Dia Imamku !

Dia Imamku !
Seorang cucu?


__ADS_3

Sebulan telah berlalu sejak kematian abi Adinda. Keadaan Adinda sudah mulai membaik. Kini, hubungannya dengan Hamzah sudah mulai dekat. Subuh itu entah mengapa Hamzah tertidur sangat lelap, awalnya Adinda enggan membangunkan Hamzah. Namun, waktu subuh telah datang Adinda pun memutuskan untuk sholat terlebih dahulu. Kemudian, membangunkan Hamzah.


"Ayo bangun! Ini sudah subuh," ujar Adinda menepuk pipi Hamzah. Namun tak dihiraukannya, Adinda yang muak memutuskan untuk ke dapur, membuatkan suaminya itu secangkir kopi.


Hamzah pun mulai mengerjap, ia merasakan istrinya tengah membangunkannya dengan kecupan lembut di pipi dan di bibirnya. Setelah ia membuka matanya dan tersadar, ternyata dia hanya mengkhayal, dan menggelengkan kepalanya. Hamzah yang sudah membuka matanya, menenggok ke arag kanan, ia tidak menangkap keberadaan sosok Adinda. Ia pun mencari Adinda ke balkon kamar, kamar mandi dan hendak keluar. Namun, saat akan meraih gangang pintu Adinda pun masuk dengan secangkir kopi di tangannya. Adinda yang heran dengan tingkah Hamzah, membuatnya binggung.


"Kau sedang apa di depan pintu?" tanya Adinda heran.


"Tidak, aku hanya berolahraga saja," elaknya sambil menggerakkan tangan kanannya ke atas dan kiri ke bawah.


"Lanjutkan, ini kopimu. Aku akan membuat sarapan." ujar Adinda meninggalkan Hamzah.


Namun, langkahnya terhenti oleh pertanyaan Hamzah.


"Tumben sekali, apa kau berniat meracuniku?" selidik Hamzah.


"Ya, aku mau meracunimu! Kopinya sudah ku campur sianida. Jangan di habiskan!" ujar Adinda kesal keluar dari kamarnya.


Hamzah pun menyunggingkan senyumnya. Entah mengapa dia sangat senang dengan sikap Adinda seperti ini. Dia semakin ingin menggoda Adinda dan membuatnya kesal.


"Sepertinya moodnya sudah mulai baik," gumam Hamzah berjalan ke kamar mandi.


Hamzah yang sudah selesai menunaikan ibadahnya, berjalan ke arah kopinya yang berada di atas nakas dan menyeruputnya.


"Kenapa kopi buatannya nikmat sekali?" gumam Hamzah sambil menikmati kopinya.


Hamzah menyeruput kopi, hingga tersisa ampasnya saja dalam cangkir tersebut. Hamzah yang gengsi mengakui kopi Adinda enak, membawa cangkir kosong tersebut ke dalam kamar mandi. Kemudian, menambahkan air kran dalam gelas tersebut dan mengaduknya. Lalu, meletakannya kembali di atas nakas.


Adinda tengah memasak sarapan untuknya dan Hamzah, karna bi Mona sudah kembali kekampungnya, mengurus anaknya yang tengah sakit keras. Adinda pun menata masakkan yang sudah ia pelajari dari bi Mona. Setelah selesai, Adinda pun duduk di bangku meja makan dan menunggu Hamzah sambil memainkan ponselnya.


"Adinda, akhir pekan kita ke Bali ya." ujar Hamzah.


"Ada apa? Bukankah minggu lalu kau sudah ke Bali," ujar Adinda.


"Ya, tapi ayah memintamu untuk ikut kali ini," ujar Hamzah.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Adinda.


"Kemarin dia menelponku, dia sudah menyediakan tiket honeymoon ke Itali dan aku menolaknya karna sudah terlalu sering ke sana." ujar Hamzah.


"Baguslah, aku juga sudah bosan kesana!" jawab Adinda santai.


"Ya, tapi ayah meminta kita untuk ke Bali saja!"


Adinda hanya mengangguk setuju, "Ayah juga berpesan ...," ujar Hamzah menghentikan makanannya dan mendekatkan diri pada Adinda.


"Apa? Kenapa harus mendekat?" tanya Adinda heran.


"Ayah dan ibu minta kita memberikan mereka seorang cucu," bisik Hamzah.


Adinda yang baru saja mengunyah makananya tersedak mendengar perkataan Hamzah. "Apa? Cucu!" teriak Adinda .


"Ya cucu, kita bisa melakukannya sekarang!" goda Hamzah.


"Hamzah, sepertinya kita bicara nanti saja, untuk rencana ke Bali kau urus saja. Aku sudah terlambat ke kantor." Elak Adinda salah tingkah.


"Kau tidak salim pada suamimu?" tanya Hamzah menghentikan langkah Adinda. Adinda pun kembali dan menyalimi tangan suaminya itu. Entah sejak kapan ia melakukan rutinitas seperti ini.


"Dia itu sangat tidak waras! Aku tidak jadi sarapan karnanya, menyebalkan!" gerutu Adinda tengah mengendarai mobilnya. "Dasar mes*m!" tambah Adinda lagi.


Adinda menambah laju kecepatan mobilnya, karna saat itu masih cukup pagi. Jadi, jalanan menuju kantornya tidak terlalu padat.


Gadis cantik tengah tertidur pulas diranjang apartemennya. Tampak wajahnya yang kelelahan karna aktivitas pekerjaan yang di tanggungnya. Suara dentingan pesan masuk mengganggu kepulasan tidurnya. Ia pun menguap saat merenggangkan semua anggota tubuhnya.


Hoam ...


"Siapa yang mengganggu tidurku sepagi ini. Menyebalkan!" ujar Kim sambil meraih ponselnya. Ia pun membuka kunci layar ponselnya dan membaca pesan yang tertera di layar ponselnya.


[Nampaknya kau sudah melupakan aku, ya? Hingga kau tak menghubungiku sama sekali. Baiklah aku tidak akan menyapamu lagi.]


Kimberly pun sumringah membaca pesan dari sahabatnya tersebut. Namun, Kimberly sengaja membiarkan Adinda. Karna ada kejutan untuk Adinda. Kimberly akan kembali besok ke Kota Jakarta. Karna, dia mau istirahat sebentar dari pekerjaannya. Tanpa memberitahu Adinda.

__ADS_1


Adinda tengah melamun diruangan yang cukup besar itu, terpikir seorang cucu yang di harapkan oleh mertuanya. Bagaimana ia akan memberikan cucu, sementara hubungannya dengan Hamzah masih sama. Tidak ada rasa sama sekali di hubungan mereka. Namun, walaupun tak ada rasa, Adinda juga mengharapkan seorang anak dari rahimnya. Tapi, apakah itu mungkin. Sedangkan, Hamzah tidak mempunyai rasa terhadapnya. Adinda pun menepis jauh-jauh pikirannya. Ia mencoba kembali fokus pada pekerjaannya. Namun, di tengah-tengah ke fokusannya ingatan itu terus-terusan hinggap di benaknya.


"Ayah aku mencintainya, tapi dia susah sekali untuk di dekati,"


"Sudah lakukan saja rencana yang kita sepakati, dia akan membalas cintamu," ujar Ayah di ujung telpon.


"Baiklah, ayah! Sampai jumpa di Bali." ujar Hamzah menutup telpon.


Hamzah pun mengakhiri pembicaraannya dengan ayahnya. Kemudian, memeriksa kembali berkas yang sudah di sediakan oleh Salma sekretaris yang di tunjuk oleh Sian.


Tak terasa waktu begitu cepat, waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Namun, Hamzah masih berada di kantornya. Karna hujan lebat masih melanda daerah sekitar kantor Hamzah. Untuk berjalan ke parkiran saja, Hamzah akan basah kuyup. Ia pun memilih menunggu hujan sedikit reda dan pulang.


Seorang wanita masuk ke ruangan Hamzah dengan mengetuk pintu, membawakan secangkir kopi dan cemilan untuk mengisi perut Hamzah.


"Terima kasih, Sal! Kenapa belum pulang?" tanya Hamzah pada sekretarisnya.


"Hujan Pak! Saya kan pulang pakai ojek Pak, jadi takut basah," ujar gadis itu.


Lalu, ia pun pergi meninggalkan Hamzah di ruangannya. Setelah wanita itu hilang dari balik pintu, Hamzah pun menyeruput kopi hangat dan sepiring biskuit yang sudah tersedia di hadapannya.


Adinda tengah mondar-mandir di halaman rumahnya. Menunggu kedatangan seseorang yang sedari tadi ia tunggu. Adinda tak terpikir sama sekali untuk menghubungi suaminya. Berkat seseorang lewat di depan rumah Adinda sambil menelpon, Adinda pun membuka kunci layar ponselnya. Dia pun mencoba menghubungi nomor telpon suaminya. Namun, ponselnya tidak aktif. Adinda sedikit khawatir, karna biasanya Hamzah tidak pernah pulang selarut ini. Sekali pun pulang larut, dia akan menghubungi Adinda. Adinda pun memutuskan masuk ke dalam rumahnya. Menunggu Hamzah di sofa ruang tamu. Awalnya Adinda enggan untuk menghubungi kantor Hamzah. Namun, karna ponsel Hamzah tidak dapat di hubungi, Adinda pun memutuskan untuk menelpon ke kantor.


"Selamat malam, apa benar ini perusahaan putra?" basa-basi Adinda.


"Ya, Nona! Tapi ini bukan jam kantor, selamat malam." jawab penerima telpon dengan ketusnya.


Hamzah yang hendak berdiri dari duduknya, merasakan sakit di kepalanya. Kemudian, penglihatannya mulai kelam dan di sekelilingnya mulai berputar, ia pun tak sadarkan diri.


Mendengar suara jatuh, seorang wanita pun langsung berlari menghampiri ruangan di sebelahnya. Setelah masuk, ia melihat sosok Hamzah sudah terkapar dilantai. Senyum menyeringai terbentuk di bibirnya.


"Ternyata tidak sia-sia!" ujar Wanita itu.


Bersambung ...


Like, koment, share dan kasih vote readers😍

__ADS_1


__ADS_2