
Hamzah yang sudah sampai didepan rumahnya, disambut oleh satpam yang membukakan gerbang depan rumahnya. Hamzah pun masuk kedalam rumahnya, meninggalkan mobil dihalaman sambil menyerahkan kunci mobilnya pada Pak Maman.
"Sudah pulang, Nak!" ujar Ayahnya.
"Sudah Ayah!" ujar Hamzah menyalimi Ayahnya.
"Mana ibu Yah?" tanyanya lagi.
"Ibumu sudah tidur, Nak!" jawab Ayah.
"Baiklah, Hamzah ke kamar dulu!" ujarnya.
"Baiklah, temui Ayah di ruang kerja! ada yang Ayah ingin bicarakan!"
"Baiklah!" ujarnya meninggalkan Ayah.
Setelah membersihkan tubuhnya, Hamzah yang lapar pergi ke meja makan dan melahap masakkan ibunya yang tersedia di atas meja. Setelah menghabiskan makannannya, Hamzah pun berjalan ke arah ruang kerja Ayahnya. Sesampainya disana ia pun mengetuk pintu dan masuk.
"Assalamua'laikum Ayah!" sapa Hamzah.
"Waa'laikumsalam! Ayo duduklah disini!" ujar Ayah.
"Baiklah!" ujar Hamzah mendudukkan tubuhnya.
"Hamzah, Apa kau benar benar yakin ingin kembali mengelola pesantren, Nak?"
"Iya, Ayah!" jawabnya Mantap.
"Baiklah, tapi dengan satu syarat!" ujar Ayah.
"Apa itu Ayah?" tanya Hamzah.
"Kau hanya boleh mengelola pesantren sambil mengelola perusahaan, sampai kau memiliki anak! dan akan kembali mengelola perusahaan keluarga dengan sepenuhnya!" tegas Ayah.
"Kenapa begitu Ayah?" tanyannya heran.
"Kau akan tau jawabannya nanti setelah kau memiliki anak!" ujar Ayah.
"Baiklah ayah, jadi mulai besok aku sudah bisa ke pesantren kan?" jawabnya semangat.
"Sudah, istirahatlah kau pasti lelah!" ujar Ayah.
"Baiklah, Hamzah ke kamar dulu" ujarnya meninggalkan Ayah diruang kerjanya.
Hamzah pun menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya, meraih ganggang pintu dan mendorongnya. Hamzah yang kelelahan, membaringkan tubuhnya diatas ranjang empuk miliknya, tidak membutuhkan waktu lama ia pun tertidur.
Seseorang tengah melamun memikirkan sesuatu di balkon kamarnya. Dia sangat merindukan sosok umminya, memikirkan setiap kalimat terakhir yang umminya ucapkan. Banyak pertanyaan di fikirannya yang tak bisa ia jawab.
"Ummi, Adinda rindu ummi...! lirih Adinda mendekap erat frame foto keluarganya. Tak terasa butiran bening mengalir di pipinya. Air mata yang jatuh mengisyaratkan keriduannya terhadap ummi wanita yang melahirkannya.
Hiks... Hiks...
"Apa ummi tau? Adinda sedang memperbaiki diri! Semoga ummi senang, ya! melihat perubahan Adinda...." lirihnya mengukirkan senyum dibibirnya.
"Ummi doakan Adinda, ya! semoga besok Adinda bisa ke pesantren dan belajar disana, mewujudkan impian ummi! Hiks... Hiks...." gumam Adinda yang masih terisak.
Adinda pun memutuskan untuk masuk, menutup setiap jendela kamarnya dan berjalan ke ranjang milikknya. Ia pun menyimpan frame foto keluarga di atas meja sebelah ranjangnya, memejamkan matanya berharap semua akan baik baik saja. Tak butuh waktu lama, Adinda pun terlelap dengan mata yang sembab.
Entah kenapa, pagi ini Adinda sangat bersemangat bangun dari tidurnya. Ia pun berjalan ke arah kamar mandi untuk mandi dan berwudu'. Setelah selesai, Adinda pun meraih mukena miliknya, kemudian memakainya dan melaksanakan sholat subuh. Raka'at demi raka'at ia laksanakan dengan khusyu', Adinda yang telah selesai melaksanakan sholatnya. Melipat mukena yang ia gunakan dan menaruh kembali ditempat semula. Adinda memutuskan untuk keluar dari kamarnya, berjalan menuruni anak tangga ke arah dapur. Disana sudah Ada Bi Mona yang tengah menyiapakan sarapan.
"Bi Mona, masak apa?" sapa Adinda menghampirinya.
"Saya masak bubur untuk sarapan tuan, Nona!" ujarnya.
"Apa Bibi mau mengajari Adinda?" tanyanya lagi.
"Tentu Nona, Kemarilah!" ujarnya.
__ADS_1
Adinda pun menghampiri Bi Mona dan belajar memasak bubur untuk abinya. Namun, karna memasak bubur hanya butuh waktu yang sebentar, Adinda pun melanjutkan belajar memasaknya. Adinda diajari Bi Mona membuat nasi goreng yang sebelumnya keasinan. Tahap demi tahap di ajari Bi Mona, Adinda yang pintar cepat menangkap apa yang disampaikan Bi Mona, sehingga ia pun paham akan penuturan Bi Mona.
"Biar Adinda saja yang menata makannannya, Bi!" ujar Adinda sambil meraih sedok ditangan Bi Mona.
"Baik, Nona! kalau begitu saya panggilkan tuan dulu untuk sarapan!" ujarnya meninggalkan Adinda.
"Selamat pagi, Abi!" ujar Adinda melihat abinya yang tengah berjalan menghampiri meja makan.
"Pagi, Nak!" ujar Abi mendudukkan dirinya.
"Abi tunggu, ya! Adinda akan ambipkan Abi bubur!" ujar Adinda berdiri meraih bubur diatas meja makan.
"Tidak, tidak! Abi makan nasi goreng ini saja!" ujar Abi sambil mengambil nasi goreng itu kepiringnya.
"Baiklah Abi!" ujar Adinda meletakkan kembali mangkok buburnya.
"Abi apakah enak?" ujar Adinda yang melihat Abinya sangat lahap memakan nasi goreng buatannya bersama Bi Mona.
"Ini enak sekali! persis masakkan ummimu." ujarnya.
"Benarkah, Abi? Kalau begitu Adinda akan membuatkannya setiap hari untuk Abi." ujar Adinda bersemangat.
Abi pun tersedak mendengar perkataan Dinda, dan meraih minuman yang sudah. dituangkan Adinda.
"Apa ini kau yang masak, Nak?" ujar Abi yang tak percaya.
"Benar, Abi! Bi Mona yang mengajarkan, ya kan Bi?" ujar Adinda.
"Iya, Tuan! memang Nona Adinda yang membuatnya" ujar Bi Mona yang meyakinkan Abi.
Abi pun tersenyum, sambil menatap ke arah Adinda. Adinda yang melihatnnya pun kembali tersenyum. Mereka pun menghabiskan sarapannya pagi itu. Setelah selesai, Adinda pun pamit ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya.
"Bi, Adinda mau ke kamar dulu, ya Abi! Adinda mau ganti baju dan pergi ke pesantren lagi, kan kemarin tidak jadi Bi!" jelas Adinda.
"Baiklah, Nak! Abi mau istirahat lagi ke kamar!" ujar Abi.
"Iya, Abi!" ujar Adinda meninggalkan Abinya di meja makan.
"Pagi, Nona!" sapa Vivy.
"Pagi, Vivy! aku akan pergi hari ini, jadi tolong atur jadwalku!" ujar Adinda.
"Baik, Nona! ini kunci mobil anda!" Adinda pun meraih kunci mobilnya.
"Terima kasih!" ujar Adinda.
"Baiklah, Nona! saya pamit dulu untuk kembali ke kantor." ujar Vivy.
"Baiklah." ujar Adinda yang juga mengikuti Vivy karna akan pergi juga.
Melihat Vivy yang sudah pergi menggunakan mobil perusahaan yang dibawa oleh sopir kantor. Adinda pun masuk ke dalam mobilnya dan juga melajukan mobilnya ke arah pesantren yang pernah ia kunjungi bersama Kim.
"Assalamua'laikum! kak Hamzah" sapa seorang wanita pada Hamzah.
"Pagi, Sarah! Dimana ustad Sakhi?" tanyanya.
"Ada diruangannya kak! tapi Sarah tidak bisa mengantar karna Sarah harus mengajar!" ujarnya.
"Ya, Baiklah Sarah! tidak apa-apa, silahkan mengajar!" jawab Hamzah ramah.
Sarah merupakan seorang guru Bahasa Indonesia, yang sudah mengajar selama 5 tahun di pesantren milik Hamzah. Waktu itu, Hamzah tidak sengaja menabraknya saat ia mencari kerja. Karna itulah, Hamzah yang merasa bersalah mempekerjakan Sarah di pesantrennya yang waktu itu masih kekurangan tenaga pengajar.
Tok tok tok
"Masuk!" ujarnya
"Assalamua'laikum Sakhi!" ujar Hamzah.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam!" jawab Sakhi sambil berdiri menghampiri Hamzah.
"Ayo duduk! cepat sekali kau sampai!" ujarnya.
"Aku sangat rindu pada pesantren ini!" ujar Hamzah.
"Bagaimana kabarmu Hamzah?" tanya Sakhi.
"Alhamdullilah, Allah senantiasa memberikanku kebahagiaan!" ujar Hamzah tesenyum.
"Masyaallah!" ujar Sakhi kagum.
"Ayahmu kemarin sudah memberitahuku, jadi ruangan ini akan kembali kau tempati!" ujar Sakhi lagi.
"Tidak! kita satu ruangan saja! lagi pula, setelah aku sibuk menangani perusahaan, aku tidak lagi mengelola pesantren!" ujar Hamzah.
"Lalu?" tanya Sakhi lagi.
"Kau saja yang kelola, aku akan mengajar saja! karna, aku harus bolak balik ke perusahaan karna ayah hanya menangani separuh dari pekerjaanku saja!" ujar Hamzah.
"Baiklah, Hamzah!" ujarnya mengerti.
Mereka pun terus berbincang hingga seseorang membuyarkan obrolan mereka.
"Assalamu'alaikum Ustad Sakhi! diluar ada wanita yang ingin belajar di pesantren ini." ujarnya penjaga gerbang.
"Wa'alaikumsalam, suruh saja masuk, ya Pak Teguh!" ujarnya.
"Baiklah Ustad, kalo gitu saya permisi dulu." ujarnya meninggalkan Hamzah dan Sakhi.
Mereka pun melanjutkan mengobrol, diselingi sedikit canda membuat mereka tertawa terbahak- bahak.
"Jadi, kau akan mengajar di kelas 3 A dan wanita itu saja!" ujar Sakhi.
"Baiklah, tapi kenapa harus aku yang mengajarinya?" tanya Hamzah.
"Karna aku sudah menikah! nanti istriku cemburu!" tegas Sakhi.
"Ya, Baiklah!" ujar Hamzah.
Tok tok tok
"Masuk!" ujar mereka serentak.
"Assalamu'alaikum" ujarnya.
"Wa'alaikumsalam" ujar mereka.
"Silahkan, duduk disini, Nona!" ujar Sakhi menghampiri meja kerjanya dan meninggalkan Hamzah di sofa ruangan itu.
"Ada apa, Nona? Apa yang bisa kami bantu?" tanya Sakhi.
"Saya mau belajar agama di pesantren ini!" ujar Adinda. Sementara Hamzah sibuk memainkan ponselnya tanpa menyadari keberadaan Adinda.
"Oh, begitu! Baiklah Nona kau bisa belajar secara privat! karna pesantren ini hanya sampai tingkatan Aliyyah." ujar Sakhi.
"Baiklah, terima kasih ustad!" ujar Adinda senang.
"Siapa namamu, Nona?" ujarnya.
"Nama saya Adinda, kira kira kapan saya bisa belajar?" ujar Adinda tak sabaran.
"Baiklah, kalau begitu saya tanya dulu sama orang yang mau mengajar Nona!"
"Baik" ujarnya senyum.
"Hamzah, kemari sebentar! ujar Sakhi.
__ADS_1
"Baik!" Hamzah yang berdiri dari duduknya menengok ke arah Shaki dan Adinda.
"Kau, mau apa kemari?" ujar Hamzah yang kaget melihat Adinda.