Dia Imamku !

Dia Imamku !
Baju dan cincin


__ADS_3

"Kau!"


"Kau, pokoknya kau! Titik." pungkasnya meninggalkan Hamzah.


Pelayan yang melihat tingkah mereka mengelengkan kepalanya, heran melihat sepasang calon pengantin yang saling berdebat. Apalagi jika sudah menikah, mungkin seisi rumah akan seperti kapal pecah.


Adinda yang tengah sibuk memilih baju, mengalihkan perhatiannya pada Hamzah, yang tengah duduk santai di sofe yang ada di dalam butik itu.


"Apa aku saja yang bertunangan?" ujar Adinda.


"Kau mau bertunangan dengan siapa? jika kau sendiri saja!" jawab Hamzah.


"Ya sudah! ayo berdiri dan pilih bajumu!" ujar Adinda memilih kembali baju yang ada dihadapannya.


Hamzah pun berjalan mendekati Adinda, dan membantu Adinda memilihkan kebaya pertunangannya yang akan dilaksanakan besok. Adinda yang heran akan Hamzah, malah menegur Hamzah.


"Kenapa kau malah memilihkan baju untukku?" tanya Adinda heran.


"Kita pilih baju mu dulu! setelah itu baru aku akan mencocokkannnya denganmu!" ujar Hamzah sambil memilih susunan baju didepannya.


"Bagaimana dengan warna putih ini?" ujar Adinda menunjukkan pada Hamzah.


"Bagus, coba kau pakai yang ini juga!" ujar Hamzah memberikan kebaya bewarna hijau pada Adinda.


"Baiklah, aku ke ruang ganti dulu!" ujar Adinda meninggalkan Hamzah.


Sementara, Hamzah tengah asik mencari baju batik yang senada untuk pertunangan mereka. Adinda yang sudah selesai mengenakan kebaya putih dipadukan dengan rok batik keluar menemui Hamzah.


"Hey, bagaimana menurutmu?"


"Ckck, kau pucat sekali! jelek sekali!" ledek Hamzah.


"Enak saja!" ujar Adinda meninggalkan Hamzah dan kembali ke ruang gantinya.


Hamzah yang tengah sibuk memilih baju, dikagetkan oleh seorang wanita.


"Tuan, gimana jika baju ini! langsung sepasang Tuan." ujar Pelayan toko.


"Bagus, kemarikan!" ujar Hamzah meraih baju tersebut.


"Apanya yang bagus, norak sekali warnanya." geruti Adinda memandangi tubuhnya di depan cermin.


Adinda pun memutuskan keluar untuk menunjukkan pada Hamzah.


"Jelek sekali, norak." ujarnya pada Hamzah.


"Kau itu memang jelek!" ledek Hamzah.


"Kau ...." namun perhatian Adinda teralihkan pada pakaian yang di pegang Hamzah.


"Wah, warnanya aku suka. Kemarikan!" sambil merebut dari tangan Hamzah dan berlari masuk ke ruang ganti lagi, begitu pun dengan Hamzah.


Mereka keluar secara bersamaan, Hamzah yang saat itu tengah merapikan lengannya tak menyadari Adinda sudah ada di depannya.


"Bagaimana?" tanya Adinda.


"Lumayan!" jawab Hamzah yang ternganga enggan memuji Adinda.

__ADS_1


"Nona sangat cantik!" ujar pelayan toko.


"Terima kasih, apa aku cantik?" tanya Adinda pada Hamzah.


"Tidak, ayo kita ambip yang ini saja!" ujar Hamzah meninggalkan Adinda ke ruang ganti. Sementara, Adinda masih mematung, sambil mengerucutkan bibirnya.


"Iya, kau cantik tidak usah begitu!" ujar Hamzah sambip masuk ke ruang ganti.


Mendengar ucapan Hamzah, membuat hati Adinda berdesir, terbentuk lengkungan manis dari bibirnya.


Mereka yang telah selesai mengganti pakaiannya, berjalan menuju kasir untuk membayarnya. Mereka pun berdebat masalah siapa yang akan membayar. Mereka akhirnya sepakat, jika Adinda yang akan membayar baju pertunangan dan Hamzah yang akan membayar cincinnya.


Setelah selesai membayar, mereka pun melajukan kendaraannya menuju ke arah mol yang ada di sana. Sekitar setengah jam, mereka pun sampai dan masuk ke dalam mol tersebut. Naik ke lantai dua, tempat khusus perhiasan.


"Ada yang bisa kami bantu, Nona?" tanya pelayan tokoh pada Adinda. Namun, malah Hamzah yang menjawabnya.


"Ambilkan cincin petunangan terbagus di toko ini!" ujar Hamza.


"Tentu, Tuan." ujarnya berjalan menggambil perhiasan itu.


"Ini Tuan, koleksi terbaru dari toko kami!" ujarnya.


"Coba pakai!" ujar Hamzah pada Adinda.


"Tidak, cincin itu berliannya sangat besar. Aku maunya yang biasa saja."ujarnya.


"Baiklah Nona, saya ambilkan dulu." ujarnya.


"Bagaimana dengan yang ini?" tanya pelayan toko.


Mereka yang sama sama menyukai cincin itu, mengenakannya dan sangat cocok di jari mereka masing-masing.


"Wah, pas sekali sangat cocok!" ujar pelayan.


"Kalau begitu, kami ambil yang ini saja." ujar Hamzah disetujui oleh Adinda.


Selesai membayar cincin yang mereka akan gunakan saat pertunangan, mereka pun pergi ke luar dari mol tersebut. Sembari berbincang mengenai acara pertunangannya besok.


"Dia sulit sekali dihubungi, mentang-mentang besok akan bertunangan. Sampai lupa denganku, padahal aku pulang demi dia. Menyebalkan!" gumam Kimberly yang berusaha menghubungi Adinda.


Dia pun berusaha menghubungi Adinda beberapa kali. Namun, tetap tidak ada jawaban sama sekali. Akhirnya Kimberly memutuskan untuk pergi ke rumah Adinda.


Ia pun mengganti pakaiannya, dan keluar dari kamarnya.


"Mah, Kim pergi ke tempat Adinda dulu, ya!" ujar Kim pada Mamanya.


"Oke, cepat pulang, ya!" ujar Mamanya.


"Iya, Mah." Kim berlalu pergi meninggalkan Mamanya di ruang tamu.


"Turunlah!" ujar Hamzah.


"Ya, kenapa bawel sekali!" ujar Adinda yang kesal.


"Ambil sendiri bajumu dibangku belakang, aku mau balik ke pesantren." ujar Hamzah.


"Iya!" bentaknya.

__ADS_1


Adinda pun turun dari mobil Hamzah, berjalan ke arah pintu belakang, untuk mengambil baju yang akan dikenakannya besok. Meninggalkan Hamzah dengan kesal, tanpa menyapanya. Hamzah yang menyadari itu hanya terkekeh melihat tingkah Adinda, entah kenapa dia sangat senang menjaili Adinda.


Hamzah pun melajukan kendaraannya untuk kembali ke pesantren.


Dert dert dert


Telpon Hamzah berdering, Hamzah pun memasangkan sambungan ke telinganya.


"Hallo." ujar Hamzah menyapa lawan bicaranya.


"Aku sudah sampai di Jakarta." ujarnya.


"Kau langsung ke rumahku saja! aku mau ke pesantren, ada urusan." ujar Hamzah.


"Kau tidak menjemputku? Aku jauh-jauh dari Bali untuk menghadiri pertunangan mu besok!"


"Kau manja sekali, sudah! aku lagi menyetir." ujar Hamzah mematikan telponnya.


Adinda yang sudah berada di mobil melajukan kendaraannya, menuju rumah mewah tempat kediamannya. Setelah setengah jam berkendara, Adinda pun sampai di depan rumahnya. Terlihat perempuan yang tengah menunggu kedatangannya.


"Kau ini menyebalkan." ujar Kim berpangku tangan menghadang Adinda.


"Kimberly sayang, kau kenapa menganggapku menyebalkan?" tanya Adinda heran sambil mencubit pipi Kim.


"Kenapa kau tidak mengangkat telponku?" tanyanya mengerucutkan bibir.


"Yah, batraiku ternyata habis Kim...." lirih Adinda menunjukkan ponselnya.


"Ayo kita masuk, sepertinya kau sangat merindukanku." ujar Adinda menggoda Kim.


"Assalamu'alaikum Abi." ujar Adinda menyalimi abinya yang tengah menonton televisi.


"Wa'alaikumsalam, dari mana saja, Nak? Kim sedari tadi menunggumu." tanya Abi.


"Maaf, Abi. Adinda pergi bersama Hamzah membeli baju dan cincin pertunangan besok Bi." ujar Adinda tertunduk.


"Abi sampai lupa, Nak. Seharusnya Abi yang mengurusnya ...."lirih Abi.


"Tidak Abi." ujar Adinda menggeleng.


"Ya sudah, istirahatlah ajak Kim ke kamarmu!" ujar Abi.


"Baik, Abi. Adinda ke atas dulu." ujar Adinda meninggalkan Abi.


"Kim, Ayo!" ucap Adinda.


Mereka pun berjalan menuju kamar Adinda. Menaiki satu persatu anak tangga.


"Aku lihat baju tunanganmu besok, ya Din!" ujar kimberly.


"Ya, tapi rapikan kembali. Aku mau mandi dulu." jawab Dinda dan berlalu ke kamar Mandi.


Bersambung....


Ig. Arini_khairunnisa.


Jangan lupa like, komen and share readers karna like itu gampang😉😉

__ADS_1


__ADS_2