Dia Imamku !

Dia Imamku !
Aku menyayangimu


__ADS_3

Hamzah tengah mondar-mandir di kamarnya, sementara Kimberly duduk di samping Adinda. Mereka semua berharap Adinda segera sadar dari pingsannya. Suara dering telvon membuyarkan kecemasan Hamzah sore itu. Diraihnya posel di kantong celana kanannya dan menghubungkan saluran ponsep miliknya. Terdengar suara yang ia kenal di balik telpon, tengah menyaa dirinya dengan hangat dan Hamzah pun menyapanya balik.


"Tuan di kantor ada client yang akan mengadakan kerja sama, schedulenya sudah beberapa kali di undur," ujar Sian


"Astagfirullah, kau ini kenapa selalu saja memberitahuku mendadak!" bentak Hamzah yang biasanya berjiwa tenang menghadapi segala hal.


"Ma-maaf Tuan, saya juga lupa!" ujar Sian.


"Baiklah, aku akan segera kesana!" pungkas Hamzah mematikan ponselnya.


Hamzah pun pamit pada Kimberly, dan menitipkan Adinda padanya. Ia berpesan jangan sampai Adinda tau jika dia pulang. Kim pun mengerti dan memenuhi permintaan Hamzah.


Kimberly menatap dalam wajah sahabatnya dengan rasa iba. Dihatinya bertanya-tanya, apa yang telah terjadi pada Adinda. Hingga membuat sahabatnya depresi seperti ini. Adinda mulai mengerjapkan matanya perlahan, membuat Kimberly sumringah.


"Dinda kau sudah sadar?" tanya Kim senang. "Apa kau masih pusing? tanyanya lagi.


"Kau ini bawel sekali," ujar Adinda berusaha bangkit.


"Adinda kau kenapa mengkonsumsi obat itu lagi?"selidik Kim.


"Obat apa? Aku hanya tertidur saja," bantah Adinda memalingkan matanya.


"Hey, jangan bohongi aku. Aku sahabatmu bukan? aku sudah tau kau mengkonsumsinya lagi." Menatap Adinda dengan seksama.


Adinda yang tak bisa membendung air matanya, air matanya pecah membasahi pipinya. Ia menanggis sejadi-jadinya, dipelukan Kimberly. Kimberly yang tak tahan dengan tangisan Adinda pun ikut menanggis.


"Ayo, kau kenapa? ceritakan padaku. Hiks hiks...," lirih Kimberly dalam isakkannya.


"A-ku aku tidak kuat lagi Kim, aku ingin mengakhiri hidupku saja. Aku sudah tak sanggup Kim." Melepaskan pelukkan Kim dari tubuhnya.


"Tidak! kau ini bodoh sekali! ceritakan padaku aku akan membantumu." Namun tak digubris oleh Adinda, tangisan Adinda semakin menjadi-jadi. "Ada apa?" tanya Kim berusaha tenang.


Hiks hiks


"A-Alex Kim, dia ...,"

__ADS_1


"Kenapa? Apa yang dia lakukan?" desak Kim.


"Alex, dia tadi ke kantorku Kim, dia ...," jelas Adinda menceritakan pada Kim.


"Dasar pria b*jing*n! Baiklah aku harus pergi sekarang. Kau istirahatlah Dinda," ujar Kim.


"Kau janji, ya! Tidak mengatakannya pada Hamzah, aku takut Hamzah membenciku," ujar Adinda mulai tenang.


"Ia, aku janji! Sudah istirahatlah, aku akan meminta bi Mona mengantarkan makanan untukmu."


Kim pun membantu Adinda untuk berbaring, kemudian ia pergi keluar kamar Adinda. Sebelum pulang ia berpesan pada bi Mona menyiapkan makanan untuk Adinda.


Dengan pikiran kalut, Hamzah telah selesai mengadakan pertemuannya sore itu. Dia memanggil Sian ke ruangannya. Tak lama Sian pun masuk, menghadap Hamzah.


"Sian, aku tidak akan berbasa-basi lagi. Kau akan aku pindahkan ke Bali. Tugasmu awasi direktur utama resto disana. Apa kau paham?"vtanya Hamzah


"Tapi kenapa Tuan?" tanya Sian. "Apa karna aku sering lupa mengingatkan jadwal Tuan?


Apa karna alu sering tertidur?" tanyanya tak henti-henti.


"Tidak, karna kau harus mengawasi ornag yang ku katakan tadi!" jawab Hamzah. "Carikan seorang sekretaris untukku!" pinta Hamzah lagi.


"Terserah saja, kalo wanita cari yang berhijab!"


Sian pun mengiyakan permintaan bosnya itu, dan pergi keluar ruangan. Sementara Hamzah membereskan dokumen yang ada di atas mejanya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 6 sore, Hamzah bergegas pulang agar dirinya bisa sholat berjamaah bersama istrinya. Hamzah yang sudah berada di mobilnya, menancap gas mobil dengan kecepatan lebih cepat dari biasanya.


Adinda duduk di atas sofa disamping jendela kamarnya. Mencoba meraih buku novel dengan genre romance yang tersusun rapi di lemari sudut kamarnya. Disana hanya terdapat sekumpulan novel yang Adinda sukai, dari genre romance, komedi, hingga horor. Disana tidak ditemukan buku-buku ynag berbau dengan ilmu dan bisnis, karna buku-buku itu tersusun rapi di perpustakaan mini milik abinya. Adinda membuka tiap lembaran halaman buku dan membacanya dalam hati.


"Assalamu'alaikum," ujar Hamzah yang baru saja masuk ke kamarnya..


"Kau sudah pulang, sini ku bantu!" ujar Adinda melihat Hamzah yang kesusahan membuka dasinya.


"Tidak usah,"ujar Hamzah ketus.


"Kenapa? Apa masalahnya? Aku hanya membantumu membuka dasi saja," teriak Adinda tapi tak di hiraukan oleh Hamzah.

__ADS_1


Hamzah memang sengaja, supaya Adinda sadar jika kesedihannya yang berlarut itu membuat Hamzah juga sakit melihatnya.


"Kau kenapa mendiamkanku? Aku salah apa?" ujar Adinda memegang tangan Hamzah namun di tepis oleh Hamzah.


"Salahmu itu menyakiti hatiku!" pungkas Hamzah berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


"Apakah dia tau, jika Alex nelecehkanku lagi? Tapi dari siapa?" gumam Adinda dalam Hati.


Adinda terus memikirkan kata-kata Hamzah, kembali melamun dan menepis ingatan yang baru saja muncul di benaknya. Membuat Adinda kembali meneteskan air matanya. Dilihatnya Hamzah tengah menggambil pakaian yang sudah ia sediakan dan membawanya ke kamar ganti. Hamzah yang sudah lengkap dengan peci dan sarungnya hendak melaksanakan sholat magrib. Melihat Adinda yang tak bergerak dari duduknya membuat Hamzah menegurnya.


"Jangan cenggeng seperti itu, ayo sholat supaya hatimu tenang!" ujar Hamzah.


Adinda pun berdiri dan menyetujui perkataan Hamzah. Adinda yang sudah selesai berwudu' dan mengenakan mukenahnya berjalan ke arah sajadah yang sudah tergelar.


Saat Adinda sudah berada di belakang Hamzah, Hamzah pun ikut berdiri dan melafaskan niat sholat magribnya. Adinda yang merasa heran, hanya menatapnya diam dab mereka pun melaksanakan sholat magrib berjama'ah.


Setelah selesai, melaksanakan sholat dan membaca Qur'an. Hamzah dan Adinda turun ke bawah untuk makan malam. Tidak ada obrolan diantara mereka. Hamzah yang sudah menyelesaikan makannya kembali kekamarnya terlebih dahulu untuk melaksanakan sholat.


Sementara, Adinda dan bi Mona membersihkan piring kotor dan yang lainnya. Adinda yang sudah selesai dengan pekerjaannya, beranjak pergi meninggalkan bi Mona. Adinda yang telah sampai di kamarnya. Berjalan ke arah ranjang tempat tidurnya. Dilihatnya, Hamzah sudah tertidur membelakanginya. Adinda pun ikut membaringkan tubuhnya, membelakangi Hamzah.


"Hamzah, andai kau dengarkan ini aku minta maaf. Aku tau tujuanmu baik padaku, tapi aku tak bisa menahan ini sendirian," ujar Adinda.


Hiks hiks


"Aku tidak bisa menahan semuanya Hamzah, aku kehilangan orang tuaku, orang yang hampir melecehkan ku waktu itu kembali melecehkanku Hamzah," isak Adinda membuat Hamzah yang pura-pura tidur kaget, Hamzah hanya diam saja. Agar Adinda bisa melepaskan semuanya.


"Alex datang ke kantor tadi siang, dia melecehkanku lagi. Hiks hiks," lirih Adinda. " Aku sudah tidak tahan," ujar Hamzah.


"Oo jadi lelaki bi*dab itu! Aku akan menghancurkanmu, Allah akan bersamaku!" gumam Hamzah dalam hatinya.


"A-Aku tidak pantas untukmu Hamzah, kau lelaki yang baik, terima kasih sudah mau menjadi suamiku ...," lirih Adinda.


Tak butuh waktu lama, Adinda pun tertidur. Hamzah yang tak bisa menutup matanya memilih untuk bangkit dan duduk di samping Adinda.


"Maafkan aku tidak bisa menjagamu, aku yang salah bukan kau Adinda, maafkan aku!" gumam Hamzah, sambil mengelus puncak kepala Adinda.

__ADS_1


"Aku menyayangimu Adinda, sangat-sangat menyayangimu." Kalimat tersebut terlontar dari mulut Hamzah, ia pun mengecup lebut bibir Adinda tanpa ia sadari.


Hamzah yang malu dengan perlakuannya terhadap Adinda, memilih untuk tidur dengan posisi membelakangi Adinda dan menutup wajahnya dengan selimut.


__ADS_2