Dia Imamku !

Dia Imamku !
Keluarga Baru 2


__ADS_3

Pesawat Malindo baru saja mendarat di Bandara Internasional Soekarno hatta. Adinda dan keluarga barunya turun dari pesawat di sambut oleh Vivy dan beberapa pengawal. Vivy langsung menyapa kedua majikkannya itu.


"Nona, Tuan anda syukurlah anda sudah sampai!" ujar Vivy dan di balas dengan senyuman oleh mereka.


"Mbak Vivy makin cantik aja, ya!" celetuk Sian.


"Sudah pasti, tidak seperti kau seperti bakul nasi berjalan," ledek Vivy.


Semua orang pun tertawa terbahak-bahak. "Sudah, ini sudah malam ayo pulang!" ujar Hamzah yang sedang memangku Gibel.


Pengawal pun memasukkan barang bawaan mereka ke mobil dan pulang bersama ke rumah keluarga Malindo. Di perjalanan, mereka mengobrol apa saja dan bagaimana Bu Yuli dan Gibel ada bersama mereka. Kehangatan sangat terlihat disana saat mereka bercengkrama.


"Wah, mobil ini sangat bagus ya!" ujar Bu Yuli.


"Bu, ini baru satu mobil Nona Adinda masih ada beberapa mobil di kantor dan garasi rumah. Malah lebih mewah lagi. Ya kan Nona?" ujar Vivy.


"Haha ..., kau ini Vivy bisa saja!" ujar Adinda.


Mereka pun tertawa bersama, rasannya kebahagiaan itu semakin lengkap karna keberadaan Gibel dan Bu Yuli.


Sesampainya di rumah, Bu Yuli terkesima dengan kebesaran rumah Adinda. Dia bahakan menenggok sekelilingnya dan berdecak kagum. Sementara, Vivy dan yang lainnya berpamitan kembali kekediaman masing-masing.


"Bu disini kamarnya, ya! Sementara Gibel tidur sama Ibu dulu, Kamarnya belum kita dekor." ujar Adinda sambil mengelus kepala Gibel di pangkuan Bu Yuli.


"Besar sekali, Adinda!" jawabnya melihat kesekitar.


Adinda pun terpikir sejenak, Gibel dan Bu Yuli kan tidak membawa apa-apa ke mari. Mereka hanya membawa tangan kosong dan pakaian yang dikenakannya.


"Oh iya Bu, dilemari sana ada baju ganti untuk sementara. Tetapi, untuk Gibel tidak ada mungkin besok akan di kirimkan. Jadi, tidak apa kan Bu?" tanya Adinda.


"Ya, Adinda! Ini saja Ibu sudah senang!" ucapnya dengan haru.


"Syukurlah kalau ibu senang. Istirahatlah, Adinda juga mau beristirahat." Adinda pun pergi dari kamar yang ditempati Bu Yuli.


Sebelum pergi ke kamarnya, Adinda terlebih dahulu memesan beberapa pakaian, sepatu dan mainan. Untuk di berikan pada Gibel dan Bu Yuli. Ia memesan di salah satu toko online terbesar di Indonesia. Setelah selesai, memesan produk yang akan dipesannya. Adinda pun langsung mentransfer uang pada toko tersebut. Setelah itu, ia pun berjalan menuju kamarnya, sementara Hamzah sudah ke kamar duluan. Adinda menaiki anak tangga menuju kamarnya. Di raihnya gangang pintu dan masuk ke dalam kamar. Saat Adinda masuk mengunci kamarnya, tiba-tiba Hamzah yang baru saja keluar kamar mandi memeluknya dari belakang.


"Kerja bagus sayang. Ayo!" bisik Hamzah membuat bulu Adinda meremang.


"Kerja apa sayang? Sudah lepaskan aku mau bersih-bersih," ujar Adinda.

__ADS_1


"Ya, baiklah!" ujar Hamzah melepaskan pelukkannya dari Adinda.


Saat Adinda hendak berjalan menuju kamar mandi, tangannya di tarik oleh Hamzah hingga tubuh mereka sangat dekat. Baru saja Adinda hendak berbicara, ucapannya tersekat karna lum*tan di bibirnya. Nafasnya tersengal karna Hamzah tak membiarkannya menghirup oksigen sebentar saja.


Hamzah mulai mengiring tubuh istrinya ke ranjang. Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, Adinda pun mengikuti arahan suaminya untuk melakukan hubungan yang lebih intim antara pasangan suami istri.


Peluh bercucuran dari badan kedua insan, namun aromanya malah semakin menggairahkan hasrat yang kini mereka lepaskan. Erangan memenuhi tiap sudut kamar yang berhawa panas tersebut. Hingga keduanya sama-sama mencapai puncak kenikmatan dan melepaskannya secara bersamaan. Mereka pun terkapar karna kelelahan melakukan aktifitas malam pasangan suami istri tersebut.


****


Sayup-sayup kumandang azan sudah melambai ke daun telinga. Membuat dua insan tengah tertidur dalam dekapan pasangannya bangun. Hamzah mengerjapkan matanya, menyesuaikan pandangannya dengan cahaya lampu. Dilihatnya Adinda masih terlelap, ia pun tersenyum melihat kecantikan istrinya tanpa riasan make up.


Hamzah segera membangunkan istri cantiknya itu, karna waktu subuh sudah masuk. Dia menghujani wajah Adinda dengan ciuman kecil namun, Adinda malah berbalik dan membelakanginya. Kesal dengan tingkah Adinda Hamzah pun menjaili Adinda dengan mencubit hidung mungilnya hingga memerah.


Adinda yang merasakan sesak mulai mengerjapkan matanya dan berusaha melepaskan cubitan dihidungnya.


"Sakit lepaskan!" rengeknya pada Hamzah. Hamzah pun tertawa dan melepaskan cubitannya.


"Ayo mandi! Setelah itu kita subuh berjama'ah," ujar Hamzah mengusap rambut Adinda.


"Aku masih mengantuk!" bantahnya sambil menarik selimut.


Namun, Hamzah malah menarik selimutnya dan megendong Adinda ke kamar mandi. Adinda kesal karna hal itu, dia pun merengek dan mengerucutkan bibirnya. Membuat Hamzah terkekeh melihat tingkahnya. Hamzah pun membaringkan Adinda di Bathup kamar mandi. Kemudian, beralih kecermin untuk mencukur kumisnya.


"Kenapa harus kepesantren? Kau mau ketemu Sarah, ya?" selidik Adinda. Raut wajah cemburu terlihat jelas di wajah Adinda karna waktu Adinda hendak belajar di pesantren, ia mendapati Sarah bergelayut di tangan suaminya. Padahal Hamzah sudah mencoba melepaskanya.


"Bhakkks ..., sayang aku hanya mau tau perkembangan pesantren dan aku juga mau mengajar di kelas, bukan bertemu Sarah!" bantah Hamzah sambil terkekeh.


Adinda hanya diam saja, menatap Hamzah yang sedang bercukur. " Sudah jangan menatapku, ayo mandi! Sholat subuh habis itu." ujar Hamzah sambil membersihkan bekas cukurannya.


Adinda pun menuruti perintah suaminya untuk segera mandi. Karna waktu subuh yang singkat, Hamzah pun mengikuti Adinda untuk mandi. Pada akhirnya pasangan tersebut mandi bersama. Setelah selesai membersihkan tubuh, mereka pun segera melaksanakan sholat berjama'ah. Raka'at demi raka'at mereka jalani, selesai melaksanakan sholat Hamzah kembali mengajarkan Adinda ilmu agama seperti biasanya.


"Sayang apa kau tau bagian aurat wanita itu yang mana saja?" tanya Hamzah.


"Ya, aku tahu dari ujung rambut sampai ujung kaki, kecuali muka dan telapak tangan. Benarkan?" jawab Adinda bersemangat.


"Pintar sekali, benar sayang! Ayo pakai hijab dan tutupi auratmu!" seru Hamzah.


Adinda nampak murung mendengar seruan itu. Entah mengapa dia masih belum siap mengenakan hijab dan menutupi auratnya.

__ADS_1


"Hamzah, aku belum siap jangan paksa aku!" jawabnya meninggalkan Hamzah. Hamzah pun hanya tersenyum, tidak semua orang yang belajar akan langsung paham. Semua terjadi secara bertahap dan butuh proses.


"Aku harus bersabar mengajari istriku, seperti aku mengajari murid-muridku!" gumam Hamzah sembari merapikan sajadah dihadapannya.


Adinda berjalan menuruni anak tangga, menuju ke arah dapur. Dilihatnya Bu Yuli tengah memasak sarapan. Sebenarnya Adinda lupa jika dia memiliki keluarga baru. Ia pun menyapa ibu angkatnya tersebut.


"Bu Yuli, biar Adinda saja yang masak!" sapanya menghentikan aktifitas Bu Yuli sejenak.


"Tidak usah, biar Ibu saja lagi pul Ibu tidak ada kerjaan," ujarnya.


"Tapi ...," bantah Adinda. Bu Yuli mengelengkan kepalanya, Adinda pun hanya bisa menghela nafas karna tak bisa menghentikan Bu Yuli.


Adinda meraih gelas kosong yang berada di tatakan piring. Ia mengisinya dengan air putih dan duduk sembari meneguknya. Tiba-tiba ia mendengar tangisan balita. Adinda pun melihat ke arah Bu Yuli seolah bertanya suara siapa itu.


"Sepertinya Gibel menanggis, Ibu lihat sebentar, ya!" ujar Bu Yuli pamit.


"Biar Adinda saja, Bu!" ucap Adinda sambil melangkahkan kakinya menuju kamar Gibel.


Huaaaaaa ....


"Huluh, sayang Mama udah bangun, ya? Kok nangis?" ujar Adinda mendekat pada anaknya.


"Kok Gibel tidur sendiri? Gibel mau tidur sama Mama!" rengeknya.


"Gibelkan sudah besar, jadi harus bobo sendiri!" seru Adinda mengusap kepala Gibel.


"Tapi kok Papa tidur sama Mama? tanya Gibel.


Pipi Adinda pun memerah, dia tak tau jawaban yang akan diberikannya pada Gibel. Ia takut slah bicara. Hamzah yang sedari tadi bersender pada pintu sambil memperhatikan Adinda dan Gibel terkekeh mendengar percakapan mereka. Adinda yang menyadari itu menoleh ke arah pintu, dan menatap ke arah Hamzah, seolah memberi kode agar mengalihkan percakapan mereka. Hamzah pun masuk, dan langsung menggendong Gibel ke pangkuannya.


"Gibel, nanti cerita lagi sama Mama, ya! Sekarang Gibel mandi abis itu kita sarapan," seru Hamzah.


"Tapi, Pa Gibel 'kan tidak ada baju. Baju Gibel di Bali," jawabnya.


"Gibel tenang saja, Gibel mandi dulu abis itu bajunya pasti datang!" bujuknya.


"Papa tidak berbohong'kan? Nanti Dosa loh!" ucapnya.


Hamzah pun menganggukan kepalanya pada Gibel hingga gadis kecil itu tersenyum dan minta diturunkan dari pangkuan sang ayah.

__ADS_1


Bersambung ....


Jangan lupa Like koment and share readers 😁😁


__ADS_2