
"Kau, mau apa kemari?" ujar Hamzah yang kaget melihat Adinda.
"Kau, sedang apa juga disini?" tanya Adinda balik.
"Maaf, Nona! Ustad Hamzah pemilik pesantren ini." ujarnya.
"Ha...?" tanya Adinda tak percaya.
"Iya! Aku memang pemilik pesantren ini!, tapu Sakhi yang mengelola." ujar Hamzah meyakinkan.
"Oh, seperti itu!" jawab Adinda tak tertarik!
"Jadi, kapan jadwalku akan belajar?" tanya Adinda pada Ustad Sakhi.
"Untuk masalah jadwal akan ditetapkan sendiri oleh Ust. Hamzah, Nona!"
"Bagaimana, Ust.Hamzah?"
"Jadwalmu setiap hari Senin sampai Kamis jam 2 siang!" ujar Hamzah menjawab.
"Baiklah! Boleh aku bertemu dengan orang yang akan mengajariku dan menjadi guruku belajar agama?" tanya Adinda.
"Tentu, Nona! kenapa harus bertemu lagi dia sudah ada disini!" ujar Ustad Sakhi.
"Siapa?" tanya Adinda lagi.
"Ust.Hamzah sendiri!" ujarnya formal
"Apa???" teriak Adinda.
"Iya, Aku yang akan mengajarimu! Apa kau tuli?" ujar Hamzah.
"Dia guruku?" tanya Adinda pada Sakhi sambil menunjuk ke arah Hamzah.
"Ia, Nona! Dia yang akan mengajarimu! karna guru yang lain sudah terjadwal memegang masing-masing kelas." ujar Ust. Sakhi menjelaskan.
Adinda pun menarik nafasnya dalam dalam, menghembuskannya secara perlahan. Kemudian, ia pun menyetujui apa yang dikatakan Ust. Sakhi. Karna, tujuannya adalah belajar agama atas perintah umminya, bukan yang lain.
"Baiklah, kapan dimulai?" tanyanya.
"Besok saja, sekarang aku mau perkenalan dengan muridku dikelas 3A!" ujar Hamzah pada Adinda.
"Baiklah! kalo begitu aku pamit dulu, ya Ust. Sakhi!" ujar Adinda tanpa menghiraukan Hamzah.
Dulu, sebelum Hamzah melanjutkan pendidikannya ke jenjang perkuliahan, Hamzah pernah belajar dipesantren sewaktu tingkat Smp dan Sma. Sehingga, banyak ilmu Agama yang dia dapatkan, timbul inisiatifnya untuk membangun pesantren, yang kini dikelola oleh Sakhi. Teman karibnya, sewaktu dipesantren dulu. Makanya, untuk hal mengajar Hamzah tidak kalah hebat dibanding Sakhi.
Adinda berjalan keluar dari pesantren itu, menghampiri mobilnya yang tengah terpakir di halaman pesantren. Adinda pun menyalakan mesin mobilnya, Melajukan mobilnya ke arah kantor perusahaannya.
"Kenapa kau mengenalnya, Hamzah?" tanya Sakhi yang penasaran.
"Kau kepo sekali!" ujar Hamzah.
"Aku hanya penasaran!" jawab Sakhi.
"Dia itu teman kecilku, dan baru bertemu lagi!" jelas Hamzah.
"Kenapa kau bisa mengenalinya?" tanyanya lagi.
"Sudah, datang saja ke pertunanganku! Besok kau akan tau!" ujar Hamzah.
"Baiklah!" jawabnya.
"Aku mau ke kelas 3A dulu, tidak ada guru, Kan?" tanyanya lagi.
"Tidak, karna guru yang memegang kelas itu pindah! dan kau yang gantikan!" jelas Sakhi.
"Mana, buku absensi siswa dan buku batas pembelajarannya?" tanya Hamzah lagi.
"Tunggu...!" ujarnya berjalan mengambil dokumen yang diminta oleh Hamzah.
"Ini!" ujar Sakhi sambil menyerahkan dokumen yang sudah diambilnya
"Baiklah, terima kasih. Aku pergi dulu!" ujar Hamzah berpamitan dan meninggalkan Sakhi menuju kelas 3A.
" Assalamu'alaikum anak- anak!" ujar Hamzah menyapa murid kelas 3A setingkat dengan smp kelas 3 pada pendidikan umum.
"Wa'alaikumsalam Ustad!" jawab mereka bersama.
__ADS_1
"Bagaimana kabarnya anak-anak?" tanya Hamzah.
"Alhamdullilah baik ustad!" jawab mereka.
Hamzah pun menjelaskan maksud kehadirannya dikelas tersebut, kemudian melanjutkan perkenalan mereka, dan berbincang- bicang mengenai materi sampai jam pelajaran habis.
Adinda yang baru menyelesaikan rapatnya yang mendadak keluar dari ruangan rapat, sambil berbincang bincang dengan Vivy berjalan menuju ruangan Adinda.
"Kenapa tidak memberitahuku, Bahwa ada rapat hari ini?" tanya Adinda kesal.
"Maaf, Nona! saya juga tidak tau jika ada rapat hari ini! karna schedule Nona masih ditentukan oleh Billy!" ujarnya.
"Baik, sekarang atur schedule baruku!" tegas Adinda.
"Baik, Nona! kalo begitu saya keruangan saya dulu!" ujarnya meninggalkan Adinda. Sementara, Adinda masuk ke dalam ruangannya.
Adinda yang tengah memeriksa laporan yang disediakan Vivy merasa lapar, karna saat itu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Akhirnya Adinda pun berjalan keluar perusahaan dan melajukan mobilnya untuk pulang. Karna, dia sangat lelah sekali dengan kerjaannya saat ini. Namun, baru saja ia hendak melajukan mobilnya, ia dihentikan oleh dering telpon milikknya.
"Assalamua'laikum!" ujar Adinda.
"Wa'alaikumsalam, kita harus ke butik hari ini!" ujar pria di seberang sana.
"Memangnya mau apa?" ujar Adinda.
"Ayah menyuruhku untuk menemanimu membeli kebaya untuk pertunangan besok! ujarnya.
"Baiklah! Kapan?" ujar Adinda.
"Setengah jam lagi kita bertemu di butik X!" ujar Hamzah.
"Ya, baiklah! Aku akan segera kesana!"
"Berpakaianlah yang tertutup!"
"Ya, bawel sekali!" pungkas Adinda menutup telponnya.
Adinda yang lapar, memutuskan untuk makan di kantin khusus karyawan. ia pun memarkirkan mobilnya didepan kantin perusahaan itu. Kemudian, Adinda turun dan masuk ke dalam kantin.
"Buk, nasi uduknya 1, Ya! sama es jeruk!" ujar Adinda pada pemilik kantin.
"Baik, Nona Adinda! tunggu sebentar!" ujarnya pergi.
"Hey, kau! pindah dari tempat dudukku!" ujarnya. Namun, Adinda tak mengubrisnya sama sekali.
"Apa kau tak dengar!" bentak teman wanita tadi.
"Ada apa? kau ingin duduk disini? duduk saja!" ujar Adinda santainya.
"Aku tak sudi makan dengan orang miskin sepertimu!" caci wanita itu.
"Pergilah!" tambahnya
Adinda yang pun tak menghiraukan mereka berdua. Sehingga, membuat mereka kesal dan menumpahkan es jeruk Adinda pada makanannya. Melihat itu, Adinda yang tadinya santai pun naik pitam.
"Apa kau karyawan baru disini!" ujar Adinda berdiri dari duduknya.
Sementara, orang- orang yang berada disana, hanya diam karna tau itu adalah Adinda atasan mereka.
"Kau tau juga, ya! aku masuk kesini karna kepintaranku!" ujar wanita itu didukung oleh temannya.
"Oh, karna kepintaranmu ya!" ujar Adinda memalingkan wajahnya.
"Siapa yang merekrutmu?" tanya Adinda lagi.
"Kau tidak akan kenal! Dia sekretaris di perusahaan ini! bawahan sepertimu mana tau!" hinanya pada Adinda.
"Betul, kau palingan hanya karyawan biasa!" tambah teman wanita itu.
"Benarkah? ku pastikan kau dipecat setelah ini!" ancam Adinda.
"CkCk, memangnya kau siapa? simpanan bos!" hina mereka lagi sambip tertawa.
"Perhatian! seorang karyawan biasa bertindak seperti ini apa yang akan kalian lakukan sebagai Bos?" teriak Adinda pada semua orang yang ada dikantin. Semua orang pun menjawab pertanyaan Adinda secara serentak membuat kedua wanita tadi sedikit takut. Namun, mereka masih tidak percaya.
"Pecat saja, Nona Adinda!" ujar semua orang yang berada disana.
"Haha, aktingmu bagus sekali!" ujar salah satu wanita itu.
__ADS_1
"Kalian berdua angkat kaki dari kantorku!" bentak Adinda. Mereka pun tertawa terbahak bahak mendengar bentakkan Adinda, seolah mengejeknya.
"Ada apa ini, Nona?" ujar Vivy yang baru saja datang karna dihubungi seseorang yang tengah berada disana.
"Keluarkan dua wanita ini dari perusahaanku!" tegas Adinda pada Vivy.
"Tidak kak Vivy! dia mengambil tempatku, wajar kalau aku marahkan kak!" ujar wanita itu.
Plakk
Sebuah tamparan melayang dipipi wanita itu.
"Apa kau tau dia siapa?" bentak Vivy.
"Karyawan biasa, kan!" ujarnya.
"Dia adalah bosku, Adinda Putri Malindo. Kalian berdua pergi dari kantor ini!" bentak Vivy.
"Maafkan kami, Nona! kami tidak tau!" ujar mereka memohon pada Adinda, tapi tak digubrisnya.
"Vivy, aku tidak ingin melihat mereka disini! urus mereka!" pungkas Adinda meninggalkan mereka.
Adinda pun membayar makannan yang ia pesan, kemudian berjalan menghampiri mobilnya dan melajukannya ke arah butik yang di beritahukan Hamzah.
"Akhirnya sampai juga! dimana wanita itu?" gumam Hamzah yang telah sampai di parkiran butik.
"Lama sekali, lebih baik aku tunggu didalam mobil saja!" gumam Hamzah lagi.
Hamzah yang terlalu lama menunggu, malah tertidur dibangku mobilnya. Setelah 20 menit tertidur, Hamzah terbangun karna seseorang mengetuk kaca mobilnya. Matanya yang tengah menyesuaikan cahaya, menangkap sosok wanita berhijab berwarna pink soft.
"Apakah bidadari secantik ini?" gumamnya setengah sadar.
"Hey, ayo cepatlah!" ujar Adinda kesal karna Hamzah tidak keluar dari mobilnya.
Mendengar teriak Adinda, Hamzah pun reflek membuka pintu mobilnya dan turun.
"Kenapa kau lama sekali!" ujar Hamzah kesal.
"Maaf, tadi ada sedikit masalah!" ujar nya berjalan memasuki butik.
"Aku kira kau tidak bisa minta maaf." ledek Hamzah.
"Tentu saja bisa!" teriak Adinda kesal.
"Kau dari kecil tidak pernah meminta maaf!" ujar Hamzah menambahkan.
"Karna itu kau yang salah, kau yang menjailiku!" ujarnya.
"Tidak!" ujar Hamzah tak mau kalah.
Seperti biasa, pembicaraan mereka diakhiri oleh perdebatan, yang nantinya akan dihentikan oleh seseorang. Karna, pusing dan bingung melihat tingkah mereka.
"Selamat sore, Tuan Nona!" ujar pelayan butik menghentikan mereka.
"Sore!" ujar mereka serentak.
"Ada yang bisa kami bantu?" tanya pelayan butik.
"Carikan wanita jelek ini baju pertunagan yang tertutup!" ujar Hamzah yang masih kesal karna kalah berdebat.
"Apa kau bilang? kau yang jelek!" teriak Adinda.
"Kau!" bantah Hamzah.
"Kau!" bantah Adinda tak mau kalah.
"Kau!"
"Kau, pokoknya kau! Titik." pungkasnya meninggalkan Hamzah.
***Bersambung....
Hy readers jangan lupa like, koment and share ya 😊 supaya author semangat buat upnya.
ig. Arini_khairunnisa
Mohon maaf lahir dan batin 😁
__ADS_1
Selamat menunaikan ibadah puasa, ya! bagi yang melaksanakan.
see you😍***