
Mereka pun berjalan beriringan, menuju ruangan Direktur keuangan sembari berbincang bincang dengan suara pelan. Merencanakan apa yang akan ia lakukan nanti. Vivy pun mengetuk pintu ruangan bu Diana.
" Masuk." ujar Bu Diana.
Bu Diana yang melirik ke arah pintu pun kaget, melihat bosnya yang datang bersama Vivy. Padahal jika Adinda ada keperluan denganya, dia akan memanggil dirinya keruangan CEO. Ada apa ini, pikirnya. Tidak biasanya Nona Adinda keruangan ini. Dengan memberanikan diri, Bu Diana mempersilahkan mereka untuk duduk. Diatas sofa ruangan dengan konsep minimalis khusus Direktur keuangan itu.
"Apa yang membuat Nona Adinda sudi untuk mampir ke ruangan saya, bukankah jika ada keperluan Nona Adinda bisa memanggil saya. "ujarnya.
"Apa ada masalah?" jawab Adinda dingin.
"Tentu tidak Nona, Nona Adinda berhak kemari." ujarnya.
"Vivy serahkan apa yang kau dapatkan padanya." Adinda berujar sambil melirik buk Diana.
"Baik Nona." jawab Vivy sambil menyerahkan berkas yang tangannya.
"Apa kau sudah melihatnya Buk Diana?, sekarang jelaskan padaku!" Perintah Adinda.
"Aa aa anu Nona.." Jawabnya terbata bata membuat Adinda geram.
"Cepat jelaskan!" Bentak Adinda menatapnya dengan geram. Sementara Vivy hanya diam melihat perlakuan Nonanya itu.
"Begini Nona, pak Billy memerintahkan saya agar memanipulasi data keuangan perusahaan Nona. Jika tidak, dia akan mengeluarkan saya dari perusahaan ini dan menyakiti keluarga saya nona." ujar Bu Diana menjelaskan dengan nada suara ketakutan.
"Siapkan berkas aslinya sekarang! jika tidak kau akan tau akibatnya."
Adinda dan Vivy terus melanjutkan perbincangannya, mengenai permasalahan yang dihadapi oleh perusahaan Adinda. Sementara Buk Diana sibuk mengumpulkan berkas aslinya. Setelah selesai, Adinda pun kembali keruangannya diiringi oleh Vivy di belakangnya. Setibanya di dalam ruangan Adinda pun mendudukan tubuhnya di kursi kebesaraanya, meraih gangang telpon dan langsung menghubungi seseorang.
Segera keruanganku!" ujar Adinda geram dan menutup telponnya.
Tok tok tok
"Masuk." Billy pun membuka knop pintu dan mendorongnya. Lalu masuk menghadap Adinda.
" Ada apa Nona memanggil saya?" ujar Billy.
"Apa kau benar benar tak tau Tuan Billy?" ujar Adinda menyunggingkan senyum kemarahannya.
" Maaf Nona, saya benar - benar tidak tau Nona!" jawabnya.
"Tuan Billy, apakah kau tau bagaimana bisa perusahaan ini mengalami penurunan drastis?" Adinda berdiri dari duduknya berjalan ke arah sofa hitam yang ada diruangannya.
"Bagaimana saya bisa tahu Nona, bukankah itu pekerjaan bu Diana direktur keuangan kita." timpalnya.
"Apa kau yakin Billy?" Adinda menaikkan nada suaranya.
"ii.. ya Nona!" jawab Billy yang ketakutan.
"Vivy, panggilkan bu Diana keruanganku!" Adinda memerintah Vivy dengan tegasnya.
Tak lama Buk Diana pun datang, kini mereka sudah duduk diatas sofa yang ada diruangan itu. Billy yang menundukkan kepalanya dihadapan Adinda, membuat Adinda menegurnya dan semakin yakin dengan apa yang dikatakan Buk Diana. Tanpa banyak basa basi, Adinda pun menyuruh Buk Diana menjelaskannya.
" Buk Diana, silahkan jelaskan!" ujarnya.
"Baik Nona." Mengikuti perintah atasannya itu.
"Nona, manipulasi data keuangan perusahaan ini saya lakukan atas perintah Tuan Billy." Billy yang tak terima langsung menyanggahnya.
" Apa yang kau katakan Buk Diana, aku sama sekali tidak melakukannya!" bentak Billy.
"Dia berbohong Nona." Ia kembali meyakinkan Adinda.
"Diam!" bentak Adinda.
"Benar Nona! saya punya buktinya." Sambil menyerahkan flashdisk berisikan rekaman CCTV.
"Hahaha, kau tidak perlu memutarnya Adinda." ujar Billy mengagetkan semua orang.
"Ckck, sudah ku duga Billy, kau memang melakukannya. Dasar tidak tau diri. Kau menghianati kepercayaan abiku terhadapmu!"
__ADS_1
Adinda yang sudah berdiri sedari tadi, melayangkan tamparan dipipi Billy. Namun, tangannya lebih dulu dicengkram oleh tangan kiri Billy. Sementara, tangan kanannya sudah mengangkat dagu Adinda dan dia tekan dengan sangat kuat.
" Tuan Billy, tolong lepaskan Nona Adinda!" ujar Diana.
"Diamlah! karna kau, aku tidak bisa meraup kekayaan lagi." bentaknya pada Diana.
"Kau...." ucapan Diana pun terpotong mendengar suara teriakkan beberapa lelaki yang menerobos masuk keruangan Adinda.
"Angkat tangan!" teriaknya. Billy yang mencengkram Adinda sedari tadi reflek melepaskan dan mengangkat tangannya. Ternyata Sedari tadi Vivy sudah menyiapkan polisi untuk membawa Billy.
"Kerja bagus Vivy tidak sia-sia aku menjadikanmu sebagai Asistenku" Puji Adinda senang.
" Bawa saja pak! jebloskan dia ke penjara" ujar Adinda senang.
Polisi pun membawa Billy ke kantor polisi. Sementara Adinda kembali duduk di sofa ruangannya, menghampiri Vivy dan Buk Diana.
"Terima kasih atas kerja samanya Buk Diana, silahkan kembali keruanganmu!" ujar Adinda.
"Baik Nona" jawabnya sambil berdiri meninggalkan Adinda dan Vivy.
"Vivy, kau sekarang jadi sekretarisku karna aku tidak butuh asisten lagi!"
"Baik Nona, terima kasih." ia pun menundukkan kepalanya memberi hormat pada Adinda.
"Pergilah keruangan milikmu dan bereskan barang barang biad*b itu!"
"Baik Nona." Meninggalkan Adinda diruangannya.
Adinda pun berdiri dari sofa, dan pindah ke meja kerjanya. Namun, hari ini hanya ada beberapa berkas yang ia periksa, sepertinya ia akan cepat pulang hari ini. Adinda pun memulai pekerjaannya, membaca satu persatu berkas dengan teliti. Tak terasa, ia sudah menyelesaikan pekerjaannya, dan selalu saja ia melewatkan jam makan siangnya. Hari menunjukkan pukul 14.00 WIB, dia juga belum melaksanakan sholatnya. Adinda pun beranjak dari duduknya, berwudu dan melaksanakan sholat diruangan kerjanya. Setelah selesai, ia pun bangkit dan mengembalikan mukena itu ke tempatnya. Adinda membereskan berkas yang ada diatas mejanya.
Setelah selesai, ia memutuskan untuk pulang. Adinda keluar dari ruang kerjanya, menuju ke arah lift dan turun ke loby. Setibanya di loby Adinda berjalan menghampiri mobilnya. Masuk, kemudian menjalankan mobil dengan kecepatan standart menuju ke rumahnya.
"Sekarang masih jam setengah tiga sore, apa aku ke rumah sakit saja ya menemui abi?" gumamnya.
Tanpa fikir panjang, Adinda pun membelokkan mobilnya ke arah rumah sakit. Setelah menyetir selama 20 menit, Adinda pun sampai di depan rumah sakit. Ia masuk menelusuri koridor menuju ruangan abinya. Namun, langkah kaki Adinda dihentikan oleh sapaan seseorang.
"Selamat siang Nona!" ujarnya.
"Nona, saya ingin membicarakan sesuatu dengan Nona. Apa Nona Adinda ada waktu?" ujar Ronal.
"Tentu Pak Ronal, Kita bicara Resto depan rumah sakit saja!"
"Baik Nona, silahkan."
Mereka pun berjalan ke arah resto, yang berhadapan dengan rumah sakit. Adinda berjalan di depan, diiringi oleh Pak Ronal di belakangnya. Setelah sampai di resto, Adinda yang belum makan sedari tadi, memutuskan untuk memesan makanan, begitu juga dengan Pak Ronal. Mereka pun terus berbincang, membicarakan masalah yang sedang dihadapi rumah sakit. Sesekali mereka menyelipkan candaan dalam setiap pembicaraan, karna Pak Ronal sendiri sudah sudah seperti kakak kandung Adinda dan begitu juga sebaliknya. Namun, disisi lain ada sosok yang tengah memperhatikan mereka. Orang itu marah, kesal, bergumam tak suka melihat pemandangan itu.
" Cih, dasar wanita tidak tau diri beraninya dia menggoda tunanganku." gerutunya.
" Lihat saja aku tidak akan membuat hidupmu tenang Adinda." Berjalan meninggalkan resto itu.
" Pak Ronal, karna saya rasa tidak ada lagi yang mau dibicarakan, saya pamit mau menemui abi dulu." ujar Adinda.
" Baik Nona, kalo begitu ayo kita kembali ke rumah sakit." jawabnya.
Mereka pun berdiri dari duduknya, membayar pesanannya dikasir dan keluar dari restoran menuju rumah sakit. Sesampainya didepan rumah sakit, Adinda pun mendapat telpon dari dokter Irvan. Sebelum mengangkat telpon, Adinda sudah mengisyaratkan pada Ronal, agar duluan masuk ke rumah sakit itu.
"Hallo Dokter Irvan, ada apa?"
"Abi anda sudah bisa pulang hari ini Nona." ujarnya.
"Bukankah anda bilang abi saya bisa pulang besok, bukan sore ini?" tanya Adinda heran.
"Benar Nona, tapi abi anda ingin pulang hari ini Nona." ujarnya.
"Apakah sudah di check kondisi abi saya?"
"Sudah Nona, beliau bisa pulang sore ini dengan syarat tidak boleh terbebani sama sekali dan harus istirahat."
"Baiklah kalo begitu, saya sudah dibawah sedari tadi dan akan segera keatas."
__ADS_1
"Baik Nona kalo begitu saya tutup telponnya."
Mereka pun mengakhiri telponnya, Adinda pun berjalan menaiki tangga depan rumah sakit. Namun, langkahnya terhenti saat ada yang menarik tangannya.
"Hey wanita penggoda, kita bertemu lagi." Caci Aqila.
"Cih, siapa yang kau bilang wanita penggoda?"
"Tentu saja kau Adinda, kau menggoda tunangganku." Menghentakkan tangan Adinda dengan sangat kuat.
"Hey, aku tidak sepertimu!" bentak Adinda.
"Jauhi tunangganku, atau keluargamu akan aku hancurkan!" tegasnya.
" Cih, hancurkan saja." pungkas Adinda berlalu pergi meninggalkan Aqila.
Aqila yang geram meneriaki Adinda yang sudah meninggalkannya. Namun, Adinda tidak menghiraukannya dan berlalu masuk menuju ruangan abinya. Setibanya Adinda didepan ruangan abinya. Adinda membuka knop pintudan membukanya. Abi yang mendengar itu menoleh ke arah sumber suara dan menyambut Adinda dengan senyumannya.
" Assalamua'alaikum." Adinda menghampiri bangkar Abinya.
"Wa'alaikumsalam." jawab suster dan Abi Adinda.
" Syukurlah, akhirnya kau datang, Nak!" ujar Abi senang.
" Ia Abi, Adinda sudah datang." Menyalimi tangan abinya.
"Ayo kita pulang!" ujar Abi yang tak sabarnya ingin segera pulang.
Adinda yang mendengar itu pun tersenyum.
"Baiklah Abi, Adinda bereskan barang-barang Abi dulu ya, bersabarlah!" ujar Adinda yang tahu bahwa Abinya sudah tak betah berada disana.
Adinda pun membereskan semua barang-barang Abinya, dibantu oleh suster yang biasa merawat abinya. Setelah selesai, Adinda pun meminta suster itu membawakan kursi roda. Namun, Abi melarangnya karna ia masih bisa berjalan. Adinda pun membantahnya, sehingga terjadi perdebatan kecil antara anak dan ayah itu. Pada akhirnya Abi menuruti kemauan Adinda.
Suster pun datang dengan membawa kursi roda, membantu menaikkan abinya ke atas kursi roda. Setelah semua selesai mereka pun pulang.
Terlihat Hamzah yang melamun, menatap dengan tatapan kosong ke arah televisi, sehingga membuat ayahya menghampirinya. Ayah pun menepuk pundak Hamzah, membuat Hamzah terkejut. Hamzah yang terperanjat, menoleh ke arah belakang.
"Ahh Ayah, membuatku terkejut saja." gerutunya membuat Ayahnya terkekeh.
" Kau ini sedang apa? memikirkan Adinda ya." goda Ayah.
" Tidak ayah, aku hanya rindu mengajar dipesantren. Kan Ayah tau sendiri, aku tidak tertarik dengan dunia bisnis, apalagi bertemu dengan wanita-wanita di kantor, merisihkan sekali!" jawabnya.
"Jadi, maksudmu kau akan mengelola pesantren, begitu?" tanya ayah.
"Kalo diizinkan aku maunya begitu!"
"Baiklah, Ayah akan pikirkan! bagaimana persiapan tunanganmu dengan Adinda, Apa sudah kau siapkan?"
"Belum Ayah, besok aku akan menemui WO dulu bersamanya, dan menentukan konsepnya."
"Oke, segera ingatkan dia!"
"Baik ayah, Hamzah ke kamar dulu."
"Baiklah" ujar Ayah melanjutkan nonton TV, sementara Hamzah sudah menaiki anak tangga menuju kamarnya.
-
-
-
-
Gimana nih kelanjutannya next episode ya readers😘😘😘
Ig. Arini_khairunnisa.
__ADS_1
Btw nih buat para reader yang mau gabung sama komunitas penulis muda indonesia dan mau belajar nulis bisa pc Author langsung atau Via Dm di Ig ya. see you😍