Dia Imamku !

Dia Imamku !
Kehilangan


__ADS_3

Setibanya Adinda di rumah, wanita yang tengah berbadan dua itu segera menghubungi asisten pribadinya. Ia meminta Vivy agar segera datang ke rumahnya untuk menemani Gibel yang tengah tertidur, agar Adinda bisa menemani ibu angkatnya yang akan di operasi sore ini.


Selang setengah jam Vivy pun datang, ia segera menuruti perintah bosnya itu dan Adinda pun segera pergi menuju rumah sakit.


"Vivy, tolong jaga Gibel ya! Aku pergi dulu," pungkas Adinda.


"Baik, buk!" jawab Vivy sembari melambaikan tangan.


Adinda memang tak menyewa Babysitter untuk Gibel. Karna Bu Yuli sendiri tak mau Gibel di asuh oleh orang lain.


Adinda memacu kendaraannya menuju rumah sakit, agar ia bisa bertemu dengan ibu angkatnya sebelum di operasi. Dr. Ronal bilang, bu Yuli sadarkan diri dan menanyakan dirinya. Adinda senang, mendengar kabar itu.


Wanita itu pun sampai di rumah sakit, ia segera berlari menuju ruangan ibu angkatnya.


Setibanya di depan pintu, Adinda meraih gangang pintu dan mendorongnya. Dilihatnya bu Yuli tengah berbicara dengan Hamzah suaminya, yang lebih dulu sampai sebelum dirinya. Melihat Adinda yang sudah datang, Hamzah pun berdiri dari duduknya dan membiarkan Adinda berbicara dengan bu Yuli.


"Bagaimana keadaan Ibu, apa Ibu sudah mendingan?" tanya Adinda cemas, sambil mendudukkan tubuhnya di kursi samping pembaringan ibu.


"Tenanglah, Nak! Ibu baik-baik saja," lirihnya sambil mencoba meraih tangan Adinda.


"Nak, terima kasih! Kamu sudah mau menganggap Ibu seperti Ibu kandungmu sendiri. Kamu juga sudah mau membesarkan Gibel," lirihnya dengan linangan air mata.


"Ibu, ngomong apa! Justru Adindalah yang berterima kasih. Karna setelah ada Ibu dan Gibel, Adinda merasakan ada orang tua lagi Bu!" ujar Adinda sembari menyapu air mata Bu Yuli.


"Nak, jika Ibu tiada, jagalah Gibel baik-baik!" serunya.


"Sstt, Ibu akan sembuh!" ucap Adinda.


Ibu pun tersenyum, sejenak ia terdiam menatap langit-langit kamar. Tiba-tiba tubuhnya mengejang, membuat Adinda panik dan segera berteriak memanggil dokter. Hamzah yang berada di ruangan itu pun ikut panik, dan segera berlari ke luar mencari Dr. Ronal.


"Bu, Ibu ...," panggil Adinda sambil mengguncang lengan Ibunya.


"Dokter, cepatlah!!!" teriak Adinda berkali-kali.

__ADS_1


Dr. Ronal pun masuk diiringi oleh beberapa suster, ia langsung memeriksa Bu Yuli. Namun terlambat, Bu Yuli sudah menghadap pada Sang Khaliq.


"Kenapa, kak?" tanya Adinda cemas melihat raut wajah Dr. Ronal.


"Maaf, Adinda Bu Yuli tak bisa di selamatkan,"


"Apa ...?" ucapnya tak percaya.


Bagai tersambar petir di siang bolong, Adinda pun tak sadarkan diri. Untungnya, ia pingsan dalam dekapan suaminya. Dr. Ronal pun segera memberikan pertolongan pada Adinda. Sementara suster yang mengikuti Dr. Ronal tadi segera mengurus jenazah Bu Yuli.


Gadis kecil terbangun dari tidurnya, ia menanggis sesegukkan. Entah apa yang membuat Gibel menanggis seperti itu, biasanya saat ia bangun Gibel akan keluar dan tak pernah menanggis. Tanggisan Gibel membuat Vivy yang tengah bersantai kesal. Vivy pun beranjak dari duduknya, melempar snack yang ia makan sedari tadi dan berjalan menaiki anak tangga.


"Sialan, cenggeng sekali." gerutunya sambil menaiki anak tangga.


Vivy meraih paksa, gangang pintu yang ada di hadapannya. Kemudian membanting benda itu dengan sangat keras, membuat gadis munggil yang ada di dalamnya terkejut dalam segukkan tangisnya.


"Heh, anak pungut! Kau bisa diam tidak!!!" teriaknya membuat tangisan Gibel semakin menjadi karna ketakutan.


"Mama, papa Gibel takut...," lirihnya.


Setibanya di dapur, ia meraih susu dilemari yang sudah di beritahu Adinda. Ia menyeduhnya dan mencampurnya dengan bubuk yang baru saja ia keluarkan dari sakunya. Awalnya ia hanya mencampur sedikit saja, namun karna kesal ia campurkan semua bubuk itu ke susu gadis kecil itu. Setelah selesai, ia pun kembali ke kamar Gibel membawakan susu yang sudah ia seduh tadi.


"Sudah jangan menangis!" serunya, "Ayo minum, kau pintar bukan?" ujarnya lagi.


Gibel yang sesegukan akibat tangisnya pun segera meraih botol susu itu dan meminumnya hingga habis.


"Anak pintar," ucapnya sambil mengelus rambut Gibel dan tersenyum licik.


Selang beberapa menit, Gibel pun menguap dan tertidur pulas di kasur empuk miliknya. Kemudian, Vivy pun meninggalkan Gibel sendirian dan bersantai di rumah megah itu.


Ting tong


Vivy berdecak kesal saat suara bell mengganggu waktu santainya. Vivy pun beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang.

__ADS_1


"Hey, Adin...," sapaan Kim terhenti saat yang membuka pintu adalah Vivy. "Kau, mana Adinda?" tanyanya.


Vivy pun berlagak baik," Eh, Nona Kim rupanya. buk Adinda sedang di rumah sakit, ia tengah menemani bu Yuli yang operasi sore ini."


"Lalu, Gibel mana? Apa dia bersamamu, aku mau lihat!" ujar Kim sambil mencoba menerobos masuk.


"Ja jangan, Nona! Gibel baru saja tidur lebih baik tidak usah," ujar Vivy.


"Oo, baiklah! Jaga Gibel, aku akan menemui Adinda," pungkas Kimberly.


Vivy pun bernapas lega saat Kimberly pergi dari hadapannya. Ia segera masuk dan mengunci pintu, membuat Kimberly yang saat itu mengamati dari jauh curiga. Kimberly pun terdiam, seperti memikirkan sesuatu di benaknya. Delon yang saat itu duduk di bangku kemudi memperhatikannya.


"Kenapa sayang?" tanyanya,"Sepertinya ada yang kau fikirkan?" tebak Delon.


"Aku merasa ada yang disembunyikan oleh asisten Adinda," jawab Kim.


"Kenapa dengan asistennya?" tanya Delon lagi.


"Sudah, nanti saja kita bahas. Ayo, kita ke rumah sakit keluarga Adinda dulu!" seru Kim.


"Baiklah, beby!"


Delon pun melajukan kendaraannya sesuai aplikasi petunjuk arah di ponselnya. Sesekali mereka saling lempar pertanyaan apa yang sebenarnya terjadi pada sahabat mereka.


Bersambung ....


Hello Readers!


Apa kabar? Semoga sehat selalu ya😉


Author mohon dukungan kalian dengan klik tombol like, komen and share link cerita ini.


Sekian, dan terima kasih.

__ADS_1


see you😘😘😘


__ADS_2