
Satu Minggu sudah berlalu semenjak kematian putri Grace. Aurora tak menyangka jika pangeran Agustus benar-benar sesedih itu ditinggalkan oleh putri Grace.
Aurora juga tahu bagaimana perjuangan pangeran Agustus untuk mendapatkan putri Grace tentunya ia akan merasa sangat terpukul dengan kematian sang kekasih.
Aurora merasa sedih dan entah kenapa rasa sedih di hatinya bukan hanya karena kematian putri Grace tetapi perasaan sedih di hati Aurora benar-benar terpuruk.
"Ku dengar jika pangeran Agustus tidak mau keluar dari kamarnya akhir-akhir ini. Apakah itu benar?" Aurora yang notabennya bekerja di tempat pangeran Agustus pun pastinya membenarkan pertanyaan Fares.
"Kau benar, aku bahkan tidak bisa berkata-kata. Cinta memang sedahsyat itu bisa membuat seseorang yang terkenal tidak memiliki perasaan bisa merasakan rasa sakit, semoga pangeran Agustus sadar atas kejadian ini. Ia bisa mengetahui bagaimana rasanya tersiksa."
Fares menghela napasnya panjang dan duduk di samping wanita itu. Puh keluar dari keningnya. Fares baru saja selesai melatih para budak berperang.
"Aku harap juga begitu. Pangeran Agustus memang tidak memiliki perasaan. Semoga dia bisa sadar banyak orang yang terpisah dengan cinta sejatinya karena dia hanyalah seorang budak dan tak pantas untuk mendapatkan status bahagia."
"Fares, apakah kita terlalu tega? Kenapa aku juga ikut merasa sedih mendengar bahwa pangeran sedang sedih?"
__ADS_1
"Aku tidak tahu apa yang sudah kau alami."
Aurora menganggukkan kepala. Wanita itu menghela napas panjang dan memejamkan mata. Sejenak ia berpikir bahwa kehidupan ini benarkah ada atau hanyalah usia dari Aurora.
"Fares kau percaya dengan seseorang yang masuk ke dalam novel yang dibacanya?" tanya Aurora sambil menatap ke langit.
"Omong kosong seperti apa itu? Tentunya tidak ada yang seperti itu," ujar Fares dan Aurora menghela napas panjang mendengar jawaban Fares.
Tidak ada orang yang akan percaya bahwa ia telah masuk ke dalam novel yang dibacanya apalagi Aurora sendiri. Selama ini ia merasakan keanehan pada dirinya dan terus bertanya-tanya.
"Sudah aku katakan jika itu hanyalah omong kosong Aurora. Sudahlah, jangan membahas yang tidak penting. Kita lihat saja mereka berlatih, kau ingin memantau prajuritmu, bukan?"
Aurora menganggukkan kepala. Memang kedatangannya ke tempat ini untuk melihat prajuritnya yang dilatih oleh Fares memiliki kemampuan berperang sampai di mana. Lagi pula ia sudah bosan berada di istana, yang ia dengar hanyalah gosipan dari para pelayan mengenai Pangeran Agustus yang terus berlarut-larut dalam kesedihan atas meninggalnya Putri Grace.
Pria itu juga jarang keluar kamar, bahkan tidak ada satupun orang yang boleh masuk ke dalam kamar Pangeran Agustus.
__ADS_1
"Aku ingin melihatnya." Aurora menatap para budak yang tengah berlatih militer. Mungkin pihak kerajaan tidak ada yang akan pernah menyangka bahwa budak-budak mereka memiliki keahlian berperang.
"Kota kekurangan senjata," ujar Fares mengatakan kesulitan dari pada budak.
"Aku sudah berusaha untuk memasok senjata, tapi tetap saja tidak semudah itu untuk mendapatkan senjata. Kali ini kita harus melakukan rencana kembali untuk mencuri senjata milik kerajaan."
"Aurora, selama ini kita sudah banyak mencuri persenjataan milik kerajaan, apakah kau yakin kali ini kita akan selamat? Sudah banyak senjata yang hilang dan kerajaan juga dihebohkan. Aku tak percaya diri untuk melakukannya."
"Kau ini lemah sekali, justru pangeran sedang dalam keadaan ini kita bisa melawannya."
____________
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA
__ADS_1