Dia Imamku !

Dia Imamku !
Pelukan penenang


__ADS_3

Ia pun berpamitan pada abi dan umminya yang sudah tenang di sana. Kemudian, Adinda pun memeluk dan mencium nisan kedua orang tuanya dan beranjak menuju mobilnya dan pulang kerumah bersama Hamzah.


Adinda yang tengah duduk disamping Hamzah, tampak murung siang itu. Menatap ke arah luar jendela kaca mobil, tengah berada dalam lamunannya. Hamzah pun hanya melirik Adinda sesekali, dia pernah berada di posisi Adinda dan tau rasanya kehilangan. Kehilangan orang yang ia cintai, nenek yang merawatnya sedari kecil saat ayah dan ibunya disibukkan dengan pekerjaan.


Selang setengah jam, Adinda dan Hamzah pun sampai di rumah. Sekarang, Hamzah tidak bisa membawa Adinda meninggalkan rumah itu. Karna ia tau, disana pasti banyak kenangan masa kecil Adinda dengan oramg tuanya.


Saat baru melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah besar itu, Adinda tiba-tiba tak sadarkan diri. Hamzah pun berteriak memanggil bi Mona, meminta bi Mona mengantarkan mereka ke kamar Adinda. Karna Hamzah sendiri, belum tau dimana kamar Adinda. Hamzah pun menggendong Adinda yang tak sadarkan diri dipangkuannya, diiringi oleh bi Mona di belakang. Bi Mona membukakan pintu dan segera berlari mencari minyak kayu putih, untuk menyadarkan Adinda, yang sudah dibaringkan oleh Hamzah. Hamzah pun memerintahkan bi Mona menyiapkan makanan untuk Adinda, karna ia tau istrinya belum mengisi perutnya sedari subuh.


Hamzah menatap wajah istrinya dengan rasa iba, membelai halus wajah istrinya. Entah mengapa ada rasa iba melihat Adinda. Padahal, sebelumnya Hamzah tidak pernah merasa sakit seperti ini, melihat wanita dengan mata sembab setelah menangis.


"Adinda, aku berjanji akan menjagamu," gumam Hamzah sambil menyibakkan rambut istrinya dan mencium keningnya.


"Astagfirullah, aku lancang sekali. Apa yang aku lakukan? Semoga dia tidak menyadari," gumam Hamzah beranjak menjauh dari Adinda.


Setelah beberapa saat menunggu bi Mona pun datang. Ia meletakkan 2 porsi makanan untuk Adinda dan Hamzah. Lalu, berpamitan untuk pergi mengurus acara tahlilah yang akan di adakan nanti malam. Hamzah pun langsung menyantap makanan yang di buatkan bi Mona untuknya. Saat makan, Hamzah menyadari jika Adinda mulai mengerjabkan matanya. Hamzah pun menghentikan makan dan terus mengawasi Adinda.


Hiks ... Hiks ....


mendengar tangisan Adinda, Hamzah pun segera menenangkannya.


"Adinda, ada apa kau menangis? Bukankah kau sudah berjanji untuk tidak menangis?" ujar Hamzah.


"Apa aku boleh memelukmu? Hiks ... Hiks ...,"


"Kemarilah!" ujar Hamzah juga mendekatkan tubuhnya.


Adinda pun mendekap erat tubuh Hamzah, begitu juga sebaliknya. Hamzah sesekali mengusap kepala Adinda yang ada didada bidangnya. Menenangkan Adinda dengan sangat telaten.


"Terima kasih, telah ada untukku! Aku lebih tenang saat berada disisimu," ujar Adinda.


Deg ...


Mendengar pernyataan Adinda, membuat hati Hamzah berdegup cepat. Entah mengapa, ucapan Adinda membuatnya semakin ingin mendekap erat Adinda saat itu.


"Kalau kau tenang, peluk saja aku setiap kau sedih. Aku akan ada untukmu," ujar Hamzah.


"Ayo kita makan dulu, aku akan menyuapimu," ujar Hamzah melepaskan pelukkannya dan meraih makanan Adinda.


"Aku tidak ingin makan," ujar Adinda.


"Lalu, bagaimana bisa kau melaksanakan amanah ummi dan abi. Jika kau sakit, mereka akan sedih disana dan kau tidak bisa belajar," bujuk Hamzah.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan makan."


Hamzah pun mulai menyuapi Adinda dengan makanan yang sudah di sajikan oleh bi Mona. Sesekali air mata Adinda jatuh di pipinya, ia ingat setiap kali ia sedih, abinya akan menyuapinya makananan agar Adinda makan. Sama halnya dengan yang dilakukan Hamzah. Sembari menyuapi Adinda makan, Hamzah juga menasehati Adinda agar tidak menanggis. Entah mengapa, setiap ucapan Hamzah membuat Adinda lebih tenang.


"Adinda, apa kau tau apa yang orang beriman lakukan saat sedang bersedih dan tidak tenang?" tanya Hamzah.


"Apa?" tanya Adinda menatap Hamzah dengan mata sembabnya.


"Untuk menenangkan hati yang sedang gusar, kita bisa mengadu pada-Nya. Caranya gimana? Caranya Dengan sholat, membaca al-qur'an dan berzikir." ujar Hamzah menjelaskan.


"Tapi, apa aku pantas mengadu pada-Nya? Sementara dosaku cukup banyak." ujar Adinda tertunduk lesu.


"Tuhan itu maha pengampun, dan akan menerima taubat setiap umatnya yang meminta ampun." ujar Hamzah.


Adinda pun tersenyum mendengar penjelasan Hamzah. Dia langsung menghabiskan makanan yang di suapi Hamzah. Muncul semangat baru di hidup Adinda saat Hamzah berkata demikian, walaupun sebenarnya lukannya masih terbuka lebar. Entah kapan lukannya ini akan segera sembuh.


Adinda yang sudah selesai makan, pergi membersihkan dirinya dan melaksanakan sholat asar berjama'ah bersama Hamzah. Setelah selesai, iya pun memanjatkan do'a untuk abi dan umminya yang telah tiada.


Hamzah mengajak Adinda untuk turun ke bawah menengok persiapan tahlilan nanti malam. Adinda pun menyetujuinya, dan pergi ke lantai bawah bersama Hamzah. Disana sudah ada ayah, ibu dan sahabat mereka berdua.


"Adinda, kau sudah baikkan, Nak?" ujar ibu.


"Sudah, Ibu. Adinda baik-baik saja!" ujar Adinda.


"Adinda, aku turut berduka cita atas kepergian abi dan ummi." ujar lelaki itu masih mendekap Adinda.


Adinda pun berusaha melepaskannya, "Terima kasih, tolong lepaskan aku!" perintah Adinda.


"Tidak, aku tidak akan melepaskanmu Adinda, " ujar lelaki itu. Hamzah yang melihat hal itu, langsung menarik Adinda dengan sangat kuat dan terlepas dari dekapan lelaki itu.


"Siapa kau? Lancang sekali kau memeluk istriku." ujar Hamzah. Sementara, Adinda hanya tertunduk diam di rangkulan Kimberly.


"Apa? istri kau bilang," ujar lelaki tersebut. "Ini tidak mungkin!"


"Itu benar, dia suamiku!" ujar Adinda pada lelaki tersebut.


"Kenapa Adinda? Aku sangat mencintaimu! Kenapa kau selalu menolakku?" ujar lelaki itu.


"Maaf Alex, aku tidak ingin menjalin hubungan dengan lelaki sepertimu," ujar Adinda.


"Tapi —," ucapannya terpotong karna Hamzah memanggil satpam untuk menyeret pria itu keluar.

__ADS_1


Kimberly pun menenangkan Adinda, dan membawa Adinda ke kamarnya. Adinda syok, dengan kehadiran orang yang hampir melecehkannya di inggris dulu.


Dulu waktu Adinda tengah mengerjakan tugasnya di perpustakaan. Adinda yang asik mengerjakan tugasnya tak sadar ternyata sudah pukul setengah 7 malam. Walaupun disana masih banyak orang yang tengah mengerjakan tugas.


Adinda pun bergegas untuk pulang ke apartementnya, berjalan melewati lorong kampus yang sepi pada malam itu. Tiba-tiba seseorang menariknya ke salah satu ruangan kampus yang ia lewati. Baru saja ia ingin berteriak minta tolong, Orang tersebut malah membekap mulutnya.


Didalam ruangan itu ada beberapa orang pria, James, Adam dan dua orang lainnya yang tak Adinda kenal. Mereka pun mulai menyentuh Adinda sesikit demi sedikit. Adinda yang menanggis dan ketakutan saat itu membuat gelak tawa pada pria yang ada di depannya.


Tiba- tiba seseorang datang mendobrak pintu dan menyelamatkan Adinda. Dari situlah Adinda mulai dekat dengan Alex, tapi Alex juga malah mencari kesempatan dalam kesempitan. Baru saja, beberapa minggu dekat. Alex sudah berani bertindak melecehkan Adinda lagi, di dalam mobilnya saat mengantar Adinda pulang. Untung saja, ada lelaki baik yang menolongnya saat itu, dan mengantarkan Adinda ke apartementnya dengan selamat. Namun, sayangnya Adinda tidak pernah bertemu lagi dengan lelaki yang menolongnya, sekedar untuk mengucapkan rasa terima kasihnya.


Melihat Adinda yang sudah tertidur pulas, Kimberly pun kembali ke bawah. Disana, terlihat Hamzah yang duduk sendirian. Sementara, Yang lainnya sibuk dengan obrolan masing-masing. Hamzah yang menyadari kedatangan Kim, langsung menghampiri Kimberly menanyakan keadaan Adinda.


"Kau jangan cemas, Adinda baik-baik saja!" ujar Kimberly membuat Hamzah tenang.


Kim pun pergi menemui yang lainnya, tapi panggilan Hamzah menghentikan langkahnya. Seolah mengerti dengan apa yang akan ditanyakan Hamzah. Kimberly pun kembali dan menjelaskan hubungan Adinda dan Alex dengan sangat jelas pada Hamzah. Membuat Hamzah paham akan hal itu. Kimberly pun menyuruh Hamzah untuk tutup mulut dan Hamzah pun mengiyakannya.


Acara tahlilan sebentar lagi akan di mulai, Hamzah menyadari Adinda yang belum turun. Memutuskan untuk menemui Adinda di kamarnya. Setelah sampai di depan kamarnya, Hamzah langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Dilihatnya Adinda tengah melamun menatap keluar jendela. Ia pun meghampiri Adinda, dan duduk di sofa kamar yang juga diduduki Adinda.


"Ada apa?" tanyanya.


"Tidak ada, apa acara tahlilah akan dimulai?" ujar Adinda.


"Ya, ayo kita kebawah,"


"Ayo!" ujar Adinda berdiri dengan dress pendek selututnya.


"Apa kau mau tahlilan dengan pakaian seperti itu?" tanya Hamzah menghentikan langkah Adinda.


"Itu tidak baik Adinda, duduklah disini aku akan carikan pakaian untukmu," ujar Hamzah.


"Dimana lemarimu?"


"Disana," tunjuk Adinda.


Hamzah pun telah selesai memilihkan Adinda baju, kemudian Adinda menggantinya diruangan ganti. Setelah selesai, Adinda pun turun kebawah bersama Hamzah. Acara tahlilan pun dimulai dan di pimpin langsung oleh Sakhi.


Bersambung ...


Like, coment and share readers


ig. Arini_khairunnisa

__ADS_1


See you😍😍


__ADS_2