Dia Imamku !

Dia Imamku !
Pertunangan


__ADS_3

Aroma hujan semalam menusuk ke celah hidung, entah mengapa pagi ini mentari memancarkan sinarnya seolah olah mengisyaratkan kebahagian. Tapi rasanya mustahil, karna Adinda akan memulai hidup dengan pria yang tak dicintainya dan lelaki itu sangat menyebalkan.


Pertunangan mereka akan dilakukan pukul 13.00 siang ini, entah kenapa Adinda sangat malas keluar dari kamarnya. Adinda yang sudah bangun sedari tadi memilih melamun di sofa kamarnya, entah apa yang sedang ia pikirkan.


Tok tok tok


"Nona, apa tidak sarapan dulu?" ujar Bi Mona di balik pintu.


"Antarkan saja ke mari, Bi!" jawab Adinda dari dalam.


"Baik, Nona!" ujar Bi Mona meninggalkan kamar Adinda.


Saat bi Mona sedang menuju dapur, ia berselisih dengan abi Adinda, yang sudah keliatan lebih bugar dan bahagia.


"Bi, Adinda mana?" tanya Abi.


"Diatas Tuan besar, Nona Adinda minta sarapannya diantarkan," ujar Bi Mona.


"Kalau begitu, cepat ambil makanannya biar saya yang antar Bi!" ujar Abi.


"Baik Tuan, sebentar!" ujar Bi Mona meninggalkan Abi Adinda.


Bi Mona pun menata makanan di atas pring saji. Setelah selesai, ia pun memberikannya pada abi, dan abi pun mengambil makanan untuk Adinda itu dari tangan bi Mona. Abi pun membawakan makanan untuk Adinda ke kamarnya dan membiarkan bi Mona melakukan pekerjaannya. Abi mulai menaiki satu persatu anak tangga menuju kamar Adinda, sesampainya di depan pintu Abi pun mengetuk pintunya dan masuk sambil menyapa Adinda.


"Kenapa Abi yang mengatarkan?" tanya Adinda heran.


"Tidak apa, Nak!" ujar Abi.


"Ayo makanlah, bukankah putri Abi akan bertunangan hari ini,"ujar Abi mengusap kepala Adinda.


"Terima kasih, Bi!" ujar Adinda berusaha bersikap baik-baik saja.


"Adinda, boleh Abi tanya sesuatu?" ujar Abi.


"Boleh, Abi!" jawab Adinda sambil melahap makanannya.


"Apa kau bahagia, Nak?" tanya Abi membuat Adinda tersedak.


Uhuk


"Ini minum dulu," pinta Abi. Adinda pun meneguk minumannya.


"Abi ... Adinda bahagia dengan pilihan Abi, bukankah pilihan orang tua itu yang terbaik untuk anaknya Bi?" jawab Adinda.


"Benarkah, kah?" ujar Abi lagi.


"Tenti Abi, Adinda sangat-sangat bahagia." ujar Adinda sambil tersenyum membuat Abi lega.


"Syukurlah, kalau begitu Abi ke bawah dulu, ya Nak." ujar Abi tersenyum pada Adinda.


"Baik, Abi." ujar Adinda.


"Habiskan makananmu." ujar Abi mengusap kepala Adinda dan pergi.


Adinda pun melahap makanan, tak terasa air matanya menetes. Dia pun berusaha menghapusnya, namun air mata itu semakin deras.


"Hiks... Hiks... Tidak Adinda kamu harus kuat, kamu harus membahagiakan abimu, Hamzah itu lelaki baik Adinda ...." lirih Adinda dalam hatinya.


Adinda berusaha untuk menerima dengan ikhlas perjodohan ini, demi melihat abinya bahagia.


Tok tok tok

__ADS_1


"Masuk!" ujar Adinda.


"Selamat pagi, Nona!" ujar Vivy.


"Ya, selamat pagi. Ada apa Vi? Apa ada masalah di perusahaan?" tanya Adinda berjalan ke arah Vivy.


"Tidak, Nona. Semua terkendali dengan baik!"


"Syukurlah, maaf jika aku merepotkanmu." ujar Adinda.


"Tidak, Nona itu sudah tugas saya." Adinda pun mengangguk pelan dan tersenyum.


"Oh iya, Nona. Tadi pagi pak Hamzah menelpon, tapi tidak ada jawaban dari Nona, maka dari itu saya kemari." tambah Vivy.


"Ada apa?" tanya Adinda.


"Pak Hamzah sudah mengirimkan perias kemari, mungkin sekitar setengah jam lagi akan sampai , Nona." jelas Vivy.


"Baiklah, terima kasih. Aku akan membersihkan tubuhku dulu." ujar Adinda.


"Baik, Nona. Kalau begitu saya akan perintahkan supir untuk menyiapkan mobil menuju hotel putra." ujar Vivy meninggalkan Adinda.


Adinda pun melangkah ke kamar mandi miliknya, masuk ke dalam kamar mandi dan berendam dengan air hangat untuk menenangkan dirinya. Terlalu nyaman berendam, tak terasa ia menghabiskan waktu 30 menit untuk berendam. Menyadari hal itu, Adinda bergegas keluar dari bathup dan mengeringkan tubuhnya dengan handuk kimono.


"Kenapa lama sekali?" ujar Kim yang entah kapan sampai.


"Kau Kim, mengagetkan saja!" ujar Adinda.


"Maaf, habis kau lama sekali." ujar Kim.


Adinda pun mendudukkan tubuhnya di atas sofa, dan meraih buku untuk dibacanya. Namun, dihentikan oleh Kim.


"Tidak usah teriak, aku hanya membaca buku saja." ujar Adinda santainya.


"Cepat pakai kebaya pertunanganmu, ini sudah jam 10 tau!" ujar Kim menarik tangan Adinda.


"Aku yang bertunangan, kau yang sibuk. Lagian periasnya juga belum datang." ujar Adinda.


Tok tok tok


"Itu sudah datang." ujar Kim sambil berjalan membukakan pintu, sementara Adinda hanya diam saja.


"Silahkan masuk, hias sahabatku dengan sangat cantik!" perintah Kim.


"Tentu, Nona!" ujarnya berjalan ke arah Adinda.


"Ayo, Nona!" ujarnya sambil mendudukkan Adinda di meja rias.


"Baik, jangan terlalu heboh! ini hanya pertunangan bukan pesta pernikahan." ujar Adinda memperingatkan.


"Baik, Nona." ujar perias


Wajah Adinda pun dirias sedemikian rupa, mulai dari primer, fondation, alis sampai dengan lipstik yang diaplikasikan di bibir meronanya. Adinda yang sudah dirias, terlihat bak seorang putri, sangat menawan walaupun hanya dengan riasan tipis.


"Wah, sahabatku cantik sekali." puji Kimberly pangling oleh wajah Adinda.


"Tentu, Nona. Nona Adinda sudah cantik, jadi dirias setipis apa pun aura cantiknya tetap keluar." ujar perias yang merapikan baju Adinda.


"Kalian ini, bisa saja!"


"Nona Adinda, abi Nona sudah menunggu dibawah." ujar Vivy yang menerobos masuk karna pintu kamar terbuka.

__ADS_1


"Baiklah, sedikit lagi. Nanti aku akan menyusul." ujar Adinda.


"Baik, Nona." ujar Vivy meninggalkan Adinda dan yang lainnya.


Adinda pun sudah selesai dirias dan baju yang dikenakannya juga sudah rapi. Mereka pun memutuskan untuk turun ke bawah. Adinda menuruni tangga diiringi oleh Kim. Sementara perias sudah berpamitan terlebih dahulu.


"Wah, putri Abi sangat cantik." puji Abi.


"Abi, bisa saja." ujar Adinda malu.


"Benar kata Tuan, Nona Adinda sangat cantik sekali." tambah Bi Mona.


"Terima kasih." ucap Adinda.


Mereka pun memutuskan untuk pergi menuju Hotel Putra, dengan mobil yang sudah disiapkan oleh Vivy tadi. Semua orang di rumah itu pergi tanpa kecuali, Adinda dengan hati kecil yang bersedih menampakkan raut wajahnya yang seakan akan sangat bahagia. Demi kebahagiaan dan kesehatan abinya.


Selang beberapa 1 jam Adinda dan keluarganya, sampai di Hotel Putra. Jarak ini biasanya hanya ditempuh dengan waktu 30 menit saja. Namun, karna jalanan yang cukup padat membuat Adinda dan keluarganya terlambat.


Adinda masuk diiringi oleh Abi dan Kimberly disisinya. Semua mata tertuju pada Adinda, termasuk Hamzah dengan mulut menganga melihat kecantikan Adinda.


"Sudah, tutup mulutmu. Ribuan lalat akan masuk jika mulutmu menganga seperti itu." Celetuk Putra Ayah Hamzah.


"Hihi...." ujar Hamzah mengaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Maaf, Putra kami terlambat!" ujar Abi sambil memeluk sahabatnya itu.


"Tidak apa, acaranya juga masih 18 menit lagi. Aku sudah paham jalanan Jakarta memang macet." ujar Ayah Putra.


"Nak, kau cantik sekali. Benarkan Hamzah." goda ibu.


"Iya, Bu." ujar Hamzah membuat pipi Adinda merona.


"Ah, Tante bisa saja." ujar Adinda menolak pujian calon mertuanya itu.


"Panggil ibu." ujar Ibu Hamzah.


"Baiklah, Tante. Eh Ibu." ujar Adinda yang belum terbiasa. Ibu Hamzah pun tersenyum melihat tingkah Adinda.


"Mana calon istrimu, apa sudah datang?" tanya Delon tiba - tiba datang dari toilet.


"Sudah, itu dia." tunjuk Hamzah pada Adinda yang tengah mengobrol dengan Ibu Hamzah.


"Itukan, Adinda." ujar Delon kaget.


"Dimana kau mengenalnya?" tanya Hamzah heran.


"Wanita cantik ketus yang kau bilang waktu di Bali." ujar Delon.


"Benarkah? aku tak menyadarinya." jawab Hamzah santai.


"Ya, sudahlah memang jodohmu." ujar Delon.


"Assalamua'alaikum wr. wb.


Alhamdullilahirabbil'alami puji beserta syukur kita ucapkan kepada Allah Swt ... " ujar Moderator membuka acara pertunangan Adinda dan Hamzah.


**Bersambung episode selanjutnya ....


*Jangan lupa like, komen and share karna nglike itu gampang.


ig. Arini khairunnisa***

__ADS_1


__ADS_2