Dia Imamku !

Dia Imamku !
Konsep Pertunangan 2


__ADS_3

"Gini saja, saya kasih alamat W.O terbaik yang ada di Jakarta, jadi Mas Hamzah tidak sulit mencari alamat." ujarnya membantu.


"Baiklah!" ujar Hamzah.


Rendi pun meraih kartu nama W.O yang ada dalam dompetnya, dan memberikannya pada Adinda. Namun, Hamzah dengan sigap malah merebutnya, membuat Adinda kesal dan timbul perdebatan kecil diantara mereka. Sehingga, Rendi menggoda mereka untuk menghentikan perdebatan mereka.


"Sepasang kekasih ini romantis sekali, ya! membuat iri saja." celetuk Rendi menghentikan perdebatan mereka.


"Tidak!!!" ujar mereka serentak.


"Tuh, kan! serentak lagi, kalian memang pasangan serasi!" godanya lagi.


"Makasih, ya Mas Rendi! kalau begitu kami pamit dulu" ujar Hamzah tak mau menanggapi sambil menjulurkan tangan.


"Baik, sama-sama Mas Hamzah!" Sementara Adinda hanya diam saja memperhatikan mereka.


Mereka pun berdiri dari duduknya, menyusuri jalan keluar dari kantor penyedia jasa W.O itu. Kemudian, menghampiri mobilnya, masuk dan melajukannya menuju W.O yang disarankan oleh Rendi tadi.


Diperjalanan menuju W.O Adinda hanya menatap ke arah jendela, entah apa yang dipikirkannya. Hamzah yang melihat itu pun menegurnya.


"Hey! Dulu waktu aku di pesantren milik ayahku di Bogor ternak ayam disana pada mati!" ujarnya membuyarkan lamunan Adinda.


"Kenapa mati?" tanya Adinda dengan polosnya.


"Sama sepertimu! Dia kebanyakan melamun!" jawab Hamzah sengaja membuat Adinda kesal.


"Jadi, kau bilang aku ayam! Begitu?" teriak Adinda.


"Kau yang bilang! Bukan aku!" jawab Hamzah.


"Menyebalkan!" tegas Adinda.


"Biarkan saja! kau ini bodoh Adinda!" ujar Hamzah mengatai Adinda.


"Kau yang bodoh! mana mungkin bisa ayam mati karna melamun!"


"Nah! itu kau tau bagaimana bisa ayam mati karna melamun!" ujar Hamzah.


"Tidak lucu!" pungkas Adinda.


Adinda yang kesal, memutuskan dirinya untuk membelakangi Hamzah yang tengah menyetir saat itu. Melihat tingkah Adinda, membuat Hamzah terkekeh dan tetap melajukan mobilnya membelah jalanan Jakarta siang itu.


Setelah berkendara sekitar 30 menit, mereka pun sampai di kantor penyedia jasa W.O. Mereka pun masuk dan sudah disambut oleh pegawai disana dengan sapaan yang hangat.


"Selamat datang Tuan dan Nona, Silahkan duduk!" ujarnya sambil tersenyum ke arah Adinda dan Hamzah"


"Terima kasih!" jawab mereka sambil duduk di sofe yang sudah tersedia.


"Ada yang bisa kami bantu?" tanyanya.


"Begini, Mbak! saya mau melakukan petunangan 2 hari lagi! dan membutuhkan bantuan W.O untuk persiapannya." ujar Adinda sementara Hamzah membolak balikkan majalah yang ada diatas meja.


"Tentu saja Nona! Nona mau konsep yang bagaimana?" ujarnya sambil menyerahkan buku konsep W.O.


"Baik, aku akan lihat dulu!" ujar Adinda sambil meraih buku konsep itu.


"Hey, kau! bantu aku memilihnya!" teriak Adinda pada Hamzah.


"Iya, baiklah!"


Mereka pun sibuk membolak balik buku yang di pegangnya. Melihat satu persatu konsep yang ada pada tiap halaman buku itu.

__ADS_1


"Yang ini saja!" ujar Adinda sambil menunjukkannya pada Hamzah.


"Tidak!!! Konsepnya terlalu girly." tolak Hamzah sambil menjauhkan bukunya.


"Ini saja" tunjuk Hamzah.


"Tidak!!! warna Hijau tua dan gradasi putih itu norak!" jawab Adinda.


Merekan pun terus berdebat hanya karna pilihan yang tidak sesuai diantara mereka. Ada yang bilang norak, terlalu mewah, terlalu banyak warna dan sebagainnya. Sehingga, perdebatan mereka tak henti sama sekali, membuat orang yang di hadapan mereka bingung akan tingkah sepasang calon pengantin ini. Akhirnya, Mbak W.O pun berinisiatif untuk menghentikan perdebatan.


"Nona, Tuan! bagaimana dengan konsep terbaru dari kami saja!" ujarnya menghentikan perdebatan mereka.


"Mana? coba aku lihat!" ujar Adinda.


"Tidak, biar aku saja! nanti pilihanmu terlalu berlebihan!" ujar Hamzah.


"Aku saja! pilihanmu juga norak!" bantah Adinda.


Mereka pun kembali berdebat. Seolah olah tidak ada orang disana. Terpaksa Mbak W.O menghentikan perdebatan mereka lagi.


"Begini saja! biar kamo yang pilihkan konsepnya!" Mereka pun melihat ke arah Mbak W.O bersamaan.


"Baiklah!" ujar mereka bersamaan.


Mbak W.O pun mulai membuka satu persatu halaman buku konsep itu. Mencari keberadaan konsep terbaru yang mereka pampang disana. Sementara, Adinda dan Hamzah hanya menunggu Mbak W.O yang membolak balikkan Halaman Buku itu.


"Nona, Tuan! Bagaimana dengan konsep ini, terkesan sederhana, namun mewah dengan nuansa putih?" ujarnya.


"Baik itu saja!" ujar mereka serentak.


Setelah selesai, mengurus konsep W.O yang akan dilaksanakan di Hotel Putra di Kota Jakarta. Mereka pun memutuskan untuk ke Bandara menjemput Kim. Awalnya Adinda menolak, namun karna Bandara searah dengan kantornya, akhirnya Adinda pun setuju. Hamzah pun mengarahkan mobilnya menuju Bandara Soekarno Hatta, untuk menjemput Kim yang tak pernah ia kenal sama sekali.


"Apakah dia juga sama sepertimu?" tanya Hamzah pada Adinda.


"Itu temanmu!"


"Ya, tapi dia cukup tertutup kau tenang saja!" ujar Adinda.


"Oke, baiklah!" ujar Hamzah kembali fokus menyetir.


Setelah lama berkendara, mereka pun sampai di Bandara Soekarno Hatta pukul 16.00 WIB. Memutuskan untuk melaksanakan sholat asar terlebih dahulu. Mereka pun berjalan beriringan menuju fasilitas mushola yang disediakan Bandara. Berpencar ketempat wudu' dan melaksanakan shoatnya masing-masing. Setelah melaksanakan sholat, mereka memutuskan untuk pergi ke area game center yang ada di Bandara. Adinda yang bosan dengan game disana, memutuskan untuk pergi menunggu Kim di terminal kedatangan domestik, diikuti oleh Hamzah.


Terlihat sosok gadis cantik dalam balutan celana jeans dengan atasan blouse. Menarik koper mininya berwarna hijau muda yang sedang berjalan ke arah Adinda.


"Kim!" teriak Adinda tak sabar memeluk sahabatnya.


"Gendang telingaku pecah karnamu!" ujar Hamzah.


"Aku tidak peduli" pungkas Adinda.


Cinta terkadang dimulai dari perdebatan kecil


_Arini Khairunnisa_


Kim yang sudah berada dihadapan Adinda pun memeluk Adinda. Begitu juga dengan Adinda, mereka seperti sudah tidak bertemu bertahun tahun, padahal hanya beberapa hari saja.


"Apa yang kau bawa?" tanya Adinda.


"Kau ini, bukannya bertanya aku baik atau tidak malah menanyakan bawaanku!" ujar Kim mengerucutkan bibir.


"Aku hanya bercanda! ayo kita ke mobil!" ujar Adinda merangkul sahabatnya. Namun, langkahnya terhenti karna Kimberly menyadari keberadaan Hamzah.

__ADS_1


" Tunggu tunggu... ini siapa?" ujar Kimberly pada Adinda sambil menunjuk ke arah Hamzah.


"Dia Hamzah! calon tunanganku" ujar Adinda.


"Oh, kau tak mengenalkannya padaku!" ujar Kim kesal.


" Baiklah, Kim! dia Hamzah!


Hamzah kenalkan ini Kim sahabatku!" ujar Adinda mengenalkan mereka berdua.


Kimberly pun menjulurkan tangannya, tapi tidak disambut oleh Hamzah. Hamzah malah mennyatukan kedua telapak tangannya dan mengangkatnya mengarahkan pada Kim.


"Maaf kita bukan mahkram!" ujar Hamzah.


"Oh, baiklah" ujar Kim sambil tersenyum.


Mereka pun berjalan keluar menghampiri mobil Hamzah. Hamzah yang membawakan koper milik Kim berjalan di depan Adinda dan Kim. Sementara, mereka mengobrol tak hentinya.


"Tunanganmu tampan juga, ya!" bisik Kim.


"Ya, dia memang tampan tapi menyebalkan!" ujar Adinda.


"Kalau kau tak mau, biar aku saja yang bertunangan dengannya!" goda Kim.


"Lalu, orang yang kau ceritakan hari lalu mau kau apakan?" tanya Adinda.


"Ya, aku berikan padamu! dia sangat baik sayangnya berbeda denganmu!" ujar Kim.


"Maksudmu berbeda? dia satu keyakinan denganmu?" tanya Adinda.


"Ya, begitu!" ujar Kim.


Melohat mereka yang asik mengobrol, membuat Hamzah menunggu. Sehingga Hamzah yang kepanasan dalam mobil meneriaki mereka.


"Hei! Kalian mau pulang apa mengobrol? Ayo cepatlah!" teriak Hamzah.


"Ya, tunggi sebentar cerewet sekali!" ujar Adinda berjalan menghampiri mobil Hamzah.


Kimberly pun masuk ke bangku belakang, diikuti oleh Adinda yang memilih duduk dibelakang juga. Namun, Hamzah malah diam saja tak menggerakkan mobilnya sama sekali. Lantas karna hal itu, Adinda pun menanyainya.


"Ayo jalan! Kenapa kau diam saja?" tanya Adinda keheranan.


"Kau pikir aku supirmu? Pindah kedepan!" ujar Hamzah.


"Tidak!!! aku disini saja bersama Kim!" ujar Adinda.


"Ya sudah! tidak usah pulang!" ujar Hamzah.


Adinda pun terpaksa pindah ke bangku depan, meninggalkan Kimberly yang tengah cekikikan melihat tingkah sahabatnya. Setelah Adinda duduk dengan baik, Hamzah pun menyalakan mesin mobilnya dan mulai melajukannya.


"Kita kemana?" tanya Hamzah.


"Kantor ku saja! sekalian mengambil mobilku!" jawab Adinda.


"Apa tidak akan macet? lagi pula kau akan bolak-balik nanti untuk mengantar Kim!" ujar Hamzah.


"Ya sudah, kita antar Kim saja! setelah itu antar aku pulang!"


"Baiklah, Kim dimana rumahmu?" Mengalihkan pertanyaan pada Kim.


Kim pun memberitahukan alamatnya pada Hamzah. Sekitar setengah jam, mereka pun sampai dirumah Kim, Kim menyuruh mereka untuk mampir. Namun, hari sudah mau magrib dan tidak mungkin melaksanakan sholat di rumah Kim. Mereka pun memutuskan untuk mencari mushola terdekat dan melaksanakan sholat.

__ADS_1


Setelah selesai melaksanakan sholat magrib, Hamzah pun mengantar Adinda pulang ke rumahnya. Setelah berkendara cukup lama, mereka pun sampai. Adinda meminta Hamzah untuk makan malam dirumahnya. Namun, karna hari sudah malam Hamzah pun menolaknya dan memilih untuk pulang kerumahnya.


__ADS_2