Dia Imamku !

Dia Imamku !
Ziarah


__ADS_3

Suara kumandang azan sudah di perdengarkan, sudah menjadi kewajiban untuk setiap umat muslim memenuhi seruan-Nya. Pasangan suami istri tersebut tengah terlelap, tak biasanya mereka seperti ini. Mungkin, mereka kelelahan akibat kerjaan di kantor ditambah lagi dengan aktifitas semalam yang membuat kedua insan tersebut hanyut dalam kenikmatan.


Suara ketukkan pintu dan teriakan lengking dari luar kamar membuat mereka terjaga secara bersamaan.


"Mama, Papa !!!" teriaknya. "Ini udah pagi loh, Mama, Papa ngak sholat?" teriaknya lagi.


Hamzah pun bangkit meraih jam yang ada di atas nakas. Dilihatnya, waktu menunjukkan pukul 05.30."Astagfirullah," Hamzah dan Adinda sejenak beradu pandang dan saling tersenyum menertawai tingkah yang mereka lakukan semalam.


Adinda pun bergerak turun dari ranjangnya, berjalan ke arah pintu sementara Hamzah berlari ke kamar mandi, membersihkan dirinya. Adinda bergegas membukakan pintu, karna gadisnya sekarang mulai agak cerewet.


"Mama, kok bangunnya telat? Ayo kita sholat!" ujar gadis mungil itu dengan mukena yang masih berantakkan.


Adinda pun tersenyum melihat tingkah anaknya. "Sayang, Mama capek kerja makanya Mama kesiangan," jawabnya sambil memperbaiki mukena Gibel."Gibel sholat sama nenek dulu, ya! Mama mau mandi dulu," jelas Adinda.


"Ngak, Gibel mau sama Mama!" teriaknya cemberut.


"Aduh, cantiknya anak gadis Papa pakai mukena," puji Hamzah saat keluar kamar mandi."Ayo! Gibel sholat sama Papa," ujarnya sambil mengendong gadis mungil itu ke pangkuannya dan berjalan ke arah tempat sholat yang ada di kamar Adinda dan Hamzah. Sedangkan Adinda berlari ke arah kamar mandi.


Kini, semua sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan. Adinda tengah sibuk menata makanan di atas meja, kemudian duduk dan mengambilkan makanan untuk anak dan suaminya.


"Ibu sini Adinda ambilkan," ujar Adinda sambil meraih piring di hadapan ibu angkatnya.


"Terima kasih, Nak!" ujar Bu Yuli sambil tersenyum hangat.


"Gibel sayang, Mama sama Papa mau ke makam nenek dan kakek untuk ziarah. Gibel mau ikut?" tanya Hamzah.


"Ziarah itu apa, Pa?" tanyanya.


Hamzah pun menjelaskannya pada Gibel hingga Gibel paham.


"Oo begitu," ujarnya sambil mengangguk layaknya orang dewasa. Semua orang mengelengkan kepala sambil tersenyum melihat tingkah gadis mungil itu.


"Tapi...," ujarnya sambil melihat ke arah neneknya.


"Ummi dan Abi, Mama sayang!" ujar Adinda seolah mengerti dengan maksud Gibel.


"Oo begitu," jawabnya seolah paham.


Keluarga kecil itu pun menyelesaikan sarapan mereka pagi itu. Adinda dan Hamzah bersiap- siap untuk ziarah ke makam orang tua mereka, sementara Bu Yuli tengah menyiapkan Gibel. Setelah semua siap, pasangan suami istri itu dan anaknya pergi menuju makam, meninggalkan Bu Yuli sendirian di rumah karna badannya kurang sehat.


Baru saja setengah perjalanan Gibel merengek, seperti biasa balita sekecil itu jika mengantuk ada-ada saja yang ia minta. Untung saja, ia hanya minta dibelikan ice cream.

__ADS_1


"Gibel mau es kim huuu ... Gibel mau beli es kim...," tangisnya.


"Iya sayang, nanti di depan sana kita beli ice cream ya, Nak!" ujar Adinda sambip mengusap kepala anak gadisnya itu.


"Gibel mau cekarang, huhu...," rontanya.


"Iya sayang, kita cari minimarket dulu ya sayang!" jawab Adinda yang mulai kewalahan.


"Cup-cup, anak gadis papa. Nanti kita beli dua di depan sana, ya!


"Hore...," teriak gadis mungil itu.


Sesampainya di salah satu minimarket, Adinda turun membeli ice cream yang diinginkan buah hatinya. Ia pun berjalan mendahului Hamzah yang juga ikut turun sembari mengendong Gibel. Langkah kaki Adinda terhenti saat mendengar sapaan seorang wanita, guru pesantren yang mengingikan suaminya.


"Kak Adinda mau kemana?" sapanya sambil menatap ke arah Hamzah.


"Ehh, Bu Sarah ini mau belikan anak saya makanan," Sejenak Adinda memperhatikan tatapan mata Sarah. "Jangan terlalu diperhatikan sudah suami orang!" pungkas Adinda sambil meninggalkan Sarah.


"Kak Hamzah," sapanya tanpa mempedulikan Adinda yang sudah masuk.


"Iya, Sarah aku masuk ke dalam dulu, ya!" pungkas Hamzah.


"Gara-gara wanita itu, kak Hamzah jadi cuek terhadapku!" gerutunya sambil meninggalkan minimarket itu.


"Pa, Gibel mau jalan saja ke mobil! Gibel kan udah besar Pa." Ujarnya.


"Iya sayang, pegang tangan Mama sama Papa tapi, ya!" ujar Adinda sambil mengarahkan telunjuknya ke hidung mungil Gibel.


"Iya, Ma!" jawabnya sambil mengangguk.


Hamzah pun menurunkan Gibel dari pangkuannya, mereka saling berpegangan tangan menuju mobil yang tak begitu jauh letaknya. Gibel yang kegirangan berjalan sambil mengayunkan tangan kedua orng tuanya, keluarga mereka begitu lengkap dan bahagia. Setelah sampai di mobil mereka pun melanjutkan perjalanan ke makam.


Waktu 30 menit pun berlalu, mereka sampai di pemakaman. Namun, Gibel yang kekenyangan malah tertidur pulas. Sementara, Adinda tak tega membangunkan gadis mungil itu. Hamzah pun meraih Gibel dari pangkuan Adinda dan mengendongnya ke makam ummi dan abi, karna tak mungkin untuk meninggalkan gadis mungil yang mau memasuki usia 4 tahun di mobil sendirian.


Adinda pun bersimpuh dihadapan makam ummi dan abinya. Seolah tak bisa lagi menahan rindu yang sangat dalam Adinda pun menumpahkan air matanya di pusara ummi dan abinya. Hamzah yang mengerti perasaan istrinya hanya bisa mengusap lembut pundak istrinya.


"Sudah sayang. Ayo, kita berdoa untuk abi dan ummi!" ujar Hamzah sambil mengusap air mata istrinya


"Hiks hiks..., aku rindu ummi dan abi," lirih Adinda sambil sesegukan.


Hamzah pun meraih istrinya, mencoba menenangkan Adinda. Saat Adinda sudah mulai tenang Gibel pun terbangun, ia juga ikut menangis melihat Adinda menangis.

__ADS_1


"Huhuhu, Mama jangan nangis," rengeknya.


Menyadari itu Adinda pun mengusap air matanya, kemudian meraih Gibel ke pangkuannya.


"Tidak, sayang! Mam kelilipan, ya kan Pa?" ujar Adinda sambil mengusap kepala Gibel.


"Iya, sayang. Mama ngak nangis kok!" ujar Hamzah.


"Sudah, Ayo kita berdoa untuk nenek dan kakek! Gibel anak sholeh'kan jadi jangan cengeng ya!" seru Hamzah.


"Iya Pa!"


Mereka pun mengangkat kedua tangannya, begitu pun dengan Gibel yang sudah di ajari oleh Hamzah. Hamzah pun mulai memimpin doa.


Setelah selesai, Adinda pun mencium batu nisan kedua orang tuanya. Lalu, kembali pulang ke rumah dan melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.


"Sayang, nanti Gibel ikut Mama ke kantor, ya!" seru Adinda."Soalnya, nenek kan sakit!" ujar Adinda lagi.


"Tapi Gibel mau sama nenek di rumah, Ma." Bantahnya."Gibel mau nemenin nenek aja dirumah!" jelasnya lagi.


"Baiklah anak pintar!" ujar Hamzah mengizinkan.


Seseorang tengah mengawasi sesuatu sambil terus berkomunikasi dengan earphone miliknya.


"Sudah, kau bawa saja orang suruhanmu! Disini aman," ujarnya.


"Baiklah, aku sudah di jalan!" jawab seseorang di balik telpon.


Selang 5 menit, segerombolan preman turun dari mobil. Kemudian memulai aksinya, dari berbagai arah.


"Permisi, Pak! Bolehkah saya minta tolong, saya sedang mencari alamat ini," ujar lelaki tegap berstelan kantor.


Satpam rumah pun membuka gerbang, dan menunjukkan arah rumah yang dituju pada alamat. Saat satpam itu sibuk menujukkan alamat, ia pun di bekap dari belakang dengan sapu tangan. Kemudian, satpam itu pun diseret ke dalam rumah dan di ikat pada kursi meja makan. Sementara, semua preman itu sibuk menjelajahi rumah mewah itu.


Bersambung...


****


Hello Readers tercinta mohon maaf author baru kembali update dikarnakan ada kesibukan yang membuat author jadi terhambat menulis. Mohon maaf juga jika author membuat kalian kesal karna harus menunggu. Selamat membaca jangan lupa like, komen and share ya readers


😍😍😍

__ADS_1


See you😘


__ADS_2