
Hening di dalam ruangan persidangan, senyap menyapa setiap pendengaran manusia yang ada di dalam sana. Tidak ada dari siapapun yang berbicara sebelum akhirnya raja masuk dan siap mengintrogasi kedua pangeran tersebut.
Oceanus yang mendengar pertengkaran kedua kakaknya sangat terkejut pasalnya Agustus dan Sargon sama-sama sejalan dan tidak pernah berselisih paham. Matanya melirik Aurora yang menjadi saksi.
Napas Oceanus tertahan melihat wanita itu serta kondisinya yang sangat lemah namun dipaksa untuk menjadi saksi.
Agustus dan Sargon enggan saling menatap. Seolah aura permusuhan di antara keduanya sudah mendarah daging.
"Siapa yang menyerang duluan?" tidak ada yang menjawab. sang Raja hanya diberikan wajah datar bak patung oleh Agustus dan Sargon.
Raja menggeram marah di tempatnya. Ia mengepalkan tangan. Kejadian memalukan tersebut telah mencoreng nama baik kerajaan.
"JAWAB!!" paksa Raja yang akhirnya sudah kehabisan kesabaran. Napasnya tersengal-sengal dan untungnya ada ratu yang mengusap punggung suaminya.
Namun sudah dibentak oleh raja pun mereka tidak ada yang mau membuka suara. Akhirnya tatapan sang raja jatuh kepada Aurora yang menjadi saksi kunci.
"Untuk Aurora Akuela, jawab pertanyaan saya. Siapa yang memulai perkelahian duluan dan apa penyebabnya?"
Aurora merasakan sekujur tubuhnya bergetar. Tangannya saling menggenggam meyakinkan dirinya untuk menjawab pertanyaan dari sang raja.
Agustus dan Sragon yang melihat raut wajah Aurora yang tampak ketakutan membuat mereka akhirnya mengatakan yang sebenarnya.
"Saya yang memulainya," ucap mereka serempak dan menjadi perhatian kuat dari para anggota kerajaan.
Sargon melirik Agustus sinis. Kedua pangeran tersebut saling tidak mau mengalah.
"Maafkan saya Raja, semua ini salah saya yang membuat pangeran berkelahi. Pangeran Agustus sedang memberikan saya hukuman namun pangeran Sargon datang dan membela saya. Pangeran Agustus tidak terima dan akhirnya Pangeran Agustus dan Pangeran Sargon bertengkar. Jadi semua ini salah saya, maka limpahkan semua hukuman ke saya."
Aurora lebih dulu berbicara sebelum kedua pangeran tersebut menceritakan. Ia merasa sangat bersalah pada diri sendiri. Memang ini adalah kesempatan bagus untuk menjebak kedua pangeran tersebut namun Aurora malah tak tega dan hatinya terus mendesak untuk mengatakan apa yang sebenernya terjadi.
Mata raja menatap Aurora dengan pandangan menyelidik. Aurora rasa tidak hanya raja namun seluruh orang yang berada di persidangan juga melemparkan tatapan yang sama.
Oceanus yang sudah mendengar semuanya pun merasa sangat iba dengan wanita itu. Ia pun tak terima melihat tubuh Aurora yang penuh dengan luka dan ternyata akibat dari hukuman Agustus.
Jika ia berada di sana ia pun akan melakukan hal yang sama. Tapi kenapa dirinya akan melakukan itu demi seorang budak? Bukankah selama ini ia tak pernah peduli?
__ADS_1
Oceanus menarik napas panjang kemudian mengarahkan pandangannya ke depan. Ingin melihat reaksi raja setelah mendengar ucapan Aurora barusan.
"Kau yang menyebabkan kedua pangeran bertengkar? Hanya karena seorang budak kalian bertengkar? Sangat memalukan dan tidak mencerminkan sikap seorang pangeran," ucap Raja memarahi kedua Pangeran tersebut.
Agustus memutar bola matanya malas. Amarah Raja saat ini sangatlah tidak berguna. Pada hakekatnya Agustus memang tidak patuh kepada raja dan sering membangkang perkataan ayahnya. Penghianatan ayahnya terhadap ibunya membuat Agustus tidak pernah akur kepada ayahnya dan tidak pula pernah menuruti perintah ayahnya.
Sementara mata elang Ibu dari pangeran Sargon mengintimidasi Aurora. Wajahnya tidak bisa menahan malu ketika mengetahui bahwa putra sulungnya berkelahi dan melanggar aturan istana demi seorang budak rendahan.
"Maafkan saya raja. Namun saya tidak akan pernah bisa melihat dia disiksa dengan tidak manusiawi."
Aurora di tempatnya mengerutkan kening. Akhirnya mereka memiliki perasaan manusiawi.
"Sargon apa yang kau katakan kepada Raja? Seorang budak memang sudah sepantasnya mendapatkan hukuman jika melakukan kesalahan." Mata Ella menatap tajam Aurora. Ibu dari Sargon tersebut tak mampu menahan amarahnya kepada Aurora. "Kau wanita murahan. Apa yang telah kau lakukan kepada anak ku sehingga dia berani melanggar larangan istana!!!! Budak sialan kau..... aku akan meminta raja menghukum mu karena sudah berani membuat pangeran bertengkar."
Oceanus langsung maju ke tengah-tengah. Ia tak senang dengan ucapan bibinya tersebut.
"Bibi, tapi saya setuju dengan sikap Sargon. Apakah kalian tidak pernah membayangkan jika kalian yang berada di posisi Aurora? Ia berhak mendapatkan pembelaan."
"OCEANUS APA YANG KAU LAKUKAN?!" teriak ratu Sofia di tempat dan langsung berdiri.
Merasa tidak bisa tinggal diam. Grace pun berdiri di tempatnya dan memberi hormat kepada raja dan ratu.
"Hormat saya Raja Alirik, dan ratu Sofia. Tetapi saya setuju dengan pangeran Sargon dan pangeran Oceanus. Maafkan pangeran Agustus mungkin dia tidak bisa mengontrol emosinya dengan baik. Untuk Aurora tidak ada yang salah dengannya, namun jika benar dia melakukan kesalahan besar maka hukumlah dengan hukuman yang pantas dan lebih manusiawi."
Isabella yang melihat Grace di tempatnya tersenyum miring. Isabella adalah musuh dari Grace. Sebut saja Isabella sangat mencintai Agustus, namun sayangnya perasaan cinta Isabella tidak terbayarkan dan malah Grace lah yang mendapatkan hati Agustus.
"Tidak dibutuhkan suara dari anak bangsawan biasa," sindir Isabella yang ditujukan kepada Grace.
Aurora yang sudah mengetahui sifat dan watak asli seorang Isabella menggeram di tempat. Dari dulu ia ingin bertemu Isabella dan mencakar wajah wanita itu. Sekarang ia melihat sosok menyebalkan Isabella yang menjadi peran antagonis di novel yang membuatnya berada di sini.
Grace yang mendapatkan hinaan dari Isabella hanya menundukkan kepalanya sambil menahan perasaan sakit.
Agustus tak senang melihat kekasihnya dihina oleh wanita ular itu. Ia memandang Isabella seolah tengah memberikan peringatan kepada perempuan tersebut.
"Lebih tidak dibutuhkan suara dari seorang jala.ng." Ucapan yang dilontarkan oleh Agustus membuat amarah di wajah Ratu Sofia.
__ADS_1
"Apa yang kau katakan Agustus? Isabella adalah wanita terhormat. Dia tidak seperti yang kau tuduhkan." Ratu melirik Isabella yang menundukkan wajahnya sedih. Ia lantas menatap suaminya yang berada di sampingnya, "Raja, apa kau tak mendengar anakmu itu baru saja menghina Putri Isabella."
Raja pun menarik nafas panjang, "Agustus. Jangan pernah kau katakan itu lagi kepada Isabella."
Aurora yang sudah dari tadi memperhatikan kejadian tersebut pun semakin mendendam kepada wanita ular itu. Ia bisa melihat wajah minder dari Grace. Sementara Isabella tersenyum penuh dengan kemenangan.
"Karena kedua pangeran sudah melanggar aturan istana, maka Pangeran Agustus dan Pangeran Sargon akan diberikan hukuman dikurung di dalam istana selama seminggu. Tidak boleh menginjakkan kaki sejengkal dari luar istana masing-masing."
Hukuman tersebut final dan tidak bisa diganggu gugat. Pandangan Raja mengarah kepada Aurora.
"Untuk seorang budak yang sudah membuat Pangeran bertengkar maka akan dijatuhi hukuman mati."
Mata Aurora melotot mendengar ucapan dari raja. Tidak hanya Aurora saja namun Agustus dan Sargon langsung memandang raja. Ditambah Oceanus yang tidak terima dengan ucapan ayahnya.
"AYAH!! AKU AKAN MELAWAN MU JIKA KAU BERANI MEMBUNUHNYA!" teriak Oceanus marah kepada sang raja.
Raja Alirik memukul kursi kebesarannya dan memandang tajam anak bungsunya.
"OCEANUS KEMBALI KE TEMPAT MU!"
"TIDAK AKAN SEBELUM KAU MENGGANTI PERINTAH MU!"
"AYAH AKU AKAN MELAWAN MU JIKA KAU BERANI MELAKUKAN HAL ITU!!" marah Agustus yang ikut menentang keputusan ayahnya.
"PAMAN! AKU AKAN MEMENGGAL KEPALA MU JIKA KAU MEMBUNUH AURORA."
Orang yang berada di dalam tempat persidangan tersebut pun merasa kalah dengan ketiga pangeran. Aurora yang merupakan hanya seorang budak biasa mampu membuat ketiga pangeran yang selalu memasang wajah datar tersebut membela dirinya di depan raja.
Tentunya tatapan sinis tak berhenti Aurora dapatkan dari anggota kerajaan. Terutama untuk Ratu Sofia putri Isabella dan juga ratu Ella ibu dari Sargon. Mereka tidak bisa menyembunyikan ketidaksukaannya kepada Aurora. Ditambah para menteri yang menyadari suatu hari nanti Aurora bisa memiliki kedudukan tinggi di istana dan malah mengancam posisi mereka.
___________
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA
__ADS_1