Dia Imamku !

Dia Imamku !
Keluarga Baru


__ADS_3

Sore itu, Adinda telah siap untuk menjemput calon anaknya di panti bersama suaminya. Adinda keluar menarik barang bawaanya yang perlu ia bawa kembali ke Jakarta. Rencananya, setelah dari panti asuhan ia langsung menuju Bandara karna satu arah dengan panti asuhan. Setelah sampai di loby apartement, Hamzah pun mengambil mobilnya dan memasukkan barang barangnya ke bagasi. Kemudian mereka berangkat ke panti asuhan menjemput Gibel.


****


Seorang wanita tengah duduk sambil memandangi foto seorang laki-laki dan istrinya. Ia menatapnya dengan tatapan kebencian. Padahal orang tersebut sudah amat baik padanya.


"Nona, kenapa tidak nona kirim saja foto waktu itu? Bukankah hubungan mereka akan retak," ujar asistennya itu.


"Ckck ... tidak! Kita tunggu saat yang tepat, aku akan mengirimnya," ujar Salma.


"Bukankah lebih cepat lebih baik, Nona?" tanyanya lagi.


"Kita tidak boleh gegabah! Kau keluarlah ambil mobil di parkiran kita akan pulang!" ujarnya lagi.


Asisten Salma pun menyetujui dan segera meninggalkan ruangan Hamzah. Kemudian, Salma pun juga mengikutinya dari belakang.


****


Dua insan yang tengah bercanda, sedang menikmati perjalanan mereka menuju panti. Entah mengapa mereka sangat senang akan menjemput Gibel. Tak terasa mereka sudah sampai di depan gerbang panti. Hamzah menghentikan mobil dan mematikannya. Saat Adinda baru saja keluar, anak-anak berlarian menghampiri Adinda dan memeluknya. Adinda sangat senang saat itu, hingga mengacuhkan Hamzah.


"Nona Adinda, tuan Hamzah mari masuk," ujar Ibu panti yang menghampiri Adinda dan Hamzah.


Mereka pun menyetujui dan masuk ke dalam panti, sedangkan anak-anak kembali bermain di luar ruangan panti. Hamzah pun menyampaikan maksud kedatangannya ke panti, karna Ibu panti bingung kenapa Adinda dan Hamzah datang secara tiba-tiba. Setelah hamzah selesai menjelaskan, ibu panti pun mengaangguk paham namun, raut wajahnya berubah muram.


"Kenapa Bu?" tanya Hamzah yang memperhatikan raut wajah Ibu panti.


"Begini Nona, Tuan! Sebenarnya Gibel ini anak seorang pelac*r, ia di titipkan oleh neneknya kesini namun, saya harus merahasiakannya dari semua orang." Ibu panti tertunduk lesu.


"Tidak apa Bu, sekarang dimana Gibel panggilkan saja!" ujar Adinda semangat, ia tak peduli jika Gibel anak seorang pelac*r.


"Maaf Nona, Gibel sudah di ambil lagi oleh neneknya, karna ibu Gibel mau mengambil dan menjualnya," ujarnya lagi.


Terlihat jelas raut kecewa di wajah senua orang yang ada disana, termasuk Adinda yang sangat mengharapkan Gibel untuk di adopsinya. Adinda terlihat melamun, Hamzah dan Ibu panti pun sesekali melirik ke Arah Adinda. Seakan paham Hamzah pun berpamitan pulang, dan Ibu panti pun paham akan kode yang di isyaratkan Hamzah.


"Astagfirullahal'azim, tega sekali padahal Gibel anak yang cantik dan masih kecil. Baiklah Bu, jika begitu kami pamit dulu karna harus kembali ke Jakarta." Ujar Hamzah.


"Ya, baiklah kalian berhati-hatilah!" ujar Ibu panti.


Hamzah pun menarik tangan Adinda, membuatnya tersentak dan langsung berdiri. Kemudian mereka pun keluar dari ruangan dan berjalan menuju mobil yang terparkir di depan panti.


Terdengar suara ribut-ribut di gerbang depan, membuat Ibu panti juga ikut keluar. Adinda, Hamzah dan Ibu panti pun menghampiri keributan yang ada digerbang. Nampak, sosok wanita dengan pakaian minim bersama laki-laki, Hamzah yang melihat pemandangan itu mapah kembali mengambil mobilnya. Sementara Adinda menemani Ibu panti.


"Ada apa ini!" teriak ibu panti.

__ADS_1


"Anu Bu, wanita ini β€”" ucapan satpam itu terhenti.


"Hey, nenek tua. Dimana anakku?" teriaknya.


"Anakmu tidak ada disini!" jawab Bu panti.


"Halah, banyak omong kau nenek tua!" Ia pun mendorong Ibu panti hingga tersungkur di tanah. Spontan Adinda menarik tangan wanita iblis yang tak punya hati itu dan mendorongnya ke luar gerbang. Kemudian, satpam pun mengunci gerbang itu.


"Kau siapa? Berani sekali kau mendorongku!" bentaknya dari luar gerbang.


"Kau tak kenal aku?"ujar Adinda, "Pergi dari sini atau kau ku seret ke kantor polisi!" ancam Adinda.


"Cih, awas kau!" Wanita itu pergi meninggalkan panti bersama pria yang ia bawa.


Adinda pun, membantu Ibu panti berjalan ke ruangannya. Menanyakan keadaan Ibu panti tersebut, lalu memapahnya berjalan. Setelah sampai, Adinda pun meninggalkannya karna harus segera ke bandara.


Adinda pun naik ke dalam mobilnya dan memasang sabuk pengamannya. Setelah selesai, Hamzah pun melajukan mobilnya menuju bandara.


Baru setengah perjalanan, tiba-tiba seorang wanita tua bersama anak kecil dipangkuannya yang tengah tertidur, berlari ketakutan. Hamzah yang kaget menhentikan mobilnya secara mendadak.


"Bli Bli !" teriak wanita itu, "Tolong saya! Saya dikejar orang jahat," teriak nenek itu mengetuk pintu dengan raut cemas.


"Hamzah itu Gibel, buka pintunya," ujar Adinda menyadari anak kecil itu adalah Gibel.


Hamzah langsung membukakan pintu memberikan tumpangan pada nenek itu.


"Sial! Dimana tua bangka itu membawa anak haram itu?" gumam sosok lelaki yang mengejar nenek itu.


"Kenapa Bu?" ujar Adinda, sementara Hamzah fokus menyetir.


"Ini cucu saya, mau di ambil ibunya! Terus di jual." ujar Nenek itu.


"Oh, jadi Ibu nenek Gibel, ya! Tadi di panti juga Ibu panti cerita, kasian Gibel," ujarnya.


"Jadi ke, kenal Gibel? Boleh saya minta tolong sama ke?


"Iya, saya kenal! Minta tolong apa Bu?" ujarnya.


"Turunkan saya di depan! Tolong jaga Gibel!" ujarnya memohon.


"Tidak!" bantah Hamzah membuat raut wajah Ibu itu muram, "Ibu juga harus ikut kami ke Jakarta, karna saya yakin Ibu dalam bahaya!" tambah Hamzah.


"Tapiβ€”," ucapan itu terpotong oleh Adinda.

__ADS_1


"Ya Bu, ikutlah kami ke Jakarta! Sekalian ibu juga bisa menjaga Gibel." ujarnya.


"Terima kasih, Nona!" jawabnya terharu, karna selama ini ia minta pertolongna tidak ada yang mau membantu setulus Adinda dan Hamzah.


Mereka pun terus bercengkrama bersama, hingga tiba di Bandara. Mereka di sambut oleh Sian dan asistennya, karna sekarag Sian yang memimpin perusahaan Hamzah disana.


"Sian, sudah selesai semuanya bukan?" tanya Hamzah sambil memberikan kunci mobilnya.


"Sudah, Tuan! Maaf ini siapa?" tanya Sian memperhatikan nenek Yuli dan Gibel yang ada di pangkuan Hamzah.


"Dia Ibu dan anak angkatku!" jawab Adinda dan Hamzah serentak, membuat Ibu Yuli berkaca-kaca dan Sian pun keheranan.


"Sudah, tidak usah bingung! Kau mau ikut ke Jakarta bukan? Ayo!" teriak Hamzah.


"Iya, baiklah tuan!" ujarnya.


Mereka pun pergi bersama-sama menuju pesawat keluarga Malindo. Sesampainya di dalam pesawat, Hamzah membaringkan Gibel di kamar Adinda. Sementara, Bu Yuli di ruang satunya lagi. Gibel yang di baringkan di ruang pribadi Adinda tebangun dan melihat di sekitarnya.


"Gibel sudah bangun, ya Nak!" ujar Adinda menangkap pergerakkan Gibel.


Adinda pun menutup bukunya dan mendekati Gibel yang ada di ranjang ruangan itu.


"Tante, Adinda!" ucapnya tak jelas bangkit dari tidurnya.


Adinda pun tersenyum, tanpa banyak basa-basi Gibel pun memeluk Adinda. Adinda pun membalas pelukkannya.


"Tante, El takut! Ibu El mukulin nenek tante!" rengeknya.


"Tidak apa, Gibel sudah aman sama tante, nenek juga ikut sama tante. Mulai sekarang panggil tante, mama ya!" ucap Adinda.


"Baiklah, El senang sekali punya Mama seperti tante." ucapnya tidak jelas, membuat Adinda pun tersenyum.


Adinda pun mengendong Gibel keluar, mengambil makanan untuk Gibel karna ia tau Gibel belum makan. Disana sudah ada Hamzah, Bu Yuli, Sian yang sedang menikmati makanan.


"Sayang, Gibel sudah bagun ya!" ujar Bu Yuli.


"Ia nenek! Nenek sekarang El punya Mama baik," ujarnya senang membuat Adinda tersenyum.


"Ya'kan Ma?" ucapnya menghadap Adinda.


Semua orang pun tertawa, melihat kelucuan gadis mungil itu. Adinda pun mengambilkan makannan untuk Gibel dan menyuapi dengan telaten, seperti sudah berpengalaman. Melihat raut bahagia Adinda mendapatkan keluarga batu, Hamzah pun ikut tersenyum bahagia.


Bersambung ....

__ADS_1


Jangan lupa **like, Koment, share and Vote readers 😍😍


see you 😘**


__ADS_2