
Hamzah pun mengembangkan lingerie yang ada di tangannya. Kemudian, mencocokkan lingerie itu pada tubuhnya. Ia semakin penasaran di buatnya, dan memikirkan fungsi pakaian kurang bahan ini.
"Bagaimana ya rasanya?" ujar Hamzah.
Hamzah yang di balut rasa penasaran pun, akhirnya mengikuti kata hatinya. Ia pun mencoba mengenakan lingerie merah menyala itu. Lingerie itu cukup muat di tubuhnya, karna bahannya yang elastis. Namun, lingerie itu hanya sampai atas paha Hamzah saja. Ia pun memperagakan pose layaknya wanita di depan cermin rias Adinda. Melentikkan jarinya, dan berpose layaknya waria.
Hamzah berkata, " Godain aku bg!" ujarnya menyungingkan sedikit bokongnya dan tertawa terbahak-bahak melihat kelakuannya sendiri. gelaknya semakin menjadi-jadi akibat kegabutannya itu, sehingga tawanya sampai ke luar kamar.
"Apa yang kau tertawakan?" ujar Adinda masuk dan melirik ke arah Hamzah.
"Astagfirullah ...,"
Hahahah
Gelak Adinda memecah saat menenggok Hamzah mengenakan lingerie merah. "Kau sangat cocok mengenakannya," tambah Adinda yang masih tebahak-bahak.
Hamzah yang mendengar gelak Adinda tersadar dan langsung berlari ke ruang ganti, dengan wajah memerah.
"Bodoh sekali, hanya karna penasaran aku mencobakannya" gerutu Hamzah pelepas lingerie di badannya.
Hamzah pun keluar dengan muka tertunduk, ia tak berani menatap Adinda. Sementara Adinda berusaha menahan tawanya, tapi ia tidak berhasil. Adinda pun kembali tertawa tebahak-bahak hingga sudut matanya berair.
"Ketawa saja terus," ujar Hamzah meraih air putih di atas nakas.
"Habisnya kerjamu ada-ada saja, dimana kau dapatkan lingerie itu?" tanya Adinda,
"Aku hanya penasaran saja, kenapa kau sangat suka!" ujar Hamzah duduk disamping Adinda membantunya packing. "Ini aku kembalikan, di kirim oleh Kim. Itu paperbag nya.
Adinda yang tak tertarik meminta Hamzah untuk meletakkannya di atas nakas. Manun, Hamzah yang iseng malah memasukkannya ke koper Adinda. Mereka pun bersiap-siap untuk berangkat ke Bali dengan pesawat pribadinya.
Saat Adinda hendak masuk ke mobilnya, satu pesan baru masuk. Membuat ia meraih ponselnya sambil masuk ke dalam mobil. Sebelum Adinda membuka pesannya, ia pun terlebih dahulu memasang seltbeltnya. Dan Hamzah pun melajukan mobilnya menuju Bandara.
[Hy Nona Adinda, apa suamimu semalam pulang? Apa kau ingin tahu apa yang dilakukan suamimu semalaman di kantor?]
Satu pesan baru ternyata berasal dari nomer tak di kenal, Adinda melirik ke arah Hamzah. Kemudian, dia memikirkan apakah Hamzah benar melakukan hal yang sedang di pikirkannya. Adinda pun terdiam, memalingkan pandangannya dari Hamzah dan menepis pikiran buruknya terhadap Hamzah.
Di perjalanan ke Bandara, Adinda nampak murung. Pikiran buruk itu menghantuinya, tapi sekali lagi Adinda menepisnya dan berusaha untuk tetap tenang.
"Kau kenapa?" tanya Hamzah yang sedari tadi memperhatikan Adinda.
"Tidak apa, aku hanya rindu pada Kim. Dia sudah beberapa hari ini tidak meenghubungiku," jelas Adinda menyembunyikan pikirannya.
__ADS_1
"Benarkah?" selidik Hamzah.
"Ya, baiklah! Kalau begitu, ayo kita turun!" ujar Hamzah sambil menghentikan kendaraannya.
Adinda dan Hamzah di sambut oleh orang suruhan Vivy, yang membawakan barang-barang Adinda dan Hamzah. Sementara, Vivy sendiri sibuk menghandle perusahaan.
Mereka pun melangkah masuk menuju pesawat pribadi keluarga Malindo. Diiringi oleh ajudan-ajudan Hamzah. Adinda dan Hamzah memutuskan untuk beristirahat diruangan pribadi mereka.
"Kau istirahatlah, aku akan membangunkanmu jika sudah sampai," ujar Hamzah membaca raut Adinda yang tidak baik.
"Ya," ujar Adinda singkat.
Selang beberapa jam, mereka pun sampai di kota Bali. Sian sudah menyambut Hamzah dan Adinda disana, sementara sopir yang dibawa Sian, sibuk memasukkan barang-barang Hamzah dan Adinda ke dalam mobil. Adinda mendahului Hamzah dan Sian berjalan ke arah mobil. Entah kenapa dia sangat kesal, semenjak membaca pesan dari nomor tak dikenal itu.
"Sebulan tidak bertemu, kenapa tuan gemukkan ya? Pasti tuan-ku ini bahagia," celetuk Sian.
"Kau ini, makanya cepat menikah!" ujar Hamzah.
Mereka pun bercanda sambil berjalan ke arah mobil. Di mobil, Hamzah pun mendudukkan tubuhnya di samping Adinda. Sementara, Sian pun duduk di samping supir. Ketiga lelaki itu tengah sibuk bersenda gurau, sedangkan Adinda hanya menatap kosong ke arah jendela, dan diam seribu bahasa. Hamzah yang menyadari sikap Adinda dingin sejak membuka pesan tadi, hanya memperhatikan Adinda diam diam. Mobil pun melaju dengan kecepatan stabil.
Waktu menunjukkan pukul 9 malam, Adinda tengah berselonjor di atas ranjang apartemennya. Sementara, Hamzah tengah bersih-bersih di dalam kamar mandi. Setelah selesai, Hamzah pun keluar. Dilihatnya, Adinda yang masih berselonjor di
atas ranjang sambil membaca sebuah novel. Hamzah pun menyapanya.
"Kenapa hanya diam? Kau tak mau mendengarkanku?" ujar Hamzah merampas buku Adinda dan melemparnya kesembarang arah.
"Tidak, awaslah aku mau tidur," ujar Adinda menarik selimutnya dan menutup wajahnya.
Hamzah yang kesal, menarik keras selimut Adinda dan menindihnya. Adinda memberontak berusaha menyingkirkan Hamzah. Namun, Adinda tak sanggup melawannya akhirnya pasrah.
"Ayo, jawab pertanyaanku!" ujar Hamzah. Adinda pun meraih ponselnya, kemudian membuka salah satu pesan yang ada disana dan memberikannya pada Hamzah.
Hamzah pun membacanya, kemudian ia memperhatikan raut wajah Adinda.
"Kau percaya aku bukan? Lantas mengapa kau marah?" ujar Hamzah.
"A-Aku ... ah sudahlah," ujar Adinda memalingkan wajahnya. Hamzah mengangkat kepala Adinda. Kemudian, ia menatap sendu mata Adinda dengan sangat dalam.
Perlahan Hamzah mendekatkan
dirinya pada Adinda, jarak yang mereka buat sangat dekat. Membuat adinda memejamkan matanya. Hamzah langsung melum*t lembut bibir Adinda, secara perlahan ia memasukkan ujung lidahnya ke dalam mulut Adinda. Adinda pun membalasnya, dengan sangat baik. Hamzah mengusap lembut tengkuk Adinda, hingga mereka berdua merasakan kenikmatan. Ciuman itu berlangsung lama,
__ADS_1
Hamzah pun mulai melepaskan ciumannya.
"Aku mencintaimu, Adinda. Tapi, aku belum siap mengutarakannya," ujar Hamzah berbisik di telinga Adinda.
"Aku juga mencintaimu Hamzah, aku takut kehilanganmu!" ujar Adinda memeluk erat Hamzah dan Hamzah pun membalasnya.
"Maafkan aku, aku tidak mempercayaimu ...," lirih Adinda dalam dekapan Hamzah.
Keduanya pun saling mendekap erat, tidak mau kehilangan. Mereka tidak melanjutkan aksinya, melainkan mengobrol dan bercanda. Karena mereka tau, satu sama lain pasti lelah setelah perjalanan. Mereka pun tertidur saling mendekap satu sama lain dengan sangat pulas.
Azan sudah berkumandang, membuat Hamzah mengerjapkan matanya. Sementara, Adinda masih terlelap di pangkuannya. Hamzah memandangi sosok istrinya yang sangat cantik dengan wajah polos tampa riasan. Ia pun mendekatkan wajahnya pada Adinda, kemudian ia menciumi wajah polos istrinya dengan sangat banyak. Hingga Adinda yang merasakan basah di pipinya, mulai membuka matanya. Matanya yang menyesuaikan dengan kondisi cahaya sekitar, melihat sosok lelaki tampan tersenyum padanya. Adinda yang berfikir ia mengigau melanjutkan tidurnya.
"Kau sangat tampan sekali, sayang! Tapi hanya mimpi," ujar Adinda meraih selimutnya.
"Sayang, kau tidak bermimpi, aku memang tampan. Ayo sholat subuh!" ujar Hamzah membuka selimut Adinda dan mencium Adinda.
"Astagfirullah ..." ujar Adinda kaget.
Adinda yang malu, langsung bangkit dan berlari ke kamar mandi. Hamzah hanya tersenyum melihat tingkah istrinya.
"Dia itu, mengagetkan saja! Dasar Hamzah kau bisa saja membuat jantungku berdebar, aku sangat mencintaimu!" ujar Adinda sambil membersihkan tubuhnya.
"Adinda, cepatlah nanti waktu subuh habis!" teriak Hamzah.
"Kau mandi di kamar mandi yang ada di dapur saja!" teriak Adinda.
Hamzah pun meraih handuknya dan segera berjalan ke arah dapur. Adinda yang sudah selesai mandi, keluar dari kamar mandi dan segera memasang mukenanya sembari menunggu Hamzah. Tak lama Hamzah pun sudah rapi dengan balutan baju kokonya, mungkin ia sudah membawanya ke kamar mandi. Mereka pun sholat subuh bersama. Kemudian, setelah selesai sholat Hamzah pun mengajarkan Adinda mengaji seperti biasa.
"Sayang, sepertinya bacaanmu sudah lumayan fasih. Kau harus memperhatikan tajwidnya," ujar Hamzah. " Nah, ini Ikhfa!" ujar Hamzah lagi.
"Kenapa ikhfa?"
"Karena nun mati bertemu huruf ta itu ikhfa, kau tau kan huruf ikhfa itu apa saja ...." Hamzah pun terus menjelaskan tentang tajwid bacaan pada Adinda.
Setelah selesai belajar, Adinda pun melepaskan mukenanya. Adinda mengenakan mini dress rumahan. Hamzah yang melihat itu, berusaha mengoda Adinda dengan celetukkannya.
"Apa kau mau menggodaku, sayang?" tanya Hamzah sembari memeluk tubuh Adinda dari belakang.
"Ti-tidak! Aku sudah biasa seperti ini, kau kan tau sendiri." ujar Adinda terbata-bata dan berlari keluar menuju dapur dan menyiapkan sarapan pagi itu. Hamzah pun hanya terkekeh melihat tingkah Adinda yang seperti itu.
Bersambung ...
__ADS_1
Maaf guys lagi banyak kesibukkan gk sempat update😪😪
Jangan lupa like komen and share ya guys see you 😘