
Agustus menatap kamar Aurora yang biasanya wanita itu tinggali saat bekerja di istananya. Kamar itu masih sama pada saat sebelum tragedi itu terjadi. Agustus mengepalkan tangannya tak dapat menahan perasaannya yang sangat sakit setiap kali melihat barang-barang milik wanita itu.
Masih teringat jelas di ingatannya bagaimana tawa bahagia di wajah Aurora. Dan bodohnya Agustus dengan mudahnya ia tak bisa mengendalikan emosi. Pada saat itu ia harus mengemban kewajiban dan menyingkirkan perasaan di hatinya.
Alhasil ia terjebak pada perasaan sakit sendirian. Penyesalan yang tiada tara. Benar apa yang dikatakan oleh Sargon, ia terlalu pengecut hingga Aurora mengalami hal ini.
Yang lebih parahnya lagi ayahnya sama sekali tidak peduli bagaimana ia membunuh anaknya dengan sadis. Agustus mengepalkan tangannya.
Ia adalah pangeran yang berdaulat dan ia juga memiliki martabat dan keberanian. Hanya satu orang yang tak bisa ia taklukkan yaitu ayahnya sendiri.
Ia diatur oleh ayahnya sesuai dengan keinginan raja hingga Agustus sempat kehilangan jati dirinya sendiri. Bahkan Agustus sudah dijadikan monster saat ia masih kecil oleh ayahnya sendiri.
Agustus terkenal dengan pembunuh berdarah dingin. Selama ini ia hidup sesuai dengan keinginan orangtuanya. Bahkan ketika kenyataan bahwa kasus penyerangan dan juga kasus pembunuhan pasti ada sangkut pautnya dengan ratu, raja sama sekali tidak peduli dan menganggap apa yang dilakukan mereka adalah kejahatan yang sepele.
Dan sayangnya hari ini Agustus harus menahan perasaan sakit yang luar biasa saat menatap kamar milik pujaan hatinya.
"Aku tidak mungkin diam saja. Apa yang dikatakan oleh Sargon benar, aku terlalu pengecut hingga Aurora dan Oceanus terbunuh."
Mungkin hanya ada penyesalan yang Agustus rasakan saat ini. Mengulang waktu pun ia tak bisa. Semuanya sudah terlanjur terjadi dan hanya ada penyesalan yang tersisa.
"Untuk ketiga kalinya aku gagal melindungi orang yang paling berharga di hidup ku." Pertama ia gagal melindungi ibunya dan kedua ia gagal melindungi Grace dan yang terakhir Agustus gagal melindungi Aurora serta adiknya, hingga mereka harus menanggung segala kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab.
"Meow!!" suara rengekan kucing telah mengalihkan atensi Agustus. Agustus menatap ke arah sumber suara dan ia terdiam melihat kucing imut tersebut berjalan ke arahnya.
Kucing itu adalah kucing kesayangan Aurora. Namannya adalah Maira ia sangat imut sama seperti Aurora. Agustus lah yang memberi nama kucing tersebut dengan nama Maira.
"Maira," ucap Agustus dan mengangkat tubuh gembul Maira. Maira mengusapkan kepalanya ke dada bidang Agustus dengan nyaman.
Kucing putih itu sangat manja sama seperti Aurora yang juga sering bermanja dengannya. Kenapa rasanya sangat rindu sekali dengan kehadiran wanita itu.
"Bahkan aku melihat Maira adalah kau. Kemana kau Aurora? Kenapa kau tidak melawan ketika mereka ingin menjatuhkan harga diri mu dan melepaskan anggota tubuh mu dari badan mu? Kau... Aku... Maafkan aku... Semua ini salah ku.... Andai aku cepat sadar apa yang kau lakukan demi kebaikan semua orang."
Mungkin di mata rakyat apa yang telah dilakukan Aurora adalah kejahatan yang sangat luar biasa. Di samping ia melakukan pemberontakan ia juga melakukan hal yang sangat fatal. Ia meracuni pelayan Isabella. Namun yang Agustus baru tahu jika pelayan Isabella yang ingin meracuni Aurora, namun Aurora tahu akan hal itu makanya racun buatan pelayan itu sendiri di minum oleh tuannya sendiri. Senjata makan tuan.
__ADS_1
Di sini Aurora tak ada salah sama sekali. Mungkin hanya orang-orang memandang sebelah mata.
"Aku akan berjanji mencarikan keadilan untuk mu, Aurora."
_____________
Seorang pria berpakaian hitam membawa seorang anak untuk menemui wanita yang sudah menunggunya di tepi sungai.
"Paman kita akan ke mana?" tanya anak itu dengan polos.
Pria yang disebut paman oleh anak tersebut pun tersenyum kepada anak itu. Ia berusaha untuk menenangkan anak tersebut. Ia tahu jika anak itu saat ini sedang ketakutan padanya.
"Jangan takut. Tenanglah, aku tidak akan menyakiti mu. Kita akan bertemu dengan ibu mu."
Ia mengingat kembali kebersamannya dengan sang ibu. Akhir-akhir ini ia jarang bertemu dengan ibunya. Ia juga baru mengetahui bahwa orang yang selama ini merawatnya bukanlah ibunya dan ibu kandungnya adalah ibu yang berdiri di tepi sungai.
Anak itu berlari kencang ke arah tepi sungai mendekati wanita itu sambil meneriakkan kata Ibu.
Mendengar suara tersebut wanita itu pun menoleh ke belakang dan tersenyum melihat anaknya tengah berlari ke arahnya. Ia memeluk tubuh anak itu dengan kencang seakan tengah menahan rindu.
Namun perempuan tersebut hanya tersenyum tipis. Ia mengecup kening anaknya itu dengan dalam dan memeluknya sangat erat.
"Apa kau baik-baik saja."
"Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan ibu." Ia melihat ada luka memar di sudut bibir ibunya. Anak itu yang sangat peka menyentuh luka tersebut.
Perempuan itu sedikit mendesis saat merasakan nyeri di bibirnya. Ia tersenyum melihat mata anaknya berkaca-kaca.
"Tenanglah aku tidak kenapa-kenapa. Kau tidak perlu khawatir dengan ku."
"Tapi bibir ibu berdarah."
"Ini tidak sakit sayang. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan."
__ADS_1
Anak itu mengangguk dan memeluk leher ibunya.
"Kau amankan selama ini?"
"Branard aman Bu."
Isabella meneteskan air matanya. Bahkan untuk bertemu anak kandungnya ia pun sembunyi-sembunyi agar tidak ada yang mengetahui dirinya.
"Aku menyayangi mu." Dari Branard kecil Isabella sudah harus berpisah dengan Branard dan menggantikan peran dirinya dengan pelayannya sendiri.
"Branard juga."
"Jika kau besar janganlah menjadi seperti ibu," ucap Isabella dengan nada yang terdengar sedih.
Nyatanya ia adalah orang yang sangat jahat. Isabella hanyalah anak angkat dari perdana menteri. Ia juga merupakan seorang putri dari kerajaan yang pernah dijajah oleh kerajaan Engrasia dan ditaklukkan dengan rata kerajaannya, ayah ibunya dibunuh dengan sangat kejam. Bahkan istana penuh dengan darah saat itu. Kerajaan Shapirra telah meninggalkan bekas luka yang sangat dalam di hati Isabella.
Oleh karena itu ia berencana untuk menaklukkan kerajaan Engrasia dan membalaskan dendam ayah dan ibunya. Shapirra sudah menjadi bagian kerajaan Engrasia, namun sesungguhnya tidak akan pernah rakyat Shapirra rela hal itu terjadi.
Terlebih selama ini Isabella harus hidup dalam kebohongan. Ia harus berakting dan melakukan banyak hal agar bisa hidup. Penderitaan begitu banyak ia lalui. Bahkan Isabella merelakan tubuhnya untuk Raja Alirik, tidak banyak mengetahui bahwa sebenernya Isabella adalah selingkuhan dari raja Alirik, ayah Agustus.
Ia mencintai Agustus murni karena perasannya sendiri. Raja mungkin mengira ia hanya bersandiwara agar bisa menikah dengan Agustus dan hidup dalam kerajaan dan bisa dekat dengan raja.
Padahal hal itu adalah sebuah tipu daya miliknya.
"Karel bagaimana pasukan yang sudah kau kumpulkan? Tidak ada kendala, bukan? Aku tidak ingin rencana yang aku buat lima tahun ini gagal begitu saja."
"Putri kau tenang saja semua sudah berjalan dengan lancar."
Branard adalah anaknya bersama raja Alirik. Tidak ada yang mengetahui hal itu bahkan raja sendiri. Ia bisa menyembunyikan Branard. Branard adalah seorang pangeran, ia bisa menjadi raja Engrasia. Dengan Branard Isabella akan merebut kerajaan Engrasia.
"Jika kau bisa menyakiti suku dan kerjaan ku maka aku juga bisa melakukan hal yang sama dan lebih dari itu," ujar Isabella dengan penuh amarah yang ditujukan kepada raja Alirik.
__________
__ADS_1
Tbc
JANGAN LUPA UNTUK LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA