Dia Imamku !

Dia Imamku !
Suara menggilakan


__ADS_3

Pagi itu Adinda menyiapkan sarapan untuknya dan Hamzah. Menata makanan yang telah ia masak, di atas meja makan kecil minimalis. Hamzah berjalan ke arah meja makan, dia sudah di tunggu oleh Adinda disana. Ia pun mendudukkan tubuhnya di hadapan Adinda. Sembari menunggu makanan yang sedang di ambil Adinda, ia pun memperhatikan Adinda dengan seksama.


"Kenapa memperhatikanku seperti itu?" tanya Adinda.


"Tidak, aku hanya tidak sabar menyantapmu!" goda Hamzah.


"Sudah, dasar Guru mes*m!" ujar Adinda.


Hamzah pun terkekeh, kemudian menyantap makanan yang sudah di sediakan Adinda. Diselingi dengan obrolan kecil pagi itu.


"Bagaimana jika kita sore ini ke pantai?" tanya Adinda.


"Tidak! Aku tidak mau," ujar Hamzah.


"Kenapa?"


"Disana banyak sekali bule yang menebar auratnya," ujar Hamzah.


"Bagaimana lagi, kondisinya seperti itu. Ayolah!" rengek Adinda.


"Sayang, bagaimana jika kita ke mall saja? kita beli cemilan yang kau sukai!" bujuk Hamzah.


"Baiklah, dengan syarat kita akan ke villa pribadiku yang ada di tepi pantai. Disana tidak ada orang, masih asri." Adinda menghentikan makannya.


"Baiklah, aku janji. Selesaikan makanmu," ujar Hamzah.


Setelah selesai aktivitas di apartemen siang itu, mereka berencana pergi ke mall untuk membeli cemilan, yang sudah di janjikan oleh Hamzah.


Mereka pun masuk ke dalam mobil, dan melajukan kendaraannya menuju Mall yang ada di Bali. Sesekali, mereka mengobrol dan berdebat untuk hal-hal kecil. Memang, hal itu tidak berubah sejak mereka kecil hingga menjadi pasangan suami istri.


Setelah sampai, Adinda pun langsung masuk dan mengandeng tangan Hamzah. Bisik-bisik orang membicarakan ke kaguman mereka. Adinda langsung naik, ke lantai 2 pusat perbelajaan. Dia mengambil banyak sekali cemilan, sementara Hamzah membawakan troli mengikuti Adinda yang sedang mengambil cemilan.


"Apa kau mampu menghabiskan semuanya?" tanya Hamzah.


"Tidak, aku akan membagikannya pada anak-anak panti asuhan. Pasti mereka senang!" ujar Adinda mengambil semua makanan.


Hamzah yang melihat Adinda senang pun ikut tersenyum. Setelah mereka selesai belanja, ia pun membayarnya. Karna waktu sudah pukul 1 siang, Hamzah dan Adinda pergi ke mushala terdekat mereka melaksanakan sholat zhuhur bersama. Setelah, itu makan siang dan pergi menuju panti asuhan yang Adinda sering kunjungi.


Di panti asuhan, Adinda dan Hamzah di sambut oleh pembina panti. Dan anak-anak panti pun menghampiri Adinda. Sementara, Hamzah sibuk menenteng cemilan yang dibelinya tadi.

__ADS_1


"Kak Adinda!!!" teriak anak-anak tersebut berlari dan memeluk Adinda.


"Hy semua, Kak Adinda datang," ujar Adinda merentangkan tangannya.


Salah satu anak kecil perempuan berusia 3 tahun, menanggis karna tak bisa memeluk Adinda. Dia adalah Gibel, orang tuanya meninggalkan Gibel di panti asuhan.


"Sayang, kenapa menanggis?" ujar Adinda menghapus air mata gadis kecil itu.


"Gibel, tidak bisa peluk tante huhu ..., kakak yang lain bisa," ujarnya tidak jelas, namun dapat dipahami oleh Adinda.


"Sayang, kemarilah tante Adinda gendong," jawab Adinda merentangkan tangannya.


Gadis kecil itu merasa senang dan kembali tertawa riang. Hamzah yang memperhatikan Adinda, baru mengetahui jika Adinda sosok yang penyayang. Mereka pun masuk bersama-sama ke ruangan berkumpul anak-anak dan disuguhkan minuman oleh pengelola panti. Mereka mengobrol dan bermain bersama anak-anak. Tak terasa, hari sudah malam saja. Hamzah dan Adinda pergi dari panti dan kembali ke apartemen mereka.


Di perjalanan pulang, mereka mengobrol dan diselingi candaan yang membuat mereka berdua bahagia.


"Hamzah, bagaimana menurutmu Gibel?" tanya Adinda.


"Dia anak yang baik," ujar Hamzah.


"Dia sangat lucu, dan cantik sekali. Aku suka!" ujar Adinda tersenyum sumringah.


"Bagaimana jika kita adopsi saja?" tanya Hamzah.


"Boleh, aku juga suka! Nanti saat hendak pulang ke Jakarta kita bicarakan."


"Oke, baiklah!" ujar Adinda.


Mereka melanjutkan perjalanan pulang dan mengobrol sepajang perjalanan. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Adinda dan Hamzah baru sampai di apartemen mereka. Adinda sepertinya sangat kelelahan, ia tertidur. Tak tega membangunkan, Hamzah pun mengendong Adinda sampai ke kamar apartementnya.


"Ternyata kau berat juga, ya sayang!"Ujar Hamzah yang tengah menahan berat badan Adinda di tangannya.


"Hahah, rasakan! Siapa suruh menjailiku," batin Adinda senang.


Adinda sengaja menjaili Hamzah dengan berpura-pura tidur. Karena, sewaktu di mobil ia selalu saja di buat kesal oleh Hamzah. Adinda pun senang berhasil menjaili Hamzah.


Hamzah yang sudah sampai di depan apartement, kesusahan membuka pintu di hadapannya. Untung saja, ada security yang lewat dan ia pun membantu Hamzah. Hamzah pun masuk ke dalam apartement dan menutup pintunya. Kemudian, membaringkan Adinda di atas ranjang kamar apartement.


Adinda yang sedari tadi Menahan tawanya sudah tidak tahan lagi. Saat Hamzah berbalik menuju kamar mandi. Gelak tawa Adinda pecah dan menghentikan langkah Hamzah.

__ADS_1


Bhahahakk


"Hey, kau menjailiku ya?" ujar Hamzah dengan raut wajah kesal menghadap ke Adinda.


"Haha ..., siapa suruh kau membuatku kesal," bantah Adinda.


"Oh seperti itu, ya!"


Hamzah pun berjalan mendekat sembari menarik dasinya. Kemudian, membuka satu-persatu kancing bajunya hingga telanjang dada.


"K-kau mau apa?" tanya Adinda.


Namun, Hamzah tak mengubris dan malah semakin dekat dengan Adinda. Kemudian, menindih Adinda dan menciumi wajah Adinda.


"Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa" gumam Hamzah.


"Kau bicara a—? tanya Adinda terhenti karna ciuman lembut di bibirnya.


Deguban jantung memenuhi dada kedua insan tersebut. Hamzah mulai mencium lembut bibir Adinda, dan bertarung lidah bersama dengan Adinda. Setelah puas bersentuhan di bagian bibir, Hamzah pun mulai menciumi leher Adinda. Membuat, Adinda merasa geli dan memejamkan matanya perlahan. Perlahan tangan Hamzah mulai merayap masuk ke dalam celah baju Adinda. Ia pun mencoba meraih dua gundukkan bukit yang tersembunyi itu, karna kesusahan meraihnya, Hamzah pun membuka baju Adinda. Dilihatnya dua gundukkan bukit terpampang nyata dihadapannya. Jiwa lelakinya memberontak, ia pun langsung melum*tnya tanpa basa-basi, membuat tanda kepemilikkannya disana.


Adinda yang merasakan kenikmatan saat dirinya tengah digerayangi Hamzah, memejamkan matanya dan sesekali mendes*h.


"Sayang, apa kau siap?" bisik Hamzah lembut ditelinga Adinda. Adinda pun tersenyum sambil mengangguk. Mereka pun membuka semua yang menempel di tubuhnya dan masuk ke dalam selimut bersamaan.


Hamzah mulai memasukkan perlahan senjata kelakiannya. Kemudian, mengesekkannya perlahan agar Adinda tidak merasakkan sakit. Adinda berusaha menahan suaranya agar tidak terdengar oleh Hamzah. Namun, suara halus yang penuh kenikmatan itu lolos dari bibir Adinda.


Ahh ...


Erangan itu membuat Hamzah semakin menggila dan bersemangat untuk meraih Adinda menjadi miliknya seutuhnya. Saat Adinda tengah merasakan kenikmatan, Hamzah menghentakkan senjata kelakiannya. Hingga, darah segar menyiram batang miliknya. Tanpa Hamzah sadari, Adinda kesakitan dan terisak.


"Maaf sayang, sakit ya?" ujar Hamzah mencium kening Adinda.


"Ya ...," lirih Adinda.


"Besok saja kita lanjut, ya! Ayo kita ke kamar mandi bersihkan diri," ajak Hamzah.


"Baiklah sayang. Ayo!" ujar Adinda membalut selimut ketubuhnya.


Mereka pun pergi menuju kamar mandi dan membersihkan diri bersama di satu kamar mandi. Setelah selesai, mereka pun kembali keranjangnya dan terlelap.

__ADS_1


Bersambung ....


Jangan lupa like, komen and share readers😍😍


__ADS_2