
Adinda yang sudah selesai mengganti pakaian dan membersihkan make upnya, kembali menghampiri abinya di ruangan. Disana sudah ada sahabat dan keluarga baru Adinda. Adinda pun masuk dan mengetuk pintu. Semua mata tertuju pada Adinda termasuk lelaki yang sudah menjadi suaminya.
"Nak, akhirnya kau selesai juga. Ibu dan Ayah mau pulang dulu." ujar Ibu mertuanya.
"Baik bu, tapi maaf Adinda tidak bisa mengantar ke depan." ujarnya.
"Tidak apa, Nak!" ujar kedua mertuanya.
Mereka semua berpamitan, termasuk Sakhi dan Nisa yang harus kembali ke pesantren. Sementara, Kimberly dan juga Delon juga ada urusan. Meninggalkan Adinda dan juga Hamzah disana. Abi tengah memperhatikan Adinda dan Hamzah yang ada dihadapannya. Membuat Adinda heran dan bertanya pada abinya.
"Ada apa, Bi? Kenapa Abi menatap kami begitu?" ujar Adinda.
"Tidak, Nak! Abi hanya senang kalian sudah menikah."
Adinda dan Hamzah pun tersenyum pada Abi.
"Hamzah, boleh Abi meminta sesuatu padamu?" ujarnya.
"Apa Bi?"
"Nak, Abi minta jaga Adinda, karna Adinda harta Abi yang paling berharga. Bimbing dia, jadikan dia istri dan anak yang sholeh untuk Abi, Nak ...!" lirih Abi.
"Tentu, Abi. Hamzah akan menjaga dan membimbing Adinda. Karna dia juga istri Hamzah dan sudah kewajiban Hamzah untuk melakukan itu Bi." ujar Hamzah sambil melirik pada Adinda.
Membuat pipi Adinda merah semu, karna ucapan dan lirikkan Hamzah. Mereka bertiga melanjutkan candaannya hingga jam makan malam. Adinda yang menyadari itu berpamitan untuk membeli makanan. Akan tetapi, abi malah menyuruh Adinda dan Hamzah pulang untuk beristirahat. Tapi, ditolak oleh Hamzah dan Adinda karna mereka tau kondisi abi semakin menurun dan memutuskan untuk menginap dirumah sakit. Mereka pun akhirnya makan malam bersama diruangan abi, dengan makanan yang di beli Hamzah di depan rumah sakit. Setelah selesai, Adinda meminta abi istirahat, abi pun menurutinya. Adinda yang tengah duduk di sofa dihampiri oleh Hamzah, yang sedari tadi duduk di samping bangkar abinya yang sudah istirahat. Dia pun bertanya tentang keadaan abi pada Adinda, karna Hamzah sudah menjadi suaminya, Adinda pun menceritakannya dengan isakkan tangis. Namun, Hamzah belum berani memeluk Adinda untuk menenangkannya. Ia pun berusaha memberikan kalimat nasehat yang ampuh membuat Adinda lega.
Pukul 3 pagi, Adinda tengah terlelap di sofa ruang abinya. Sementara, Hamzah memilih duduk di samping pembaringan abi. Sesekali dia melirik ke arah Adinda yang tengah tertidur.
"Bagaimana dia bisa senyaman itu? Ini kan rumah sakit." gumam Hamzah tengah melirik Adinda.
Saat Hamzah tengah melirik Adinda, tiba-tiba abi yang berada di belakanngnya, mendadak kejang-kejang. Membuat Hamzah kaget dan reflek berteriak dokter, dan membangunkan Adinda. Adinda yang mendengar hal itu, langsung berdiri dan berlari menuju abinya.
Hamzah beberapa kali memencet tombol merah yang ada di atas bangkar. Namun, tidak ada sautan. Ia pun memutuskan untuk berlari keluar memanggil dokter Irvan. Sementara, Adinda tengah cemas melihat keadaan abinya. Air matanya pun mengucur tak karuan karna saking cemasnya melihat abi yang kejang-kejang.
"Abi, apa abi baik-baik saja?" ujar Adinda melihat abinya yang sudah berhenti kejang-kejang. Tak ada sautan dari Abi, Adinda pun memanggilnya kembali, namun hal sama terjadi abi masih tidak menyaut.
"Abi ...," ujar Adinda mengoyang- goyangkan Abinya.
"Abi, bangun Bi!"
__ADS_1
"Abi, bangun!"
"Abi bangun! Jangan seperti ini!"
Hiks ... Hiks... Hiks...
"Dokter!!! cepat kemari!" teriak Adinda
Mendengar teriakan dari dalam kamar, Dokter Irvan dan Hamzah pun segera berlari ke dalam ruangan.
"Dokter, ada apa dengan abi?" ujar Adinda terisak.
"Adinda, tenanglah abi akan baik-baik saja!" ujar Hamzah merangkul Adinda.
Entah mengapa, sakit sekali ulu hatinya melihat wanita yang baru saja ia persunting bersedih.
"Nona, Tuan. Maaf saya harus menyampaikan ini. Abi sudah dipanggil yang maha kuasa." ujar Dokter.
"Ckck ... Dokter bohong, kan? Dokter bohong."
"Abi, bangun! Dokter itu bohongkan pada Adinda, Bi?"
"Abi ... " ujar Adinda.
Adinda pun menjatuhkan badannya ke lantai. Rasanya ia sangat hancur, orang yang selama ini selalu menyayanginya sudah tiada. Kenapa semua ini terjadi padanya, tuhan tidak adil ujarnya. Adinda yang masih terduduk di lantai tidak mau di ajak berdiri oleh Hamzah. Dia menangis sejadi-jadinya. Luka ditinggal wanita yang melahirkannya belum sembuh. Sekarang dia sudah kehilangan abinya lagi. Dia menangis sesegukkan, ingin rasanya ia mengakhiri hidupnya dan berkumpul bersama kedua orang tuanya. Namun, jika ia mengakhiri hidupnya, Adinda tidak akan bertemu abi dan umminya di surga nanti. Karna kelelahan menangis, Adinda pun jatuh pingsan dan di baringkan di atas sofa ruangan abinya. Hamzah pun memerintahkan Dokter yang belum beranjak sedari tadi mengurus jenazah abi dan akan di semayamkan besok pagi. Hamzah di sibukkan menelpon ayah dan yang lainnya. Mendengar kabar itu, mereka semua langsung datang ke rumah sakit. Bi Mona, Vivy dan Ibu Hamzah mempersiapkan, segala sesuatunya di rumah Adinda.
"Abi..." lirih Adinda yang baru tersadar.
"Adinda, kau sudah sadar?" ujar Hamzah yang mendengar lirihan Adinda dan menghampirinya.
"Abi, Abi dimana?" tanya Adinda.
"Jenazah abi sedang di urus." jawab Hamzah.
"Tidak! Ini tidak mungkin." ujar Adinda kembali menangis dan berlari ke luar ruangan. Namun, ditahan oleh Hamzah dengan pelukkan eratnya.
"Lepaskan! Lepaskan aku!" ujar Adinda yang meronta dalam tangisannya.
Namun, Hamzah malah mempererat pelukkannya. Demi menenangkan Adinda yang tengah menangis. Hingga Akhirnya Adinda berhenti meronta dan Hamzah pun melepaskan pelukkannya.
__ADS_1
"Tenanglah, abi sudah senang dan bahagia, bukankah kau ingin abi tidak merasakan sakit lagi?" ujar Hamzah.
"Hiks ... Hiks... Aku memang menginginkan abi sembuh. Tapi bukan begini caranya." ujar Adinda.
"Tuhan lebih sayang abi Dinda! jadi tenanglah."
"Tuhan itu tidak adil Hamzah, dia merebut orang yang aku sayangi dan pergi meninggalkanku sendiri." ujarnya.
"Tuhan itu Adil Adinda!" jawab Hamzah memegang pundak Adinda dengan tangannya. Namun, Adinda hanya menunduk dan menangis.
"Adinda, tatap mataku! aku akan ada disampingmu, dan tak akan meninggalkanmu sendirian." ujar Hamzah lagi.
"Benarkah? Apa kau tidak akan meninggalkanku seperti ummi dan abi?" ujar Adinda dengan isakkan yang masih terdengar.
"Iya, aku janji Adinda. Aku tidak akan meninggalkanmu!" ujar Hamzah meyakinkan Adinda.
Adinda pun memeluk Hamzah dengan sangat erat, dan Hamzah pun membalas pelukkannya. Entah mengapa, Adinda merasakan kehangatan dan ketenangan saat berada dalam dekapan lelaki itu. Begitu pun sebalikknya. Hamzah yang menyadari Adinda sudah tenang, segera melepaskan pelukkannya dari Adinda. Kemudian, mengajak Adinda menemui jasad abinya di ruang jenazah. Sampai di depan ruangan jenazah, Kim, Delon dan Ayah sudah berada disana. Ayah pun langsung memberikan pelukkannya pada Adinda, mencoba menguatkan Adinda. Begitu juga dengan Kim dan Delon yang menyemangati Adinda. Setelah segala, prosedur terpenuhi jenazah pun di bawa pulang dan disemayamkan di tempat pemakaman umum, dan makam abi berada disebelah ummi. Semua orang yang ada disana sudah pulang ke rumah masing-masing. Kini, tinggallah Adinda, Suaminya, mertua dan sahabatnya. Mereka salin menguatkan Adinda, dan mengajak Adinda untuk pulang. Namun, Adinda menolak dan menyuruh mereka untuk pulang duluan. Mereka pun menuruti kemauan Adinda, dan meninggalkan Adinda dan Hamzah disana. Setelah cukup lama disana, Hamzah pun mengajak Adinda pulang.
"Adinda, ayo kita pulang!" ujar Hamzah.
"Aku masih mau disini, kau pulanglah!" tolak Adinda.
"Bukankah, kau mau bertemu abi dan ummi lagi?" tanyanya.
"Tentu ...! lirih Adinda.
"Jika begitu, ayo kita pulang! dan lakukan amanah abi dan ummi." bujuk Hamzah.
"Baiklah, ayo!" ujar Adinda.
Ia pun berpamitan pada abi dan umminya yang sudah tenang di sana. Kemudian, Adinda pun memeluk dan mencium nisan kedua orang tuanya dan beranjak menuju mobilnya dan pulang kerumah bersama Hamzah.
Bersambung ....
Yang mau author Crazy up komen di bawah!!!
Jangan lupa like, komen and share agar author semangat nulisnya 😊😊😁
See you
__ADS_1
Ig. Arini_khairunnisa