Dia Imamku !

Dia Imamku !
Kejutan Pernikahan


__ADS_3

Adinda yang sudah selesai menelpon, memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku hoody yang ia kenakan. Berjalan kembali keruangan abinya. Langkah kakinya terhenti, seketika ada yang menjambak rambutnya dari belakang dan berteriak pada Adinda. Membuat Adinda merasakan kesakitan.


"Aa ... lepaskan!" teriak Adinda kesakitan.


"Hey ******! Karna kau pertunanganku dibatalkan." ujarnya sambil menghentakkan rambut Adinda.


"Aku tidak ada hubungannya dengan tunanganmu, itu salahmu sendiri."


"Jika kau tidak mengancamnya, dia tidak akan membatalkan pertunangan ini."


"Dia sudah benar, membatalkan pertunangan dengan wanita iblis sepertimu!" bentak Adinda.


"Dasar wanita sialan."


Plak


Sebuah tamparan mendarat di pipi Adinda. Lantas Adinda pun memegang pipinya.


"Cih... liat saja! Tamparan ini akan berbalas kepadamu Aqila."


Aqila pun tertawa mengejek mendengar perkataan Adinda.


"Ckck ... Memangnya kau siapa? coba saja!" pungkas Aqila meninggalkan Adinda pergi.


"Liat saja, kau akan menerima apa yang kau lakukan hari ini." gumam Adinda dalam hati.


Adinda yang akan pergi menuju ke kamar abinya, kembali mengurungkan niatnya dan kembali menelpon Vivy. Memerintahkan Vivy untuk mencari informasi Aqila Louis, Vivy pun menuruti perintah atasannya itu.


Adinda yang telah sampai di depan kamar, ruangan yang ditempati abi, meraih gangang pintu dan mendorongnya masuk. Terlihat Abi yang tengah di periksa Dokter Irvan.


"Assalamu'alaikum." sapa Adinda.


"Wa'alaikumsalam, Nak." ujar Abi.


Baru saja Adinda ingin menanyakan kondisi abinya, Dokter Irvan meminta Adinda untuk menemuinya di ruangan miliknya. Adinda yang paham, langsung mengikuti Dokter ke ruangannya. Setelah sampai, Adinda pun di silahkan duduk dan memulai pembicaraannya.


"Nona, kondisi abi Nona sangat menurun. Kita harus melakukan operasi, Nona."


"Aku juga berpikir demikian, tapi bagaimana caranya, Dok? sementara, Dokter tau sendiri abi tidak ingin di operasi." ujar Adinda.


"Kita lakukan operasi secara diam-diam, Nona. Besok operasi akan dilakukan pukul 9 pagi, jika Nona menyetujuinya."


"Baik Dok, lakukan yang terbaik." ujar Adinda menyetujui.


Adinda pun keluar dari ruangan Dokter Irvan dengan wajah di tekuk. Setelah sampai, Adinda pun langsung menghampiri abinya dan Kimberly.


"Kenapa abi tidak istirahat?" tanya Adinda.


"Tidak apa, Nak. Nanti abi akan istirahat setelah kau menikah." ujar Abi.


"Baiklah Abi."


"Din, Aku mau pergi nanti aku akan kembali lagi."


"Kemana?"


"Aku ada sedikit urusan."

__ADS_1


"Baiklah."


"Om, Kim pergi dulu."


"Iya, Nak Kim. Hati- hati!"


Kimberly pun meninggalkan Abi dan Adinda. Sementara, Adinda meminta abinya untuk istirahat. Takutnya, abinya kelelahan nanti. Abi pun menyetujuinya.


Terlihat orang-orang tengah sibuk menyiapkan sebuah acara pernikahan sederhana di taman rumah sakit. Ini merupakan, salah satu kejutan yang di berikan abi pada Adinda, tanpa sepengetahuannya. Memerintahkan calon menantunya untuk mempersiapkan semuanya, dan Hamzah pun menyetujui dengan senang hati, guna menghibur Adinda yang tengah bersedih karna abinya.


"Hamzah, Maaf aku terlambat." ujar Sakhi yang baru saja datang.


"Tidak, kau tidak terlambat. Dimana, Nisa?" tanya Hamzah.


"Nisa, sedang mempersiapkan gaun untuk Adinda bersama ibumu." ujar Sakhi


"Dimana, Delon dan Ayah?"


"Itu Delon bersama Kim, Ayahmu masih ada urusan di perusahaan." ujar Sakhi.


"Ya, Baiklah!"


Mereka pun bekerja sama demi pesta kejutan sederhana di pernikahan Adinda. Tak terasa sudah menujukkan pukul 4 sore saja. Ayah Hamzah yang sudah sedari tadi datang, bersama ibu dan Nisa. Menyuruh Hamzah untuk mengganti pakaian yang sudah di siapkan. Kemudian, Nisa dan Kimberly menemui Adinda di ruangan abinya bersama Ayah Hamzah.


Tok tok tok


"Masuk!" ujar Adinda.


"Assalamu'alaikum!" ujar Ayah Hamzah.


"Wa'alaikumsalam, Duduk Om." ujar Adinda.


"Baiklah Om. Eh, Ayah!" ujar Adinda terbata membuat orang orang disana terkekeh.


"Adinda, Ayah mau bicara dengan Abimu. Silahkan kalian bertiga keluar dulu, karna ini hal penting!" ujar Ayah beralasan agar Adinda bisa di dandani.


"Baiklah, Ayah."


Adinda pun dibawa oleh Nisa dan Kim, menuju sebuah kamar yang ada diantara ruangan VVIP itu. Mulai melancarkan aksinya secara paksa pada Adinda. Adinda yang hanya memiliki satu kekuatan pasrah dibuat kedua sahabatnya itu. Nisa yang memang pandai merias, membuat Adinda yang cantik semakin pangling. Dipadukan dengan gaun putih, nan sederhana namun terlihat elegan di tubuhnya. Di atas kepalanya, di beri tiara bak seorang putri. Adinda pun tersenyum, terpancar raut bahagia di wajahnya. Karna memang, impiannya sedari kecil menikah layaknya seorang putri dengan mahkota.


"Kenapa kalian tau ini impianku? tanya Adinda sumringah.


"Tentu, aku ini kan sahabatmu. Kau sering mengingau ketika tidur bersamaku." Celetuk Kim membuat alasan.


"Kapan aku begitu, kau ini menyebalkan." ujar Adinda.


"Sudah, mungkin hanya kebetulan Adinda. Ayo, kita ke luar semua orang sudah menunggu!" ujar Anisa.


"Baiklah, Nisa. Ayo!" ujar Adinda berdiri dari duduknya.


"Tunggu, tunggu! Kau harus menggunakan tutup mana ini." ujar Nisa.


"Betul sekali, sini aku pasangkan!" ujar Kim meraih penutup mata di tangan Anisa.


"Ada apa?"


"Sudah diam saja." perintah Nisa.

__ADS_1


Anisa dan Kimberly, membimbing Adinda ke tempat yang sudah di persiapkan oleh mereka sedari tadi. Sementara, Abi sudah di bawa dengan kursi roda ke arah taman oleh Ayah. Terlihat disana, sudah berkumpul keluarga Hamzah dan teman-temannya. Melihat kedatangan Adinda, mereka semua hening. Adinda pun terus terusan bertanya pada Nisa dan Kimberly kemana dia akan dibawa, pertanyaan itu terhenti saat Kimberly mengatakan sudah sampai.


"Apa kau siap Adinda?" tanya Kimberly.


"Ya, memanganya apa sih yang kalian sembunyikan dariku?" tanya Adinda.


"Sudah lihat saja!" ujar Nisa.


Anisa pun membuka penutup mata yang dikenakan Adinda. Saat Adinda menyesuaikan pantulan cahaya dengan matanya. Semua orang berteriak kepada Adinda.


"Suprise!!!"


Adinda pun ternganga melihat dekorasi taman sederhana, untuk pernikahannya. Disana sudah ada, Abi, Ayah, Ibu, Hamzah dan keluarga calon suaminya.


"Terima kasih." ujar Adinda dengan mata berkaca-kaca.


"Apa pernikahannya sudah bisa kita lanjutkan?" tanya penghulu.


Mereka pun menganguk, Adinda duduk di sebelah Hamzah. Kemudian, Ia dinikahkan oleh abinya sendiri. Entah kenapa, abi saat itu nampak sangat bersemangat dan terlihat pancaran bahagia dimatanya. Abi pun menjabat tangan Hamzah, kemudian melafaskan ijab kabul dengan satu tarikan nafas, menyerahkan tangung jawabnya terhadap Adinda pada Hamzah.. Hamzah yang tengah gerogi, langsung mengatakan kata sah, sebelum ia melafalkan balasan ijab kabul dari abi, membuat orang yang ada disana terkekeh dibuatnya.


"Kenapa ngebet sekali? ujar Sakhi terkekeh.


"Kau ini seperti tidak pernah saja." gerutu Hamzah sementara Adinda hanya terkekeh menahan tawanya.


"Tarik nafas, fokus." ujar Sakhi menyemangati.


"Baiklah, ayo kita ulangi." ujar Penghulu.


Ijab kabul pun dimulai kembali oleh abi. Karna, Hamzah yang sudah fokus. Ia pun menyambutnya dengan lantang dengan satu tarikkan nafas.


"Saya terima Nikah dan kawinnya, Adinda putri malindo binti Malindo. Dengan mahar seperangkat alat sholat dan emas seberat 25 gram dibayar tunai."


"Sah?" tanya penghulu.


Semua orang disana pun berucap kata Sah membuat Hamzah merasa lega. Adinda yang sudah sah menjadi pasangan suami istri secara bergantian memasangkan cincin pernikahannya, menyium tangan lelaki yang sudah resmi menjadi suaminya. Entah mengapa, Hamzah membalas ciuman tangan itu dengan kecupan di dahi Adinda, membuat pipi Adinda bersemu merah dengan jantung berdegup kencang. Setelah itu, mereka pun menandatangani surat-surat yang sudah di sediakan oleh penghulu tersebut. Kemudian, penghulu memberikan buku nikah Adinda dan Hamzah dan pergi meninggalkan acara.


"Aku sudah membawa camera, tunggu apa lagi." ujar Delon.


Mereka semua pun berfoto ria bersama, sesekali Adinda dan Hamzah berfoto bersama, di potret langsung oleh Delon, yang memang hobynya fotografer membuat foto yang diambilnya enak dipandang.


"Apa ini semua rencanamu?" tanya Adinda pada Hamzah.


"Tidak, aku hanya mendukung rencana abi." ujar Hamzah.


"Benarkah?." ujar Adinda.


"Tentu, ayo kita temui abi."


Mereka pun berjalan ke arah abi yang tengah mengobrol bersama ayah dan ibu. Adinda yang sangat senang, langsung memeluk abinya yang tengah duduk di kursi roda. Entah kenapa dia tidak mau kehilangan abinya seperti saat ditinggalkan ummi. Nampak jelas kasih sayang seorang ayah pada anaknya, membuat orang yang melihat disekitar sana terharu.


"Terima kasih Abi, Adinda sangat senang sekali. Adinda sayang Abi ...." lirih Adinda memeluk Abinya, tak terasa air matanya pun mengalir.


"Sudah, jangan menanggis! Abi juga menyayangimu." ujar Abi mencium kening Adinda.


"Abi janji ya, abi harus sembuh!" ujar Adinda.


"Ia, Abi janji Nak! Sudah, jangan manja seperti ini! kau sudah punya suami, Nak. Bermanjalah dengan suamimu." goda abi.

__ADS_1


Pipi Hamzah dan Adinda pun memerah semu, menjadi ledekan oleh Sakhi dan orang-orang yang ada disana. Pesta sederhana pun berakhir, Adinda yang menyadari abinya yang kelelahan. Memilih memerintahkan perawat membawa abi ke ruangannya. Sementara, Adinda kembali mengganti pakaiannya, dengan pakaian yang tadi ia kenakan.


__ADS_2