Dia Imamku !

Dia Imamku !
Subuh pertama


__ADS_3

Acara tahlilan sederhana yang di gelar pun selesai dilaksanakan. Semua orang sudah pulang ke kediamannya masing-masing, meninggalkan Adinda dan Hamzah di rumah megah itu.


Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, Adinda memutuskan naik ke kamarnya diiringi oleh Hamzah. Hamzah pun membukakan gangang pintu kamar Adinda dan mereka pun masuk.


"Ayo, istirahatlah!" ujar Hamzah.


"Baiklah" ujar Adinda menyelimuti tubuhnya.


Hamzah yang saat itu tengah duduk disamping Adinda, beranjak meninggalkan Adinda menuju dapur. Tenggorokannya kering sekali. Setibanya di dapur, dilihatnya bi Mona sedang membereskan piring kotor bekas acara tahlilan tadi. Melihat hal itu, Hamzah merasa iba dan menegur bi Mona.


"Bi, tidur saja. Lanjutkan besok!" ujar Hamzah.


"Tak apa Tuan Muda, ini tinggal sedikit lagi," bantah bi Mona.


"Baiklah bi," pungkas Hamzah meninggalkan bi Mona kembali ke kamarnya.


Dilihatnya Adinda yang tengah terlelap dengan mata sembab. Hamzah tau, sebelum tidur tadi Adinda menanggis. Tapi, Hamzah berpura-pura tidak tau agar Adinda bisa melepaskan tangisannya dan tenang. Hamzah yang sudah mengantuk, membaringkan tubuhnya di sebelah Adinda. Tak butuh waktu lama, Hamzah pun juga ikut tertidur.


Di tempat lain, seseorang tengah sibuk dalam pembicaraannya di telvon, pembicaraan yang serius antara sepasang suami istri yang terpisah jarak.


"Sayang, kau tenang saja! Sekarang tugasku yang bekerja untuk kita," ujar Wanita itu berdiri menghadap ke arah luar apartementnya.


"Baiklah sayang, aku akan menjaga Rei untukmu. Dan dendam kita akan terbalaskan nanti," jawab pria itu.


Mereka sama-sama mengakhiri telponnya, wanita itu tersenyum licik. Seakan-akan, ada sesuatu yang akan di raihnya sebentar lagi.


"Malindo sudah mati, sekarang giliranmu Adinda akan hidup menderita, seperti apa yang aku rasakan dulu," gumamnya.


Kumandang azan mulai mendayung ke celah telinga, membangunkan jiwa yang terlelap untuk melakukan perintah-Nya, yang sudah di serukan pada setiap umat. Adinda pun mulai mengerjabkan matanya, dia merasa ada yang mendekapnya dari belakang. Lantas ia reflek berteriak beranjak bangun dari ranjangnya. Teriakan yang keras mengusik telingga Hamzah dan membuatnya terbangun dan bertanya.


"Astagfirullah, kau kenapa berteriak?"tanya Hamzah sambil mengucek kedua matanya.


"Kenapa kau disini? kau mau macam-macam denganku?" ujar Adinda.


"Apanya yang macam-macam, kau kan istriku," jawab Hamzah.


"Istri?" Adinda pun terdiam sejenak memikirkan apa yang telah terjadi, " Maaf, aku lupa,"


Hamzah pun tersenyum, mengerti dengan keadaan Adinda. Hamzah pun mengajak Adinda untuk sholat subuh berjama'ah. Mereka pun bersiap dan melaksanakan sholat berjamaah bersama. Setelah selesai, Hamzah memilih melantunkan ayat suci al-qur'an. Adinda yang berada disamping Hamzah, hanya menatap ke arah Hamzah. Hamzah yang merasa di perhatikan melirik ke arah Adinda.


"Kemarilah, kita belajar!" ujar Hamzah.


"Nanti saja dipesantren, aku akan menyiapkan sarapan dulu," elak Adinda hendak berdiri.


"Tidak perlu, biar bi Mona saja!" ujar Hamzah menarik tangan Adinda.

__ADS_1


Adinda pun pasrah, dan belajar membaca Al-Qur'an bersama Hamzah pagi itu. Adinda bisa membaca Al-Qur'an, hanya saja karna tidak pernah di ulang, Adinda jadi lupa magraj huruf dan tajwidnya. Sehingga, membuat Adinda terbata-bata dalam membaca Al-Qur'an. Namun, Adinda tiba-tiba menghentikan bacaannya dan menangis.


"Kenapa menangis?" tanya Hamzah heran.


"Hiks... Aku rindu ummi dan abi, Hamzah." Isak Adinda menghapus air matanya yang tak terbendung lagi.


"Mereka dulu yang mengajariku, seperti dirimu," tambahnya yang masih sesegukkan.


"Kemarilah," ujar Hamzah meraih tangan Adinda dan mendekapnya.


"Orang tuamu sudah tenang, mereka senang kau mulai berubah. Tenanglah, kau sekarang punya aku. Aku akan mengajarimu." ujar Hamzah mengelus kepala Adinda lembut.


"Terima kasih, Hamzah. Telah menepati janjimu pada abi,"ujar Adinda.


Setelah Adinda cukup tenang, Hamzah pun melepaskan dekapannya dari Adinda. Kemudian, Adinda yang menyadari tugasnya sebagai istri, pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi itu. Walau pun kemampuan Adinda cukup untuk masakkan sederhana, yang ia pelajari bersama bi Mona.


Di dapur, Adinda melihat bi Mona yang sudah selesai memasak untuk sarapan. Ia pun berjalan ke arah bi Mona, dan menyapanya.


"Bi, mulai besok biar Adinda yang masak sarapan untuk Hamzah, ya!" ujar Adinda.


"Baik Nona," jawabnya.


"Tapi, Adinda masih butuh bantuan bi Mona untuk masak. Karna, Adinda belum terlalu pandai."


"Tentu, Nona. Mari kita siapkan!" ujar bi Mona.


"Aku akan ke pesantren hari ini, kau mau ikut?" ajak Hamzah.


"Tidak, aku ada keperluan di kantor," tolak Adinda halus.


"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu." ujar Hamzah.


Adinda pun mengantar Hamzah sampai depan pintu. Hamzah masuk ke mobilnya dan melajukan mobil itu. Adinda melambaikan tangannya pada Hamzah, menurunkan tangannya dan masuk ke dalam rumah setelah mobil Hamzah tak tampak dari jangkauan matanya.


Adinda berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya, ia butuh waktu sendiri untuk melepaskan segala lara yang berkecamuk dihatinya. Walaupun bersama Hamzah membuatnya cukup tenang. Namun, saat Adinda tengah sendiri dia kembali merasa hancur di tinggalkan kedua orang tuanya. Sepi kembali mengusik hatinya.


Adinda yang tengah melamun, mendekap kedua kakinya dengan tangannya. Menatap kosong ke arah jendela kamar dengan pikirannya yang melayang. Di kagetkan oleh suara dering telpon yang menghentak ke gendang telinganya. Adinda pun berdiri dan meraih ponsel yang ada di meja riasnya. Tertera nama sosok yang ia kenal di layar ponsel. Adinda pun menyambungkan salurannya dan menyapanya.


"Ada apa?" ujar adinda.


"Begini Nona, ada berkas yang harus Nona tandatangani," ujar Vivy di seberang telpon.


"Baiklah, siapkan saja berkasnya! besok aku akan ke kantor," ujar Adinda.


"Baik Nona,"

__ADS_1


Mereka pun mengakhiri telponnya. Adinda melempar ponselnya di atas ranjang empuk miliknya. Menghempaskan tubuhnya dan menangis sejadi-jadinya, melepaskan sesak yang ada di hatinya. Sudah 1 jam Adinda menanggis, ia pun terlelap karna kelelahan mengeluarkan sesak dihatinya.


Di pesantren terlihat pria gagah dengan stelan modisnya, mengajar di salah satu ruang kelas. Membahas apa yang patut ia bahas bersama santrinya. Hamzah tengah berjalan diantara susunan meja dan kursi yang diduduki oleh santrinya. Kemudian, memberikan pertanyaan pada mereka sembari memainkan spidol di tangannya.


"Sebentar lagi kan kita puasa nih! Ada yang ingat niat puasa itu apa?" tanya Hamzah pada santrinya.


"Ingat, Ustad!" ujar mereka serentak.


"Siapa yang mau bacakan?" tanya Hamzah.


"Ana, Ustad." ujar salah satu santri sembari mengacungkan tangannya.


نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ اَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هذِهِ السَّنَةِ ِللهِ تَعَالَى


Nawaitu shauma ghadin 'an adaa'i fardhi syahri ramadhaana haadzihis sanati lillahi ta'ala.


Artinya: "Saya niat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban di bulan Ramadhan tahun ini, karena Allah Ta'ala."


"Masyaallah, jadi buat yang lupa nanti di hafal lagi, ya!" ujar Hamzah menyemangati santrinya.


"Ustad ana lupa syarat wajib puasa, bisakah ustad memberitahunya?" ujar sapah satu santri.


"Ustad jawab, ya! Syarat wajib puasa itu yang pertama adalah beragama islam, sudah balig, berakal sehat ...."


Hamzah pun terus menjelaskan apa yang ditanyakan oleh santri padanya dengan jawaban yang membuat santrinya sangat paham. Tak terasa jam pelajaran kedua sudah habis, waktu menunjukkan pukul 12 siang. Hamzah yang merasa lapar, pergi keruangannya yang terbagi bersama sakhi.


"Assalamu'alaikum," sapa Hamzah berjalan masuk dan dibalas oleh Sakhi dan Sarah yang ternyata berada disana.


"Kak Hamzah sudah makan?" tanya Sarah.


"Belum Sar," jawab Hamzah singkat. "Sakhi, aku mau ke perusahaan dulu" ujar Hamzah pada Sakhi.


"Apa jadwalmu sudah habis?" tanya Sakhi.


"Iya, apa kau lupa kalau kau yang mengatur jadwalku?" tanya Hamzah balik.


"Maaf, baiklah! Kau tidak makan dulu?" tanya Sakhi.


"Tidak, aku akan makan diluar saja!" ujar Hamzah sambil meraih tasnya.


"Padahal Sarah sudah membawakan makan siang untuk kakak," ujar Sarah mengangakat kotak makanannya.


"Tidak perlu Sarah, makanlah! Assalamualaikum" pungkas Hamzah berlalu meninggalkan Sakhi dan Sarah.


Bersambung ...

__ADS_1


See you 😘😘


__ADS_2