Dia Imamku !

Dia Imamku !
Aku tidak merajuk


__ADS_3

Hamzah yang hendak berdiri dari duduknya, merasakan sakit di kepalanya. Kemudian, penglihatannya mulai kelam dan di sekelilingnya mulai berputar, ia pun tak sadarkan diri.


Mendengar suara jatuh, seorang wanita pun langsung berlari menghampiri ruangan di sebelahnya. Setelah masuk, ia melihat sosok Hamzah sudah terkapar dilantai. Senyum menyeringai terbentuk di bibirnya.


"Ternyata tidak sia-sia!" ujar Wanita itu.


Wanita itu meminta pesuruhnya memapah Hamzah. Membaringkan tubuhnya di atas sofa yang ada di ruangan Hamzah. Kemudian, wanita itu mengusir suruhannya keluar. Lalu, ia memulai aksinya membuka satu-persatu kancing baju Hamzah. Setelah atasan Hamzah terbuka, ia pun juga memamerkan lekuk tubuhnya. Memotret dirinya dengan Hamzah, seolah-olah tengah bercumbu mesra. Setelah mendapatkan pose yang dikehendakinya, ia pun kembali mengenakan pakaiannya dan juga merapikan pakaian Hamzah.


Adinda nampak sudah mengantuk menunggu Hamzah pulang. Namun, ia tetap memaksakan matanya untuk terbuka. Karna kantuk yang semakin melanda, ia pun terlelap di atas sofa ruang tamu.


Sinar mentari menyelinap masuk ke celah jendela ruang tamu. Adinda yang kesilauan mengerjapkan matanya. Ia pun mulai melihat ke sekitarnya, ia tersadar jika ia tertidur di sofa ruangan. Diingatnya kembali apa yang terjadi tadi malam, ia sudah mengingat dan menyadari jika Hamzah masih belum pulang. Adinda meraih ponsel yang ada di hadapannya, disana tertera waktu menunjukkan pukul 7 pagi. Ia pun segera menghubungi Hamzah namun, hal sama terjadi ponsel Hamzah masih tidak dapat dihubungi. Adinda pun segera kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri dan berangkat ke kantor. Tiba-tiba dering telpon rumah berbunyi, menghentikan langkah Adinda yang hendak menaiki tangga.


Kring kring


"Hallo, Assalamu'alaikum," sapa Adinda.


"Waalaikumsalam, Adinda ini aku Hamzah. Maaf semalam aku tidak bisa puang karna hujan dan aku ketiduran di kantor," jepas Hamzah namun, Adinda hanya diam saja.


"Aku minta maaf sudah membuatmu khawatir!" tambah Hamzah.


"Aku tidak khawatir," jawab Adinda ketus sambil mengerucutkan mulutnya.


"Hey, apa kau merajuk?" goda Hamzah.


"Siapa yang merajuk?" bentak Adinda,


"Kau!" jawab Hamzah,


"Tidak, aku tidak merajuk!"


"Iya, Kau merajuk,"


"Tidak! Aku hanya kesal padamu," Hamzah pun terkekeh di balik telponnya mendengar perkataan Adinda.


"Aku minta maaf, kau siap-siaplah! Kita akan ke Bali sore ini." ucap Hamzah.

__ADS_1


"Ya, baiklah! Aku akan siap-siap," ujar Adinda masih ketus.


"Oke, aku akan ke pesantren dulu," ujarnya.


"Sampai jumpa sayangku, muah."


Hamzah mengodanya, Adinda pun tersenyum mendengar perkataan Hamzah namun, ia pun menahan tawanya agar tidak pecah.


"Sudah, aku akan harus ke kantor. Assalamua'laikum." pungkas Adinda menutup telponnya.


Hamzah yang akan menjawab salam, mulutnya terhenti saat Adinda sudah mematikan telponnya. Dia pun tersenyum, medengar suara Adinda yang sedang merajuk pagi itu. Hamzah pun membereskan berkas perusahaannya dan pergi ke pesantren untuk mengajar.


Adinda yang sudah selesai mandi, duduk di depan meja riasnya. Ia memandangi wajahnya yang bersemu merah, mengingat perkataan yang Hamzah lontarkan di telpon tadi. Itu hanya kata sederhana, tapi entah mengapa tiap mengingatnya Adinda tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Kenapa kau ini, apa kau mulai menyukainya? Dia itu sangat manis bukan?" Hati Adinda terus bertanya-tanya. Hatinya berdegup cepat, pipinya kembali bersemu merah.


Adinda pun membuang pikirannya jauh-jauh, kembali fokus merias wajahnya dengan make up tipis. Hari ini dia ada pertemuan dengan clientnya, setelah itu ia akan kembali ke rumah dan membereskan barang bawaan yang akan dia angkut ke Kota Bali. Adinda yang sudah berada dalam mobilnya, menyalakan mesin kuda besi itu. Kemudian, melajukan mobilnya membelah jalanan Jakarta pagi itu.


Hamzah yang sudah sampai di depan kantor kepala pesantren, di hampiri oleh seorang wanita yang tergila-gila padanya. Dia tidak pernah putus asa mengejar Hamzah. Siapa lagi kalau bukan Sarah.


"Waalaikumsalam, kau tidak mengajar Sarah?" tanya Hamzah.


"Tidak Kak, jadwalku kosong hari ini! Aku hanya ingin mengantarkan sarapan untuk Kakak!" ujar Sarah menyerahkan bekal pada Hamzah.


"Terima kasih, tidak perlu repot Sarah! Aku sudah sarapan di kantor," pungkas Hamzah meninggalkan Sarah.


Sarah pun menatap kesal kepergian Hamzah. Ia merasa bahwa Hamzah tidak seperti dulu lagi. Biasanya, Hamzah selalu menerima pemberian Sarah. Namun, saat wanita itu dekat dengan Hamzah. Hamzah pun tak acuh dengan Sarah.


"Sial, ini gara-gara wanita si*lan itu!" gumam Sarah membalikkan badannya untuk kembali ke asrama.


Hamzah sudah berada di depan pintu kelasnya, ia sudah di tunggu oleh para santrinya. Hamzah mengetuk pintu dan masuk dengan mengucapkan salam. Tanpa basa-basi yang lama Hamzah pun melanjutkan pelajaran pagi itu.


"Disini ada yang tahu apa manfaat sholat dhuha?" tanya Hamzah.


"Ana Ustad, salah satunya melancarkan rezeki Ustad," ujar salah satu santri.

__ADS_1


"Masyaallah, benar kata antum! Sholat dhuha dapat melancarkan rezeki. Seperti yang di sebutkan dalam sebuah hadist riwayat tarmidzi ' Allah Ta'ala berfirman : Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat rakaat sholat di awal siang (di waktu Dhuha). Maka itu akan mencukupimu di akhir siang' ." Hamzah meneruskan pelajarannya pagi itu.


Pertemuan pagi ini berjalan dengan sangat lancar, Adinda sangat senang, ia bisa meyakinkan client yang sangat dia harapkan dengan proyek kerja yang besar. Adinda di bantu oleh Vivy, sekretarials sekaligus asisten kepercayaannya. Siang itu, Adinda yang baru saja keluar dari ruang rapat bersama Vivy, setelah makan bersama dengan clientnya. Mereka keluar sambil berbincang-bincang menuju ruangan Adinda.


"Nona, apa nona tau? Aqila louis dia sekarang gila, Nona." ujar Vivy. Adinda pun menghentikan langkahnya.


"Maksudmu Aqila louis yang aku minta informasinya bulan lalu padamu?" tanya Adinda.


"Ya, Nona! Dia gila karna jatuh bangkrut dan ditinggalkan tunangannya."


Adinda pun tersenyum, tapi hatinya juga merasa iba. Walaupun, Aqila sangat membencinya tapi Adinda iba melihatnya gila seperti yang di sengarnya dari Vivy.


"Vivy, aku akan ke Bali beberapa hari, aku percayakan perusahaan padamu!" ujar Adinda tengah memasukkan ponselnya setelah mengirim pesan pada Hamzah.


"Baik, Nona!" ujar Vivy menundukkan.


Adinda pun keluar dari ruangannya diiringi oleh Vivy di belakangnya. Berjalan menuju parkiran dan pulang. Jalanan yang macet membuat adinda menghabiskan waktu 1 jam untuk pulang ke rumahnya.


Hamzah tengah duduk di teras rumahnya, menunggu kedatangan Adinda. Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore namun, batang hidung Adinda tak kunjung nampak oleh Hamzah. Tiba-tiba pengantar paket tiba, membawa sebuat bingkisan untuk Adinda dan Hamzah pun menerimanya.


Hamzah yang sedari tadi menunggu Adinda, memutuskan untuk packing barangnya dan Adinda. Tak lupa ia membawa bingkisan tadi. Saat tengah memasukkan barang Adinda, ia penasaran dengan isi bingkisan tersebut dan membukannya. Disana terdapat sepucuk surat di dalamnya, Hamzah pun membuka dan membacanya.


[Adindaku sayang, ini hadiah kecil untukmu. Kau harus memakainya bersama Hamzah.]


Ternyata bingkisan ini dari Kimberly, di ambilnya hadiah kecil yang ada di dalam bingkisan itu. Ternyata sebuah lingerie berwarna merah di dalamnya. Hamzah yang melihat itu merasa aneh, dan bertanya-tanya.


"Kenapa ini tipis sekali, sangat jarang! Apa nyamanya?" gumam Hamzah.


Hamzah pun mengembangkan lingerie yang ada di tangannya. Kemudian, mencocokkan lingerie itu pada tubuhnya. Ia semakin penasaran di buatnya, dan memikirkan fungsi pakaian kurang bahan ini.


"Bagaimana ya rasanya," ujar Hamzah.


Bersambung ....


Jangan lupa, like koment and share readerskuh😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2