
Waktu begitu cepat berlalu, Kehidupan Hamzah dan Adinda sangat bahagia berkat kehadiran buah hati dan ibu angkatnya. Walaupun Gibel hanya anak angkat, tapi dia sangat disayangi oleh Adinda dan Hamzah.
Pagi itu Adinda tengah menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Biasanya Bu Yuli yang akan menyiapkan namun, karna Bu Yuli sakit akhirnya Adinda masak.
Adinda pun berjalan ke arah kulkas, mengambil beberapa potong daging dan sayur di dalamnya. Tiba-tiba saat memegang daging mentah di tangannya, Adinda mendadak mual. Dia berfikir saat itu mungkin asam lambungnya sedang naik. Ia pun melanjutkan memasak namun, perut Adinda semakin di aduk-aduk karna baunya.
Huekk huekk
Hamzah yang saat itu turun dari tangga langsung berlari menghampiri Adinda yang berada di dapur.
"Kenapa sayang?" ujarnya.
"Tidak apa, kenapa daging itu bau sekali?" ujar Adinda menunjuk sepotong daging sambil menutup hidungnya.
"Tidak, ini tidak bau!" ujar Hamzah sambil mencium aroma daging itu.
Bu Yuli datang menghampiri dapur mendengar keributan yang terjadi. Ia khawatir terjadi apa-apa pada anak angkatnya itu. Karna ia tau kemampuan Adinda masak sangat minim.
"Ada apa Hamzah Adinda?" tanya Bu Yuli.
"Daging itu bau sekali Bu!" tunjuk Adinda, " Kenapa Ibu tidak istirahat?" tanya Adinda lagi.
"Ibu sudah baikkan, Nak!" Bu Yuli pun berjalan ke arah daging yang di tunjuk oleh Adinda. Sementara, Hamzah mendudukkan tubuhnya di meja makan.
"Ini tidak bau, Nak!" ujar Bu Yuli.
Merasa tidak yakin dengan penciumannya tadi, Adinda pun mendekat dan kembali mencium aroma daging yang ada dalam wadah di atas meja tersebut.
Huek Huek Huek
Adinda pun langsung berlari menuju wastafel dan memuntahkan apa yang hendak keluar. Namun, hanya air saja yang keluar dari mulutnya. Adinda terus mual, Bu Yuli pun mengusap-usap pundak Adinda. Sementara, Hamzah langsung berlari mengambil minyak kayu putih untuk istrinya. Setelah dirasa mual Adinda sudah reda, Bu Yuli pun membantunya untuk duduk di meja makan dan segera menjauhkan daging mentah tersebut dari Adinda.
"Sini, aku pakaikan minyak kayu putih ini dulu!" ujar Hamzah yang baru datang dan mendudukkan dirinya disamping Adinda.
Adinda pun mengangguk untuk di olehkan minyak kayu putih. Namun baru saja Hamzah membuka tutup botol minyak tersebut, Adinda kembali mual mencium aromanya.
Huek ...
"Sudah jauhkan! Kenapa semuanya bau seperti ini! Huek," ujar Adinda menahan mualnya.
Bu Yuli pun mendekat kemudian meraih minyak kayu putih yang ada di tangan Hamzah. Ia pun menatap Adinda dengan tatapan harapan.
"Nak, Ibu mau tanya! Kapan kau terakhir haid, Nak?" ujar Bu Yuli.
"Sepertinya sudah 3 minggu Adinda telat," jawabnya. "Apa jangan-jangan —," tebakkan Adinda terpotong oleh Hamzah.
"Jangan-jangan Apa sayang?" tanyanya menaikan alis.
"Jangan-jangan Gibel akan punya adik!" ujar Bu Yuli bersemangat.
Tiba-tiba, gadis kecil yang baru saja turun dari kamarnya berseru kegirangan. Dia berlari ke arah orang tua angkatnya. Kemudian memeluk mereka dan melepaskannya.
"Yee ..., Gibel punya adik!" teriaknya sambil loncat-loncat.
Gadis kecil berumur 3,5 tahun itu sangat senang dan riang mendengar ucapan neneknya. Semua orang yang ada disana tertawa melihat kegirangannya.
__ADS_1
"Mama, Gibel sebentar lagi ada teman main, ya?" tanyanya.
"Gibel sayang! Mudah-mudahan kamu beneran punya adik, ya! Mama dan Papa harus periksakan dulu ke dokter kebenarannya!" ujar Hamzah.
"Apa yang benar Pa, Nek?" tanyanya.
"Sudah, nanti Gibel akan tahu saat Gibel besar!" ucap Nenek menghentikan pertanyaan Gibel.
"Baiklah Nek!" jawabnya polos, "Gibel nanti mau beli banyak mainan, Ya Pa! Gibel mau main sama Adik, Kan ...," ucap mulut mungilnya terus mengoceh.
Pagi itu Adinda tidak jadi memasak, awalnya Bu Yuli bersikeras untuk memasak karena ia merasa kondisinya sudah baikkan. Namun, merasa kasihan dengan ibu angkatnya itu Hamzah pun melarangnya dan memesan makanan. Setelah makanan sampai mereka pun menikmati sarapannya masing-masing pada pagi itu.
"Hati-hatilah aku juga akan ke kantor hari ini sayang!" ucap Adinda sambil merapikan dasi suaminya itu.
"Jangan lelah, ya sayang! Ingat, nanti setelah aku selesai mengajar aku akan menjeputmu di kantor sayang!" ucap Hamzah.
"Bukankah, kau juga ada rapat di perusahaan setelah mengajar?" tanya Adinda.
"Benar sayang, Kita reschedule saja nanti, lagi pula ayah kan bisa menggantikannya," jawab Hamzah.
"Ya, baiklah sayang!"
Hamzah pun mengacungkan tangan kanannya dan disalimi oleh Adinda. Kemudian ia mencium kening istrinya dan berjalan ke arah mobilnya. Hamzah mulia menyalakan mesin mobil dan menjalankannya menuju pesantren.
"Hati-hati sayang!" teriak Adinda sambil melambaikan tangannya.
Setelah dirasa jauh, Adinda pun kembali masuk ke dalam rumahnya menuju kamar untuk berganti pakaian. Hari ini dia sangat ingin mengenakan atasan dan bawahan panjang. Ia meraih kemeja kerja dan celana kerja panjang, kemudian setelah mengenakkannya Adinda memoleh wajahnya dengan sedikit riasan dan membiarkan rambutnya tergerai. Setelah selesai, Adinda turun ke bawah menuju ruang kerja dan segera mengambil berkas yang ia perlukan. Lalu, Adinda berjalan ke arah ruang tamu untuk mengambil tas yang ia taruh sembarang saat pulang kerja kemarin. Saat Adinda meraih tasnya, sebuah dompet berwarna coklat jatuh ke lantai dari atas sofa. Dia meraihnya, ternyata itu adalah dompet suaminya. Disana terdapat SIM dan STNK mobil milik suaminya.
"Astagfirullah!" Adinda menepuk jidatnya, Kenapa suamiku sangat pikun? Dia akan di tilang nanti!" ujar Adinda.
"Ini Bu, dompet Hamzah ketinggalan!" jawab Adinda sambil memperagakan dompet di tangannya.
"Ya sudah antar saja!"
Adinda pun mengangguk.
"Anak Mama yang cantik, Mama pergi kerja dulu, ya! Kamu sama nenek di rumah!" ujar Adinda sambil menciumi anaknya.
"Mama cepat pulang, Ya!" pintanya.
Adinda pun tersenyum sambi menganguk, ia juga berpamitan pada Ibu angkatnya dan menyalimi wanita tua itu. Setelah itu Adinda keluar di antar Ibu dan anaknya. Sambil memanaskan mesin mobil mewah miliknya, Adinda mencoba menghubungi Vivy. Tak butuh waktu lama telpon pun tersambung dan Adinda pun menginformasikan jika dia akan telat datang ke kantor karna harus menyusul suaminya. Setelah selesai, mereka mengakhiri panggilannya dan Adinda pun mulai menjalankan mobil tersebut.
Di perjalanan menuju pesantren Adinda menyalakan lagu kesukaannya. Sesekali dia juga bergumam mengikuti irama musik yang masuk melalui celah telinganya. Jalanan saat itu sangat padat hingga dia harus terjebak macet. Tapi dia menghadapinya dengan sangat santai dan menikmatinya.
Saat Adinda melihat ke kanannya, Adinda tak sengaja melihat pasangan yang tengah bercumbu di atas mobil disebelahnya. Pasangan itu lupa menaikkan kaca jendelanya, Adinda yang melihat itu hanya tertawa kecil melihat kekonyolan pagi itu.
"Ck ck ... seperti tidak ada tempat saja!" ucap Adinda.
"Bukankah itu Salma, sekretaris Hamzah," gumam Adinda.
"Ahh ... mana mungkin, dia kan berjilbab!" bantah Adinda pada dirinya sendiri.
Adinda pun tak mempedulikan hal yang terjadi di sekitarnya, ia terus saja menikmati alunan lagu dan perjalanan menuju pesantren. Setelah 45 menit di perjalanan, Adinda pun sampai di pesantren milik suaminya. Ia memarkirkan mobil di depan kantor pesantren itu.
"Astaga, aku tidak memakai jilbab!" ucap Adinda.
__ADS_1
Adinda pun mencoba melihat ke bangku belakangnya, siapa tahu ada jilbab yang bisa ia kenakkan. Saat ia melihat ke arah bagasi mobilnya, ia melihat jilbab berwarna hitam sedang tergantung disana. Adinda pun tersenyum dan berusaha masuk ke bangku belakangnya agar bisa meraih Jilbab itu.
Setelah ia mendapatkannya, ia pun mengenakannya dengan rapi. Kemudian, ia turun dan mengunci mobil miliknya.
Adinda pun berjalan ke kantor suaminya, saat Adinda hendak masuk ke ruangan suaminya. Adinda tak sengaja melihat Sarah yang sedang mencoba merayu Hamzah. Namun ia tahu, suaminya tidak akan pernah tergoda. Adinda terus saja memperhatikan gerak gerik Sarah dari pintu sambil tersenyum heran.
Sarah terus saja mencari perhatian suaminya namun, sayangnya Hamzah malah menolaknya. Adinda sangat beruntung memiliki suami seperti Hamzah yang sangat mencintai dirinya. Adinda yang memperhatikan mereka, melihat Sarah memegang tangan Hamzah. Adinda mulai kesal dan menegurnya.
"Bu Sarah, bukankah memegang lawan jenis itu ada hukumnya?" tegur Adinda sambil masuk kedalam ruang suaminya. Sementara , Hamzah hanya terkejut melihat kedatangan istrinya.
"Ekh ada Kak Adinda, iya benar Kak!" ucapnya tertunduk.
"Kak Hamzah, Sarah pergi dulu ya! Ada kelas," ujarnya berpamitan smabil berlari keluar ruangan Hamzah.
Adinda hanya menatap kepergiannya sambil tersenyum mengelengkan kepala. Sementara, Hamzah hanya menatap istrinya heran.
"Sayang, apa yang membuatmu kemari secara tiba-tiba?" tanya Hamzah.
"Aku mencium aroma wanita penggoda sayang! Makanya aku kemari," celetuk Adinda sambil tersenyum pada Hamzah.
Hamzah pun berdiri dan mendekati Adinda, lalu mengusap kepalanya dan tersenyum.
"Kau ini, masih saja cemburu!" ujar Hamzah sambil mencium kening Adinda.
"Jangan-jangan kau merindukanku, ya?" goda Hamzah.
"Iss, kau ini!" elak Adinda.
"Suamiku tersayang, kenapa kau PD sekali, ha? Aku kemari mengantar dompetmu, jika tidaj kau akan di tilang nanti," ujar Adinda sambil menarik hidung suaminya.
"aistriku ini sangat pintar mengelak, bilang saja jika kau merindukanku! Lagi pula jika di tilang kita tinggal berikan uang dan masalahnya selesai!" bantah Hamzah sambil memeluk pinggang Adinda.
"Ini di pesantren, lepaskan!" seru Adinda sambil melepaskan pelukkan suaminya, dan memutar badan memberikan dompet suaminya.
"Sudah, ini sayang! Kita lanjutkan di rumah, ya! Aku ada rapat," ujar Adinda sambil mencium pipi suaminya itu.
"Baiklah sayang, tunggu aku!"
Adinda pun berpamitan dengan suaminya, dan meninggalkan suaminya sendiri di ruangan kantornya.
"Eh Adinda, tumben kemari!" ujar lelaki yang baru saja berselisih dengan Adinda.
"Kak Sakhi, ini Adinda hanya mengantar dompet Hamzah yang tertinggal," ujarnya.
"Oh begitu, Nisa dari kemarin mencarimu! Katanya nomor telponmu sangat sulit di hubungi, kenapa tidak menemuinya dulu?" seru Sakhi.
"Maaf, aku sangat sibuk mengurus Gibel! Kak, maaf aku buru-buru karna ada rapat, aku pamit dulu, ya!" ujar Adinda.
"Baiklah, hati-hati! Assalamu'alaikum!" ucap Sakhi.
Adinda pun mengangguk dan menjawab salam Sakhi. Kemudian, ia pun meninggalkan Sakhi dan pergi menuju kantornya untuk bekerja.
Bersambung ....
Jangan lupa like dan komentarnya😁😁
__ADS_1