Dia Imamku !

Dia Imamku !
Konsep Pertunangan


__ADS_3

"Baiklah, ayah akan pikirkan!" Menepuk pundak anaknya dan berlalu pergi meninggalkannya.


Terlihat Abi yang sudah selesai disuapi oleh Adinda. Adinda pun membereskan nampan yang ia bawa ke kamar Abinya. Dan menyuruh Abinya untuk beristirahat. Adinda meninggalkan Abinya yang sedang beristirahat berjalan menuju dapur dan meletakkan nampan yang ia bawa, dan hendak di bersihkannya. Namun, ia dihentikan oleh Bi Mona yang sudah berada dibelakangnya. Akhirnya Adinda pun memutuskan untuk berjalan ke arah kamarnya untuk istirahat. Baru saja ia ingin membaringkan tubuhnya, telponnya berdering. Kemudian, ia meraih ponselnya dan mengangkatnya.


"Assalamu'alaikum!" ujar suara di ujung telpon.


"Wa'alaikumsalam, ada apa menelpon?" saut Adinda ketus.


"Jangan lupa! besok kita harus menemui WO untuk acara pertunangan!" ujar Hamzah.


"Kenapa tidak kau saja sendiri, aku sibuk!" ujarnya menegaskan.


"Hey, Nona! aku juga sibuk! tapi ini perintah ayahku." saut Hamzah.


"Baiklah! besok setelah makan siang aku akan menemuimu!"


"Tidak usah! aku akan menjemputmu"


"Terserah kau saja!" pungkas Adinda mengakhiri sambungan telponnya.


"Dia menggangguku hanya untuk membicarakan itu, besok pagi kan bisa!" gerutu Adinda sambil meletakkan ponselnya di atas meja.


Baru saja, ia akan memejamkan matanya. Ponsel Adinda kembali berdering, membuat Adinda menutup wajahnya dengan selimut. Sangat malas sekali mengangkatnya, ponsel yang terus berdering memaksa Adinda mengangkatnya.


"Apalagi! bukankah aku sudah bilang besok kita akan pergi!" bentak Adinda.


"Hey, Adinda sayangku! ada apa sampai kau sangat kesal seperti itu?" Mendengas suara wanita dibalik telponnya, raut wajah adinda berubah seketika dan tersenyum.


"Kau ini Kim, aku kira dia yang menelponku lagi!" ujar Adinda.


"Dia siapa? ayo beritahu aku!" jawab Kim menggoda Adinda.


"Sudah, lupakan! ada apa kau menelponku?"


"Tidak ada, aku hanya ingin memberi tahumu, besok aku akan sampai jam 5 sore. Kau harus menjemputku!" ujar Kim.


"Kau kan bisa menelponku besok!" ujar Adinda kesal karna tidurnya terganggu.


"Tidak! nanti kau lupa kau kan ada syndrom pikun." ujar Kim terkekeh.


"Dasar kau ini!" Adinda mengerucutkan bibirnya.


"Oke sudah dulu ya! ingat besok jemput aku jam 5 sore di Bandara!" pungkas Kim dan mengakhiri telponnya.


"Dasar dia ini, sudah seperti jelangkung saja!" gumam Adinda kesal.


Adinda pun menyimpan ponselnya dan memilih untuk istirahat. Tak lama ia pun terlelap.


Mentari sudah memancarkan sinarnya, menembus kaca jendela yang semalam tidak tertutup oleh kain tirai. Adinda yang kesilauan akan cahaya tersebut, terbangun dari tidurnya. Adinda yang kesiangan membuka selimutnya, berlari kecil menghampiri kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Setelah selesai, ia pun mengganti pakaiannya dengan pakaian kantor. Adinda mengambil tasnya, kemudian meraih ponselnya dan ingin menyimpannya ke dalam tas. Namun, tangan Adinda terhenti saat merasakan getaran ponsel ditangannya. Dilihatnya, ada satu pesan baru, ia pun membukanya ternyata itu pesan dari Hamzah.


"Pakailah pakaian yang tertutup! aku tidak ingin menabung dosa saat di dekatmu."


"Tidak usah mengingatkanku, Aku tahu!" balas Adinda.


Masih ada balasan dari pesan Adinda tadi. Namun, Adinda tak menghiraukannya dan memilih mengganti pakaian yang ia pakai tadi dengan pakaian tertutup. Adinda yang selesai bergegas turun ke bawah menghampiri meja makan untuk sarapan. Dilihatnya, Abi yang sudah menyelesaikan sarapannya.


"Sudah selesai sarapan ya, Abi!" ujar Dinda sembari duduk.


"Sudah, Nak! tadi Bi Mona sudah membangunkan mu, tapi kau tak bangun, Nak!"


"Maaf Abi, Adinda kelelahan." ujarnya.


"Anak Abi tambah cantik saja ya!" puji Abi pada Adinda yang melihatnya menggunakan baju gamis dan jilbab panjang sama seperti Adinda waktu SMA.

__ADS_1


"Abi bisa saja!" ujar Adinda malu.


"Apakah Abi tidak apa jika Adinda tinggal?" ujarnya lagi.


"Tidak, Nak! Abi baik-baik saja, tidak perlu khawatir." ujar Abi meyakinkan Adinda.


"Baiklah, Abi! kalau begitu Adida berangkat ya, Abi!" Abi pun mengangguk.


"Bi Mona! Adinda pamit dulu ya, tolong jaga Abi!" pesannya pada Bi Mona.


" Baik, Nona" jawabnya.


Hari sudah menunjukkan pukul setengah sembilan pagi. Sedangkan, Adinda baru saja menyalakan mesin mobilnya, dan melajukannnya dengan kecepatan standart menuju kantornya. Adinda pun akhirnya sampai di kantor jam setengah sepuluh, dia menghabiskan waktunya satu jam menuju kantor karna jalanan Jakarta yang sangat padat. Adinda pun langsung menuju ke ruangannya, ternyata sudah ada Vivy yang menunggunya di sana.


"Nona! client yang ingin menemui anda sudah datang, dan menunggu anda di loby, Nona!"


"Baik, suruh dia ke ruanganku Vivy"


Tak lama client yang ingin bertemu Adinda pun masuk bersama sekretarisnya dan juga Vivy. Adinda pun mempersilahkan mereka masuk dan membahas kerja sama yang akan mereka lakukan.


"Sian, apakh kau sudah paham apa yang di ajarkan oleh pak David."


Terlihat Hamzah yang sedang sibuk menandatangani berkas. Sementara, Sian sedang mempelajari catatan yang di tinggalkan oleh David.


"Sian! apakah kau sudah memahami apa yang diajarkan oleh David?" tanya Hamzah sambil menandatangani tumpukan berkasnya.


"Tentu Tuan." ujarnya sombong.


"Baiklah, kosongkan jadwalku siang ini!" perintah Hamzah .


"Baik Tuan" jawabnya.


Hari sudah menunjukkan pukul 11.30 WIB. Hamzah pun membereskan berkasnya, kemudian berjalan keluar ke arah mobilnya dan melajukan mobilnya mengarah perusahaan Grup Malindo. Setelah 30 menit berkendara, Hamzah pun sampai di perusahaan Adinda. Ia yang malas masuk ke dalam perusahaan Adinda, memutuskan menunggu Adinda di dalam mobilnya dan menghubungi Adinda.


"Ya, waa'laikumsalam!" jawabnya.


"Cepatlah! aku sudah dibawah." ujar Hamzah


"Iya, sabarlah! aku segera turun." Menutup telponnya segera.


"Menyebalkan sekali, aku yang menelpon dia yang mematikan, sifatnya tidak berubah." gerutu Hamzah sambil menyimpan ponselnya.


Beberapa saat kemudian, Adinda pun sudah berada di depan mobil Hamzah. Adinda yang berpakaian tak biasa, membuat Hamzah terkesima melihat pemandangan di depannya. Lamunannya pun buyar saat Adinda mengetuk kaca jendela mobilnya sambil berteriak. Hamzah yang sadar akan lamunannya segera membukakan pintu mobilnya. Adinda pun masuk dan duduk disamping Hamzah dan mulai mengerutu pada Hamzah.


"Kau sengaja mengunciku ya, menyebalkan!" tegas Adinda.


" Maaf! aku tidak sengaja." Adinda hanya diam saja tak menjawab.


"Dinda, kita makan dulu ya! aku sangat lapar."


"Ya baiklah!"


Hamzah pun melajukan kendaraannya, menuju ke resto milik keluarganya. Tak ada pembicaraan diantara mereka sama sekali. Mereka pun sampai di resto. Adinda yang tidak bersuara dari tadi mengeluarkan suarannya.


"Apa ini resto favoritmu?" tanya Adinda pada Hamzah.


"Memangnya kenapa?"


"Aku hanya tanya saja, lagian ini resto favoritku!" ujar Adinda.


"Aku tidak bertanya." ujar Hamzah meninggalkan Adinda.


"Kau menyebalkan!" teriak Adinda dan berusaha mengejar Hamzah yang sudah jauh di depannya.

__ADS_1


Mereka pun sampai di dalam resto dan memilih duduk di dekat jendela yang menghadap ke arah taman.Seorang pelayan pun menghampiri mereka dan memberikan daftar menu pada Adinda.


"Kau pesan apa?" ujar Adinda yang masih menatap daftar menu.


"Kau saja yang pesan!" ujarnya.


"Baiklah, terserah kau saja!" ujar Adinda kesal.


Adinda pun memesan makanan favoritnya yang ada di restoran itu. Sementara Hamzah tanpa sengaja malah menatap Adinda, yang tengah memesan makanan dihadapannya. Adinda yang menyadari itu malah menegurnya.


"Kenapa kau menatapku?" selidik Adinda.


"Siapa yang menatapmu!" bantah Hamzah yang tertangkap basah.


"Lalu, kau sedang apa?". tanya Adinda lagi.


"Aku hanya heran, wanita sepertimu ternyata banyak makam." jawab Hamzah sambil terkekeh.


"Apa masalahmu?" timpal Adinda tak suka.


Mereka pun terus berdebat, hingga perdebatan mereka terhenti saat pesannanya datang. Adinda yang heran menatap ke arah makanan yang tidak dipesannya dan bertanya pada pelayan resto itu.


"Siapa yang memesan ini? Aku tidak memesannya!" ujar Adinda pada pelayan.


"Ini pesanan Tuan Hamzah, Nona!" jawabnya.


"Oh, baiklah!" ujar Adinda membiarkan pelayan itu pergi.


"Kenapa pelayan itu mengenalmu?" tanya Adinda.


"Sudahlah, tidak penting makan sana makananmu!" jawab Hamzah dengan santainya.


Mereka pun melahap makanannya masing- masing. Adinda pun lebih dulu menghabiskan makanan yang ia pesan, karna siang itu ia sangat lapar. Hamzah yang melihat itu, malah meledek Adinda hingga membuatnya kesal dan meninggalkan Hamzah sendirian. Tak lama Hamzah pun keluar menyusul Adinda yang sudah ada diparkiran resto.


"Maafkan aku! Aku hanya bercanda." ujarnya memelas.


"Cepat bukakan pintu mu, kita segera cari W.O dan menentukan konsepnya!" ujar Adinda yang masih kesal akibat ulah Hamzah.


"Ya, baiklah!" jawabya membuka pintu mobil dan melajukan mobilnya ke arah W.O yang akan mereka tuju. Tak ada obrolan di antara mereka. Dan Hamzah juga fokus melajukan mobilnya. Setelah 30 menit berkendara mereka pun sampai di sebuah kantor Penyediaan jasa W.O. Mereka pun masuk ke dalam dan langsung masuk ke ruangan yang mereka tuju. Karna, Hamzah cukup mengenal pemilik jasa W.O nya.


"Ada apa ni Mas Hamzah? tumben kemari!" ujar Rendi.


"Gini mas Rendi, saya lagi butuh W.O untuk acara pertunangan saya dua hari lagi!" jelas Hamzah.


"Oh, Mas Hamzah mau tunangan toh, dan ini calonnya ya?" ujarnya.


"Iya, ini calon tunangan saya, namanya Adinda." Adinda pun menjulurkan tangannya begitu juga sebaliknya.


"Jadi gimana, Mas! Apa bisa?" tanya Adinda.


" Maaf nih, Mas Mbak! bukannya saya nolak kalo untuk dua hari lagi mungkin tidak bisa soalnya lagi banyak jasa yang digunain, Mas Mbak!" ujar Rendi menjelaskan.


"Lalu bagaimana?" ujar mereka serentak.


"Gini saja, saya kasih alamat W.O terbaik yang ada di Jakarta, jadi Mas Hamzah tidak sulit mencari alamat." ujarnya membantu.


_


_


_


Next episode ya readers😘😘

__ADS_1


Ig. Arini_khairunnisa


__ADS_2