Dia Imamku !

Dia Imamku !
Perampokan


__ADS_3

Suara lemari yang di obrak-abrik membuat bu Yuli yang beristirahat bangun dari tidurnya. Ia pun mencoba ke sumber suara, dilihatnya rumah berantakan dan banyak preman yang tengah menguasai rumah milik anak angkatnya, Adinda.


"Si-siapa kalian?" tanyanya ketakutan.


"Diam kau nenek tua!" jawab salah seorang preman.


"Tolong... tolong... ada rampok!!!" pekik bu Yuli sambil berlari ke luar rumah.


Namun tangannya di cegat oleh preman berbadan besar, bu Yuli mencoba melawan dengan kekuatannya. Namun, naas ia di benturkan ke sudut meja hingga tak sadarkan diri.


Mereka pun melancarkan aksinya menyapu habis barang berharga milik keluarga Adinda. Kemudian, meninggalkan rumah yang sudah kacau balau dengan barang-barang yang berserakkan.


Selang beberapa menit, Adinda dan Hamzah sampai dirumah. Mereka heran tak biasanya pintu pagar terbuka lebar tanpa ada penjaga. Hamzah pun memarkirkan mobilnya dan langsung mencari keberadaan satpam rumahnya. Namun, baru saja masuk Adinda dan Hamzah terkejut melihat rumah seperti kapal pecah dan bu Yuli yang terkapar di lantai dengan kening yang mengeluarkan darah. Sementara, satpam yang biasanya menjaga juga terikat di atas kursi dengan kondisi tak sadarkan diri.


Adinda pun terduduk di hadapan ibu angkatnya berusaha membangunkan bu Yuli. Sedangkan Gibel ia menanggis memanggil-manggil neneknya. Hamzah langsung melaporkan kejadian itu pada polisi dan segera menelpon ambulance.


Seseorang tengah duduk di bangku kerja, ia meraih ponsel genggam miliknya, mencoba menghubungi seseorang.


"Bagaimana? Apa surat berharga itu kau temukan?"


"Tentu nona, kau hanya perlu memberi persenan-ku,"


"Tenang saja!"

__ADS_1


Wanita itu pun memutus sambungan telponya, sambil mengumbar senyum kelicikannya.


"Sebentar lagi aku akan kaya," gumamnya sambil tertawa lepas.


Hamzah dan Adinda tengah mengiringi ambulance yang ada di depannya, Ia meninggalkan rumah pada polisi yang sedang mengolah TKP. Raut cemas tergambar di wajah Adinda, ia bukan mengkhawatirkan harta benda yang dirampok. Melainkan, rasa khawatir saat kehilangan ummi dn abinya. Wanita itu takut ia akan kehilangan bu Yuli juga, orang tua angkat yang menemaninya beberapa bulan ini. Walau pun hanya hitungan bulan, tapi rasa sayang Adinda padanya sama seperti rasa sayangnya pada ummi. Hamzah yang fokus menyetir tak menyadari kekhawatiran istrinya, karna lelaki itu pun juga sama mencemaskan ibu angkatnya itu.


Sesampainya di rumah sakit, bu Yuli langsung ditangani oleh para suster. Adinda nampak risau, kecemasan jelas terpancar di wajahnya Hamzah yang menyadari itu mencoba menenangkan Adinda.


"Tenanglah sayang, ibu akan baik-baik saja!" ujar Hamzah sambil mengusap rambut Adinda." Kemarikan Gibel, dia akan membuatmu lelah sayang," perintahnya.


Adinda pun memberikan Gibel pada Hamzah, kemudian duduk di bangku yang ada di depan UGD. Tiba-tiba seorang pria berbadan tegap datang menghadap Adinda.


"Ada apa Adinda, apa kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir sambil memegang lengan Adinda.


Hamzah pun meliriknya dengan tajam, dan lelaki itu pun langsung melepaskannya.


"Tenang saja! Aku akan melakukan yang tebaik," ujar Ronal.


"Ya, terima kasih!" Dr. Ronal pun pergi menuju ruang UGD meninggalkan Adinda dan suaminya.


Setelah beberapa menit, Dr. Ronal pun keluar dari ruang UGD dengan raut wajah lesu.


"Ada apa?" tanya Hamzah sembari berdiri dari duduknya.

__ADS_1


"Sebaiknya kita bicara diruanganku, mari!" serunya.


Adinda dan Hamzah pun mengikutinya, menuju ruangan Dr. Ronal. Adinda pun duduk berdampingan dengan suaminya dan Dr. Ronal di hadapan mereka yang akan menjelaskan apa yang terjadi.


"Ada apa, Kak? Ada apa dengan ibu?" tanya Adinda khawatir.


"Begini, sudah terjadi cedera pada otak yang mengakibatkan pendarahan pada kepala bu Yuli, kemungkinan ini karna benturan keras pada kepalanya. Jadi, bu Yuli harus segera di operasi," ujar Dr. Ronal.


"Ya sudah, operasi saja jika begitu," jawab Adinda.


"Tapi, ada dua kemungkinan yang akan terjadi jika operasi ini dilakukan,"ujarnya.


"Apa?" tanya Hamzah.


"Jika operasi ini berhasil bu Yuli akan pulih, namun jika operasi ini gagal ia akan kehilangan nyawanya,"


Adinda sejenak terdiam, ia bingung saat menentukan jawabannya. Adinda pun menoleh ke arah Hamzah seolah meminta persetujuan dan Hamzah pun mengangguk.


"Baiklah! Lakukan yang terbaik, Kak!" seru Adinda.


Sesuai kesepakatan, operasi akan dilakukan sore ini. Adinda meminta salah satu perawat untuk menjaga bu Yuli, karna Adinda harus membawa Gibel pulang dan Hamzah harus mengurus laporan perampokan.


Bersambung ...

__ADS_1


Hello readers setelah membaca jangan lupa klik tombol di bawah, like , komen and share ya guys.


Happy reading😍


__ADS_2