Dicintai 3 Pangeran

Dicintai 3 Pangeran
Part 32


__ADS_3

Agustus melangkah dengan penuh wibawa bersama ketiga pangeran dan memasuki aula istana. Pria itu baru saja dipanggil oleh raja dan harus menghadap raja segera mungkin.


Dengan jubah kebesaran dan juga mahkota yang melekat di kepalanya, Agustus memenuhi panggilan itu. Hanya saja ia meminta agar pelayan pribadinya ataupun budaknya ikut menemani dirinya memasuki aula istana.


Agustus tahu jika Aurora sudah sangat lama ingin memasuki aula istana kembali dan hari ini Agustus mewujudkan keinginan wanita itu.


Tampak Aurora sangat bahagia namun ketika baru saja melangkah memasuki aula istana tersebut dan Aurora dikejutkan dengan semua mata tertuju pada ia dan panegran, namun lebih tepatnya mereka memperhatikan dirinya.


Aurora berdandan dengan apik dan wajahnya begitu cantik. Kedua pangeran yang telah lebih dulu memasuki istana terkejut melihat Aurora. Mereka meneguk ludah dengan kasar melihat Aurora begitu memukau.


Agustus yang tahu tatapan mereka sontak saja menggenggam tangan Aurora. Ia ingin memberitahukan kepada orang-orang bahwasanya perempuan itu miliknya dan tak boleh ada orang lain yang menikmatinya.


Apa yang dilakukan oleh Agustus tentunya menjadi perhatian. Isabella mengepalkan tangan di tempat. Ia melirik Ratu Sofia dan ratu juga yang sedang menahan kesal.


Wanita itu tidak akan dibiarkan oleh Isabella dengan mudah. Ia sudah memberitahukan kepada pelayannya harus bertindak secepat mungkin.


"Pangeran." Aurora merasa tidak nyaman menjadi perhatian banyak orang. Ia tersenyum tipis kepada semua hadirin yang hadir di sana.


"Tidak apa-apa ikuti aku," ucapnya dan Aurora yakin dengan dirinya sendiri. Ia mengikuti Agustus dan berdiri di paling sudut aula tak jauh dari kursi kebesaran pria tersebut.


Senyum di wajah Isabella pun mengembang. Ia tahu apa yang akan dilakukan olehnya. Isabella bersikap tenang dan kemudian menatap Agustus lalu beralih menatap raja dan ratu yang berada di singgasana mereka.


"Raja, apakah pantas seorang budak rendahan menguping pembicaraan orang-orang penting."


Sargon melirik Isabella dengan mata sampingnya. Sementara ia fokus memperhatikan Aurora yang berdiri dan menundukkan kepala.


"Kenapa tidak? Hanya seorang budak, bukan? Tidak ada pengaruhnya jika dia berada di sini maupun tidak," sahut Pangeran Sargon.


Setelah berucap seperti itu ia melepaskan senyum di wajahnya. Aurora tak berhenti dari rasa terkejutnya. Ini adalah untuk kesekian kali Pangeran membela dirinya.


"Raja, kau mendengarnya sendiri, bukan? Kau perhatikan beberapa kali para pangeran membantah ucapan mu demi membela wanita budak ini!? Apakah kau akan membiarkannya? Lama-lama ia akan memanfaatkan situasi ini dan menghasut para pangeran untuk memberontak. Ingat para budak mereka lebih banyak menjadi pemberontak karena mereka tidak bisa menerima takdir." Isabella tersenyum miring dan Aurora langsung menatap wanita itu.


Tangannya terkepal. Sungguh keji putri Isabella menyindir orang di bawahnya hingga lupa jika kehidupan berputar seperti roda. Mungkin perempuan itu tercipta tidak memiliki hati, apa yang ia katakan tidak pernah dipikirkan olehnya. Aurora berusaha tetap tersenyum. Meksipun apa yang dikatakan oleh Isabella terdapat kebenaran.


Tapi, Aurora tetap tersinggung. Ia hanya tersenyum tipis dan tidak mencari pembelaan. Mungkin diam dan tetap menikmati segala hinaan lebih baik. Belum saatnya ia untuk berdebat di depan raja.


Brakk


Oecanus mendesis mendengar pernyataan yang keluar dari anak perdana menteri tersebut. Pria itu memandang Isabella. Sementara tatapan Isabella mengarah kepada gelas yang baru saja dipecahkan oleh pangeran Oceanus.


"Oh pangeran Oceanus, kau sama seperti mereka ingin membela wanita itu. Hanya karena seorang Aurora yang tidak memiliki keluarga kau rela memecahkan gelas perjamuan."

__ADS_1


"TUTUP MULUT MU ISABELLA!!" tekan Pangeran Oceanus dan berdiri dari tempatnya. Pria itu mengeluarkan pedang miliknya dan raja langsung menghentikan keributan itu.


"PANGERAN OCEANUS DUDUK!!" bentak raja dan pangeran Oceanus pun duduk kembali di tempatnya dengan napas yang tersengal-sengal.


"Pangeran Agustus, Pangeran Oceanus, pangeran Sargon!! Kalian sadar apa kesalahan kalian saat ini?" Raja melirik Aurora yang berada di paling sudut istana.


"Kami mengerti dengan kesalahan kami!!"


"Ini adalah untuk kesekian kali kau menentang orangtuamu demi seorang wanita," ucap raja Alirik datar. "Karena kau yang sudah membuat kekacauan di istana maka kau akan mendapatkan hukuman ku," ucap raja Alirik yang membuat seluruh istana menatap ke arah Aurora.


Aurora menahan napas seraya menundukkan kepala. Apakah ini saatnya ia bertemu dengan penderitaan lagi? Ataukah ini adalah rencana pangeran Agustus agar ia dipermalukan dan seolah-olah menolongnya padahal hatinya ingin mempermalukan dirinya. Aurora benar-benar sakit hati, niat memberontaknya semakin menggebu-gebu.


"AYAH!! APA YANG KAU LAKUKAN! DIA ADALAH BUDAK KU DAN AKU BEBAS INGIN MEMBAWANYA KEMARI! DAN KAU TIDAK PUNYA HAK UNTUK MENGHUKUMNYA!!" ucap tegas pangeran Agustus yang langsung berdiri di depan raja.


Isabella pun menyeringai. Ia menatap raja dengan penuh kemenangan di wajahnya.


"Jika begitu untuk membuktikan kesetiaan mu terhadap Engrasia kau harus menghukumnya!" Isabella pun maju ke tengah-tengah dan memberi hormat kepada raja. Ia mengangkat kepalanya dan tersenyum yakin kepada ratu. "Mohon keadilan Raja dan Ratu."


Agustus tak tahan lagi. Wanita ular seperti Isabella memang harus dibasmi secepatnya. Agustus memanggil bawahannya dan bawahannya pun menyerahkan beberapa lembar gulungan kertas kepada Agustus.


"Saya tahu niat Raja memanggil saya kemari adalah karena ingin membahas kematian putri Grace dan pencurian senjata negara."


Aurora terkejut. Ia merasakan Tubuhnya merinding. Wanita itu sangat ketakutan jika dirinya ketahuan, namun Aurora harus bersikap santai.


Agustus menyerahkan semua bukti kejahatan Putri Isabella kepada raja. Raja pun menatap Agustus dengan satu alis terangkat. Ia membuka semua barang bukti tersebut dan membacanya dengan seksama.


Kemudian napasnya terdengar memburu dan marah. Ia menatap Agustus lalu beralih kepada putri Isabella.


"Jika kau benar-benar adil kau dapat memberikan hukuman kepada putri Isabella."


Isabella yang merasa namanya disebut menatap ke arah Pangeran Agustus. Ia juga langsung memandang raja. Sang raja melihat ketakutan di wajah Isabella. Ia berusaha agar tetap tenang untuk menghadapi putra pertamanya.


"Apa yang sudah kau lakukan Pangeran Agustus? Kau ingin menjebak diri ku?" Isabella merasa tidak tenang. Sepertinya ada sesuatu yang dilakukan oleh pangeran Agustus untuk menyingkirkan dirinya.


Perdana Mentri ikut maju ke tengah-tengah aula ketika mendengar jika nama putrinya disebut. Ia khawatir jika Isabella sudah melakukan kesalahan.


"Raja, jika putri saya sudah melakukan kesalahan saya memohon ampunan dari mu untuk putri ku."


Raja Alirik tersenyum dan menyuruh agar perdana Mentrinya itu mengangkat kepala.


"Sudahlah. Aku akan memberikan keadilan untuk kalian semua."

__ADS_1


"Kali ini aku memberikan maaf untuk budak mu, Agustus! Tapi jika sekali lagi aku mendengar kau membelanya dan melawan ku, maka aku tidak akan segan memasukkannya ke dalam penjara."


Agustus hanya memasang wajah datar. Yang ia tunggu adalah hukuman Isabella.


"Dan Isabella, karena sudah melakukan kejahatan dengan memberikan racun kepada putri Grace sebelum kepulangannya maka akan mendapatkan hukuman kurungan selama 1 tahun tanpa boleh keluar kamar miliknya."


Semua orang yang berada di sana dan mendengar jenis kejahatan yang dilakukan oleh Isabella pun terkejut. Mereka menatap Isabella dan sekaligus protes dengan hukuman yang diberikan oleh raja yang tak sebanding dengan kejahatan yang dilakukan oleh wanita tersebut.


Oceanus yang tahu jika Isabella sering mendapatkan racun dari putri Isabella merasa tidak terima dengan hukuman yang sudah dijatuhkan oleh raja untuk Isabella.


Oceanus menatap ayahnya.


"Raja, bukankah seseorang yang audah melakukan kejahatan dan hingga ingin membunuh seorang putri dan tunangan dari putra mahkota akan mendapatkan hukuman yang sangat berat?! Dan kenapa Putri Isabella hanya mendapatkan hukuman kurungan untuk introspeksi diri?" ujar Oceanus sembari menatap Isabella.


"Oecanus! Duduk di tempat mu. Titah raja adalah mutlak dan tidak dapat diganggu gugat." Agustus melirik ayahnya. Ada keanehan di sini, tentunya Agustus akan menyelidikinya. Tampak ayahnya juga membela Isabella. "Siapa pun yang tidak terima bisa maju ke sini dan ucapkan penolakan kalian di depan ku!!"


Tidak ada yang berani berucap sama sekali. Sementara Aurora tersenyum miris. Itukah hukuman untuk seorang yang sudah meracuni tunangan dari putra mahkota?


Kehidupan ini sungguh tidak adil. Isabella tak dapat membayangkan wajah sedih Grace.


"Kembali ke kursi kalian. Kali ini kita akan membahas topik awal."


"Kali ini tidak hanya senjata yang hilang tetapi juga uang kas negara hilang dicuri." Ucapan raja mengejutkan semua pihak. Hanya Aurora yang tidak terkejut.


Mungkin tadi ia akan ketakutan. Tapi Aurora yang sudah ditutupi dengan perasaan tak terimanya hingga ia tampak biasa saja dan malah tidak sabar ingin menyerang kerajaan.


"SIAPAPUN YANG SUDAH MELAKUKAN KEJAHATAN DAN PEMBERONTAKAN AKAN DIHUKUM DENGAN SEBERAT-BERATNYA!!" Isabella mengerutkan keningnya. Kira-kira siapa yang sudah melakukan hal tersebut, apakah mungkin itu adalah ratu sendiri? Tetapi kenapa ratu juga terlihat kebingungan dengan hal ini. Apakah itu hanya akting dari ratu Sofia?


Sedangkan Aurora mendengarkan pembahasan itu dengan baik. Untungnya ia hari ini diajak ke aula istana oleh pangeran Agustus. Jadi ia mengetahui apa rencana dari kerajaan tersebut untuk menyingkirkan dirinya.


"Pangeran Agustus kau fokus menyelidiki kasus hilangnya persenjataan. Kasus kematian putri Grace kau hentikan saja."


Agustus mengepalkan tangannya. Sebegitu mudahnya raja menyuruhnya untuk menghentikan kasus kematian Grace.


"Raja..." Pangeran Agustus ingin mencela tetapi raja sudah lebih dulu memotong pembicaraan Agustus.


"Kau lakukan saja tugas mu dengan benar."


____________


Tbc

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA


__ADS_2