Dia Imamku !

Dia Imamku !
Kekhawatiran kecil


__ADS_3

Siang itu, Adinda yang tengah duduk di bangku kebesarannya, mengecek beberapa berkas yang ada di hadapannya dengan sangat teliti. Tiba-tiba bayangan duka kembali menghampirinya, ia kembali melamun dan berusaha untuk menepis kegundahaannya.


Tiba-tiba, suara ketukkan pintu membuyarkan lamunan Adinda. Ia pun menoleh ke arah pintu dan mempersilahkan orang itu untuk masuk. Ternyata Vivy, ia pun memberitahu Adinda bahwa ada yang menunggunya di loby. Adinda pun mengiyakannya, dan memerintahkan Vivy untuk mempersilahkan tamu tersebut masuk ke dalam ruangannya.


Vivy pun keluar dari ruangan Adinda, dan memanggil orang yang mau bertemu Adinda. Tak lama Vivy pun kembali dan mempersilahkan pria tersebut masuk, kemudian kembali keruangannya. Adinda memutar bangkunya dan melihat siapa yang dibawa masuk oleh Vivy. Adinda pun kaget bukan main, menatap pria yang berdiri di hadapannya, lelaki yang hampir saja melecehkannya di atas mobil karna penolakkan cintannya.


"Alex!" ujar Adinda kaget melihat pria yang di katakan Vivy.


"Ada apa kau kemari?" tanya Adinda ketus.


"Jangan ketus begitu, sayang!" ujar Alex mendekat pada Adinda dan mencuil dagu lancip Adinda.


"Lepaskan!" teriak Adinda sambil menepis tangan Alex.


"Kenapa kau berubah seperti ini sayang? Apa karna pria itu?" ujar Alex mendekatdan meraih tangan Adinda.


"Lepaskan aku! Atau aku akan berteriak!" ujar Adinda berusaha melepaskan tanganya.


"Baiklah wanitaku, kau akan ku lepaskan. Ingat sayang ini hanya peringatan kecil, karna kau menolakku." ujar Alex mengecup kening Adinda dan meninggalkan ruangan Adinda dengan senyum liciknya.


"Dasar kau ********!" teriak Adinda berusaha menahan tangisnya.


Adinda pun tertunduk lesu di sofa ruangannya. Ia menangis sejadi-jadinya, trauma yang hampir melecehkannya, kembali datang menghampirinya. Dia tidak mau dilecehkan seperti ini, Adinda tidak mencintai lelaki itu. Dia sudah bersuami sekarang, dia takut jika pelecehan yang hampir dilakukan Alex akan membuat Hamzah merasa dikhianati.


"Hiks Hiks ...," isak Adinda sambil menghapus air matanya. "Kapan penderitaanku akan berlalu tuhan. Kenapa engkau memberikan cobaan begitu berat terhadapku ....," lirih Adinda kembali mengusap air matanya yang mengenang membasahi pipinya.


Adinda pun bangkit dari sofa, berjalan ke arah kamar mandi dalam ruangannya. Kemudian membersihkan wajahnya dari bekas tangisannya tadi. Adinda dengan Mood yang tidak baik memutuskan untuk pulang, karna jika ia paksakan, Adinda tidak akan fokus dengan 0ekerjaannya.


Adinda memanggil Vivy keruangannya, memerintahkan Vivy untuk menghandle pekerjaannya. Karna Vivy satu-satunya orang kepercayaannya yang bekerja dengan Adinda.

__ADS_1


Vivy pun menyetujui perintah atasannya itu dan kembali keruangannya.


Adinda pun meraih tas dan mengenakannya. Kemudian, meraih gangang pintu ruangannya dan berjalan keluar menuju parkiran. Adinda yang telah sampai di parkiran, masuk ke dalam mobilnya. Menyalakan mesin mobil, dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kediamannya.


Di tempat lain, Hamzah yang baru saja menyelesaikan sholat zuhurnya. Merapikan lengan kemeja yang dia gulung saat berwudu' tadi. Bayangan wajah Adinda yang tak terurus seperti yang ia lihat semalam, membuat ia melamun memikirkannya. Hamzah pun langsung meraih ponselnya di atas meja kerja, menarik layar ponselnya keatas dan menghubungi telpon rumah. Setelah telpon terhubung, terdengar sapaan salam dari bi Mona yang di balas oleh Hamzah.


"Bi, apa Adinda sudah makan dan dimana dia sekarang?" tanya Hamzah.


"Nona tadi pagi sudah sarapan tuan dan pergi ke kantor, tapi ...." lirih Bi Mona.


"Tapi kenapa bi?" tanya Hamzah binggung.


"Tapi, nona barusan pulang dengan raut wajah sedih tuan, dan pangsung ke kamarnya." ujar bi Mona menjelaskan.


"Baiklah Bi, jika ada apa-apa cepat kabari saya!" ujar Hamzah mengakhiri panggilannya.


Hamzah tengah mondar-mandir di ruangannya, setelah mendengar perkataan bi Mona tadi. Hamzah sama sekali tidak tenang, pikirannya melayang pada Adinda. Akhirnya Hamzah pun memutuskan untuk pulang menemui Adinda.


"Mi, Mami jangan egois gitu dong. Kim akan kembali ke Bali jika Adinda sudah tenang!" teriak Kim pada maminya.


"Turunkan nada bicaramu! Mami tau Adinda sahabatmu tengah bersedih, dia sekarang sudah punya suami, kau tak perlu khawatir." Sangkal mami pada Kim.


"Ia Kim tau, tapi kan suaminya tidak terlalu mengenal Adinda Mi. Mami sendiri kan tahu, jika Adinda sudah tak tahan dengan masalah yang di hadapinya dia akan mengkonsumsi obat depresi lagi Mi." Pungkas Kim.


Kimberly yang kesal dengan sikap Maminya, memilih meninggalkan Maminya. Dan pergi keluar rumah menghampiri sahabatnya Adinda. Sementara, Maminya tengah berteriak memanggil Kimberly namun tak di gubris oleh Kim.


Adinda yang tengah duduk di samping ranjang, menyenderkan kepalanya di atas lututnya. Meratapi nasibnya yang begitu menyedihkam menurutnya. Ia berpikir entah mengapa tuhan tidak adil pada dirinya. Walaupun ia hidup dengan kemewahan, tapi ia terasa hampa tanpa orang tuanya.


Adinda pun berjalan menghampiri meja riasnya. Dibukannya satu-persatu laci meja tersebut seperti tengah mencari sesuatu yang ia simpan. Saat membuka laci ketiga Adinda menemukan botol ukuran mini, berisi pil bewarna putih. Adinda pun membuka tutup botol itu, kemudian menumpahkan beberapa biji obat ditangannya dan menyimpannya lagi. Kemudian, Adinda meraih gelas berisi air yang ada diatas meja riasnya. Ia pun meneguk semua obat yang ada di tangannya tak tersisa.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, Adinda pun merasakan pusing di kepalanya. Penglihatannya seolah berputar dan perlahan mulai kelam. Adinda pun tak sadarkan diri dan terlelap di lantai kamarnya.


Hamzah yang baru saja sampai bertemu dengan Kimberly di depan rumahnya. Hamzah pun menyapa Kimberly dan begitu juga sebaliknya. Mereka pun masuk bersamaan. Hamzah yang melihat Bi Mona sedang membersihkan ruang tamu, berjalan menemuinya.


"Bi dimana Adinda?" tanya Kim mendahului Hamzah.


"Di kamar Nona Kim, sedari tadi dia tidak keluar. Nona Adinda juga belum makan aiang, padahal ini sudah pukul 3 sore," ujar bi Mona.


Hamzah memberi isyarat pada Kim untuk menemui Adinda. Karna Hamzah tau, Adinda tidak akan mudah bercerita padanya. Kimberly yang menyetujuinya langsung menghampiri Adinda di kamarnya. Sementara, Hamzah hanya duduk di ruang tamu menunggu informasi yang diberikan Kim.


Hamzah yang tengah berada di ruang tamu, di panggil oleh Kim yang sedari tadi mengedor pintu Adinda. Hamzah pun langsung menuruti Kim, dan membantu Kim untuk memanggip Adinda agar membukakan pintu. Beberapa saat berlalu, pikiran Kimberly dan Hamzah pun dipenuhi dengan pikiran buruk. Tanpa bertanya lagi, Hamzah pun mendobrak pintu kamar Adinda dengan sekuat tenaganya. Pintu pun terbuka, Hamzah yang melihat Adinda tergeletak di lantai langsung menghampirinya. Kemudian, membaringkan Adinda di atas tempat tidurnya. Sementara, Kim berusaha mengoleskan minyak kayu putih agar Adinda siuman.


"Adinda bangunlah, kenapa kau seperti ini?" ujar Hamzah dalam kecemasan.


"Tenanglah Hamzah, Adinda akan baik-baik saja!" ujar Kim menenangkan.


Dua puluh menit kemudian Dokter Irvan masuk bersama Bi Mona, Bi Mona sudah memanggil dokter keluarga sesuai perintah Hamzah. Dokter Irvan pun mulai memeriksa kondisi Adinda, setelah selesai ia pun membicarakan keadaan Adinda yang sangat ia sayangkan.


"Sepertinya Adinda sangat depresi, dengan keadaan yang sama seperti beberapa tahun yang lalu," ujar Dokter Irvan.


"Apa maksud dokter Adinda, juga mengkonsumsi obat itu lagi?" tanya Kim.


"Obat apa?" tanya Hamzah tidak tau.


"Iya, Adinda memang minum obat anti depresan itu lagi. Bahkan, ia meminumnya tidak sesuai dosis. Ini akan berakibat buruk padanya," ujar Dokter.


"Lalu, apa yang harus saya lakukan Dok?" tanya Hamzah.


"Berikan suasana baru padanya agar ia lupa dengan peristiwa yang memukul batinnya," pungkas dokter lalu berpamitan pada Hamzah dan meninggalkan resep obat.

__ADS_1


Mohon maaf upnya telat readers karna ada kendala yang tidak bisa di hindarkan😪😪


__ADS_2