
Warna jingga sudah menghiasi langit Kota Jakarta. Namun, Hamzah masih sibuk mengutak-atik berkas dihadapannya. Suara azan magrib membuyarkan ke fokusan Hamzah. Membuat ia mengakhiri aktifitas kerjanya yang sangat membosankan, dari pada mengajar di pesantren. Hamzah pun berjalan ke arah kamar mandi yang ada di ruangannya, berwudu' dan melaksanakan sholat.
Setelah selesai, Hamzah pun memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Bahkan ia tidak sadar, jika ia sudah memiliki istri yang menunggunya di rumah. Setelah sampai di rumahnya. Hamzah pun masuk sembari mengucapkan salam. Dilihatnya Ayah dan Ibu yang berada di ruang keluarga, tengah menonton televisi. Melihat Hamzah pulang, dan pangsung berjalan ke arah kamarnya. Ayah pun merasa heran dan bertanya.
"Kau mau kemana?" tanya Ayah.
"Ke kamar Ayah!" jawabnya.
"Mau apa?" tanya Ayah.
"Bukankah, pakaianmu sudah di jemput supir keluarga Adinda!" tambah Ibu.
"Istirahat ayah, aku lelah sekali!" ujar Hamzah mengalihkan pandangannya.
"Baju apa, bu?" tanyanya lagi.
"Hey, kenapa istirahat disini? Adinda sedang butuh dirimu saat ini! teriak Ayah.
"Astagfirullah, maaf Ibu, Ayah!" ujar Hamzah menepuk keningnya.
"Hamzah lupa, jika Hamzah sudah menikah. Kalau begitu Hamzah pergi dulu," ujar Hamzah pamit dan menyalimi orang tuanya. Sedangkan Ayah dan Ibu hanya mengelengkan kepalanya.
Hamzah pun berlari keluar, menyalakan mesin mobilnya dan menancap gasnya dengan kecepatan standart, meninggalkan rumah orang tuanya itu.
"Apa dia menungguku, ya? Mana mungkin, paling dia sudah tertidur. Ah tidak-tidak dia pasti menungguku" gumamnya tersenyum.
"Hey Hamzah, kau memikirkan apa? Kalian itu hanya di jodohkan, mana mungkin dia menunggumu." jawab Hamzah dalam hatinya
__ADS_1
Satu jam berkendara, Hamzah pun sampai di rumah Adinda. Biasanya waktu tempuh dari rumahnya hanya setengah jam, namun karna ia melaksanakan sholat, menghabiskan waktunya setengah jam.
Dilihatnya tidak ada yang menunggunya di depan pintu, ia pun mengetuk dan masuk ke dalam rumah. Hamzah disambut oleh bi Mona. Namun, matanya mencari-cari sosok istrinya. Bi Mona yang mengetahui itu, lantas menjelaskannya.
"Maaf tuan, nona Adinda belum makan sedari tadi pagi. Dia mengurung diri di kamarnya." ujar bi Mona.
"Apa bibi tidak mengantarkan makanan untuknya?" tanya Hamzah.
"Sudah tuan, tapi nona tidak membukakan pintunya."
"Baiklah, tolong siapkan, ya Bi! Saya ke masuk dulu!" pungkas Hamzah meninggalkan bi Mona.
Hamzah pun berjalan meninggalkan bi Mona. Ia menaiki susunan anak tangga dengan langkah yang cepat. Diketuknya pintu kamar Adinda, namun tak ada sautan dari dalam. Ia pun memberitahu Adinda, jika Hamzah yang mengetuk pintu. Tak lama pintu pun terbuka, nampak wajah Adinda yang tak terurus, dengan rambut kusut dan mata sembab, seakan-akan dia begitu depresi kehilangan orang tuanya.
Adinda masuk ke dalam, tak ada sepatah kata pun yang ia lontarkan dari mulutnya. Hamzah yang memahami itu, hanya menatap kasihan pada Adinda.
"Kenapa kau diam saja? Apa aku ada salah?" tanya Hamzah lagi.
Tak ada jawaban dari Adinda, Hamzah pun memutuskan untuk membersihkan tubuhnya. Selama 10 menit berada di kamar mandi, Hamzah hanya memikirkan apa yang terjadi pada Adinda. Setelah selesai, Hamzah pun keluar dari kamar mandi. Dilihatnya Adinda yang sudah tertidur meringkup tubuhnya di atas ranjang. Adinda tak menyentuh makanan yang ada di meja, yang sudah di antar bi Mona saat dirinya di kamar mandi. Hamzah pun membangunkan Adinda, dan memintanya makan.
"Adinda ayo bangun! Makanlah makananmu!" ujar Hamzah.
Karna panggilan Hamzah tak digubris oleh Adinda. Hamzah pun kehabisan kesabarannya, membuat kemarahannya tidak dapat di tahannya lagi.
"Terserah kau saja, aku tau kau sedih! Tapi kita hanya bisa mengikhlaskan mereka saja. Melihat kau seperti ini, mereka akan sedih!" pungkas Hamzah keluar dan membanting pintu kamar Adinda saat itu.
Mendengar bantingan pintu dan bentakkan Hamzah, membuat Adinda kaget dan meneteskan air matanya lagi. Entah mengapa bentakkan pria dengan gelar suaminya itu begitu menyakitkan untuknya. Adinda pun menangis sesegukkan, hingga ia terlelap karna kelelahan menangis.
__ADS_1
Hamzah yang tengah menupang kepala dengan kedua tangannya. Menarik tangannya ke atas kepalanya, mengacak-acak rambutnya. Ada penyesalan di guratan wajahnya, ia tau bentakkannya akan menyakiti Adinda dan memperburuk suasana hatinya. Tapi, ia tak tahan melihat kondisi Adinda seperti itu.
Hamzah pun mengusap kasar wajahnya, berdiri dan keluar dari ruang pustaka mini milik mertuanya itu. Ia pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya, membuka perlahan pintu kamar yang tidak dikunci sama sekali. Dilihatnya, Adinda yang tengah terlelap meringkuh tubuhnya tanpa selimut. Melihat itu, Hamzah pun menyelimutinya sambil mengelus pipi Adinda.
"Maafkan aku! Aku menyesal memarahimu. Namun, ini agar kau bisa sadar Adinda. Semoga kau paham dengan apa yang aku lakukan ...." lirih Hamzah dengan tatapan menyesal.
Hamzah pun membaringkan tubuhnya di sebelah Adinda, tak butuh waktu lama ia pun terlelap sambil mendekap Adinda.
Waktu sudah menunjukkan pukun 07. 00 pagi. Adinda pun mulai mengerjapkan matanya. Mencerna setiap perkataan yang di lontarkan oleh Hamzah semalam. Adinda pun menguatkan hatinya, mengikhlaskan kepergian abi dan umminya. Adinda pun tersenyum, mendadak dia teringat akan Hamzah dan ingin berterima kasih padanya. Namun, dilihatnya sudah tidak ada Hamzah di sampingnya. Adinda pun mencarinya ke dalam kamar mandi. Namun, tak mendapatinya sama sekali, Adinda berlari keluar untuk mencari keberadaan suaminya itu. Namun, dia juga tak mendapati sosok Hamzah.
"Bi, dimana Hamzah?" tanya Adinda.
"Tuan, sudah berangkat nona,"
"Kemana?" tanya Adinda.
"Tidak tau, nona" ujar bi Mona
"Kenapa dia tidak membangunkanku? Apa dia sangat marah padaku." gumam Adinda sambil berjalan menuju kamarnya.
Adinda pun menghadap ke arah cermin, melihat dirinya berantakkan tak terurus seperti biasanya. Seakan telah sadar dari larutan kesedihannya, Adinda pun berlari ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
Adinda memang seseorang yang hanya larut sebentar dari kesedihannya pikir orang sekitarnya. Namun, Adinda adalah orang yang pandai menyembunyikan lukanya dibalik senyumannya. Sehingga, orang-orang berpikir Adinda adalah wanita yang kuat.
Adinda yang mendapat telvon dari Vivy, teringat harus ada berkas yang di tanda tanganinya hari ini. Dan ada beberapa client yang akan bertemu dengan dirinya. Karna, Adinda sudah terlalu sering merepotkan Vivy. Adinda sangat mempercayai ViVy untuk mengelola perusahaannya saat Adinda sedang larut dalam kesedihannya. Apalagi semenjak abinya sakit. Adinda mempercayakan perusahaannya pada ViVy sepenuhnya.
Adinda yang sudah menyelesaikan sarapannya, melajukan mobilnya ke arah perusahaan miliknya. Menghidupkan audio mobil untuk mengusir kesepiannya. Mendadak pikirannya melayang memikirkan Hamzah yang marah padanya. Namun, Adinda menepis kembali pikiran itu dan akan meminta maaf pada Hamzah setelah ia pulang nanti.
__ADS_1