
"Kau!! Aku tidak akan membiarkan kau hidup. Kau sudah mengetahui rahasia ku, maka aku tidak akan membiarkan kau hidup dengan tenang," ujar Isabella dan mengambil pedang yang dibawa oleh pengawalnya.
Kemudian Isabella menghampiri Aurora dan mata Aurora membulat ketika melihat Isabella hendak menusuknya dengan pedang tersebut.
Aurora pun berusaha menghindar. Percobaan Isabella untuk membunuhnya belum berhasil, tapi Isabella tidak berhenti dan berusaha memburu Aurora.
Aurora pun mengambil pedang yang dibawa oleh pengawal Isabella. Isabella tersenyum merendahkan. Ia menatap Aurora dengan mata tajamnya.
"Kau pikir kau akan bisa keluar dari sini hidup-hidup? Kau sudah mengetahui sesuatu yang tak pantas untuk kau ketahui," ucap Isabella dengan lantang.
Aurora memandang Isabella dengan berani. Ia pun menyeringai dan menatap pedang yang berada di tangannya dari ujung hingga ke ganggang. Aurora kemudian menatap Isabella balik meremehkan.
"Silakan lakukan itu jika kau bisa," ucap Isabella seolah tengah mengejek Isabella.
Isabella mengepalkan tangannya dan menggeram marah. Ia pun mengayunkan pedang di tangan nya tanpa terduga ke arah Aurora. Aurora yang belum sepenuhnya tersadar langsung menutup matanya.
Namun ada sebuah pedang yang menjatuhkan pedang Isabella. Isabella terkejut dan menatap orang itu. Seketika wajahnya pucat saat tahu jika itu adalah Agustus.
Agustus memasang wajah datar dan memeluk Aurora dengan erat. Aurora membuka matanya dan bersyukur saat tahu jika yang menyelamatkan dirinya adalah pangeran Agustus.
Wanita itu tersenyum dan kemudian menatap ke arah Isabella yang tak bisa berkutik. Ia dikelilingi oleh pasukan yang dibawa Agustus.
Isabella tak bisa menyembunyikan ketakutannya. Apalagi yang di depannya ini adalah seorang Agustus. Isabella tahu betul bagaimana temperamen Agustus.
Ditambah keburukannya diketahui oleh pangeran itu membuat harapan Isabella luluh lantah. Agustus adalah pria yang sangat dicintainya, ia berharap Pangeran tersebut tak akan mengetahui perbuatan jahatnya.
Tetapi takdir berkata lain. Isabella pun tak punya jalan lain selain melawan pria itu. Jika Agustus menghalangi segala rencana yang ia buat maka Isabella akan bermain dengan paksaan.
"Kau tahu, apa kesalahan mu?" tanya Agustus kepada Isabella yang terdiam di tempatnya.
Air mata Isabella terjatuh. Wanita itu tak menjawab namun ia tahu apa kesalahannya. Isabella tak menunjukkan rasa kalahnya. Ia bahkan memerintahkan pasukannya dengan syarat mata untuk menyerang Agustus.
Agustus pun melindungi Aurora dan menjauhkan para pengawal Isabella yang hendak mengincar Aurora. Pertarungan sengit pun tak bisa terelakkan.
Agustus dan Aurora saling bekerjasama untuk melawan musuh. Isabella tampak hendak melarikan diri, tetapi Agustus yang melihat wanita itu langsung mengejarnya dan memanah punggung Isabella hingga wanita itu terjatuh dengan darah yang terus keluar dari tubuhnya.
Aurora menatap itu meringis. Betapa sakitnya dan ia pernah merasakan lebih dari itu. Aurora menghampiri Isabella yang sudah tersudut.
Isabella mendongak dan ia menatap semua mata pedang mengarah ke wajahnya. Wanita itu menundukkan kepala karena sudah tersudut dan tak mampu untuk bangkit melawan. Ia terbatuk darah dan wanita itu menangis.
Wajahnya menunjukkan jika ia sangat frustasi dengan apa yang tengah ia alami. Wanita itu pun memandang semua orang di sana dengan pandangan benci. Terutama kepada Aurora, Isabella tak bisa menahan segala rasa marahnya kepada wanita itu.
"Kau tahu apa yang kau lakukan sekarang telah membuat mu seperti ini?"
__ADS_1
"Kau pikir aku akan menyesal. Kalian akan tahu suatu hari nanti. Kalian akan kena karmanya. Hahahha!!" tawa gelak Isabella yang membuat Aurora terdiam melihat kondisi kejiwaan Isabella yang benar-benar buruk.
"Bawa dia ke sel untuk diinterogasi."
______________
Mendengar laporan yang dibawa oleh Agustus membuat raja tak bisa menahan sesak di dadanya. Raja pun menyentuh dadanya dan ia terkena serangan jantung.
"Ayah!!" teriak Oceanus dan hendak menghampiri raja.
Namun raja menahannya dan membuang wajahnya. Ia masih belum sudi untuk menatap anak bungsunya. Oceanus tersenyum pahit. Ia menatap Agustus yang hanya berwajah datar.
"Kau!! Kenapa kau melakukan itu pada ku?"
"Kenapa Raja? Sudah sepatutnya aku memberantas semua kejahatan yang ada di menara ini."
Raja mendesis marah. Ia sudah diskak mat oleh anaknya sendiri. Pria itu berusaha untuk bangkit dan menormalkan dirinya agar ia tetap terlihat berwibawa dan juga adil.
Namun di mata Agustus tidak ada keadilan sama sekali. Padahal Isabella juga sudah banyak melakukan kesalahan besar namun tak mendapatkan hukuman dari raja.
"Kau bisa membebaskan Aurora yang juga sama melakukan kesalahan dan memberontak di kerajaan ini, tapi kau memohon padanya kepadaku untuk membebaskannya, tapi aku....."
"Kau bahkan ingin membunuhnya. Kau mencarinya ke seluruh dunia dan meminta jasad anakmu sendiri dan Aurora. Itukah yang ingin kau katakan? Apakah keadaan Aurora itu dapat membebaskan Isabella sekarang?!!"
Oceanus memejamkan mata dan memandang sang kakak. Namun Agustus sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. Pria itu tidak peduli dengan status kerajaannya yang bisa saja dicopot oleh raja. Namun, karena ia masih seorang pejabat istana, maka Agustus akan melakukan apapun demi keamanan negara ini.
Agustus adalah orang yang sangat setia kepada negara dan tanah airnya. Ia bahkan rela menyingkirkan orang yang dicintainya demi negara. Tetapi, Agustus merasa jika dirinya tak pernah mendapatkan keadilan, maka ia berpikir tak ada untungnya jika ia terus patuh dan tunduk kepada raja dan menjadi budak raja.
Mungkin sudah saatnya ia menunjukkan kemarahan kepada ayahnya. Hal itu telah berhasil ia lakukan. Terbukti dengan raja yang marah besar kepadanya.
"Kau ingin melakukan kesalahan lagi? Kau benar-benar memalukan. Kau sama dengan pemberontak."
"Aku siap dihukum. Karena katamu aku adalah pemberontak, aku akan mematuhi segala hukum yang ada di kerajaan ini. Tapi, Aku berharap kau tidak akan pilih kasih dan membiarkan Isabella bebas begitu saja. Buktikan kepada kami dan rakyatmu bahwa kau adalah raja yang adil."
Oecanus pun ikut bersimpuh di depan raja. Ia mengangkat kepalanya dan tersenyum kepada ayahnya.
"Aku juga siap dihukum. Aku adalah buronan yang pernah kau cari, kini aku telah kembali ke istana untuk menerima hukumanku. Aku akan mematuhi segala hukum di istana dan siap diberikan hukuman."
Raja semakin pusing mendengar anak-anaknya berbicara. Cinta-cintanya ia dengan Isabella, Raja alirik tidak akan pernah sanggup untuk menghukum anaknya sendiri. Pada saat ia memerintahkan pengawalnya untuk membunuh Oceanus, itu disebabkan ia tengah marah besar.
Raja menyentuh batang hidungnya dan menurutnya. Ia pun mengambil air minum yang terletak di atas meja dan menegaknya untuk menenangkan dirinya sementara.
"Aku tidak akan mungkin menghukum mu," ujar raja. "Aku akan menghukum Isabella."
__ADS_1
Sebenarnya Raja saat ini sangat kecewa. Ia bagai dikhianati oleh orang yang sangat dicintainya. Mungkin ini adalah karma karena ia telah mengutuk anak-anaknya. Di mana raja juga bisa merasakan apa yang dirasakan oleh anak-anaknya ketika mengetahui mereka telah dikhianati oleh orang yang sangat dicintainya.
Namun yang membuat Raja sangat marah besar adalah, ternyata selama ini Isabella yang mengaku mencintainya namun sama sekali tidak pernah mencintainya.
Bahkan wanita itu mencuri hal-hal yang paling berharga pada dirinya. Ternyata ia hanya menjadi budak dari Isabella.
Air mata jatuh di pipi raja. Laki-laki tersebut pun meninggalkan singgasananya dengan perasaan sedih.
Agustus menatap kepergian ayahnya. Ia menghela napas kasar dan tersenyum tipis. Semoga raja kali ini terbuka hatinya.
"Ayah telah dikhianati oleh dua perempuan."
"Dia tahu jika yang membunuh ibu adalah ratu Sofia. Dan dia juga tahu bahwa orang yang membunuh Grace adalah ratu Sofia. Tapi dia sudah banyak menutupi kasus Ratu Sofia karena rasa cintanya dan tak teganya. Bahkan ia merelakan ibu karena ratu Sofia. Dia juga mencintai Isabella di mana saat itu Isabella sangat kecil, sesuatu yang tak pernah kau sangka jika orangtua mu adalah seorang pedofil. Dia mencintai Ratu Sofia dan juga Isabella yang umurnya jauh dari kita," ujar Agustus yang membuat terkejut Oceanus. Jujur ia baru mengetahui hal itu.
______________
Aurora menatap prihatin ke arah Branard yang saat ini tengah menangis kencang. Anak itu terus memanggil ibunya.
Aurora merasa sangat prihatin kepada bocah tersebut. Wanita itu mendekati Branard dan memeluknya dengan sangat erat.
"Ibu belum pulang. Padahal dia berjanji pada ku untuk menemui ku hari ini."
Aurora merasa hatinya sangat teriris saat mendengar rintihan Branard. Segala keluh kesah yang diucapkan Branard semua itu karena dirinya.
"Kau tenanglah. Ibu mu pasti akan datang. Jika ia tidak datang mungkin dia hanya sedang kelelahan atau banyak urusan."
"Tidak, ibu ku selalu menempati janjinya."
Aurora berusaha untuk mencari cara menenangkan Branard. Terbesit di pikiran Aurora untuk membawa Branard ke istana. Istana adalah rumah Branard yang sesungguhnya. Seharusnya Branard juga mendapatkan fasilitas yang lengkap karena ia merupakan seorang pangeran bukan seperti ini yang tidak memiliki tempat tinggal selain rumah kecil dan hendak roboh.
"Kau pernah ke istana." Branard menatap Aurora dak menggelengkan kepalanya. "Apakah kau ingin ke istana."
"Ya Branard mau. Branard ingin bertemu dengan pangeran Agustus. Branard ingin seperti Pangeran Agustus. Branard sangat menyukainya, Branard ingin memiliki kakak seperti pangeran Agustus."
Aurora terdiam. Tanpa sadar air matanya keluar. Bahkan Branard tidak mengetahui jika Agustus adalah kakaknya.
"Asal kau tahu, pangeran Agustus adalah kakak mu. Dan raja adalah ayah mu."
__________
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA
__ADS_1