." ujar Adinda menindih kursi meja makan disana.


Adinda yang telah menhabiskan sarapannya, beranjak dari duduknya. Kemudian, menelusuri ruangan dan meninggalkan rumah mewah itu menuju rumah sakit. Adinda melajukan mobilnya dengan kecepatan standart. Dering telvon membuyarkan fokus Adinda yang tengah mengemudi, ia pun meminggirkan mobilnya yang dikekemudikan barubsetengah perjalanan.


"Hallo,ada apa Kim?" ujar Adinda menyaut telpon Kim.


"Apa kau sudah ke rumah sakit? aku juga mau menengok abimu." ujar Kimberly.


"Sudah, aku sudah setengah jalan malah." ujar Adinda.


"Aku pikir kau belum pergi karna ini masih pagi. Baiklah, aku pergi sendiri saja." ujar Kim.


"Ya, baiklah."


Mereka pun sama-sama memutuskan sambungan telponnya. Adinda mulai melajukan mobilnya kembali. Setelah beberapa menit, Adinda pun sampai di rumah sakit keluarganya.


Adinda turun dari mobilnya, berjalan menelusuri lorong rumah sakit, disambut dengan sapaan hangat orang yang bekerja disana. Adinda yang sudah sampai di depan ruangan abinya, langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Karna, ia takut sosok yang sedang beristirahat itu terbangun. Adinda kaget dengan sapaan lirih abinya yang ternyata sudah terbangun sedari tadi. Adinda pun membalas sapaan abinya. Namun, tatapannya terhenti melihat sosok laki-laki berbadan tegap, berkulit putih tengah terlelap di atas sofa. Adinda hendak membangunkannya, namun niatnya terhenti melihat pria itu sepertinya sangat kelelahan dan butuh istirahat. Adinda pun menatap lama wajah yang akan menjadi suaminya itu. berpaling menatap abinya yang tengah memperhatikannya. Seolah-olah abi Adinda tau apa yang sedang dipikirkannya. Adinda pun menghampiri abinya.


"Dia menemani abi semalaman, Nak. Biarkan dia istirahat ...." lirih abi.


"Bukankah, dia semalam juga pulang abi?" tanya Adinda.


"Tidak, Nak. Setelah mengatarkanmu dia kembali kemari ...." jawab Abi.


Tengah asik dalam obrolan ringan pagi itu, percakapan mereka terhenti, saat perawat membawakan nampan berisi makanan ke ruangan Abi. Saat sudah dirasa dekat dengan Adinda, perawat itu pun memberikan nampan tersebut pada Adinda. Adinda pun meraihnya dan mulai menyuapi Abinya. Sementara, perawat itu meninggalkan ruangan mereka.


"Abi, minum obat ini dulu, ya!" ujar Adinda.


"Baiklah, bawa kemari! Abi bisa meminumnya sendiri ...."


"Sudah, biar Adinda saja bi."


Adinda pun menyuapi obat yang diberikan perawat tadi pada Abi. Setelah itu, Adinda pun meminta abinya untuk istirahat. Namun, dihentikan oleh Kimberly yang masuk dengan berteriak. Membuat, semua yang ada di ruangan kaget termasuk Hamzah yang tengah terlelap.


"Pagi Adinda, Om!" teriak Kim masuk.


"Astagfirullah!" ujar Hamzah kaget dan terjatuh dari atas sofa ruangan abi.

__ADS_1


Semua yang ada di ruangan itu pun terkekeh melihat Hamzah yang jatuh, termasuk Abi yang hanya bisa tersenyum.


"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Adinda.


"Tidak, usah khawatir." ujar Hamzah sambil berdiri.


"Cih ... siapa yang khawatir PD sekali." ujar Adinda.


"Memang kau khawatir." ujar Hamzah.


"Tidak!"


"Iya!"


"Tidak, aku bilang!"


Mereka pun mulai berdebat lagi, namun dihentikan oleh Kimberly dengan celetuknya.


"Kalian, nanti sore akan menikah. Masih saja berdebat."


"Biarkan saja, dia itu sangat menyebalkan." jawab Adinda.


"Sudah ...." lirih abi.


Hamzah tengah mengobrol dengan calon mertuanya untuk berpamitan pada untuk mengurus pernikahan mereka nanti sore. Sedangkan, Adinda sibuk mengacak isi tasnya. Membuat Kimberly yang tengah duduk merasa heran.


"Kau mencari apa Din?" tanya Kim.


"Mungkin di mobilmu, kita kan tadi menelpon." ujar Kim.


"Oh iya, aku lupa." ujar Adinda menepuk kepalanya.


Adinda pun kembali mendekati abinya, dan berpamitan untuk mengambil ponselnya sebentar. Abi malah meminta Adinda untuk sekalian mengantar Hamzah. Mereka pun keluar seiringan. Saat menelusuri lorong rumah sakit, Adinda dan Hamzah saling diam. Hamzah yang tak terbiasa saling diam, memulai pembicaraan mereka.


"Hey, apa celanamu itu tidak sempit?" ujar Hamzah.


"Tidak, kenapa?"


"Kau sangat buruk mengenakan itu." ledek Hamzah.


"Ini pakaianku, urusannya denganmu apa?" ujar Adinda kesal.


"Tidak ada, aku hanya mengomentari saja." ujar Hamzah.


"Apa kau tau? Sehelai rambut perempuan yang nampak akan mendorong 1 langkah kaki ayahnya ke neraka." tambah Hamzah.


"Ha? benarkah?" ujar Adinda melongo.


"Hmm ..." ujar Hamzah berjalan mendahului Adinda.

__ADS_1


"Hey, jelaskan padaku." ujar Adinda mengejar langkah Hamzah


"Nanti saja, saat belajar di pesantren."


"Baiklah"


Tiba-tiba seorang wanita cantik, berjilbab panjang menghampiri mereka. Dia baru saja keluar dari sebuah ruang rawat inap.


"Assalamua'laikum, kak Hamzah." ujar Sarah.


"Wa'alaikumsalam." jawab Adinda dan Hamzah serentak.


"Apa yang kau lakukan disini Sarah?" tanya Hamzah.


"Melihat temanku yang dirawat karna kecelakaan kak."


"Innallilahiwainnailaihiroji'un." ujar Hamzah.


"Lalu, kak Hamzah sendiri sedang apa? dan ini siapa?" tunjuk Sarah pada Adinda.


"Aku menemani calon mertuaku, dan ini tunanganku." ujar Hamzah membuat Sarah kesal dibalik senyumnya.


"Oh, tunangan kak Hamzah." ujarnya menatap sinis pada Adinda.


Adinda pun mengulurkan tangannya, berniat untuk berkenalan dengan Sarah. Namun, Sarah malah menolakknya dengan alasan ponselnya bergetar. Ia pun pergi tanpa pamit dengan Hamzah dan Adinda.


"Tadi siapa? Sepertinya kau sangat akrab." tanya Adinda.


"Dia itu salah satu guru di pesantren." ujar Hamzah.


"Oo ... sepertinya dia menyukaimu!" ujar Adinda.


"Tidak, dia memang baik."


"Tapi ...."


"Sudah, jangan cemburu begitu." ujar Hamzah dengan PDnya.


"Iss... siapa yang cemburu." saut Adinda tak setuju.


"Ayo, aku hanya becanda."


Mereka pun terus berjalan ke arah parkiran mobil. Sesampainya disana, Adinda pergi ke arah mobilnya begitu pun dengan Hamzah. Adinda masuk ke dalam mobilnya, mencari keberadaan ponselnya. Lalu, menarik keatas layar ponselnya dan mencari kontak yang akan dihubunginya. Adinda pun segera menghubungi Vivy, dan memerintahkannya untuk mengurus perusahaan terlebih dahulu saat abi Adinda berada dirumah sakit.


Adinda yang sudah selesai menelpon, memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku hoody yang ia kenakan. Berjalan kembali keruangan abinya. Langkah kakinya terhenti, seketika ada yang menjambak rambutnya dari belakang dan berteriak pada Adinda. Membuat Adinda merasakan kesakitan.


*Bersambung ...


ig. Arini_khairunnisa.

__ADS_1


Selamat menunaikan ibadah puasa 😘😘*


__ADS_2